Fake Marriage

Fake Marriage
Bab 70


__ADS_3

Suasana meja makan hening. Keduanya menikmati makanan yang sudah disiapkan oleh Bik Warsih. Sesekali mata Michael melirik Cinta.


"Makan ini," Michael membuka suaranya. Dia meletakkan telor rebus setengah mateng keatas piring Cinta.


"Ahh... aku tidak mau.... !" Cinta menutup mulutnya dan mendorong piring menjauh dari depannya.


Cinta bergegas berdiri dan menjauhi meja makan.


"Kenapa? bukannya kau suka telur rebus setengah mateng?" tanya Michael. Keningnya mengeryit menatap Cinta. Karena sepengetahuannya Cinta sangat menyukai telur rebus setengah mateng.


"Dulu! sekarang aku tidak mau memakannya, jauhkan... bau ," ujar Cinta. "Hih...ih... ." Cinta mengedikkan kedua bahunya, dia sangat jijik melihat kuning telur yang masih belum mateng benar.


"Bik... !" panggil Michael.


"Yaa..a... Tuan !" Bik Warsih datang memenuhi panggilan Michael dengan jalan setengah berlari.


"Singkirkan itu Bik!" titah Michael dengan menunjuk telur setengah mateng yang berada di piring Cinta.


"Ini ... ?" Bik Warsih mengambil piring Cinta.


Michael mengangguk.


"Bawa yang jauh Bik," ujar Cinta.


"Kenapa nyonya ? apa tidak enak? sudah saya bubuhkan lada dan madu, nyonya. Tidak amis lagi," kata Bik Warsih.


"Tidak Bik... bau. Saya mau muntah.... !" kata Cinta masih tetap menutup hidungnya dengan kedua jari tangan.


"Oh... mungkin bayinya tidak suka, nyonya," kata Bik Warsih yang ingat dengan pesan Melina untuk memasakkan makanan bergizi untuk Cinta. Karena Cinta yang sedang berbadan dua.


"Masa sih... ? baby kan masih dalam kandungan ?" Michael tidak percaya dengan apa yang diutarakan oleh Bik Warsih.


"Mungkin ya Bik," kata Cinta.


"Jangan heran dengan wanita hamil Tuan ! ada saja tingkah ibu hamil. Biasanya doyan makanan ini, saat hamil bisa tidak suka," kata Bik Warsih.


"Iya Bik, saya percayakan dengan apa yang Bik Warsih katakan. Contohnya saya itu tidak suka dengan kepiting, hari itu saya makan dua porsi kepiting asam manis. Koq... saya ingin makan itu lagi," kata Cinta, mengingat kepiting asam manis yang dia makan saat pulang dari peternakan.


Cinta menelan Saliva, membayangkan kepiting dengan saus asam manis menggoyang lidahnya.


"Nyonya ngidam ?" tanya Bik Warsih.


"Ngidam ? tidak mungkin, Bik. Masih tiga bulan, tidak mungkin sudah ngidam," sahut Cinta.


"Ngidam nggak tunggu bulan nyonya. Saya dulu hamil sebulanan sudah merepotkan almarhum suami saya dulu," kata Bik Warsih.

__ADS_1


"Kalau ngidam, apa harus makan yang diinginkan itu Bik?" tanya Michael.


"Iya Tuan... kalau tidak terpenuhi, akan menyebabkan sang bayi nanti bisa ileran sampai besar," kata Bik Warsih.


Apa yang diutarakan Bik Warsih membuat Michael khawatir. "Bibik beli kepiting dan masak apa yang diinginkannya," kata Michael.


"Semalam saya ingin makan mie Bik, saya masak itu mie. Tapi belum sempat saya makan, sudah dibuangnya," kata Cinta sembari menunjuk ke arah Michael.


"Mie tinggal sedikit... masa belum sempat di makan ?" kata Michael.


"Jangan bohong ! nanti anakku menjadi pembohong," kata Michael.


Ucapan Cinta sedikit dilebih-lebihkannya, padahal mie yang dibuang Michael tinggal sedikit.


"Siapa yang bohong? kan memang benar dibuang kan?"


"Tapi bukan tidak sempat di makan ?" tanya Michael.


Bik Warsih hanya menjadi pengamat, melihat keduanya saling berdebat. Tidak ada yang mau mengalah.


"Kenapa pada ribut?" Bik Warsih menggaruk tengkuknya dan kemudian berlalu meninggalkan pasangan suami isteri yang tidak ada yang ingin mengalah satu dengan yang lain.


***


"Lex, sekarang Cinta tinggal bersama dengan Michael. Apa Alex tidak apa-apa?" tanya Melina.


"Sudah ! Mama sudah tahu, Alex pasti tidak marah kan?"


