
Michael mendekatkan wajah dan mendaratkan ciuman singkat dibibir Cinta. Michael menjauhkan wajah dan menatap wajah Cinta intens.
Maaf. Aku terpaksa membuatmu tidur," kata Michael.
Entah apa yang dilakukan Michael, begitu dia memegang Cinta, dan melekatkan satu jarinya ke depan hidung Cinta, seketika Cinta lemas dan tidur dengan damai.
Michael berdiri dan beranjak keluar dari kamar, dan mengunci kamar dari luar. Michael tidak ingin Cinta begitu bangun dan kabur.
"Mbok Asih.... !" suara Michael nyaring memanggil wanita yang berbicara dengan Ramli, yang bernama Mbok Asih.
"Iyaa... Den!" wanita yang dipanggil Michael datang dengan berjalan cepat.
"Jangan ada yang tahu, jika saya di sini ! termasuk mama dan papa, ingat.... !" kata Michael .
"Baik Den Michael. Mulut mbok akan bisu, dan jika nyonya dan tuan besar tahu, itu bukan dari mulut saya loh... Den," kata mbok Asih.
"Pecah diperut, tidak pecah di mulut Den." tambah mbok Asih lagi.
"Pecah di perut? bingung saya apa yang mbok katakan. Ingat!" kata Michael.
"Den mau makan?" tanya mbok Asih.
"Masak makanan yang bergizi, Mbok. Istri saya sedang hamil," kata Michael.
"Alhamdulillah... selamat Den. Tapi saya koq tidak tahu Aden menikah?" tanya mbok Asih memberanikan diri untuk bertanya.
"Tidak besar-besaran, mbok," kata Michael.
"Ooh... ," ucap mbok Asih dengan mulut membulat.
"Ramli mana Mbok?" tanya Michael.
"Di belakang Den, mengurus sapi yang melahirkan," jawab Mbok Asih.
Michael berlalu dari hadapan mbok Asih. Dia keluar dan menyusuri jalan setapak menuju kandang sapi yang berada di belakang rumah.
"Ramli!" panggil Michael.
Ramli yang sedang duduk bersama dengan para pekerja peternakan, yang tadinya sedang menatap seekor sapi yang sedang menyusui anaknya, segera berdiri. "Boss!" ucap mereka serempak. Ramli yang disebut namanya, berlari menuju Michael.
"Ya Den ... !" sahut Ramli sembari berlari kecil.
"Perketat keamanan peternakan ini," perintah Michael.
"Sudah ketat Den Michael, semut saja tidak bisa masuk," sahut Ramli.
"Dengarkan apa saya katakan! jangan bantah! dan satu lagi, jangan ada yang mengatakan saya berada di sini. Jika ada yang membocorkan keberadaan saya di sini, siap-siap saja, selama lima bulan tidak akan mendapatkan gaji!" ancaman diberikan Michael.
"Baik.. baik Den.... ," sahut Ramli.
__ADS_1
"Katakan pada pekerja yang lain," kata Michael sebelum pergi meninggalkan Ramli.
Baru beberapa langkah, Michael menghentikan kakinya. Dia memutar tubuhnya dan kembali memanggil Ramli yang sudah kembali menuju ketempat dia berada, sebelum di panggil Michael.
"Ramli!" panggil Michael.
"Ya... !" Ramli memutar tubuhnya menghadap Michael.
"Untuk apa kalian berkumpul di sini? apa harus sekali melihat sapi itu menyusui anaknya? Apa besok kalian pada tidak harus bangun pagi?" tanya Michael dengan berkacak pinggang menatap para pekerja peternakan.
Ramli cengengesan sambil menggaruk-garuk rambutnya. Teman-temannya sesama pekerja juga pada cengengesan, sama seperti Ramli.
"Bubar! cukup satu orang yang berada di kandang, jika khawatir," kata Michael.
"Baik Boss..!" sahut para pekerja yang berjumlah sekitar tujuh orang secara bersama-sama.
***
Abigail Aisyah tidak bersemangat di club, karena ketidakcocokan Michael.
"Kenapa Tuan Michael tidak datang?" tanya Citra pada Handi dengan suara yang pelan.
"Kenapa kau tanyakan? apa kau tertarik dengan Tuan Michael?" tanya Handi.
"Aku bertanya karena melihat Nona Abigail tidak bersemangat," kata Citra.
Handi melirik Abigail dengan sudut ekor matanya, dan melihat Abigail melamun dan minuman yang di pesannya masih penuh.
