
Happy reading guys 😘
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Cin, tidak mau kau pikirkan lagi mengenai pernikahanmu itu? ini menyangkut masa depanmu, Cinta! jangan sampai kau salah pilih. Kau baru mengenal dia baru beberapa bulan," kata Ayana.
"Lamanya tidak menjamin kita akan bahagia, Ay. Perkenalan yang singkat juga tidak menjamin kita tidak akan bahagia. Mungkin jodohku sudah tiba," kata Cinta.
"Aku tidak bisa kata apapun lagi, semoga kau selalu bahagia. Ingat, aku selalu ada di sampingmu. Jangan kau simpan sendiri jika kau tidak bahagia."
"Terima kasih BESTie.... !" Cinta melebarkan tangan, dan Ayana melabuhkan dirinya dalam rangkulan tangan sang sahabat.
"Sudah ah... kau akan menempuh hidup baru, kita koq malah sedih-sedihan begini." Ayana melepaskan tubuhnya dari pelukan Cinta. Dia mengusap sudut bola matanya, begitu juga dengan Cinta.
"Bagaimana dengan teror itu, apa ada datang lagi surat ancaman?" tanya Ayana.
Cinta menggelengkan kepalanya, seraya berkata. "Tidak ada datang lagi, hanya satu itu saja. Apa mungkin itu hanya kerjaan orang iseng saja?"
"Mungkin saja, apa salah satu teman kuliah kita? tapi siapa?" kata Ayana.
"Baru-baru ini aku ribut dengan salah satu orang, apa dia?" kata Cinta.
"Siapa? apa aku mengenal orang itu?" tanya Ayana.
"Tidak! orang itu teman satu SMA dulu, dan masih tetangga dekat rumah dulunya. Dan orang tuanya punya usaha percetakan, aku tidak tahu ternyata dia putrinya."
"Terus dia tidak mau menerima orderan dari kami, gila nggak itu orang? gara-gara dendam belum tuntas, dia menolak rezeki," kata Cinta.
"Dia yang dendam tanpa alasan yang jelas, aku tidak!" tambah Cinta.
"Lihat saja, pasti usahanya akan duduk ditempat, jika yang mengelola orang seperti itu. Seharusnya dia bisa memisahkan masalah pribadi," kata Ayana.
"Aku curiga dia yang mengirim pesan teror itu," kata Cinta.
"Sudah pasti, Cinta. Pasti dia, kau harus hati-hati dengan orang seperti itu. Jangan sampai dia mengacaukan toko kuemu ."
"Aku sudah pasang cctv didepan toko kue, aku sudah waspada, begitu mengetahui orang itu masih punya dendam."
***
Michael duduk dengan kedua kakinya menyilang, dan menumpangkan kedua tangannya di atas perut. Kedua matanya sedikit memicing menatap Sandra yang tersenyum manis dihadapannya.
"Hanya itu yang mau kau sampaikan?" tanya Michael.
"Iya kak! lihatlah pergelangan tanganku ini." Sandra menunjukkan pergelangan tangannya yang merah bekas cengkraman tangan Alex.
__ADS_1
"Apa kau ingin minta kompensasi?" tanya Michael.
"Kompensasi? kompensasi untuk apa?" Sandra bingung dengan apa yang dikatakan oleh Michael.
"Untuk bekas yang dibuat Alex," kata Michael.
"Aku bisa merekomendasikan dokter yang bisa menghilangkan bekas tangan Alex itu," kata Michael.
"Oh... kalau aku minta kompensasi dengan kakak mencintaiku, boleh?" tanya Sandra.
Michael memajukan tubuhnya, dan mengulurkan tangannya.
Dan..
Jemari tangannya menyentil kening Sandra.
"Aduh... !" teriak Sandra.
"Kak Michael! sakit ini," ujar Sandra.
"Sudah aku bilang, kau itu tidak termasuk kedalam kriteria untuk menjadi calon istri Michael Andrew Subrata."
"Kriteria kakak bagaimana? biar aku berubah," kata Sandra.
"Kau tidak akan bisa berubah, kau sudah terbentuk seperti ini dari sananya," balas Michael.
"Tunggu! aku ada informasi mengenai siapa gadis yang disukai Alex," kata Sandra. Seketika Michael menurunkan bokongnya. Dia kembali mendudukkan dirinya ke kursi.
