
"Mbak sudah menghubungi suami, Dek Cinta ?" tanya Rojak. Apa yang ditanyakan Rojak membuat Rima tersentak.
"Suami... ," ucap Rima .
"Iya, suami Cinta mbak" kata Rojak.
"Saya dengar Dek Cinta sudah menikah?"
"Oh... iya... lupa !" Rima menepuk jidatnya.
"Ponsel saya ketinggalan di rumah... Yahh.. dompet saya juga ketinggalan..." Rima baru sadar, saking panik... tasnya yang berisi dompet ketinggalan di rumah. Dia tidak mengantongi apa-apa pun juga disaku bajunya.
"Tas saya di teras tadi," kata Rima pada Rojak.
"Di teras rumah, mbak?"
Rima menganggukkan kepalanya, lalu dia menceritakan apa yang terjadi, saat dia tiba dirumahnya, Cinta duduk di teras dan dikiranya sedang tidur, tapi ternyata Cinta pingsan.
"Begini saja mbak, saya pulang ambil tas mbak Rima. Mbak tidak apa-apa saya tinggal sendiri?" Rojak khawatir meninggalkan Rima.
"Tidak apa-apa mas, terima kasih ya Mas Rojak. Saya dan Cinta sudah merepotkan Mas Rojak," kata Rima.
"Sama tetangga kita harus saling membantu mbak Rima. Sekarang mbak yang saya bantu, besok lusa mungkin saya yang butuh pertolongan mbak Rima," kata Rojak.
Rojak kemudian pulang untuk mengambil tas Rima yang tertinggal.
Begitu Rojak meniggalkan rumah sakit, dokter unit gawat darurat memanggil Rima untuk masuk kedalam ruangan. Rima masuk bertepatan Cinta sadar dan menangis histeris.
"Tidak!" pekik Cinta sambil berusaha untuk bangkit dari atas ranjang.
"Cinta!" Rima memeluk Cinta yang berontak ingin turun dari ranjang.
"Bunda!" Cinta melihat sang bunda memeluknya.
"Mas Andrew bunda... Mas Andrew... !" seru Cinta dibarengi dengan tangisan yang keras.
"Ada apa? katakan... !" kata bundanya.
"Mas Andrew... ! m-mas.. Andrew pergi bunda!"
"Andrew pergi kerja, dia akan kembali," kata Rima, bundanya Cinta.
"Dia tidak akan Kembali... ! Mas Andrew tidak akan pernah kembali ... ! Di-Dia ... tidak kembali lagi " seru Cinta histris . Suara tangisnya pecah memenuhi ruangan unit gawat darurat .
"Dok... bagaimana ini ?" bunda Cinta bingung dengan apa yang terjadi pada Cinta .
"Kita suntik obat penenang, Bu," kata dokter .
Akhirnya dokter mentitahkan suster untuk melakukannya. Setelah obat penenang masuk kedalam tubuhnya , Cinta mulai berangsur tenang dan Cinta tertidur akibat pengaruh obat penenang .
__ADS_1
"Apa ada masalah dengan suaminya, Bu ?" tanya dokter .
"kenapa dokter tanyakan ? apa ada hubungan sakitnya putri saya dengan suaminya suaminya .
Tidak ada dokter, mereka baru menikah. Dan suami anak, menantu saya itu pergi keluar kota bekerja ," kata Rima .
Rima menceritakan pada dokter apa yang diketahuinya.
"Kenapa tadi putri ibu histeris mengatakan suaminya tidak akan kembali? apa ada kejadian yang tidak ibu ketahui dan hal itu yang membuat putri ibu tadi pingsan," tutur dokter.
"Apa mungkin ada kejadian sebelum aku pulang tadi? apa mobil yang berhenti di depan rumah ada hubungannya dengan keadaan Cinta menjadi begini?" suara hati Rima yang mengkaitkan kondisi Cinta dengan mobil yang dilihatnya di depan rumahnya.
Rojak kembali ke rumah sakit dan memberikan tas dan surat yang membuat Cinta pingsan.
"Ini tasnya Mbak, dan surat ini saya ketemukan di dekat kursi. Dan barang-barang mbak saya bawa ke rumah saya," kata Rojak.
"Ini Mbak, bagaimana dengan Dek Cinta Mbak?" tanya Rojak seraya memberikan tas pada Rima.
"Sudah sadar mas, sekarang sedang tidur," kata Rima. Dia tidak menceritakan mengenai Cinta yang histeris dan terpaksa diberikan suntikan obat penenang.
"Apa ada yang bisa saya bantu mbak?" tanya Rojak.
"Tidak ada lagi mas. Terima kasih ya mas, sudah cukup merepotkan Mas Rojak," kata Rima.
"Sama-sama Mbak Rima, kalau gitu, saya balik ya mbak. Jika ada yang bisa saya bantu hubungi saya mbak," kata Rojak sebelum dia pergi meninggalkan Rima.
