
Happy reading guys 😘
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Andrew sibuk dengan rencananya balas dendam. Dikediamannya, Mama dan Papa sedang bersama sang putra yang masih betah baring di atas ranjang tanpa bisa melakukan apapun.
"Pa, semoga Alex bisa pulih secepatnya," ujar Melina sambil menggerakkan tangan Alex seperti orang sedang senam. Apa yang dilakukan oleh Melina agar otot-otot tangan sang putra tidak kaku, karena kondisi kedua tangannya yang tidak bergerak.
"Bagaimana rencana membawa Alex ke luar negeri? apa jadi?" Melina menghentikan menggerakkan tangan Alex. Dia mengalihkan pandangannya menatap sang suami yang sedang memijat kaki Alex.
"Menurut Mama bagaimana?" Ardian balik bertanya kepada sang istri.
"Mama ikut bagusnya, saja. Mau di bawa keluar, Mama setuju. Tapi negara mana tujuan kita? Jika ke Inggris atau Jerman, apa tidak terlalu jauh, Pa?"
"Terpaksa kita Carter pesawat, tidak mungkin kita membawa Alex yang dalam keadaan begini, dengan mengunakan pesawat komersial," kata Ardian.
"Jika Mama setuju kita membeli pesawat pribadi dulu, kita tidak perlu pusing jika mengalami keadaan darurat begini." Ardian menambahkan ucapannya.
"Untuk apa beli pesawat, jika kita pergi berdua kemana-mana hanya bertiga dengan asistennya Papa. Michael dan Alex juga lebih suka memakai pesawat komersial," jawab sang istri, Melina.
"Carter pesawat juga tidak menghabiskan dana. Beli pesawat, biaya perawatan mahal," kata Melina kembali.
"Mama ini terlalu hemat, perusahaan kita sangat banyak menghasilkan uang, Ma. Jangan takut Mama kita sampai kekurangan uang."
"Mama tidak akan jatuh miskin, Papa buat."
"Roda kehidupan bisa berputar, Pa. Tidak selamanya bisa berada di atas, tiba-tiba terjadi krisis ekonomi global? seperti yang terjadi beberapa tahun yang lalu, banyak perusahaan yang gulung tikar. Tidak! Mama tidak ingin anak cucu kita mengalami hidup yang redup belakang hari. Daripada beli pesawat, lebih baik kita nabung. Beli tanah, beli apalah! yang beberapa tahun kedepannya, harganya akan naik," kata Melina.
Prok... prok.. prok
Ardian memberikan tepuk tangan, mendengar apa yang dikatakan oleh sang istri.
"Papa bangga punya istri seperti mama, yang memikirkan masa yang akan datang."
Keduanya asik berbincang-bincang, tanpa menyadari Alex yang sempat membuka matanya beberapa detik dan kemudian terpejam kembali.
***
Sepulang dari rumah Cinta. Andrew membawa kedua orangtua pura-pura, menuju rumah rumah miliknya yang Cinta juga pernah dibawanya.
"Sekarang bapak dan ibu tinggal di sini," kata Andrew.
__ADS_1
"Tinggal di sini! untuk apa Nak Andrew? kami punya rumah sendiri," kata Pak Muklis.
"Saya tahu bapak punya rumah sendiri, ini saya lakukan demi kelancaran rencana saya. Bagaimana jika nanti Cinta atau ibunya berjumpa dengan bapak dan ibu di Mall, sedangkan mereka tahu bapak dan ibu tinggal di kampung."
"Kami tidak pernah pergi ke Mall Nak Andrew, jangan khawatir. Kami pasti tidak akan pernah bertemu, karena kami hanya tahunya belanja di pasar," kata Sadiah, istri Pak Muklis.
"Apa bapak bisa jamin, tidak bertemu dengan ibunya Cinta di pasar? mereka itu kelasnya pasar untuk belanja," kata Andrew dan dari perkataannya, terlihat dia sedikit merendahkan Cinta dan ibunya yang hanya mampu belanja di pasar tradisional.
Kebencian Andrew sangat terlihat, garis rahangnya mengeras begitu mengeluarkan perkataan yang bernada menghina Cinta dan ibunya.
"Pak Muklis, dengarkan apa yang dikatakan oleh Tuan Michael," kata Handi akhirnya, setelah dia hanya mendengar sang bos berbicara dengan kedua orang yang disewanya.
"Satu lagi, Nak Andrew! bukan Nak Michael," kata Andrew.
"Maaf, tadi kan saya disuruh manggil Nak Michael. Mana saya tahu, namanya Andrew," kata Pak Muklis yang tadi hampir salah sebut, karena Handi tidak mengatakan nama Michael jangan disebutkan didepan Cinta. Untung sebelum pergi kerumahnya Cinta, Michael sadar.
