
"Tante bilang Saya berbohong?"
"Ya... kau pasti berbohong ! Michael pasti tidak pernah menjanjikan akan menikahimu.... !" tuduh Melina.
"Saya tidak berbohong Tante ! kak Michael itu memang berjanji akan menikahi aku, Tan. Jika aku bisa menemukan siapa orang yang bertanggung jawab, yang menyebabkan Alex kecelakaan. Dan aku menemukan, bahwa wanita itu yang telah menyebabkan Alex kecelakaan ! Alex patah hati Tan... wanita itu mempermainkan perasaan Alex... kenapa Tante tidak percaya ?"
"Tapi... informasi yang kau berikan tidak benar ! entah dari mana kau mendapatkan informasi yang kau berikan pada Michael. Katakan ! dari mana kau mendapatkannya ?" tanya Melina.
"Dari orang yang aku suruh untuk menyelidikinya, Tante ! kebenaran berita itu benar adanya," kata Sandra.
"Siapa orang itu? berikan pada Tante nomor telepon orang itu, biar Tante tanyakan sendiri kebenaran informasi tersebut."
Sandra tidak memberikan nomor orang yang disuruhnya untuk menyelidiki. Dia tetap Keukeh mengakui informasi yang diberikannya pada Michael benar.
"Sandra, Tante percaya dengan apa yang dikatakan oleh Cinta. Dia tidak ada hubungan spesial dengan Alex dan dia tidak pernah mempermainkan perasaan Alex. Dan Alex juga tidak pernah menaruh rasa cinta pada Cinta. Ketika Cinta bertemu dengan Alex, mereka biasa-biasa saja. Kau itu telah mengkambing hitamkan Cinta, padahal bukan Cinta yang bersalah ! karena perbuatanmu itu, telah membuat Michael membalas dendam pada orang yang tidak bersalah !"
"Tante... percayalah dengan apa yang aku katakan, wanita itu tidak baik. Dia wanita pengeruk harta, dia mengincar harta Alex dan Michael."
"Cukup.... !" seru Melina.
"Sudahlah Sandra... jangan berbohong lagi... ! Alex sudah bisa bicara, hanya belum begitu lancar. Begitu dia bisa berkomunikasi dengan lancar, Alex pasti akan menceritakan apa yang terjadi sebenarnya," kata Melina.
"Semoga Alex tidak bisa bicara selamanya " batin Sandra.
"Pergilah ! jangan tunjukkan wajahmu jika kau masih ingin mengacaukan pernikahan Michael ! Tante akan melupakan hubungan baik kedua keluarga kita nantinya," kata Melina dengan sedikit ancaman kepada Sandra.
Melina memutar badannya dan meninggalkan Sandra yang termangu mendapatkan ancaman dari Melina.
Satu detik... detik kedua, Sandra tersadar dari termangu. Tapi Melina sudah tidak berada di depannya. Dia hanya bisa meluapkan kekesalannya dengan mengumpat.
"Tante.... !" Sandra menghentakkan kakinya, dia kesal mendengar anca
man yang dilontarkan Melina padanya.
"Argh.... !!" pekik Sandra. Dia tidak perduli telah menjadi santapan mata dan mulut yang suka dengan dunia gosip.
Melina masuk dalam kamar dia menutup pintu dan menguncinya, begitu membalikkan badannya. Dia terpaku melihat Michael dan Cinta dalam posisi berpelukan. Bukan berpelukan, tapi Michael duduk di ranjang memeluk Cinta dengan satu tangan. Sedangkan Rima duduk di sofa dengan kaki menyilang dan kedua tangannya melipat didepan dadanya.
"Apa yang kalian lakukan ?" tanya Melina sembari melangkah mendekati Michael dan Cinta.
"Menantu Mama ini membuat kepalaku pusing, Ma ! sudah tahu suaminya sakit, dia bicara meminta cerai terus...! istri seperti apa dia ini?" kata Michael.
"Lepas.... !" Cinta berusaha untuk mempertahankan belitan satu lengan Michael yang melingkar di pinggangnya.
Melina menggelengkan kepalanya menatap keduanya, lalu dia mengalihkan pandangannya pada Rima.
"Saya sudah berusaha untuk melerai keduanya Bu Mel, tapi tidak ada yang mau mengalah. Saya biarkan saja. Begitu keduanya letih kan nanti keduanya diam," ucap Rima.
"Michael, lepaskan Cinta. Apa kau tidak pusing duduk begitu?" tanya Melina.
"Kau itu baru operasi kepala." tambah Melina.
"Ma... dia tidak hilang ingatan! dia pasti bohong... !" seru Cinta.
"Dia pura-pura sakit." tambah Cinta lagi.
"Aduh.... !" Michael melepaskan Cinta dan memegang kepalanya.
__ADS_1
"Apa Mama bilang," kata Melina.
Michael merebahkan tubuhnya kembali ke ranjang.
