Fake Marriage

Fake Marriage
Bab 42


__ADS_3

"Mas Andrew .. ih... ! geli Mas.... !"Cinta menggelinjang dan menggeliat seperti belut yang ingin disentuh .


"Ah... !" desa-han lirih terdengar dari mulutnya Cintai .


"Lagi Mas... ah.. ya di situ Mas... Mas... ! terus Mas ! putramu sangat menyukai apa yang Mas lakukan... ahh.. !"


Desa-han lirih dan raca-un merintih kenikmatan terus terdengar dari mulut Cinta.


Sampai..


"Cinta !!" tepukan di lengannya, menyadarkan Cinta dari mimpi indah bersama dengan Andrew.


Cinta membuka matanya dan gelagapan melihat Ayana berdiri seraya menatapnya dengan tatapan mata memicing.


"Ke-kenapa kau di kamarku?" tanya Cinta dengan mata celingukan mencari sesuatu. keduanya tangannya memeluk guling dengan erat. Kakinya membelit guling, seakan-akan takut guling terlepas dari kedua tangannya.


Cinta melepaskan guling yang dipeluknya.


"Cari apa ?" Ayana berkacak pinggang menunggu Cinta menjawab pertanyaan yang diajukannya.


"Tidak ! aku tidak cari apa-apa," sahut Cinta sembari menarik selimut yang sudah berada diujung kakinya.


Cinta melihat sprei sudah acak-acakan dibuatnya.


"Mimpi? itu hanya mimpi?" suara hati Cinta.


"Siang-siang mimpi begituan. Dengan siapa itu, mimpi nganu-nganu...?" tanya Ayana.


"Mana ada, aku tidak tidur. Aku hanya memejamkan mata."


"Tidak tidur! hei bumil... aku dengar suaramu keras sekali meracau, aku kira kau sakit. Aku cepat masuk kamar... Eh.. ternyata sedang menciumi guling... !" ledek Ayana.


Wajah Cinta bersemu merah merona. Dia sangat malu, ternyata mimpinya didengar oleh Ayana.


Ayana meletakkan bokongnya di ranjang dan kemudian ikut merebahkan diri di samping Cinta.


"Cin, kau rindu dengan laki-laki itu?" tanya Ayana.


Cinta diam dengan menatap langit-langit kamarnya.


Cinta menghela napas. "Jika aku jawab tidak, munafik aku. Kau tahu kan, Ay. Dia cinta pertamaku. Aku menaruh harapan besar dengan hubunganku dengannya. Aku ingin menua bersama membesarkan anak-anak kami. Mimpiku tidak muluk-muluk, hanya itu. Tapi ternyata, mimpiku yang ingin bahagia dengan keluarga kecilku saja tidak terlaksana." Cerita Cinta.


"Jika dia kembali, apa yang akan kau lakukan?" tanya Ayana.


"Aku hanya ingin bertanya, kenapa dia seperti itu? apa salahku?" kata Cinta.


"Seharusnya, Minggu depan resepsi pernikahan kami. Apa dia tidak punya uang untuk resepsi, Ay? sehingga dia menghilang?" Cinta memiringkan kepalanya melihat Ayana.


"Apa itu yang kau pikirkan? seharusnya dia jujur, jika tidak ada uang. Kau tidak akan memaksanya kan, Cinta?" tanya Ayana.


"Iya," sahut Cinta.


"Tapi Cinta, aku tidak sepemikiran denganmu. Niat awal orang itu sudah tidak benar, dia memalsukan alamat orangtuanya. Dia kasih alamat pemakaman, jahat kan?" kata Ayana.


"Lupakan laki-laki itu! fokus mengurus anak yang ada dalam kandunganmu," kata Ayana.


"Ay, aku ingin mengambil cuti kuliah," kata Cinta.


Ayana bangkit dari berbaring. Dia duduk dan menatap Cinta.


'Kenapa? apa kau malu dengan kehamilanmu?" tanya Ayana.


"Bukan karena itu, Ay. Aku tidak akan pernah malu dengan anakku ini," kata Cinta.


"Lalu apa yang membuat kau ingin cuti?"

__ADS_1


"Aku tidak ingin dia melihatku, Ay. Apalagi dengan kehamilanku ini. Bagaimana jika anakku akan diambilnya, Ay? aku tidak sanggup jika kehilangan anakku ini, Ay." kata Cinta.


Air mata sudah membasahi pipinya.


"Jangan nangis, Cinta. ingat bayimu, dokter mewanti-wanti agar kau tidak sedih," kata Ayana.


"Aku tidak ingin menangis, Ay. Tapi air mataku ini mau keluar terus," kata Cinta.


"Sudah ah.. jelek kalau nangis. Jangan takut, laki-laki itu tidak akan bisa mengambil anakmu . Aku akan menghajarnya," kata Ayana.


"Ayana jangan di lawan, preman pasar... !" seru Ayana dengan menepuk dadanya.


Dan..


Huk... huk... Ayana terbatuk-batuk, karena kekerasan menepuk dadanya.


Cinta tertawa melihat gaya Ayana membanggakan diri, dan akhirnya terbatuk-batuk.


"Aku senang melihatmu tertawa, walaupun aku yang sengsara karena batuk," kata Ayana.


"Maaf,' kata Cinta.


"Maaf di terima," kata Ayana.