"Michael sudah menikah dengan Cinta. Apa Alex betul-betul tidak ada perasaan cinta pada Cinta?" tanya Melina. Karena dia tidak ingin Alex menaruh rasa cinta pada Cinta. Walaupun Cinta sudah mengatakan dia dan Alex tidak memiliki hubungan yang spesial, tapi Melina tetap merasa khawatir, bahwasannya Alex mencintai Cinta secara diam-diam.


"Alex betulkan tidak ada perasaan cinta pada Cinta ? Mama khawatir kalian saling ribut hanya Karena gara-gara wanita. Mama tidak ingin itu terjadi."


"Ma, Alex tidak cinta pada Cinta," yang hanya bisa diucapkan Alex dalam hati.


"Alex hanya mencintai Sandra, Ma. Tapi cinta Alex tidak diterimanya, ma," ucap Alex dalam hati.


"Alex sangat menyukainya, ma."


"Lex... kenapa menangis?" Melina melihat genangan air di sudut bola mata Alex.


"Apa Alex menyukai cinta?" Melina mengira Alex menangis Karena mendengar Cinta dan Michael sudah menikah.


"Aku menangis bukan Karena itu, Ma. Aku senang jika kak Michael menikah dengan Cinta. Aku sangat ingin mendekatkan keduanya, tapi tidak ada kesempatan. Karena kak Michael tinggal diluar negeri," kata Michael dalam hati.


"Mama mohon, Lex. Jangan ada rasa cinta untuk Cinta ya!"

__ADS_1


Alex menggelengkan kepalanya dengan lemah.


"A..agh... !!" pekik Alex dalam hati. "Kapan mulutku ini bisa berkata-kata lagi ? apa akan selamanya aku begini ?" Alex kesal dengan apa yang terjadi padanya. Tidak bisa bicara membuat keluarganya mungkin akan salah sangka dengan hubungannya dengan Cinta.


"Hapus nama Cinta dalam pikiranmu, Lex. Akan ada gadis yang akan mencintaimu nantinya. Cinta sudah menjadi milik Michael. Cinta juga akan memberikan mama cucu, dan Alex akan menjadi paman. Mama harap Alex akan melupakannya."


"Alex tidak mencintainya, Ma!" seru Alex. Dia berharap suaranya akan keluar, begitu dia berteriak. Tapi nihil. Suaranya tetap tidak terdengar oleh sang mama.


Alex benar-benar kesal. Karenanya, Cinta menjadi sasaran kemarahan Michael.


***


Melina dan Rima menunggu Cinta dan Michael yang sedang memeriksakan kandungannya. Michael membawa Cinta ke dokter kandungan yang direkomendasi oleh Melina. Dan masih kerabat Melina.


"Mas Michael datang-datang menemui Rica dengan membawa istri. Nikah saja Rika tidak tahu," dokter Rika. Spesialis kandungan yang sedang meriksa kandungan Cinta.


"Untuk apa nikah rame-rame, menghemat," jawab Michael.


"Pelit !" ketus Rika.


"Mba Cinta koq mau dengan Mas Michael? Alex lebih keren dan baik lagi. Mas Michael itu pacarnya banyak mba Cinta," kata Rika.


"Diam mulutmu Rika! periksa saja kandungan istriku," kata Michael yang tidak suka dengan apa yang diutarakan oleh Rika.


"Ini kan aku periksa, mas."


"Bagaimana kandungan istriku, tidak ada masalah apa-apa kan?" Michael melihat ke layar monitor.


"Tidak ada apa-apa, hanya kecil sekali. Seharusnya tiga bulanan, janin umumnya memiliki berat badan sekitar 23 gram dengan panjang kurang lebih 7,4 cm," kata Rika.


"Ini berapa beratnya Dok?" tanya Cinta.


"20 gram dan panjang 6,5 cm," jawab Rika.


"Kecil sekali ! apa bayiku tidak sehat nantinya?" tanya Michael.


"Tidaklah, mas ! ini kan baru tiga bulan, masih ada tujuh bulanan lagi untuk membuatnya berkembang normal. Makan-makanan sehat dan istirahat teratur. Dan jangan banyak pikiran, rileks saja."


"Ingat pesan dokter.... ," kata Michael.


"Dia suka makan mie instan, Rika. Tidak bolehkan?" adu Michael pada Rika.


Cinta mendelik tajam menatap Michael. Dia kesal dengan aduan Michael.


"Kalau seminggu sekali, ya tidak apa-apa. Asal jangan setiap hari."

__ADS_1


Mendengar apa yang diutarakan oleh Rika, membuat Cinta menebarkan senyum manis di bibirnya, dengan tatapan mata , mengejek Michael.


__ADS_2