Fake Marriage

Fake Marriage
Bab 84


__ADS_3

Pak Deden sopir Melina ingin turun, tetapi tiba-tiba dari arah belakang mobil beberapa orang berbadan kekar memecahkan kaca mobil. Pak Deden yang tidak mengira mendapatkan serangan mendadak kaget. Begitu juga dengan Rima dan Cinta.


"A.a..w.... !" teriak Rima dan Cinta. keduanya juga tidak mengira dengan apa yang terjadi, karena pandangan mata keduanya fokus melihat kearah mobil yang menghalangi jalan mobil yang mereka tumpangi.


Serangan mendadak membuat pecahan kaca bertebaran didalam dan luar mobil. Rima dan Cinta spontan merunduk.


Dor...


Suara letusan senjata membuat orang yang berada di sekitar kejadian mencari perlindungan.


"Bunda.... !" teriak Cinta saat merasa tubuhnya ditarik keluar dari dalam mobil.


Mendengar teriakkan Cinta, Rima yang tadi merunduk mengangkat kepalanya dan melihat Cinta di tarik masuk kedalam mobil.


Rima keluar dari mobil, ingin mengejar Cinta.


"Cinta... ! tolong... tolong. !!" teriak Rima meminta tolong pada masyarakat sekitarnya, tetapi tidak ada yang berani menolong. Karena suara letusan senjata api membuat orang mencari aman.


Dor... satu suara letusan senjata api kembali terdengar.


Satu letusan senjata itu merobohkan Rima, dan mengakhiri niatnya untuk menolong Cinta.


"A... aa...a.... !" Rima ambruk ke atas aspal dengan merintih kesakitan. Timah panas senjata itu mengenai paha Rima, mengakibatkan dia roboh.


"Bunda.... !" teriak Cinta saat melihat bundanya ditembak oleh orang berdiri didekat mobil dan mengacungkan dua senjata ditangan kiri dan kanannya. Sehingga tidak ada yang berani membantu.


Pak Deden yang menunduk tidak berani bergerak, membuka mata dan mengangkat kepalanya, begitu mendengar teriakkan Rima. Dan melihat Rima yang roboh bersimbah darah.


"Nyonya.... !" Pak Deden, sopir Melina keluar dari mobil, memeriksa kondisi Rima yang terkapar di jalan.


"Tolong anakku, pak... " lalu Rima pingsan setelah berkata.


"Tolong.... !" teriak Pak Deden sembari berlari untuk mengejar orang yang menarik Cinta yang meronta-ronta, menolak untuk disuruh masuk kedalam mobil.


"Lepas... ! tolong... tolong.... !" Cinta berontak dan berteriak, tetapi tenaganya tidak mampu untuknya melepaskan diri.


Dor...


"Lepaskan nyonya Cinta.... !" teriak Pak Deden.


Satu tembakan menerpa kaki Pak Deden, sehingga membuat sopir Melina roboh.


"Orang tua sok mau menjadi Hero.... !" ledek orang yang menembak Pak Deden.


"Masuk! jika tidak, kedua orang itu akan menemui malaikat pencabut nyawa detik ini juga ... !" ucap pria yang memegang Cinta dengan suara yang berat.

__ADS_1


Cinta berhenti meronta. "Bunda," ucap Cinta dengan suara yang lirih. Ancaman itu membuat Cinta berhenti meronta. Dia pasrah di dorong masuk kedalam mobil. Dan Cinta pingsan begitu berada didalam mobil.


Mobil yang membawa Cinta melaju kencang meninggalkan tempat kejadian. Dan baru orang-orangan berani bergerak dan menolong Rima dan Pak Deden.


Keduanya dibawa kerumah sakit. Pak Deden yang masih bisa berkomunikasi, segera menghubungi sang majikan dan melaporkan penyerangan yang terjadi pada Cinta dan Rima.


Ardian segera bergerak cepat, memanggil Handi dan Hilman.


"Bagaimana Handi ?" tanya Ardian begitu masuk kedalam ruangan tempat Handi mengutak-atik laptopnya, mengirim gambar lokasi disekitar tempat kejadian penyerangan yang terjadi pada Cinta pada anak buahnya yang menyusuri setiap jalan yang dicurigai dilalui mobil sang penyerang.


Handi mengangkat kepalanya dan mendongak menatap Ardian,


"Mereka melakukannya ditempat yang benar-benar tidak ada cctv Tuan. Untung ada saksi mata yang merekam kejadian itu dan mobil mereka bisa terlihat dari rekaman yang diberikan oleh saksi. Sudah diketahui siapa pemilik mobil itu Tuan." lapor Handi pada Ardian.