"Katakan! jangan bohong," kata Michael.
"Jangan galak-galak kak, nanti lekas tua! tapi jika kakak tua juga aku tetap suka," ucap Sandra seraya menggoda Michael dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Cepat Sandra!" titah Michael yang tidak sabar mendengar apa yang akan dikatakan olehnya.
"Iya... iya... Alex pernah bilang, dia ada teman cewek di kampusnya. Aku rasa dia ada hati dengan wanita itu, dan wanita itu tidak menanggapi perasaan Alex. Sepertinya wanita itu tidak suka dengan Alex yang tidak terlihat kaya. Alex kan lebih suka naik motor ke kampus, mungkin saja gadis itu memandang Alex dengan sebelah mata," kata Sandra.
"Apa Alex yang mengatakannya?" tanya Michael.
Sandra menganggukkan kepalanya. "Iya, Alex bercerita sebulan sebelum dia kecelakaan," kata Sandra.
"Siapa nama gadis itu?" tanya Michael.
"Aku lupa kak siapa namanya. Siapa ya, Citra atau... aduh... aku lupa kak. Nanti aku cari informasi lagi. Begitu aku tahu namanya, aku akan mengatakannya pada kakak."
"Tapi kakak harus janji, jika aku mendapatkan informasi mengenai siapa wanita itu, kak Michael harus menuruti apa yang aku inginkan," kata Sandra.
__ADS_1
"Aku akan menuruti keinginanmu, jika tidak bertentangan prinsipku dan hukum," kata Michael.
"Jangan khawatir kak, aku tidak akan meminta hal-hal yang aneh-aneh," kata Sandra.
"Dan memintaku untuk menjadikanmu kekasih! aku tidak akan menuruti keinginanmu itu," tambah Michael lagi.
"Ih... !" Sandra kesal.
Michael mengangkat bokongnya. "Kak Michael mau kemana?" tanya Sandra saat melihat Michael ingin pergi meninggalkannya.
"Masih banyak pekerjaan yang harus aku lakukan, aku tidak sepertimu yang kerjanya hanya berkeliaran tanpa arah dan tujuan," sindir Michael.
"Kak! masa aku ditinggal sendiri!" kata Sandra.
"Kau tidak akan sendiri. Begitu aku keluar dari cafe ini, kau pasti sudah ada yang nemani. Pria itu terus-menerus memandangimu sedari tadi." jari telunjuk Michael menunjuk pria yang duduk tidak jauh dari tempat mereka duduk.
Sandra memiringkan kepalanya dan melihat arah yang ditunjuk oleh Michael.
Degh..
"Kenapa dia ada di sini?" gumam Sandra dalam hatinya.
Michael beranjak meninggalkan Sandra yang sedang melihat pria yang sedang memandangnya.
Sandra memalingkan kepalanya dan baru sadar, Michael sudah tidak terlihat lagi.
"Sialann.. ! kak Michael sudah pergi." umpat Sandra.
"Apa kabar?" suara menyapanya.
"Untuk apa kau tanyakan? aku baik-baik saja! aku masih seperti saat kau masih meninggalkanku. Tidak ada perubahan, aku masih bahagia dan selalu gembira."
"Siapa pria tadi? apa laki-laki itu kekasihmu?"
"Ha... ha... ha .. ternyata Dave sekarang suka kepo dengan urusan orang ya? apa sekarang profesimu sekarang sebagai wartawan gosip?"
Pria yang bernama Dave meletakkan bokongnya di kursi yang diduduki oleh Michael tadi.
"Hei! aku tidak menyuruhmu untuk duduk, pergilah! jangan ganggu aku," kata Sandra.
"Kursi ini bukan milikmu! cafe ini milik umum, tidak ada yang bisa melarang tamu untuk duduk di mana dia suka," kata Dave.
"Silakan kau duduk. Bye.... !" Sandra bangkit dan berlalu meninggalkan Dave.
"Sandra!" panggil Dave, tapi Sandra tidak mengindahkan panggilan Dave. Langkah kakinya membawanya keluar dari dalam cafe.
__ADS_1
"Kenapa dia yang marah? seharusnya aku yang marah!" ucap Dave dalam benaknya. Kedua bola matanya terus mengikuti Sandra yang pergi keluar dari dalam cafe.
Bersambung