
Pada makam hari, perut Cinta mulai melakukan demo besar-besaran. Bunyi perutnya saling berlomba, membuat Cinta sulit untuk memejamkan mata. Walaupun matanya sudah meredup, tapi dia tidak bisa tidur.
"Aduh... perut, sabar ! tunggu sampai besok pagi," ucap Cinta sembari mengusap-usapnya.
"Daging tadi pasti sangat nikmat. Apa masih ada, atau sudah dihabiskannya."
"Mau keluar beli makanan, aku tidak tahu apa masih ada rumah makan yang masih buka. Sudah jam setengah dua belas. Siapa yang kelaparan ditengah malam seperti ini. Hanya perut tidak bisa diajak kerjasama yang berulah di waktu malam." gerutu Cinta.
"Apa aku masak mie saja. Dia pasti sudah tidur, tidak akan tahu aku masak mie lagi. Tidak mungkin aku masak nasi dan sayur malam begini."
Karena tidak dapat menahan rasa lapar, akhirnya Cinta memutuskan untuk keluar mencari makan.
"Sayang lapar ya? ayo kita mencari makanan di dapur. Sabar ya sayang... ," ujar Cinta, bicara pada bayi dalam kandungannya.
Cinta turun dari ranjang dan melangkah keluar dari kamar, tangannya memegang handel pintu dan membukanya secara perlahan, karena dia takut Michael mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Cinta menggeluarkan kepalanya untuk melihat luar kamar dan keningnya mengeryit, karena lampu terang benderang.
"Apa dia belum tidur?" Cinta mengalikan pandangan matanya kearah kamar yang didiami oleh Michael . Karena Cinta tidak mau satu kamar dengan Michael, dan keputusan Cinta didukung oleh melina. Michael menyerah dan mengizinkan Cinta untuk tidur dikamar yang beda.
"kenapa dia belum tidur?" Cinta ragu untuk melanjutkan langkah kakinya menuju dapur. Dia diam mematung, matanya awas menatap sekitar ruangan, mencari keberadaan Michael.
"Bagaimana ini ? perutku lapar sekali. Apa sih yang dilakukan orang itu...? hingga larut malam ini belum tidur juga," ucap Cinta dengan kesalnya.
"Aah... masa bodolah...Perutku lapar sekali, tidak bisa aku tahan lagi." Cinta melangkahkan kakinya menuju dapur.
"Semoga masih ada yang bisa aku makan, atau aku masak mie saja lagi. Mie yang aku masak tadi sangat menggiurkan, dasar orang itu yang tidak punya perasaan... ! aku itu ingin makan mie, enak saja dia main buang... !"
Cinta membuka microwave dan melihat daging yang dibeli Michael berada didalamnya.
"Daging.... !"
Air liur Cinta sudah meleleh melihat daging dan kentang goreng didalam microwave. Tapi dia ragu dan gengsi untuk mengambilnya, karena dia sudah menolak makanan yang ditawarkan oleh Michael.
"Bagaimana ini ? apa aku makan saja, ya? kan dia tidak tahu aku yang memakannya. Dan jika dia menayangkan daging ini, aku bilang saja pasti kucing yang makan."
Akhirnya Cinta mengeluarkan bistik daging dan kentang goreng dari dalam microwave dan dia juga membuat susu untuk wanita hamil yang sudah dipersiapkan oleh Melina.
Cinta begitu menikmati bistik daging dan kentang goreng. Dia tidak tahu, bahwa apa yang sedang dilakukannya sepengetahuan Michael. Michael tertawa sendiri melihat Cinta yang begitu menikmati makanan.
Dari cctv yang ada di dapur, Michael dapat melihat semua kegiatan Cinta.
"Tadi sok nolak," kata Michael.
__ADS_1
"Habiskanlah, biar anakku sehat di dalam sana" ucap Michael.
"Kenyang!" seru Cinta sambil mengusap-usap perutnya.
"Nak... sudah kenyangkan ? sekarang kita tidur ya... jangan minta makan lagi," kata Cinta.
Cinta membereskan semua bekas makannya, baru dia kembali masuk kedalam kamar dan tidak lupa mengunci pintu kamar. Karena Cinta tidak ingin Michael masuk kedalam kamarnya.
"Kenapa aku males sikat gigi ? ah... sudahlah tidur saja. Satu hari tidak sikat gigi, tidak akan membuat gigiku rusak." Cinta merebahkan tubuhnya, dan tidak lama kemudian matanya terpejam. Dan napasnya turun naik dengan lambat, menandakan dia sudah masuk ke dalam mimpi.
