Fake Marriage

Fake Marriage
Bab 29


__ADS_3

Happy reading guys 😘


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ayana memutar badannya menghadap Cinta yang terpaku tanpa ekspresi menatap bekas bangunan. "Cin, apa bener ini rumahnya? coba kau ingat-ingat lagi, mungkin saja bukan perumahan ini?" kata Cinta.


"Ini rumahnya. Aku tidak salah alamat, aku sudah beberapa kali ke sini," kata Cinta yang tetap kekeuh, bahwa dia tidak salah alamat.


"Jangan sampai kita nyanyi alamat palsu ini, sambil mencari rumah Mas mu si Andrew itu," kata Ayana berusaha untuk bergurau, untuk mengurangi ketegangan dalam diri Cinta dan dirinya.


"Apa Mas Alex merenovasi rumahnya, Ay?"


"Masa merenovasi rumah, dia tidak bilang padamu? rumah ini kan tempat kalian tinggal bersama. Sudah seharusnya dia meminta pendapatmu, mau dibuat bagaimana rumahnya? dia mengambil keputusan sendiri, tanpa berunding padamu. Apa kau tidak dianggapnya sebagai seorang istri? maafkan perkataanku, Cin," kata Ayana.


Cinta diam. Dia merenungi apa yang dikatakan oleh Ayana.


"Kenapa tidak ada orang yang bisa kita tanyai? apa perumahan ini belum jadi?" tanya Ayana pada Cinta.


Cinta menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Ayana.


"Apa yang harus aku lakukan, Ay? Apa yang terjadi sebenarnya? Aku bingung, aku tidak tahu harus bertanya kepada siapa," kata Cinta.


"Kau bingung! aku juga lebih bingung! bagaimana sebenarnya hubungan kalian? kau mencintainya, sudah pasti! tapi, apa dia juga membalas cintamu? maaf jika ini aku katakan, Cinta."


"Aku terlalu terburu-buru ya?" Cinta sepertinya mulai menyesali pernikahannya.


Melihat Cinta yang sedih, Ayana mulai menaruh rasa iba pada sahabatnya tersebut.


Dia merangkul Cinta. "Tenanglah, mungkin saja tidak terjadi seperti yang kita pikirkan. Mungkin rumah ini di renovasi Mas Andrew, tanpa mengatakan padamu, untuk memberikan kejutan. Oke... jangan sedih... ," kata Ayana.


"Lihat, ada orang yang datang ke sini," kata Ayana.


Seorang laki-laki datang dengan mengendarai sepeda.


"Pak... !" panggil Ayana.


Laki-laki tersebut menghentikan laju sepeda. Ada apa, Neng?" tanya laki-laki itu.


"Apa bapak tahu, kenapa rumah ini di robohkan?" tanya Ayana.


"Rumah ini?" tanya balik laki-laki itu.


"Iya... Pak, rumah ! ini rumah suami saya," kata Cinta.


"Suami anda Neng?" tanya laki-laki tersebut.


"Iya... Pak! rumah ini, rumah suami teman saya ini. Apa bapak tahu kenapa di robohkan? apa mau di renovasi?" tanya Ayana.


"Rumah ini tidak layak huni Neng, karena pembangunannya tidak sesuai dengan perjanjian. Itu yang saya dengar," kata laki-laki yang terlihat dari baju yang dikenakannya, sebagai sekuriti.

__ADS_1


"Katanya bahan-bahan yang digunakan untuk pembangunan perumahan ini tidak sesuai standard, dan dapat membahayakan keselamatan penghuni rumah ini nantinya. Makanya di robohkan," kata laki-laki tersebut.


"Oh.. begitu ya, Pak. Apa semua rumah ini akan diratakan dengan tanah?" tanya Ayana .


"Iya neng, begitu yang bapak dengar ," sahut laki-laki itu.


"Terima kasih atas informasinya, Pak," kata Ayana.


"Sama-sama, Neng." lalu kemudian laki-laki itu menaiki sepedanya dan berlalu meninggalkan Cinta dan Ayana.


"Bagaimana Cinta?" Ayana menatap Cinta.


"Bagaimana, apanya?" tanya Cinta balik.


"Kita kemana lagi? masih mau mencari keberadaan mas mu itu? apa ada tempat yang kau tahu? mungkin dia berada di sana?" kata Ayana.


"Pulang saja, aku tidak bisa berpikir saat ini," kata Cinta dengan nada suara yang lesu.


"Baiklah, jangan sedih begitu! mungkin saja mas mu tidak bisa menghubungimu karena ponsel hilang. Atau memang dia benar-benar sibuk," kata Ayana.


"Apa mungkin?" Cinta menatap Ayana dengan lekat, dia mengharapkan apa yang dikatakan oleh Ayana benar.