Begitu Rojak meninggalkannya, Rima bergegas mengurus keperluan Cinta untuk di rawat di rumah sakit satu dua hari atas permintaan dokter.
"Apa yang membuatmu seperti ini Cinta? apa Andrew ada mengatakan sesuatu yang membuat kau sakit begini?"
"Surat! surat apa yang diketemukan Mas Rojak?" Rima mengambil tasnya dan mengambil surat yang diberikan oleh Rojak. Rima mengeluarkan surat dari dalam amplop.
Degh ...
Jantungnya langsung berdebar kencang dan tubuhnya lemas begitu baru membaca awal dari surat yang.
Tangannya gemetar memegang surat yang dibacanya. Air matanya membasahi kedua pipinya saat membaca surat yang mengatakan bahwa Andrew meninggal dalam perjalanan menuju Kalimantan. Kapal yang ditumpanginya tenggelam diterjang ombak dan tidak ada yang selamat. Pencarian terhadap Andrew terpaksa dihentikan dan dinyatakan meninggal.
"Meninggal! ini yang membuat Cinta pingsan?" Rima meremas surat pemberitahuan dari perusahaan tempat Andrew bekerja.
Rima bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ranjang, di mana Cinta masih dalam keadaan tidur karena obat penenang yang diberikan oleh dokter.
Rima menundukkan kepalanya dan berbicara dengan pelan ditelinga Cinta.
"Bangun Cinta, Andrew tidak mungkin meninggalkanmu secepat ini. Dia sudah berjanji untuk mengadakan acara resepsi pernikahan, setelah dia kembali," kata Rima.
"Bangun Cinta... bangunlah! jangan buat bunda khawatir," kata bundanya.
Rima mengurai pelukannya, kemudian berdiri disisi ranjang. Dia melihat Cinta membuka matanya.
__ADS_1
"Sayang!" bunda Cinta mencondongkan tubuhnya. Dia menangkup pipi Cinta untuk melihatnya.
"Ini bunda, Cinta."
Cinta membalas tatapan mata bundanya, air matanya kembali merembes keluar dari kedua belah bola matanya.
"Bunda... Mas Andrew. Mas Andrew, bunda! meninggal Cinta bunda... Dia pergi!"
"Hus... jangan katakan itu lagi. Andrew tidak pergi! dia akan kembali. Berita itu tidak benar, kita akan menemukan Andrew. Pasti Andrew akan kembali, berita yang disampaikan perusahaan tempat Andrew bekerja itu tidak benar," kata Rima.
Apa yang dikatakan oleh bundanya, berhasil membuat Cinta menghentikan tangisannya.
"Apa betul bunda? Mas Andrew akan kembali?" tanya Cinta.
Rima menganggukkan kepalanya. "Informasi yang diberikan oleh perusahaan tidak benar, besok pasti Andrew akan kembali," kata Rima.
**
Anak buah Handi datang melaporkan hasil pekerjaannya. Mereka juga memberikan rekaman saat mereka memberikan surat kepada Cinta. Dalam rekaman tersebut terlihat Cinta saat jatuh pingsan.
"Hanya ini rekamannya?" tidak Handi, setelah selesai melihat hasil rekaman orang suruhannya.
"Iya pak Boss !" jawab John.
"Rekamannya kan bagus, Boss...!" kata Abdi yang merekam.
"Kenapa hanya sedikit? kan bisa lebih panjang tadi," kata Handi.
"Tidak bisa panjang, Boss ! begitu surat di bacanya, dia pingsan. Kami langsung kabur Boss, karena takut ketahuan dengan tetangganya Boss," kata Abdi.
"Pasti Boss besar akan senang melihat rekaman itu, wanita itu jatuh cukup keras Boss," kata John.
Sedangkan Bowo tidak ikut menemui Handi, karena dia tidak bisa berbohong seperti kedua temannya.
Setelah mendapatkan video, Handi menemui Michael di ruang kerjanya dan menceritakan apa yang terjadi pada Cinta dan memberikan video pada Michael.
Handi keluar dari ruang kerja Michael, begitu menyerahkan hasil kerja orang suruhannya.
Michael memutar video yang diberikan Handi.
Dan..
Begitu melihat rekaman itu, terbit senyum lebar di bibir Michael. Tidak ada rasa kasihan terlihat dari raut wajahnya, saat melihat Cinta pingsan tidak sadarkan diri.
Senyuman menghiasi bibirnya sangat lama.
"Tamat riwayatmu perempuan!" ucap Michael dengan nada suara yang datar.
"Alex! wanita yang telah membuatmu kecelakaan, sudah binasa! ha... ha..ha !" Michael tertawa senang sembari menatap video dari layar komputernya.
__ADS_1
Bersambung