Fake Marriage

Fake Marriage
Bab 51


__ADS_3

Agh... " satu tangan membekap mulut Cinta, sehingga membuat Cinta tidak bisa berteriak. Dia berontak dan menendang tidak arah, tapi nihil untuk lepas dari cengkraman dari orang yang membekapnya.


"Diam!" seru orang yang membekap mulut Cinta.


"Andrew,' ucap Cinta dalam hati, setelah mendengar suara orang yang membekap mulutnya dan menariknya masuk kedalam kamar.


"Aduh.... !" Andrew melepaskan tangannya.


"Kenapa kau menggigitku ?" Michael mengibas-ibas tangannya telah menjadi korban gigitan Cinta .


"Kau pantas mendapatkannya ! lebih dari itu juga seharusnya !" balas Cinta.


Michael atau Andrew biasa Cinta panggil mendelik dengan kening mengernyit melihat Cinta.


"KAU... ! siapa kau itu?" tanya Michael sambil berjalan mendekati Cinta.


Cinta melangkah mundur, karena Michael maju mendekatinya.


"Jangan dekat! aku akan berteriak!" Cinta mengulurkan tangannya kedepannya, agar Michael tidak bisa mendekat.


"Tolong... ! bunda... ! Ayana... ! tolong.... !" pekik Cinta memanggil sang bunda dan juga Ayana.


"Teriak... ! teriak saja sampai urat leher menonjol, kamar ini sangat private. Seluruh kamar kedap suara, tidak akan ada yang mendengar suara orang berteriak minta tolong," kata Michael.


Cinta membalikkan badannya dan memukul-mukul pintu sembari berteriak minta tolong. "Tolong ! siapa yang diluar !" kata Cinta sembari memukul pintu sekuat tenaga yang dimilikinya.


Michael memeluk Cinta, kedua tangannya melingkar di pinggang Cinta. "Simpan tenaganya," ujar Michael.


Tiba-tiba Cinta lemas. "Tidurlah." bisik Michael.


Michael mengendong Cinta dan masuk menuju ruang yang ada didalam kamar. Michael terus membawa Cinta keluar melalui jalan yang hanya diterangi cahaya yang seadanya. Di ujung jalan satu orang menunggu Michael.


"Pak, cctv sudah menjadi matikan?" tanya Michael sembari melangkah menuju samping mansion.


"Sudah Den Michael, aman." pria yang berpenampilan seperti petugas keamanan itu mengikuti Michael. Sampai ditembok, petugas keamanan itu membuka pintu pagar kecil yang tidak terlihat seperti pintu, karena berada dibalik rimbun tanaman rambat.


Dibalik pintu, mobil Michael terparkir.


Michael merencanakan untuk membawa Cinta keluar dari mansion dengan perencanaan yang matang. Dia di bantu oleh sekuriti mansion, yang bernama Mahmud. Pak Mahmud pekerja yang sudah lama mengabdi pada keluarga Subrata. Dan juga, Pak Mahmud suami dari salah satu pekerja bagian dapur, yaitu Bik Marni.


"Bagus," kata Michael.


Michael meletakkan Cinta dalam posisi baring di jok belakang. Michael benar-benar mempersiapkan dengan benar-benar matang. Bantal dan selimut ada di jok , untuk membuat Cinta nyaman.


"Den, apa tidak apa-apa membuat Eneng pingsan?" tanya Pak Mahmud.


"Tidak apa-apa, Pak. Pingsan sebentar saja," jawab Michael.


Michael menutup pintu mobil, dia jalan menuju pintu depan bagian kemudi.


"Jangan sampai ada yang tahu, Bik Marni juga! bapak harus tutup mulut!" perintah Michael.


"Baik Den," jawab Pak Mahmud.


Michael masuk dalam mobil dan mobil mulai melaju meninggalkan mansion.


"Den Michael sangat mencintai istrinya," ucap Pak Mahmud.

__ADS_1


Dalam mansion, Ayana mulai sadar, kenapa Cinta lama sekali ke toilet. Sudah lima belas menit, dari sejak Cinta keluar dari bilik terapi. Dan belum kembali.


"Tan, kenapa Cinta lama sekali? apa dia tidur di toilet?" tanya Cinta pada bundanya Cinta, Rima.


"Eh... iya! kenapa lama sekali? Bu Mel, apa toilet jauh dari ruang ini?" tanya Rima pada Melina.


"Tidak! toilet sebelah kanan ruang ini. Apa Cinta tidak menemukan toilet yang saya tunjukkan tadi?" kata Melina.


Alex berusaha untuk bicara dan menggerakkan tangannya.


"E.. e.. e... ," kata Alex.


"Lex... kau mau mengatakan sesuatu?" tanya Ayana.


