Fake Marriage

Fake Marriage
Bab 33


__ADS_3

Happy reading guys 😘


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Lihat dari alamat surat, jelas ini ," sahut Cinta.


"Tempat begini di jadikan perusahaan? coba baca yang jelas, Cinta," kata Ayana.


"Sudah berkali-kali aku lihat dan baca. Alamatnya benar ini," kata Cinta dan kemudian memberikan surat yang dipegangnya kepada Ayana.


"Alamat ini sesuai dengan apa yang ada di surat ini, apa sebenarnya yang terjadi ini?"


Ayana bingung, keningnya mengernyit. Dia kembali melihat sampul surat, nama perusahaan tempat Andrew bekerja jelas menunjukkan tempat mereka berdiri melihat bangunan yang sudah mau hancur dan dipenuhi dengan ilalang.


"Tempat ini tidak layak untuk ditempatin oleh manusia, apalagi dibuat sebagai tempat usaha," kata Ayana.


"Ay, apa yang harus aku lakukan?" tanya Cinta.


"Aku juga bingung, Cinta. Coba kau ingat-ingat, mungkin saja Mas Andrew pernah mengatakan nama perusahaan tempat dia bekerja."


"Mas Andrew tidak pernah mengatakannya, dan aku tidak pernah menanyakannya juga," jawab Cinta.


"Dasar budak cinta! inilah, jika mata sudah dibutakan oleh cinta. Datang laki-laki memberikan perhatian langsung cinta mati... !" Ayana tidak perduli lagi dengan Cinta sakit hati mendengar apa yang dikatakannya. Apa yang dikatakannya benar. Banyak wanita yang jatuh dalam pesona kaum Adam, tanpa menyelidiki siapa laki-laki itu. Jika sudah jatuh dalam pesona kaum Adam, dan kaum Adam bosan, maka wanita tersebut akan ditinggalkan seperti sampah.


"Mau kita tanya pada orang juga, tapi pada siapa? tempat ini seperti tempat akhir pembuangan sampah," kata Ayana.


"Saat dalam perjalanan ke sini tadi, aku sudah heran. Daerah seperti ini ada perusahaan? siapa yang mau mendirikan perusahaan ditempat yang terpencil seperti ini? sepertinya kau sudah dikerjain ini, Cin."


"Dikerjain? maksudmu ada yang mau menipuku?"


"Apa Mas Andrew di culik, Cin?"


"Hah... ! di culik?" Cinta tersentak ketika mendengar Ayana mencetuskan tentang penculikan.


"Iya... di culik. Mungkin saja si penculik akan meminta tebusan," kata Ayana.


"Tidak mungkin! untuk apa Mas Andrew di culik? Mas Andrew bukan orang kaya," kata Cinta.


"Sekarang itu penculikan tidak melihat lagi orang yang menjadi korbannya, yang penting mereka culik dan meminta tebusan. Walaupun sedikit, yang penting dapat uang."


"Tapi yang sering kita dengar di siaran berita, yang sering menjadi korban penculikan itu anak-anak. Tidak pernah mendengar laki-laki dewasa yang menjadi korban penculikan," kata Cinta.


"Mungkin karena tidak ada anak-anak yang bisa di culik," kata Ayana.


"Ay, waktu kau lihat Mas Andrew di bandara. Apa kau tahu tujuan negara yang ditujunya?" tanya Cinta.


"Apa kau curiga dengan pria yang mirip dengan Mas Andrew yang aku lihat itu?"


"Mungkin saja Mas Andrew tidak jadi pergi ke Kalimantan, itu tandanya Mas Andrew masih hidup," kata Cinta.


"Kenapa dia tidak menghubungimu?"


"Mungkin ponselnya hilang," jawab Cinta.


"Mungkin awalnya, Mas Andrew berangkat ke Kalimantan. Tapi tiba-tiba perusahaan mengirim Mas Andrew keluar negeri," kata Cinta .

__ADS_1


"Terus surat dari perusahaan yang mengatakan Mas Andrew meninggal karena kecelakaan itu, siapa yang mengirimkannya?" tanya Ayana.


'Pasti ada sesuatu Cin," kata Ayana.


'Sesuatu ! apa?"


"Itu yang harus kita selidiki, tapi dari mana kita selidiki? kau tidak mengetahui apapun mengenai suamimu itu," kata Ayana.


"Kita tunggu saja, apa yang terjadi selanjutnya. Jika ada ancaman untuk kau memberikan uang tebusan, tandanya Mas Andrew masih hidup dan dia telah menjadi korban penculikan. Kau laporkan pada kepolisian," kata Ayana.


"Bagaimana jika para penculik mengancam akan menghabisi nyawa mas Andrew, jika dilaporkan ke polisi? Tidak! aku tidak ingin melihat mas Andrew celaka."


"Penuh dengan misteri, pasti ada sesuatu dibalik hilangnya suami Cinta." suara hati Ayana.


Seminggu telah berlalu. Cinta menunggu, tapi tidak ada tanda-tanda ancaman seseorang yang meminta uang tebusan, untuk keselamatan Andrew.


"Bunda, sudah seminggu. Tidak ada orang minta tebusan," kata Cinta pada saat keduanya sedang berada di meja makan, menikmati makan malam. Tapi hanya bunda yang bisa menikmati makanan yang tersedia, sedangkan Cinta tidak. Nafsu makannya hilang, badannya terlihat sangat menyusut, sejak dia kehilangan Andrew.


"Mungkin saja berita yang dikirim perusahaan tempat Andrew bekerja itu, benar," kata bundanya.


