
Melina menarik Michael untuk berbicara dengannya. "Mama mau bawa Michael ke mana?" tanya Michael, karena tiba-tiba tangan ditarik Melina dan membawanya paksa.
"Diam! kau itu sudah sangat... sangat mengecewakan Mama dan Papa!" seru Melina.
"Duduk!" perintah Melina, begitu keduanya masuk kedalam kamar tempat Melina tadi beristirahat.
"Mama! Michael bukan anak kecil." Michael protes, karena diperlakukan seperti anak kecil.
"Oh... ya! kau bukan anak kecil? kau tidak suka diperlakukan seperti anak kecil ? tapi kelakuanmu itu Michael, kelakuan seperti anak remaja," ucap Melina kesal.
"kau melakukan sesuatu tanpa berpikir ! kenapa kau setuju berpisah dengan cinta ? apa kau tidak menyayangi anakmu? kalau kau tidak ada rasa sayang pada ibunya, jangan kau lakukan itu pada anakmu juga," tambah Melina.
"Siapa yang bilang aku tidak menyayangi anakku, Ma? aku menyayangi anakku. Dan aku tidak akan bisa berpisah dengan anakku," ucap Michael dengan tegas.
"Lalu kenapa kau setuju untuk berpisah dengan Cinta setelah anak kalian lahir?" tanya Melina.
"Itu karena Cinta yang meminta, Ma. Aku ingin dia merasa tenang di masa kehamilannya. Kedepannya, kita serahkan pada Tuhan. Jika Cinta tetap kekeuh ingin berpisah, aku bisa bilang apa," kata Michael.
"Mama tidak ingin melihat kalian berpisah, apa lagi sampai cucu Mama dapat ayah tiri! Mama tidak bisa melihat itu semua, cucu Mama memanggil pria lain Papa." Melina mengutarakan kekhawatirannya.
"Ma, anak itu tetap cucu Mama. Apapun yang terjadi. Darah Subrata mengalir di tubuhnya. Jika sampai Cinta membatasi kita untuk bertemu dengan anakku, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan melakukan apapun, jalan halus tidak bisa... jalan..... " Michael tidak melanjutkan apa yang ingin dikatakannya, smirk menghiasi sudut bibirnya.
"Michael ! Mama ingatkan, jangan kau melakukan sesuatu yang akan membuat jarak kalian semakin jauh. Limpahi Cinta dengan kasih sayang, sehingga dia tidak ingin pisah denganmu."
"Michael, apa kau tidak mencintai Cinta?" tanya Melina.
"Cinta? apa itu dibutuhkan, Ma? wanita itu tidak butuh cinta, Ma! kita berikan dia materi yang berlimpah, wanita akan bertekuk lutut," ucap Michael mengejek sosok wanita yang hanya mengejar materi.
"Michael! jangan samakan semua wanita dengan wanitamu dulu. Mereka berbeda!" kata Melina.
"Tidak ada beda mereka, Ma. Wanita hanya melihat materi untuk mengukur kebahagiaan. Sudahlah, Ma. Michael tidak ingin membicarakan masalah wanita lagi."
Michael melangkah menuju pintu kamar dan kemudian keluar. Di depan pintu dia melihat Cinta keluar. Dengan berjalan setengah berlari, Michael mengejar Cinta. Dan kemudian menariknya masuk kedalam kamar.
"Apa-apaan kau ini !" sergang Cinta.
"Lepas!"
__ADS_1
"Diam! apa kau tidak ingin pergi dari sini?" tanya Michael.
Cinta berhenti meronta.
Michael mendudukkan Cinta di sofa, dan Michael meletakkan bokongnya di sampingnya.
"Besok kita pulang, dan kita akan tinggal bersama. Aku tidak ingin mendengar ada penolakan," kata Michael.
Cinta yang ingin bicara menutup mulutnya, dan larangan Michael. Tadinya dia ingin membantah, karena dia tidak ingin tinggal bersama dengan Michael.
"Dan satu lagi, selama kita bersama. Tidak boleh ada pria yang dekat-dekat denganmu. Aku tidak ingin anakku mendengar suara laki-laki lain yang didengarnya. Anakku hanya boleh mendengar suaraku dan suara laki-laki yang berhubungan dengan keluargaku. Laki-laki lain, No!" kata Michael tegas.
