Fake Marriage

Fake Marriage
Bab 46


__ADS_3

Michael mulai tenang, baru Melina melepaskan pegangan tangannya.


"Jika ingin istrimu kembali, kau harus bawa tenang. Jangan membabi-buta mengejarnya," kata Melina.


"Bunda ingin aku berpisah dengan Cinta, Ma," kata Michael.


"Istri hamil tidak bisa bercerai dengan suaminya," kata Melina.


Wajah Michael cerah, mendengar apa yang dikatakan oleh Mamanya.


Michael bangkit. "Mau kemana?" tanya Melina.


"Mau balik kantor, Ma," kata Michael.


"Baru pulang, sudah balik lagi," ucap Melina dengan menatap punggung sang putra sulung.


Michael bicara sambil mengemudikan mobilnya. Senyuman menghiasi bibirnya saat mendengar informasi yang dikatakan Handi padanya.


"Jika sudah menjadi milikku, pasti akan tetap menjadi milikku," kata Michael.


"Cinta, kemanapun kau lari. Aku akan menemukanmu." senyuman tidak lepas dari bibirnya.


"Ternyata di situ kau bersembunyi, kau tinggal di apartemen milik suamimu sendiri." Michael tertawa senang. Dan kemudian dia bersiul mengikuti irama musik yang diputarnya didalam mobil.


Tanpa diketahui oleh Rima, saat berlutut dihadapan Rima. Michael memasukkan alat untuk mengetahui di mana Rima tinggal. Dengan alat itu, Handi melihat titik koordinat Rima. Dan titik itu berhenti di apartemen milik perusahaan Michael.


Cinta duduk selonjoran di lantai, dihadapannya satu piring gado-gado membuat dia berkali-kali menelan ludahnya.


"Kenapa tidak di makan, mbak?" tanya Santi.


"Nanti, lagi dilihat-lihat dulu... ," jawab Cinta.


Santi mengernyitkan dahi, karena jawaban Cinta membingungkannya.


"Apa hanya dilihatin, bisa buat kenyang?"


"Susunan gado-gado nya sangat bagus, tertata rapi. Sangat sayang untuk dimakan," kata Cinta.


Santi semakin bertambah heran, dia ikut melihat gado-gado milik Cinta. Lalu dia melihat kearah gado-gado miliknya, sama saja. Tidak ada yang istimewa.


"Aneh mbak Cinta," ucap Santi dalam hati.


Santi mulai makan gado-gado, Cinta masih terus melihat dan sesekali mengambil gambar gado-gado dari segala sudut.


"Mbak, kapan di makan gado-gado nya? apa mau di pesan satu lagi, biar yang ini untuk Dipandangi dan yang satu untuk di makan."


"Mbak sudah kenyang, kamu makan saja punya mbak ini." Cinta mendorong piring gado-gado miliknya.


"A-aku... mbak ?" mata Santi membulat.


"Kenapa?"


"Mana sanggup perut Santi, mbak! ini saja tidak bakalan habis. Di tambah punya mbak Cinta lagi, Santi tidak sanggup mbak ," kata Santi sambil mengangkat kedua tangan ke atas kepala, dia menyerah.


"Sayang ini, tidak ada yang makan," kata Cinta.


"Mbak makanlah, kan mbak Cinta tadi mau makan gado-gado."

__ADS_1


"Tadi mau, sekarang sudah tidak mau lagi," jawab Cinta.


Apartemen terbuka, bunda masuk. "Sedang makan, kenapa lama makan siang?" tanya Rima.


"Bunda bawa apa?" tanya Cinta.


"Tidak bawa apa-apa, Santi bilang tadi sudah beli gado-gado. Karena Cinta mau makan gado-gado," jawab bundanya.


"Cinta mau makan karedok bunda," kata Cinta.


"Karedok? itu gado-gado koq belum di makan?" Rima melihat gado-gado dihadapan Cinta masih belum tersentuh.


"Sudah tidak mau Bun, mau karedok. Gado-gado untuk bunda saja ya, Santi tidak mau makannya," kata Cinta.


"Mana saya sanggup menghabiskan dua piring mbak," kata Santi.


"Karedok dan gado-gado kan sama saja," kata bundanya.


"Beda bunda," kata Cinta.


"Mana bedanya, sama-sama sayuran," kata Rima.


"Beda bunda... ! Gado-gado dibuat dengan sayuran rebus, sementara karedok disajikan dengan potongan sayur mentah. Cinta tetap ingin makan karedok bunda," kata Cinta.


