
Happy reading guys 😘
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Michael mengeluarkan ponselnya dari sakunya dan mencari gambar Cinta dan kemudian menunjukkannya pada Alex. Tapi begitu ponsel Michael tepat didepan matanya, Alex memejamkan matanya.
"Alex! buka matamu!" titah Michael.
"Lihat wanita ini... ! kakak sudah membalaskan sakit hatimu padanya... ! Dia akan hancur!" kata Michael dengan penuh rasa benci kepada Cinta.
"Dia tidak akan bisa tidur pulas, Alex. Dia akan menangis terus mulai malam ini, lihat saja Lex... hari... hari wanita itu akan dilaluinya dengan air mata. Kita tinggal melihat kehancurannya saja... ha... ha.. ha.." Michael mengakhiri perkataannya dengan suara tawa yang sangat mengerikan bagi yang mendengarnya.
"Kau cepat bangun! biar bisa menyaksikan kehancuran wanita itu, kita akan berpesta, begitu melihat dia hancur!" ucap Michael dengan datar dan dingin.
Setelah puas berbincang-bincang dengan Alex, tanpa ditanggapi oleh Alex. Michael meninggalkan kamar Alex, setelah Mamat yang sementara menjaga Alex di waktu malam datang, sebelum Doni sang perawat kembali masuk bekerja.
***
Cinta membuka matanya, dan menggeliatkan tubuhnya. Dia bangkit dan turun dari ranjang dan mengambil baju ganti membawanya masuk kedalam kamar mandi. Tidak membutuhkan waktu lama, Cinta keluar dalam keadaan fresh. Dia langsung keluar dari dalam kamarnya, setelah merias sedikit bedak di wajahnya.
"Selamat pagi Bunda." sapa Cinta pada Bundanya yang sibuk menyusun roti yang akan diantar ke pemesan.
"Pagi," balas bundanya dengan melirik Cinta.
"Ada pesanan roti Bun?" tanya Cinta.
"Iya," sahut bundanya.
"Bunda mengerjakannya sendiri? kenapa tidak bilang Cinta, Bun... kan bisa Cinta bantu," kata Cinta.
"Hanya sedikit, bunda bisa mengerjakan sendiri. Cinta pasti letih kan," kata Bundanya.
"Cinta tidak letih Bun, letih karena apa? Cinta tidak melakukan apapun," kata Cinta.
"Walaupun hanya melakukan akad nikah saja, tapi cukup melelahkan juga," kata Bundanya.
"Akad nikah? akad nikah siapa?" tanya Cinta.
"Ya... Cinta! apa kau lupa semalam itu kau sudah menjadi seorang istri?" bundanya menggelengkan kepalanya berbicara dengan Cinta yang lupa, bahwa dia sudah menjadi seorang istri. Istri dari Andrew.
"Menikah? Cinta sudah menikah?"
Rima, bundanya menggelengkan kepalanya seraya memandang Cinta. Senyum menghiasi bibirnya.
__ADS_1
"Dasar pikun!" celetuk sang bunda.
"Ya... ampun! kenapa Cinta lupa?" Cinta tersadar dan menepuk jidatnya.
"Pasti tidak tahu kan, suaminya kemana?" tanya Rima.
Cinta menggelengkan kepalanya. "Kemana Mas Andrew, Bun? Cinta bangun dia tidak ada di kamar," kata Cinta.
"Tadi malam Andrew dihubungi rekan kerjanya, ada pekerjaan yang harus diselesaikan semalam. Dia bilang lembur dikantor," tutur sang Bunda.
"Heran bunda, masa menikah tidak dapat cuti," kata Rima.
"Mas Andrew tidak dapat cuti lagi Bun, kalau ngambil cuti saat ini. Pada resepsi nanti, Mas Andrew tidak dapat cuti," terang Cinta.
"Iya juga, masa nanti tidak mau honeymoon. Rencana mau kemana honeymoon?" tanya bunda cinta.
"Honeymoon?" tanya balik Cinta.
"Iya honeymoon! masa tidak mau pergi liburan satu dua hari. Apa Andrew tidak ada cerita mau kemana gitu?" tanya Rima.
"Tidak ada Bun," ucap Cinta sembari menggelengkan kepalanya.
"Honeymoon kan butuh biaya, Bun. Mas Andrew beli rumah dengan cara kredit," kata Cinta.
"Kami akan tetap tinggal di sini Bun. Cinta tidak ingin bunda tinggal sendiri, dan Mas Andrew sependapat dengan Cinta," kata Cinta.
Rima mengehentikan apa yang sedang dikerjakannya, dia melangkah mendekati Cinta dan menarik kursi untuk didudukinya.