"Saya yang salah Tuan, karena lupa mengatakannya pada Pak Muklis," ucap Handi yang mengakui kecerobohannya. Karena dia juga mengatakan agar Pak Muklis memanggil Andrew, dengan Michael saat pertemuan pertama di ruang kerja Michael di perusahaan.
"Jangan sampai salah sebut lagi. Handi, beri gaji mereka untuk hari ini," kata Michael/Andrew.
Andrew keluar dari rumah, tinggal Handi.
"Ini lima juta, gaji hari ini," kata Handi dan menyerahkan amplop kepada Pak Muklis.
"Senangnya, Pak." Bu Sadiah juga gembira, karena perekonomian mereka akan bangkit. Walaupun pekerjaan sebagai orang tua pura-pura, menyakiti orang yang ditipu. Tapi Pak Muklis dan istri terpaksa menerima penawaran Handi, karena mereka sangat membutuhkan uang.
"Ingat, jangan pergi ke luar rumah," kaya Handi.
"Kalau tidak keluar rumah, bagaimana cara kami belanja kebutuhan hidup Pak Handi?" tanya Sadiah, istri pak Muklis.
"Saya akan mengirimkan barang-barang kebutuhan dapur. Untuk saat ini, lemari pendingin sudah penuh dengan keperluan dapur," kata Handi.
Begitu Handi pergi, keduanya langsung melangkah menuju dapur. Sadiah membuka lemari pendingin dan melihat lemari pendingin penuh dengan barang-barang yang bisa di masak untuk beberapa hari kedepannya.
"Pak, lihat!" seru Sadiah pada sang suami yang sedang melihat-lihat halaman belakang.
"Ada apa buk?" Pak Muklis memutar badannya dan melangkah mendekati sang istri.
"Daging Pak! banyak daging," ujar sang istri yang terlalu gembira, saat melihat bungkusan daging di dalam lemari pendingin.
"Masak Buk, bapak sudah lama tidak makan daging. Masak rendang buk, nanti jika sudah masak, biar kita bagi kepada Yuni. Dia pasti senang," kata sang suami yang ingat dengan anaknya Yuni yang tinggal sendiri di rumah.
__ADS_1
"Apa boleh kita keluar, Pak? Pak Handi tadi melarang kita keluar rumah," kata Sadiah, mengingatkan sang suami dengan larangan handi.
"Saya saja yang pergi Buk... cepat ibu masak, biar saya cepat pergi dan cepat kembali," ujar Pak Muklis.
"Baiklah, Pak. Semoga kita tidak ketahuan," kata Sadiah.
......................
"Sandra!" Melina kaget melihat Sandra duduk di ruang tamu, menunggu kedatangannya.
Sandra bangkit dari duduknya dan melangkah menuju Melina. "Apa kabar, Tante?" Sandra cipika-cipiki dengan Melina.
"Tante baik, kamu bagaimana? tambah cantik saja, selama tinggal di luar negeri," kata Melina.
"Baik, Tante," sahut Sandra dan menampilkan senyuman menghiasi bibirnya.
"Ayo duduk," ujar Melina.
Keduanya duduk. "Mama dan Papa kamu bagaimana? Tante dengar, opa sedang sakit ya?"
"Karena itu Sandra pulang, Tante. Sekarang ini kondisi opa sudah jauh lebih baik," kata Sandra.
"Sandra, ada yang ingin Tante tanyakan padamu?"
"Mengenai apa ya, Tante?"
"Mengenai Alex, kalian kan cukup akrab. Apa kau tahu, siapa gadis yang di sukai oleh Alex?" tanya Melina.
"Gadis yang disukai Alex? kenapa Tante tanyakan pada Sandra?"
"Karena sebelum terjadinya kecelakaan tersebut, Alex pergi untuk menemui gadis tersebut. Alex ingin menembak gadis itu untuk menjadi pacarnya," kata Melina.
"Saya tidak tahu, Tante. Selama Sandra di luar negeri, Sandra tidak pernah berhubungan dengan Alex. Apa Tante tidak bertanya dengan teman-teman kuliahnya. Alex kan dekat dengan siapa itu namanya? Sandra lupa dengan nama teman Alex itu, Tante. Coba Tante tanya pada teman-temannya di universitas," kata Sandra.
"Itu dia, Tante tidak tahu siapa teman-temannya Alex," kata Melina.
"Kenapa Tante ingin tahu mengenai gadis yang disukai Alex? apa Tante curiga, gadis yang disukai Alex yang membuat Alex kecelakaan?"
Melina menganggukkan kepalanya.
"Biar Sandra bantu Tan, Sandra akan mencari gadis yang disukai Alex."
__ADS_1
Next