"Kenapa mereka hanya mengirimkan selembar kertas bunda? seharusnya mereka datang! bukan mengirimkan selembar kertas saja," kata Cinta.


"Kalau memang Mas Andrew telah menjadi korban kecelakaan, sudah pasti ibu dan bapak datang ke sini, kan bunda? ini mana mereka? apa mungkin mereka tidak mendapatkan kabar seperti yang Cinta terima," kata Cinta.


"Cinta ingin menemui ini dan bapak ke kampung," cetus Cinta.


"Jangan.. biar bunda saja, Cinta kan sedang ujian semester," kata bundanya.


"Besok hari terakhir ujian, bunda. Cinta akan ikut bunda," Cinta tetap Keukeh ingin ikut ke kampung Andrew.


"Iya bunda," sahut Cinta .


"Janji ... jangan iya... iya saja," kata bundanya .


Di rumah keluarga Subrata, Alex untuk pertama kalinya bergerak . Walaupun hanya jemari tangannya, tetapi itu sudah membuat Melina gembira. Karena saat itu dia yang berada di sisi Alex .


Alex membuka matanya, tapi dengan tatapan mata yang kosong.


"Alex... Mama gembira," ujar Melina.


Tangannya memegang tangan Alex, dan Melina merasakan tangan Alex membalas genggaman tangannya.


"Anak Mama. Alex anak Mama akan sembuh.. " Melina mendaratkan kecupan di kening sang putra.


"Apa Alex mendengar suara Mama? jika iya, beri tanda, genggam tangan Mama," ujar Melina.


Melina merasakan tangan Alex berusaha untuk memberi tanda.


"Sudah! jika tenaga Alex belum pulih," kata Melina.


"Tenaga Alex belum pulih? tapi kenapa Doni bilang Alex menggenggam tangan Sandra dengan erat? apa ada sesuatu yang membuat Alex berinteraksi begitu pada Sandra? ada apa ini?" gumam Melina dalam hatinya.


"Aku harus bertanya dengan Sandra. Apa dia masih berada di Indonesia atau sudah kembali ke Jerman? aku tanya Michael saja."


Orang yang dibicarakan oleh Melina sedang berada di ruang kerja Michael. Sandra sering mengunjungi Michael, dengan alasan mengantar makan siang untuk Michael.

__ADS_1


"Kak... ini masakan Sandra, kakak pasti suka," kata Sandra, setelah berhasil membujuk Michael untuk menikmati makanan yang dibawanya.


"Yang benar? sejak kapan kau bisa masak?" tanya Michael dan melirik Sandra dari sudut matanya.


"Aku masak untuk suamiku nanti, dan aku harapkan kak Michael orangnya."


"Mimpi!" ketus Michael mengejek Sandra.


"Tidak ada salahnya kita bermimpi. Dengan bermimpi, kita akan berusaha untuk mewujudkan mimpi itu," kata Sandra.


"Bagaimana kak? enak kan?" tanya Sandra, begitu Michael memasukkan sesuap nasi kedalam mulutnya.


"Hem... enak. Tapi aku koq merasa pernah makanan ini ya? sepertinya makanan ini milik salah satu restoran yang ada di jalan Sudirman?" Michael melirik Sandra.


"Ih... ini masakan Sandra, kak! apa kakak tuduh Sandra beli semua ini? tidak ya ! ini Sandra yang masak, lihat jemari tangan Sandra melepuh kena minyak." Sandra menunjukkan jemari tangannya yang diplester.


Michael tidak menanggapi luka yang ditunjukkan Sandra, dia melanjutkan makannya.


"Untuk ada bukti tangan luka, sial! kakak Michael tahu rasa masakan restoran tempat aku beli makanan ini," ucap Sandra dalam hatinya.


"Enak kan, kak?" tanya Sandra lagi, karena Michael makan dengan lahapnya.


"Aku tahu, makanan ini bukan hasil masakanmu. Dasar licik!" suara hati Michael.


"Pergilah, aku mau bertemu dengan klien." usir Michael, setelah dia selesai makan.


"Kak Michael koq usir Sandra! Sandra mau ajak kak Michael keluar, temani Sandra makan. Tadi kan Sandra sudah menemani kak Michael makan, sekarang kak Michael yang menemani Sandra."


"Maaf, aku tidak bisa. Lagipula aku tidak minta diantarkan makanan, dan ditemani makan. Kau saja yang mau sendiri, pulanglah Sandra. Lebih baik kau bantu papamu," kata Michael.


"Aku ingin belajar dari kak Michael dalam mengelola perusahaan," kata Sandra.


"Papamu itu pengusaha besar, darinya kau belajar."


"Kak Michael ingat janjimu, aku telah menemukan wanita yang membuat Alex patah hati," kata Sandra.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Michael.


"Aku ingin menjadi istrimu.... !"


"Ha... ha... ha... !" Michael tertawa terbahak-bahak, mendengar Sandra ingin menjadi istrinya.


"Kenapa kak Michael tertawa? apa yang aku katakan bukan suatu hal yang lucu!" kata Sandra.


"Kak Michael harus menepati janji, aku sudah menemukan wanita itu."


"Apapun akan aku lakukan, tapi untuk menikah denganmu Sandra... " Michael menggelengkan kepalanya.


'Kak Michael ingkar janji!" kata Sandra dengan senang.


"Aku tidak ingkar janji, kan sudah aku katakan. Apapun yang kau minta akan aku berikan. Tapi soal hati, maaf... itu tidak akan bisa aku berikan," kata Michael.


"Aku akan mendapatkan hatimu kak Michael! ingat itu, Sandra tidak akan pernah menyerah!" seru Sandra dan kemudian meninggalkan ruang kerja Michael.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2