"Pesankan Santi," kata Rima.


"Mbak Cinta hamil! apa boleh makan-makanan sayuran mentah?" tanya Santi.


"Iya, lupa. Tidak boleh!" kata Rima.


"Bunda!" rengek Cinta.


Lima belas menit kemudian, karedok buatan bundanya selesai.


"Selesai!" Rima meletakkan sepiring karedok buatannya.


"Santi mau ?" tanya Rima.


"Tidak bunda, Santi pulang ya bunda," kata Santi.


Santi mengambil tasnya dan bergegas keluar dari, dalam apartemen.


"Kenapa Santi buru-buru sekali, Cinta?"


Cinta menaikkan kedua bahunya.


"Makan! kenapa dilihatin saja," kata Rima.


"Koq sama dengan gado-gado bunda?"


"Beda, di sini ada kacang panjang. Di gado-gado tidak akan, lihat." Rima mengubek-ubek gado-gado untuk mencari kacang panjang.


"Kenapa sayurnya di rebus bunda?" tanya Cinta.


"Cinta tidak boleh makan sayuran mentah. Sudah makan, jangan bantah!" perintah Rima.


"Uh... bunda, Cinta mau karedok."

__ADS_1


"Nanti kita tanya dokter," kata Rima.


"Mau makan sekarang, besok-besok sudah tidak ingin lagi."


"Cucu nenek harus nurut dengan apa kata nenek ya! jangan nakal."


"Bunda sudah suruh jangan nakal, makan !"


"Bunda galak."


"Kalau Cinta nurutin apa kata bunda, kan bunda tidak galak."


Cinta memanyunkan bibirnya, dan mulai memasukan karedok buatan bundanya.


Rima tersenyum geli melihat Cinta. "Semoga kedepannya Cinta selalu bahagia," ujar Rima dalam hati.


Santi keluar dari apartemen, bertepatan mobil Michael berhenti didepan lobby. Dengan cepat Michael mengambil topi dan kacamata untuk dipakainya, agar tidak diketahui oleh Santi. Padahal, Santi tidak akan bisa melihat keberadaan Michael di dalam mobil, dikarenakan kaca mobil Michael hitam. Lalu kemudian Michael mengambil gambar Santi, karena dia tahu Santi pegawai toko roti milik Rima.


Michael mengirim gambar Santi yang diambilnya, dan mengirimkan pada Handi yang sudah lebih dahulu tiba. "Ikuti gadis ini." Perintah Michael.


"Siapa gadis ini Tuan?" tanya Handi, begitu melihat pesan yang dikirim Michael.


"Karyawan toko roti milik bundanya Cinta," kata Michael.


"Kenapa kau tanya? jangan kau goda!" kata Michael dalam pesan yang dikirimnya kepada Handi.


Handi membaca pesan Michael menggaruk-garuk kepalanya.


"Siapa yang mau merayunya, Tuan Michael! saya kan tanya, siapa orang yang harus dipantau."


"Kenapa aku menjadi matam! sekarang? asisten merangkap mata-mata." suara hati Handi.


"Kau ikuti gadis ini!" titah Handi pada Bowo.


"Mana orangnya, Boss?" tanya Bowo.


'Tunggu saja, tadi kata Tuan Michael masih berada di depan lobby apartemen," kata Handi.


"Boos! bukan itu orangnya?" Bowo menunjuk arah jalan besar di depan gedung apartemen.


"Kenapa kita tidak lihat dia lewat dari depan mobil ?" tanya Abdi yang duduk di bangku kemudi, disampingnya Jhon. Sedangkan di jok belakang Handi dan Bowo.


"Mungkin saja dia tidak lewat sini," kata Bowo.


"Cepat Bowo, kau ikuti gadis itu."


"Naik apa ?"


"Loncat, Wo.... " kata Abdi.


"Kau naik ojek," kata Handi sambil memberi tatapan mata tajam pada Bowo.


"Baik Boss," kata Bowo.


Michael terus menunggu Cinta atau Rima untuk keluar. Sudah dua jam, keduanya tidak kelihatan keluar dari apartemen.


Tok... Tok.. kaca mobil Michael diketuk. Michael membuka kaca mobil dan berbicara dengan Handi.

__ADS_1


"Tuan, sudah jam enam sore. Tidak mungkin mereka keluar, apa tidak kita masuk ke dalam saja?" tanya Handi.


__ADS_2