"Dia membuat aku naik darah, Ma. Suami sakit, dia menuntut minta cerai." adu Michael pada Melina.
"Mana ada istri seperti itu," ucap Michael kembali.
"Ada! ini ." Cinta menunjuk dirinya.
"Lihat ! Mama lihat, kan. Wanita itu bukan istri ideal," balas Michael.
"You... juga bukan suami ideal !" balas Cinta.
"Kau.... !" telunjuk Michael mengarah pada Cinta. Cinta membalas dengan mengarahkan telunjuknya mengarah pada Michael.
"Kalian ! Michael kau itu lebih. Mengalah," kata Melina.
"Cinta, sabar." Rima akhirnya membuka mulutnya, dengan menegur Cinta.
"Sakit bunda. Dia langsung percaya dengan informasi yang belum pasti kebenarannya. Mendengar perkataan wanita itu, dia mendekatiku dan pura-pura mencintaiku dan menikahiku dengan pernikahan palsu."
"Itu bukan pernikahan palsu," kata Michael.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Michael. Melina, Mamanya kaget. "Ingatanmu sudah kembali, Michael ?"
"Kan itu cerita Mama," kata Michael.
"Dia tidak hilang ingatan, Ma," kata Cinta.
"Katakan Michael, apa kau tidak amnesia ?" tanya Melina.
"Ayo kita pulang, bunda," kata Cinta.
"Hei... kau tidak boleh pulang ! suami sakit bukan menjaganya, malah pulang."
"Suami palsu," balas Cinta.
"Suami palsu ! tapi bisa membuatmu hamil.... !" balas Michael.
Wajah Cinta spontan memerah. Dia malu mendengar perkataan Michael.
"Cukup ! Mama pusing melihat kalian berdua tidak ada yang mau mengalah. Michael, Cinta tidak bisa tinggal di sini menjagamu. Wanita hamil harus mendapatkan istirahat yang cukup."
Cinta senang mendengar perkataan Melina. Dengan perasaan yang senang Cinta menjulurkan lidahnya, mengejek Michael.
Michael mendelik menatap Cinta.
"Awas kau ! begitu aku pulang dari rumah sakit, kau akan mendapat pembalasan." batin Michael.
"Cepat sehat Michael," kata Rima, saat pamit mau pulang.
"Ya Tante," sahut Michael.
"Bukan Tante Michael, bunda," kata Melina.
"Maaf, saya lupa," kata Michael.
__ADS_1
"Bohong ," ucap Cinta tanpa mengeluarkan suara, hanya bibirnya yang bergerak,
"Hei... salim !"
Cinta ingin ngeloyor pergi, tapi Michael memangilnya untuk salim.
"Ih.... !" desis Cinta.
Cinta kembali dan mengambil tangan Michael dan melekatkan punggung tangan Michael ke pipinya.
"Puas.... !" gerutu Cinta kesal.
Senyum tipis menghiasi bibir Michael.
Melina menghantar Cinta dan Rima. Tinggal Michael sendiri.
"Ah... senang juga hilang ingatan, sepertinya seru mengganggunya," kata Michael.
****
Alex terus melatih dirinya untuk bisa bicara dan berdiri.
"Bagus Mas ! terus Mas," ujar Doni menyemangati Alex untuk pertama sekali berdiri dari kursi roda.
Keringat jagung mengalir dari keningnya "Ah.... " desis Alex.
"Letih Mas Alex ?" tanya Safitri, yang membantu Alex untuk belajar berjalan.
Alex menggeleng. Dia menggerakkan kakinya yang kaku, raut wajahnya meringis menahan rasa sakit di setiap persendian otot-ototnya.
"Cukup untuk hari pertama, besok kita lanjutkan kembali," kata Safitri.
Doni membawa kursi roda untuk Alex duduk.
"Terimakasih," ucap Alex.
Doni memberikan handuk untuk menyeka keringat yang membasahi wajah dan leher Alex dan kemudian memberikan Alex minum.
"Saya pulang ya Mas Alex, besok kita ketemu lagi," kata Safitri.
Alex menganggukkan kepalanya.
"Mama mama?" tanya Alex pada Doni.
"Mama Mas Alex keluar," jawab Doni.
Alex tidak diberitahukan mengenai Michael yang mendapatkan penyerangan, karena tidak ingin Alex kepikiran dengan kondisi Michael.
Mobil yang membawa Cinta dan Rima, yaitu mobil Melina melaju dengan kecepatan sedang. Karena wanti-wanti Melina pada sang sopir, agar hati-hati membawa Cinta.
Tiba-tiba satu mobil berhenti mendadak didepan mobil yang membawa Cinta.
"Aduh... !" Rima terdorong kedepan, Karena rem mendadak dari sang sopir.
"Ada apa, Pak?" tanya Cinta.
"Ada mobil berhenti tiba-tiba," sahut Deden, sopirnya Melina.
__ADS_1
Next