"Bunda belum pulang ya, Ay?" tanya Cinta.


"Belum, apartemen sudah kami bereskan semua. Sudah layak untuk ditempatin," kata Ayana.


"Terima kasih," kata Cinta.


"Hanya terima kasih? tidak ada yang lain gitu?"


"Maumu apa? uang? kau banyak uang," kata Cinta.


"Bagaimana jika kau angkat aku sebagai mommy angkat anak yang ada di dalam sini ," kata Ayana dengan menunjuk perut Cinta.


"Putra? darimana kau tahu anakmu laki-laki?"


"Feeling," sahut Cinta.


"Bagus! biar dia nanti yang akan berhadapan dengan laki-laki itu," kata Ayana.


**


Michael menekan tombol bel berulang-ulang, tapi tidak ada yang keluar membukakan pintu untuknya.


"Cinta... ! Cinta... !" panggil Michael.


"Kemana dia? apa dia Kekampus? tadi kata bunda dia harus beristirahat."


"Cari Bu Rima, Pak?" tanya tetangga cinta dari balik tembok rumahnya.


"Iya Bu," jawab Michael.


"Pergi tadi, Pak."


"Pergi! bersama dengan Cinta ya, Bu?" tanya Michael.


"Bapak suami Cinta ya?"


"Iya Bu, saya baru balik dari tugas keluar kota."


"Oh.. pantas sudah lama saya tidak lihat, hanya lihat Cinta saja."


"Ibu tahu kemana mereka pergi?" tanya Michael.

__ADS_1


"Tidak tahu, Pak. Tadi saya lihat Bu Rima dan beberapa orang membawa barang-barang, seperti pindahan. Tapi kalau pindahan, kenapa tidak pamit pada kami sebagai tetangga. Bapak tidak dikabarin juga?"


"Ponsel keduanya tidak aktif, Bu."


"Mungkin bukan pindahan, Pak. Mau liburan mungkin. Coba bapak datang ke toko roti milik Bu Rima, Pak."


"Saya tidak tahu alamat toko rotinya, Bu. Apa ibu tahu?"


"Saya juga tidak tahu, Pak. Bapak sebagai menantu masa tidak tahu."


"Saya tidak pernah tanya, Bu. Takut nanti dikira ingin ikut campur masalah toko," kata Michael memberikan alasan.


"Dulu Bu Rima pernah bilang pada saya, tapi saya lupa. Jalan Baru kalau saya tidak salah."


"Jalan baru no berapa Bu, jalan baru itu kan panjang dan luas?"


"Itu saya lupa, bapak lihat saja toko roti di jalan baru."


"Nama tokonya, Bu?"


"Saya lupa, pak," kata tetangga Rima.


"Terima kasih atas informasinya, Bu," kata Michael dan kembali masuk ke dalam mobilnya.


Di dalam mobil, Michael menghubungi Handi.


"Handi, perintah orang untuk mencari Cinta!" kata Michael, begitu sambungan telepon di angkat Handi.


"Cinta?"


"Istriku...!" kata Michael tegas.


"Oh... baik Tuan," sahut Handi.


"Cari toko roti di jalan Baru!" perintah Michael lagi.


"Nama tokonya Tuan dan nomor berapa?" tanya Handi.


"Saya tidak tahu ! kalau tahu, sudah aku datang ke sana. Cari satu persatu toko roti di jalan baru." Michael memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu Handi berkata lagi.


Handi yang ingin bertanya lagi, tapi karena Michael sudah memutuskan sambungan telepon. Hanya bisa menggerutu.


"Dasar Tuan Michael, suruh cari bininya tanpa beri alamat yang jelas," kata gerutu Handi.


"Jalan Baru begitu luas, toko roti bukan hanya satu."


"Nasib sebagai bawahan, mendapatkan Boss tanpa mikir kalau bertindak. Sekarang suruh cari istri yang ditinggalkannya. Nasibmu Boss."


Ardian juga tidak tinggal diam. Dia mencari orang yang mengatakan Cinta yang telah membuat Alex patah hati dan mengakibatkan Alex minum-minuman keras dan berakhir kecelakaan yang telah membuat Alex terbaring dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Kau cari orangnya!" kata Ardian pada pria yang menemuinya.


"Sulit Tuan, karena petunjuk yang minim."


"Aku percaya padamu Hilman! kau itu mantan polisi yang andal, jarum didalam tumpukan jerami saja bisa kau temukan," kata Ardian.


Hilman yang mendapatkan pujian dari Ardian, hanya cengengesan sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Baiklah, Tuan. Saya akan berusaha," kata Hilman.


"Dan satu lagi tugas yang harus kau lakukan, cari wanita yang di cintai Alex. Kata Michael bernama Cinta. Dari sini bisa kau selidiki." Ardian memberikan surat nikah yang dicampakkan Rima ke wajah Michael.


"Ini Tuan Michael! apa Tuan Michael sudah menikah? kenapa saya tidak diundang Tuan Ardian?"


"Bukan menikah yang sebenarnya, nikah siri. Panjang ceritanya, kau selesaikan kasusnya, kau akan diundang."

__ADS_1


"Sial Tuan." Hilman pergi meninggalkan Ardian, dan tidak lama kemudian Ardian juga pergi keluar dari cafe tempat mereka bertemu.


__ADS_2