"Peraturan yang aneh! bagaimana kau bisa melarang aku untuk bicara dengan laki-laki lain? jika aku ingin membeli sesuatu dan penjualnya seorang laki-laki, apa aku dilarang untuk membeli ditempat orang itu? atau aku melarang penjual itu untuk berbicara?" Cinta bicara panjang lebar memprotes larangan Michael.
"Aku tidak perduli! ikut peraturan, aku akan menurutimu. Jika tidak ikut apa yang aku mau, terima resikonya," kata Michael.
"Gila... ! benar-benar peraturan gila," kata Cinta.
"Kau yang membuat aku gila," ucap Michael dalam hati.
Michael keluar dari kamar, meninggalkan Cinta yang kesal.
"Dalam kamar juga Tuan?" tanya Handi.
"Iya ," sahut Michael.
"Kamar mandi juga?" Handi bertanya kembali.
"Iya... ! kan sudah aku katakan, tanpa kecuali! kamar mandi lebih penting, aku tidak ingin dia kenapa-kenapa didalam kamar mandi. Dan hubungkan cctv ke ponselku saja, jangan ada bisa melihat cctv dalam kamar, kecuali aku."
"Kapan Tuan masuk kantor?" tanya Handi.
"Kau handle semua pekerjaan, urusan dengan perusahaan Nona Abigail, kau handle. Aku belum tahu kapan pastinya."
"Baik Tuan," sahut Handi.
***
__ADS_1
Tok... tok...
Handi yang sedang sibuk dengan pekerjaan yang dilimpahkan Michael padanya, di kejutkan dengan ketukan di meja kerjanya.
Handi mengangkat kepalanya dan melihat Sandra berdiri di depan meja kerjanya.
"Kapan anda masuk Nona?" tanya Handi, karena dia tidak mendengar ketukan pintu dan langkah kaki memasuki ruang kerjanya.
"Aku sudah satu menit berdiri didalam ruangan ini, Handi," kata Sandra.
"Ada perlu apa, Nona?" tanya Handi.
"Mana kak Michael? ruangannya kosong, apa dia keluar?" tanya Sandra.
"Tuan Michael tidak datang, Nona," sahut Handi.
"Tidak masuk kantor? kenapa? apa dia cuti? apa dia di rumah?" tanya Sandra beruntun.
"Tuan Michael tidak mengatakan apapun pada saya Nona," jawab Handi.
"Kau kan asistennya, masa kau tidak tahu kemana kak Michael pergi," kata Sandra.
"Maaf Nona, saya tidak bisa mengatakan pada anda. Saya tidak menangani urusan pribadi Tuan Michael."
"Asisten sialan!" umpat Sandra dalam hati.
"Ayolah Handi, katakan kenapa kak Michael tidak datang? apa dia sakit?" Sandra berusaha untuk mencari informasi, walaupun Handi tidak ingin mengatakannya. Sandra tidak patah semangat.
"Maaf Nona, saya tidak bisa mengatakan apapun juga. Tuan Michael tidak ingin diketahui apa yang dilakukannya di luar pekerjaan."
"Bagaimana jika aku beri kau voucher belanja, kau mau kan? aku tahu, kau itu pasti ingin membelikan kekasihmu barang-barang branded. Aku ada voucher beli tas dan baju branded. Kau berikan pada pacarmu voucher itu, dia pasti akan semakin mencintaimu, Handi." Sandra membujuk Handi dengan cara memberikan voucher belanja gratis barang-barang branded.
Handi menghela napas panjang dan membuangnya dengan kasar. "Nona, anda gunakan sendiri saja voucher belanja yang ingin anda berikan pada saya itu. Saya tidak membutuhkannya Nona," tolak Handi dengan nada suara yang datar.
"Saya rasa, anda yang membutuhkannya. Melihat kondisi keuangan perusahaan Papa anda, besar kemungkinan anda itu tidak akan bisa shoping untuk membeli baju branded dan tas branded," kata Handi.
Raut wajah Sandra berubah merah. Dia tidak mengira mulut asisten Michael bisa berkata nyelekit padanya.
__ADS_1
"Kau.... !" telunjuk tangan Sandra terarah kearah Handi, dengan kaki menghentak, Sandra marah dan mengumpat.
"Dasar asisten belagu! sok kaya! tidak ada akhlak!" umpatan beruntun meluncur dari mulut Sandra.