Perlahan-lahan dinding didekat lemari bergerak dan terlihat kepala Michael mengintai kedalam kamar.
"Sangat berguna membuat pintu rahasia ," ucap Michael seraya melangkah dengan hati-hati mendekati ranjang.
Begitu melihat sang pemilik kamar sudah tertidur dengan pulas, Michael naik keatas ranjang dan kemudian merebahkan tubuhnya dan menarik tubuh Cinta untuk masuk kedalam dekapannya.
"Seperti ini saat kau sadar, kan bagus. Jangan marah terus," ucap Michael dengan berbisik.
"Maafkan aku," ucap Michael sebelum ikut pulas seperti Cinta.
Sebelum Cinta terbangun dari tidurnya, Michael sudah meninggalkan kamar Cinta dan kembali tidur di kamarnya.
Cinta turun dan memeriksa pintu kamar dan melihat kunci masih tergantung ditempatnya.
"Masih terkunci."
"Apa mungkin khayalanku saja wangi parfum itu? mungkin saja. Mungkin baby rindu pada papanya."
Cinta masuk kedalam kamar mandi dan tidak membutuhkan waktu yang lama, lebih kurang lima belas menit, Cinta sudah keluar dalam keadaaan segar.
"Ayo kita masak baby. Baby pasti lapar kan? baby mau makan apa?" tanya Cinta sembari melangkah keluar dari dalam kamar.
Begitu keluar dari dalam kamar, harum masakan mengundangnya untuk cepat-cepat melangkahkan kakinya menuju dapur.
"Harum sekali?" Cinta mencari-cari orang yang masak di dapur.
"Mana orang yang masak? tidak mungkin dia yang masak?" tanya Cinta dalam hati.
Pintu kamar mandi yang ada di dapur terbuka dan keluar wanita paruh baya.
"Selamat pagi, nyonya!" sapa wanita tersebut.
__ADS_1
"Selamat pagi."
"Ibu siapa?" tanya Cinta.
"Saya pelayan yang dikirim oleh nyonya besar untuk melayani nyonya muda dan tuan muda di sini."
"Oh... di kirim mama. Nama ibu siapa? saya Cinta Bu."
"Panggil saja Bik Warsih, nyonya."
"Bik Warsih. Bik, jangan panggil nyonya, saya merasa tua sekali dipanggil nyonya," kata Cinta.
"Sudah peraturannya begitu, nyonya. Nyonya Melina disapa dengan nyonya besar, dan anda nyonya muda. Saya tidak berani memanggil nyonya dengan panggilan yang lain."
"Terserahlah," ucap Cinta.
"Nyonya mau makan?" tanya Bik Warsih pada Cinta.
"Nanti saja Bik," sahut Cinta.
Cinta keluar dari dapur. Kakinya membawanya keluar, karena semalam dia belum bisa melihat sekeliling rumah.
"Sangat luas."
"Jika tadi pernikahan ini, pernikahan yang sebenarnya. Alangkah bahagianya tinggal di sini."
"Pernikahan ini tidak akan lama, aku harus menganggap rumah ini rumah orang lain dan aku hanya sementara di sini." jemarinya mengusap setitik air yang mengenangi sudut bola matanya.
Dari kejauhan, sesosok tubuh melihat Cinta dari jendela. Mata Michael mengikuti setiap langkah kaki Cinta. Dia melihat Cinta mengusap matanya.
Hatinya berdesir melihat Cinta mengusap matanya. Dia tahu, Cinta bersedih. Tapi dia tidak bisa menghampirinya, Karena Cinta pasti akan marah padanya.
Di tempat berbeda, Sandra sudah berada di dalam mobilnya meluncur ke tempat dia berjanji untuk bertemu dengan seseorang yang di suruhnya untuk memata-matai Michael. Sandra menghentikan mobilnya dan seorang laki-laki mendekati pintu mobilnya.
Sandra membuka pintu mobilnya dan laki-laki tersebut sedikit membungkuk.
"Bagaimana?" tanya Sandra.
"Sejak semalam, laki-laki itu tidak pulang ke rumahnya. Hanya satu mobil yang masuk kedalam rumah itu, mobil itu milik orangtuanya."
"Pantau terus, dan kau ikuti juga kedua orangtuanya. Mungkin saja Michael tidak tinggal bersama dengan orangtuanya.
__ADS_1