"Mungkin saja, sudahlah... ayo kita pulang, besok kita cari lagi. Oh ya... Cin.. Apa kau tahu alamat tempat kerjanya?"


Lagi-lagi Ayana menepuk jidatnya, saat Cinta menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Ayana.


"Betul-betul budak cinta kau, sesuai dengan namamu. Cinta!" ledek Ayana.


Begitu tiba di rumahnya. Cinta masuk kedalam kamar. Rumah yang dalam keadaan kosong, membuat Cinta yang menangis meraung-raung didalam kamar tidak ada yang dengar. Cinta melempar vas bunga yang berisi bunga pemberian Andrew, sehingga vas bunga jatuh pecah berserakan di atas lantai.


Setelah letih meratapi nasibnya yang tidak tahu kedepannya seperti apa. Cinta merebahkan tubuhnya di ranjang, dengan raut wajah yang dipenuhi dengan bekas air mata, Cinta tertidur.


Ditempat berbeda di waktu yang sama, Michael yang sedang mengerjakan pekerjaannya, tiba-tiba teringat, hari ini dia belum melihat cctv yang terpaksa didalam kamar Cinta.


Michael mengambil ponselnya dan melihat cctv yang tersambung ke ponselnya dalam keadaan mati.


"Kenapa tidak ada gambarnya? apa dia sudah melihat keberadaan cctv itu?"


"Sial! aku tidak bisa melihat drama lagi!" Michael kesal dengan apa yang terjadi. Drama yang dikatakannya adalah melihat Cinta bersedih meratapi nasibnya yang ditinggal Andrew.


Michael meletakkan ponselnya, karena Handi sang asisten masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Tuan, apa hari ini orang-orang kita menemui wanita itu?" tanya Handi.


"Lakukan, jangan tunda lagi," kata Michael.


Setelah sempat dibatalkan, hari ini orang-orang Michael akan menemui Cinta untuk mengabari berita yang akan membuat Cinta semakin menderita. Setelah itu, Michael akan tutup buku mengenai Cinta. Dia tidak ingin mendengar cerita tentang Cinta, karena dendamnya pada Cinta sudah terbayar.


Cinta terbangun dari tidurnya, saat mendengar suara bel.

__ADS_1


"Agh... siapa itu? apa mereka tidak bisa membuat aku tenang," gumam cinta sambil memijat keningnya yang terasa pusing .


Cinta bangkit dan duduk sejenak di sisi ranjang, sampai tenaganya benar-benar pulih. Setelah merasa tenaga dan pusing kepalanya sedikit berkurang, baru Cinta bangkit dan berjalan keluar dari kamarnya.


"Jam berapa ini? bunda belum pulang," ujar Cinta, karena begitu dia keluar dari dalam kamar, dirinya disambut keheningan.


Suara bel terus berbunyi, sepertinya orang yang membunyikan bel tersebut buru-buru.


"Kenapa tidak sabar sekali!" kesal Cinta.


Diluar rumah Cinta, orang yang menekan bel terlihat tertawa-tawa dengan rekan-rekannya. Seperti mereka suka mendengar suara bel terus berbunyi.


"Cukup Jon, nanti rusak bel itu," kata temannya yang berdiri seraya menyandarkan tubuhnya di pintu mobil.


"Aku suka mendengar suara bel," sahut laki-laki yang dipanggil Jon oleh temannya.


"Dasar orang udik! besok kau pasang di rumahmu!" ledek temannya yang masih berada didalam mobil, di bagian kemudi.


"Rumahku dipasang begini, bisa-bisa menjadi mainan anak-anak satu kampung," kata Jon.


"Itu orangnya keluar, Jon," kata temannya.


Jon menghentikan keasikannya menekan bel.


Cinta keluar menemui orang yang telah membuatnya kesal.


"Ada keperluan apa Pak?" tanya Cinta.


"Selamat sore nyonya, saya ingin memberikan ini," kata Jon dan memberikan surat kepada Cinta.


"Surat apa ini? apa bapak dari kantor pos?"


"Tidak nyonya, kami dari perusahaan tempat suami anda kerja. Nyonya baca saja surat itu," kata Jon.


"Surat dari Mas Andrew! ini surat dari Mas Andrew? Alhamdulillah!" ucap Cinta bahagia. Berita mengenai Andrew didapatnya.


"Tapi kenapa Mas Andrew mengirim surat? kenapa tidak pesan melalui ponsel saja," kata Cinta.


"Nyonya baca saja surat itu," kata Jon.


Cinta membuka surat itu dengan gembira, apa yang dilakukan tidak lepas dari lensa kamera ponsel. laki-laki yang berada didalam mobil merekam apa yang terjadi.


Cinta membaca surat tersebut.


Dan .


Cinta luluh lunglai...


Cinta jatuh ke tanah yang keras..

__ADS_1


Bugh..


__ADS_2