
Pesan yang dikirim Sandra, Michael teruskan pada Papanya. Begitu membaca pesan terusan dari Sandra, Ardian mengumpat dan memaki-maki Sandra.
"Dasar tidak tahu balas budi... ! kalau tidak aku tolong perusahaan orangtuanya, sudah jatuh miskin dia !" kata Ardian dengan geram. Raut wajahnya merah.
Hilman yang satu mobil dengan Ardian melirik Ardian dari kaca spion depan mobil. Baru setengah hari bersama dengan Ardian, Hilman sudah berkali-kali mendengar sumpah serapah meluncur dari dalam mulut Ardian. Hilman dan yang mendengar, pasti maklum. Siapa yang tidak marah, keluarganya dalam bahaya berkali-kali dari orang yang sama.
***
Di rumah sakit Melina sudah berada dikamar Rima. Dia berkali-kali terus meminta maaf pada Rima, karena menyebabkan Cinta dalam bahaya.
"Ini semua bukan salah Bu Mel," kata Rima.
"Ini salah keluarga kami Bu Rima, kalau tidak karena terobsesi dengan Michael. Gadis gila itu tidak akan melakukan ini semua," kata Melina.
"Apa Tante tidak merestui dia untuk menjadi menantu Tante?" tanya Ayana.
"Tante tidak tahu dia suka dengan Michael ! selama ini Michael juga tidak dekat dengannya. Sandra dekat dengan Alex, Karena mereka seumuran."
"Tante sih tidak mau ikut campur dengan masalah asmara Michael dan Alex. Jika mereka suka dengan seorang gadis, Tante terima, siapapun gadis yang dicintainya. Karena kami selaku orang tua, menyerahkan pada anak, dengan siapa mereka akan membina rumah tangga," kata Melina.
"Bagaimana kondisi sopir Bu Mel ?"
"Tembakan itu membuat tempurung lutut Pak Deden cedera parah, sepertinya Pak Deden tidak akan bisa berjalan dengan normal."
Melina menceritakan apa yang terjadi pada Pak Deden. Kedua mata Rima berembun, mendengar cerita melina. Karena untuk menyelamatkan Cinta, Pak Deden mendapatkan tembakan tersebut.
"Kalau saya tidak minta Pak Deden untuk menyelamatkan Cinta, Pak Deden tidak akan mendapatkan tembakan," kata Rima.
Mobil Michael sudah memasuki daerah tempat Sandra menyekap Cinta. Mobil yang dikemudikan oleh Juan berhenti diujung jalan, untuk menunggu kedatangan polisi bersama dengan Ardian.
"Kenapa lama sekali mereka ?" Michael tidak sabaran menunggu kedatangan polisi.
"Sabar Michael. Kita tidak mungkin masuk kedalam sana, jangan sampai karena keteledoran kita akan membahayakan keselamatan istrimu," kata Jack.
Cinta didalam rumah sudah berhasil keluar dari jendela yang ternyata tidak terkunci. Dia mendorong jendela dengan kepalanya.
"Ahh... letih juga " napas Cinta terlihat terengah-engah. karena kondisi tangan terikat kebelakang, membuat pergerakannya tidak leluasa.
Cinta merunduk berjalan dibalik rimbunnya bunga dan rerumputan. Karena kondisi rumah yang sudah lama tidak dikunjungi, membuat halaman rumah dipenuhi dengan ilalang dan bunga-bunga yang tidak terawat.
Cinta menghentikan langkahnya. Dia jongkok untuk bersembunyi. "Tenang baby, kita akan keluar dari tempat ini" ucap Cinta dengan mengelus perutnya. Raut wajah Cinta sudah bersimbah peluh dan terlihat darah di lengannya yang tergores ilalang yang dilaluinya.
"Semoga tidak ada ular," ucap Cinta.
__ADS_1
Setelah merasa tenaganya sudah kembali, Cinta mulai melanjutkan langkahnya. Dengan jalan menunduk, Cinta berhasil keluar dari halaman teras. Begitu tiba di jalan, Cinta bingung kearah mana dia harus berlari.
"Kemana ini ? kiri atau kanan ?" Cinta celingukan ditengah jalan.
"Jalan mana kita ambil baby ?" tanya Cinta pada baby-nya.
"Kanan ?" Cinta seperti mendengar suara yang menyuruh dia untuk berlari kearah kanan.
"Baiklah baby... kita kearah kanan. Bismillah ," ucap Cinta sebelum berjalan cepat menuju arah yang dipilihnya.
Cinta berjalan seperti berlari kecil. Dia cukup hati-hati dalam melangkah, karena sangat sulit berjalan dengan tangan terikat ke belakang. Cinta takut jatuh tertelungkup. Cinta berhenti, saat melihat ada mobil berhenti.