"Apa sudah diberikan pada Hilman alamat pemilik mobil itu ?"


"Sudah Tuan, saya akan ke sana," kata Handi dan menutup laptopnya.


"Ayo ," kata Ardian dan melangkah dengan langkah lebar meninggalkan ruang kerja Handi,


"Tuan mau ikut ?" tanya Handi yang mengikuti Ardian.


"Kau pikir aku bisa duduk manis menunggu di tempat ! aku ingin melihat siapa yang berani menculik menantuku," kata Ardian,


"Apa ?! kurang ajar! aku akan membuat dia membayar mahal apa yang telah dilakukannya pada anakku dan menantuku.... !" seru Ardian kesal.


Melina yang mendapatkan kabar dari sang suami mengenai apa yang terjadi pada Cinta dan Rima menjadi gelisah. Dia ingin mengatakan pada Michael tidak berani, karena kondisi Michael yang belum benar-benar pulih.


Kegelisahan Melina tidak luput dari pandangan mata Michael. Dia melihat Melina duduk berdiri dan terus memandangi ponselnya.


"Mama mau pulang? pulang saja, Ma. Michael tidak apa-apa ditinggal sendiri," kata Michael.


"Ma ," panggil Michael, karena Melina tidak merespon apa yang dikatakan oleh Michael.


Melina tersentak mendengar Michael memanggilnya dengan suara yang sedikit keras. "Apa ?" sahut Melina.


"Kenapa Mama gelisah ? apa ada sesuatu yang terjadi pada Alex ? Mama pulang saja, kalau Mama khawatir pada Alex," kata Michael.


"Tidak ada apa-apa. Mama hanya baru mendapatkan kabar, ada teman arisan Mama mendapatkan musibah," kata Melina.


Michael menarik infus yang masih menempel di tangannya.


"Kenapa dicabut ? kau mau kemana Michael ?"


Melina melihat Michael membuka lemari dan mengambil bajunya.

__ADS_1


"Aku sudah tidak membutuhkannya lagi, Ma. Aku ingin pulang saja, Ma. Bosan baring terus."


"Michael, dokter belum mengizinkanmu untuk pulang."


"Dokter itu tidak tahu dengan kondisi badanku. Aku merasa badanku sudah baik-baik saja, kepalaku juga sudah tidak sering pusing lagi, Ma."


Michael membawa bajunya kedalam kamar mandi.


"Michael, ih... anak itu ," ucap Melina kesal, karena Michael tetap Keukeh ingin meninggalkan rumah sakit.


Melina tidak bisa melarang Michael keluar dari rumah sakit, walaupun dokter sudah dihubungi Melina. Michael tetap Keukeh ingin pulang.


***


Mobil Ardian berhenti didepan satu bengkel yang terlihat sepi dari pengunjung yang ingin memperbaiki kendaraannya. Terlihat dari tampilannya, sepertinya bengkel tersebut sudah tidak beroperasi lagi.


"Kenapa Tuan ikut?" tanya Hilman begitu pintu mobil terbuka dan Ardian keluar.


"Kenapa kau melarang aku ikut?" tanya Ardian balik pada Hilman.


"Kita tidak tahu apa yang kita akan hadapi Tuan. Saya takut Tuan nanti cedera," kata Hilman.


"Apa kau kira karena usiaku sudah 60 tahun, tubuhku sudah sepuh ?"


"Tuan Ardian sensitif sekali." batin Handi.


"Baiklah Tuan, saya harap Tuan berada dibelakang saya. Bengkel ini terlihat sepi, mungkin saja didalam sana ada bahaya yang mengintai Tuan," kata Hilman.


"Mereka... "


"Sudah... ! cepat masuk kedalam sana." Ardian memotong perkataan Hilman.


Anak buah Handi dan Hilman bersiap diposisi masing-masing. Dengan satu tendang, pintu bengkel terbuka dan kondisi ringsek.


Beberapa orang menyerbu masuk, dan kemudian keluar.


"Kosong Tuan," kata anak buah Handi.


Ketiganya masuk dan melihat ruang yang kosong dan terlihat sudah lama tidak didiami.


"Tuan... ! saya menangkap orang yang mengintai dari tembok sebelah." anak buah Hilman membawa satu pemuda.


"Aku tidak tahu apa-apa Tuan ! saya tidak tahu apa-apa.... !" kata pemuda tersebut, saat moncong senjata terarah pada keningnya.


"Katakan! jika kau masih mau hidup!" Ardian mendekati pemuda tersebut dan mencengkram kuat pipi pemuda tersebut.

__ADS_1


__ADS_2