"Apa Nona Abigail tertarik dengan Tuan Michael?" tanya Handi.
"Menurut Tuan handi bagaimana? apa terlihat Nona menyukai Tuan Michael ?" tanya Citra.
"Aku bukan cenayang," sahut Handi.
pintu ruangan terbuka. Jack, dan Juan masuk.
"Kenapa ruangan ini sepi, seperti sedang dalam suasana berkabung," kata Jack.
"Halo Nona, kami berdua teman Michael. Michael minta maaf, karena tidak bisa menjamu tamunya dengan baik. Michael tadi menghubungi kami. Karena Michael ada urusan mendadak, Michael mengutus kami untuk menemani Nona berdua ," kata Juan.
"Apa Nona berdua keberatan, jika kami ikut bergabung?" tanya Jack.
Abigail yang terus menatap Jack, dari Jack masuk dan mengambil tempat duduk di seberang tempat dia duduk, hanya menganggukkan kepalanya. Dia terpesona dengan sosok Jack yang tinggi dengan rambut sedikit panjang dan bulu-bulu halus menutupi rahang dan atas bibirnya.
"Laki-laki yang sangat menawan," ucap Abigail dalam hati.
"Nona!" Jack menyapa Abigail, karena Abigail tidak merespon apa yang dikatakannya. Dia tidak berkedip melihat Jack.
"Kau membuat dia terpesona," busuk Juan.
__ADS_1
Citra bangkit dan berjalan mendekati Abigail. "Nona.... " Citra menepuk lengan Abigail.
"Apa ?" tanya Abigail.
"Tuan itu bertanya, apa nona keberatan mereka bergabung?" Citra mengatakan apa yang dikatakan oleh Jack pada Abigail.
"Tidak! saya tidak keberatan," kata Abigail.
"Handi, kenapa ruangan ini tidak ada musiknya?" tanya Juan.
"Tuan, saya tidak tahu musik apa yang disukai oleh keduanya," jawab Handi.
"Kau ini, putar saja musik yang membuat kita bersemangat," kata Juan.
Juan memutar musik yang menghentak, membuat tubuh setiap orang yang mendengar ingin ikut bergoyang.
Jack dan Abigail semakin asik berbincang-bincang, begitu juga dengan Juan dan Citra. Tinggal Handi yang diam, sebagai pengamat situasi. Dia tidak ingin kedua kliennya mabuk.
Hari semakin merangkak naik, dunia hiburan malam semakin meriah. Juan dan Jack juga sudah mulai terlihat tidak sadarkan diri, begitu juga dengan Abigail. Sedangkan Citra masih sepenuhnya sadar.
"Tuan, Nona Abigail sepertinya sudah terlalu banyak minum," kata Citra.
"Terlihat sekali, Nona Abigail sudah biasa meminum minuman keras," kata Handi.
"Tidak Tuan, Nona Abigail tidak suka dengan minum-minuman keras. Hari ini untuk pertama kalinya dia menyentuh minuman keras."
"Papah nona mu itu," kata Handi.
Citra berusaha untuk membawa Abigail. Handi hanya mengikutinya dari belakang. Sedangkan Jack dan Juan sudah terlelap dalam tidurnya didalam ruangan. Keduanya tidur di sofa dalam posisi saling berpelukan. Sony yang datang setelah keduanya mabuk, mengambil kesempatan mengambil gambar keduanya.
"Lihat saja, aku akan membiarkan kalian berdua. Minum-minuman dengan wanita cantik, tidak ngajakin aku," kata Sony kesal.
**
Cinta membuka matanya perlahan dan menyadari dia berada ditempat yang sangat asing baginya.
"Di mana ini?" Cinta mengangkat badannya, untuk duduk. Kedua mata menelisik tempat dia terbangun.
Cinta sadar. Dia telah berada ditempat yang asing.
"Aku di culik.... !" ujar Cinta.
"Dia menculikku.... !"
"Seorang suami membawa istrinya, tidak bisa dikatakan menculik." suara Michael membuat Cinta mengarahkan pandangan matanya kearah sudut kamar.
Cinta melihat Michael duduk di depan jendela yang terbuka. Angin menghembus masuk, membuat tirai bergoyang-goyang diterpa angin malam.
"Kau penculik! ini penculikan namanya! aku di paksa!" kata Cinta.
__ADS_1
"Aku akan melaporkan perbuatanmu ini.... !" tambah Cinta lagi.
Michael bangkit dan melangkah menuju ranjang. Wajah keras menghiasi raut wajah Michael.