"Bunda tidak apa-apa tinggal sendiri, jangan khawatir. Walaupun Cinta tidak tinggal dengan bunda, tapi kan kita tinggal masih satu kota," kata Rima.
"Mas Andrew tidak masalah tinggal di sini, Bun... "
"Katanya tidak masalah, dalam hatinya tidak ada yang tahu kan? setiap pasangan yang baru menikah, pasti ingin mandiri dengan tinggal di rumah sendiri. Apa lagi Andrew sudah memiliki rumah sendiri, dia pasti ingin tinggal di rumah sendiri."
"Jangan-jangan Cinta yang tidak ingin ikut Andrew?" tebak bundanya.
Cinta diam. "Benarkan, Cinta yang berat meninggalkan rumah ini. Jika sudah menikah, harus ikut kemana suami pergi," kata Rima.
"Bunda tidak apa-apa tinggal sendiri? atau kita cari karyawan yang bisa tinggal di sini bunda, mungkin Santi mau bunda. Daripada dia ngekost," kata Cinta.
Rima meraih tangan Cinta dan menepuk-nepuk, tangan Cinta yang digenggamnya.
"Bunda lebih suka tinggal sendiri, bunda tidak akan kesepian. Biar bunda tidak kesepian, cepat kasih bunda cucu yang banyak. Sehingga tidak ada waktu bunda untuk kesepian."
__ADS_1
Cinta tersipu malu, ketika diingatkan sang bunda untuk memberikan bundanya cucu yang banyak.
"Bunda, Cinta baru satu hari menikah. Sudah ditagih cucu, sabar bunda," ujar Cinta.
"Bunda mengingatkan saja, mungkin saja kalian menunda untuk mendapatkan keturunan."
"Kita doakan saja ya, Bun. Biar Tuhan mempermudahkan Cinta untuk mendapatkan keturunan," ucap Cinta.
"Amin," ucap Rima.
**
Cinta memasukkan baju Andrew kedalam koper dengan raut wajah yang terlihat muram.
"Mas pergi tidak lama, hanya dua bulan," kata Andrew.
"Dua bulan itu lama Mas! yang tidak lama itu satu hari atau satu jam," kata Cinta.
"Mau bagaimana lagi, Mas yang diutus perusahaan untuk mengelola proyek di Kalimantan. Tidak mungkin Mas menolak perintah Boss, bisa-bisa Mas akan dipecat," kata Andrew.
"Resepsi kita batal Mas?" tanya Cinta.
"Mau bagaimana lagi, terpaksa diundur. Tidak mungkin resepsi tanpa dihadiri pengantin laki-laki, tidak mungkin diadakan resepsi virtual kan."
Raut wajah Cinta semakin bertambah mendung. Andrew yang tahu Cinta ingin menangis, menghentikan apa yang sedang dilakukan, yaitu memeriksa berkas-berkas yang dikeluarkannya dari tas kerjanya.
Andrew melangkah mendekati Cinta dan mengangkat Cinta dan membawanya menuju ranjang. Andrew merebahkan Cinta di atas kasur dan kemudian Andrew juga turut merebahkan tubuhnya. Andrew mengungkung tubuh Cinta dibawah tubuhnya.
"Jangan sedih, Mas akan pulang jika tidak ada waktu. Atau Cinta yang datang menemui Mas di sana," kata Andrew.
"Cinta kan kuliah Mas," kata Cinta.
Andrew melekatkan bibirnya ke bibir Cinta dan kemudian ngemut bibir Cinta yang tadi mengerucut. Setelah puas memainkan lidahnya didalam rongga mulut Cinta, sehingga napas Cinta tersengal-sengal, baru Andrew mengurai tautan bibirnya.
"Mas nanti mau pergi, mas minta jatah ya. Dua bulan kita tidak akan bertemu," kata Andrew.
"Tidak ada jatah! kenapa Mas mau pergi!" kata Cinta.
"Bukan Mas yang mau pergi, tapi karena mas yang dapat tugas dari kantor. Apa Cinta mau melihat Mas menjadi pengangguran? Mas tidak bisa membiayai kehidupan rumah tangga kita. Mas juga tidak bisa mengirimkan uang untuk ayah dan bapak dikampung," kata Andrew.
Mata Cinta sedikit berair, melihatnya, Andrew mendaratkan kecupan dikedua kelopak mata Cinta.
"Maafkan Mas ya," ucap Andrew dengan lirih.
__ADS_1
"Apa aku terlalu kejam?" monolog dalam batin Andrew, saat melihat raut wajah sedih Cinta.