Alex memainkan bola matanya, membalas perkataan Ayana.


"Ada apa Lex? Alex khawatir dengan Cinta?" tanya Melina.


Alex kembali lagi memberi tanda dengan menggerakkan bola matanya naik turun.


"Oh... Tuhan.... !" pekik Melina dan kemudian berlari keluar dari ruang terapi.


"Ada apa Bu Mel?" Rima ikut berlari keluar, mengejar Melina yang sudah terlebih dahulu keluar.


"Ada apa?" Ayana bingung. Dia juga ikut keluar. Tinggal Alex sendiri.


"Sial! aku tidak bisa ikut dengan mereka. Pasti kak Michael menahan Cinta." monolog dalam hati Alex.


"Sial.. sial... siapapun yang telah membuat aku begini, aku tidak akan tinggal diam!" ucap Alex dalam hati dengan perasaan yang geram. Sudah beberapa hari ini, Alex berusaha untuk untuk mengingat sebelum terjadi kejadian kecelakaan yang menimpanya. Tapi setiap otaknya dibawa untuk berpikir, Alex selalu merasa pusing menerpa kepalanya.


Melina mengetuk pintu kamar mandi, sambil memanggil nama Cinta. Tok... tok... "Cinta !" panggil Melina.


"Saya khawatir Cinta pingsan didalam kamar mandi," jawab Melina.


"Pingsan!"


"Cinta! Cinta... !" Rima memanggil nama Cinta, tapi tidak ada sahutan dari dalam kamar mandi.


Melina memegang handle pintu dan membukanya.


"Kosong," kata Ayana.


"Kemana Cinta?" tanya Rima.


"Apa mungkin bukan toilet ini," kata Ayana.


Melina menutup toilet, dia memutar tubuhnya dan melangkah menuju keluar dari mansion.


"Bik Marni!" panggil Melina.


"Apa melihat Cinta?" tanya Melina.


"Tidak ada nyonya," sahut Bik Marni.


"Cinta tidak ibu lihat keluar?" tanya Melina lagi.


"Betul, Bu. Saya tidak ada lihat Non Cinta keluar, coba saya tanya pada yang lain," kata Bik Marni.

__ADS_1


"Bik.. apa Michael sudah pulang?" tanya Melina.


"Michael," ujar Ayana.


"Tante, apa Cinta di culik?" tanya Ayana.


"Aden belum pulang, nyonya," jawab Bik Marni.


"Syukurlah," ucap Melina dalam hatinya.


Dia takut Michael pulang dan membawa Cinta pergi.


Bik Marni kembali dan mengatakan, tidak ada yang melihat Cinta keluar dari mansion.


"Kerahkan semua pelayan untuk mencari Bik!" perintah Melina.


Bik Marni menyuruh para pelayan untuk mencari keberadaan Cinta di seluruh ruangan yang ada di dalam mansion, tanpa kecuali.


Satu persatu pelayan mansion melaporkan, tidak menemukan Cinta di manapun juga didalam mansion.


Rima panik, begitu juga dengan Ayana.


"Bagaimana mungkin Cinta bisa hilang, dia bukan anak kecil yang bisa salah jalan," kata Ayana.


"Apa mungkin Cinta di culik, Bu Mel?"


Apa yang dikatakan oleh Rima membuat Melina menaruh curiga dengan seseorang, yaitu putranya sendiri.


Melina menuju ruang kontrol cctv, untuk mencari Cinta melalui cctv.


"Apa hanya ini rekaman hari ini, Pak?" tanya Melina pada Pak Mahmud.


"Iya, nyonya," sahut Pak Mahmud tanpa melihat Melina, karena dia takut kebohongannya terbongkar.


"Tidak terlihat Cinta ada di mana-mana, sejak dia keluar dari ruang terapi. Pak, cctv didepan toilet tidak ada?"


"Rusak nyonya, sudah dipanggil teknisinya, sebentar lagi akan datang," ucap Pak Mahmud.


"Kemana Cinta? Bu Mel bagaimana ini? kenapa Cinta bisa hilang," kata Rima.


"Apa kita laporkan pada polisi," kata Ayana.


"Harus!" kata Melina.


Ting... suara bunyi ting dari saku baju Melina. Melina mengeluarkan ponselnya dan membuka pesan yang dikirim Michael.


Dan..


"Dasar anak kurang ajar!" umpat Melina tanpa sadar .


"Ada apa Bu Mel?" tanya Rima.


"Lihat Bu Rima." Melina memberikan ponsel kepada Rima.


"Hah... !" Mata Rima membola, mulutnya menganga.


"Ada apa, Tante?" tanya Ayana.

__ADS_1


Apa yang dilihat ketiganya?


__ADS_2