"Gawat ! apa itu anak buah perempuan itu.... ?" Cinta bingung, apa yang harus dilakukannya. Dia sudah sangat letih untuk berlari lagi.
Cinta lemas, dia mendudukkan dirinya dijalan... Dia menundukkan kepalanya. Tenaganya sudah terkuras dengan pelarian sia-sia. Dia pasrah dengan apa yang akan diterimanya.
"Cinta.... !" suara teriakan yang familiar menyebut namanya, membuat Cinta mengangkat kepalanya. Dia melihat Michael berdiri tegak melihatnya.
Cinta menghela napas lega, saat melihat Michael.
"Mas Andrew.... !" Cinta senang melihat Andrew berdiri didepan mobil yang berhenti, yang dikira Cinta orang-orang suruhan Sandra.
"Michael... itu istrimu?" tanya Juan.
"Tunggu apa lagi ! cepat selamatkan.... !" seru Jack.
Michael berlari sekencang yang dia bisa, karena tubuhnya juga belum pulih benar dari penyerangan yang dilakukan oleh Jamil. Tapi Michael tidak mengindahkan kepalanya yang berdenyut dibawa untuk berlari.
Ketiga teman Michael juga ikut menyusul Michael. Sony sempat mengambil pukulan bisbol yang selalu dibawa Michael untuk berjaga-jaga, jika mendapatkan penyerangan dari begal diperjalanan jika Michael pergi keluar kota.
"Cinta.... !" Michael memeluk Cinta dan mendaratkan kecupan bertubi-tubi di rambut Cinta.
"Hem... hem.... " Cinta menggerakkan mulutnya untuk berbicara, tapi tidak bisa.
"Mas.... buka lakban yang menutup mulut ini," ucap Cinta dalam hati. Dia berharap Michael membuka lakban yang sangat menyiksanya.
"Michael... bawa istrimu. Kita harus meninggalkan tempat ini," kata Jack.
Michael mengendong Cinta dan membawanya dengan berjalan cepat menuju mobilnya. Juan membuka pintu mobil untuk Michael. Michael memasukkan Cinta dan kemudian Michael juga masuk.
"Cepat... cepat.... !" seru Jack pada Juan, karena Jack takut orang-orangnya Sandra mengejar Cinta.
Juan menghidupkan mesin mobil dan kemudian menekan gas mobil sampai habis. Mobil melaju dengan kencang, semua berpegangan pada apa yang bisa dipegang.
__ADS_1
Setelah jauh dari rumah tempat Cinta disekap, baru Juan mengurangi kecepatan mobil.
Michael memeluk Cinta, dia lupa untuk membuka lakban yang menutup mulut Cinta. Sampai Jack yang duduk disamping Cinta mengingatkannya, baru Michael sadar.
"Maaf sayang," ujar Michael.
"Tahan ya... pasti sakit ini," kata Michael.
Cinta menganggukkan kepalanya. Dengan sangat hati-hati Michael membuka lakban yang menutupi mulut Cinta.
Begitu lakban terbuka, yang terdengar pertama sekali dari mulut Cinta adalah suara marah pada Michael.
"Ini semua gara-gara kamu, Mas !" semprot Cinta langsung.
"Aku hampir mati !" sambung Cinta.
"Ha.... !" mulut Michael terbuka lebar mendapatkan omelan dari Cinta. Dikiranya tadi Cinta akan menangis dan mengucapkan terima kasih padanya.
"Buka kan juga ini.... !" Cinta menggoyangkan tangannya yang terikat.
"Iya... sabar ya," kata Michael.
Begitu tangan Cinta terlepas dari ikatan. Cinta mendaratkan pukulan ke dada Michael seraya menangis.
"Semua ini gara-gara kamu, Mas Andrew ! kekasihmu itu yang telah menculik aku dan menembak Bunda !" kata Cinta sembari menangis.
Michael menarik Cinta kedalam pelukannya. "Maaf... maaf." kata maaf berulang kali diucapkan oleh Michael.
"Perempuan itu akan melenyapkan aku, begitu dia berhasil menikah denganmu," kata Cinta.
"Siapa yang mau menikah dengannya ? sedikitpun tidak ada niatku untuk menikahinya," kata Michael.
Cinta terus meluapkan emosinya, saat menceritakan apa yang dikatakan oleh Sandra.
"Ceraikan aku! nikahi dia !" seru Cinta.
Michael melingkarkan tangannya memeluk Cinta. "Sayang ! jangan marah-marah, kasihan bayi kita," kata Michael.
Cinta mendorong tubuh Michael.
"Jangan peluk...peluk !"
"Michael beri minum ini," kata Sony yang duduk di jok depan.
__ADS_1