
Happy reading 😘
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ayana menatap wajah sahabatnya tersebut, keningnya mengernyit.
"Katakan, Cinta! apa ada yang kau sembunyikan dariku?" Ayana mendesak Cinta untuk membagi beban pikiran yang memenuhi pikirannya.
"Tidak ada apa-apa! aku hanya gugup saja," ujar Cinta yang tetap kekeuh tidak ingin membagi apa yang menjadi beban pikirannya.
Karena apa yang ada dalam pikirannya saat ini, adalah aib baginya. Tidak mungkin dia membaginya, walaupun orang itu sahabatnya.
Berbeda dengan Cinta. Michael atau yang dikenal Cinta dengan nama Andrew, sedang melakukan pertemuan tertutup dengan klien dari luar negeri. Dia terlihat santai, padahal hari ini hari pernikahannya.
Setelah pertemuan berakhir, Handi membisikkan sesuatu pada Andrew. Andrew melirik Handi dan kemudian berdiri dari tempat duduknya, Andrew berniat keluar dari ruang pertemuan.
"maafkan, saya. Saya tidak bisa menjamu tuan-tuan semua, karena saya harus pergi ke satu tempat," ucap Andrew sambil mengatupkan kedua tangannya didepan dadanya memohon maaf kepada kliennya.
"Tidak masalah Tuan Michael, kami maklum. Anda pasti sibuk, anda kan pengusaha muda yang sukses! Di mana-mana nama anda selalu menjadi pembicaraan para pengusaha, banyak yang ingin menjalin kerjasama dengan perusahaan anda," kata klien Michael yang berada dari Korea Selatan.
"Anda terlalu berlebihan memuji saya Tuan Geun-hye, saya yang senang, perusahaan anda mau bekerja sama dengan perusahaan kecil milik saya," ucap Michael membalas perkataan Tuan Geun.
"Saya tidak akan menahan anda lagi, Tuan Michael," ujar Tuan Geun-hye.
"Asisten saya akan menemani Tuan Geun-hye untuk melihat-lihat kota ini," kata Michael.
"Terima kasih, Tuan Michael," kata Tuan Geun-hye.
Michael melangkah keluar dari ruang privat, tempat pertemuan berlangsung. Handi mengikutinya.
Michael menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Handi yang berada dibelakangnya.
"Kau kembali saja, temani Tuan Geun-hye. Beri servis yang terbaik, jangan sampai Tuan Geun-hye dan rombongannya kecewa dengan penyambutan kita sebagai tuan rumah," kata Michael.
"Baik Tuan," sahut Handi.
"Urusan pernikahan sudah kau urus semua kan? Penghulu saksi, sudah kau tangani semua?" tanya Michael.
"Sudah semua Tuan, pembayaran sudah saya berikan langsung," kata Handi.
__ADS_1
"Bagus! Kau sudah ingatkan kepada mereka untuk menutup mulut. Apapun yang terjadi, jangan sampai ada yang tahu," kata Michael.
"Sudah beres Tuan, jangan khawatir. Mereka sudah saya beri uang lebih sebagai uang tutup mulut," kata Handi .
Di kediaman Cinta kedatangan pria yang sudah sejak lama menaruh hati padanya, tapi Cinta hanya menganggap pria tersebut sebagai saudara laki-lakinya saja.
"Kak Jo."
"Cinta, kau akhirnya... " Johan tidak melanjutkan ucapannya.
"Cinta ," ujar Ayana.
Cinta tahu apa yang ingin dikatakan Ayana, menganggukkan kepalanya. Ayana pergi keluar dari kamar meninggalkan Cinta dan Johan, tapi dia tidak menutup pintu kamar Cinta. Karena Ayana tidak ingin ada yang salah paham dengan keberadaan Cinta dan Johan berdua-duaan dalam kamar.
"Duduk kak," kata Cinta mempersilakan Johan untuk duduk.
"Tidak ada harapan lagi." Johan membuka mulutnya.
"Tidak ada harapan? Harapan apa kak?" tanya Cinta yang pura-pura tidak tahu apa maksud kata tidak ada harapan yang dikatakan oleh Johan.
"Apa Cinta tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu dengan perasaan kakak pada Cinta?" tanya Johan.
"Kakak doakan, semoga pernikahanmu selalu dalam lindungan Tuhan sampai maut memisahkan. Dan Kau akan selalu bahagia, Cinta," kata Johan.
"Terima kasih Kak Jo, Cinta doakan juga kak Jo akan menemukan gadis yang terbaik untuk kakak," kata Cinta.
"Apa benar kak Jo dan Tante Sera akan pindah?" tanya Cinta, karena dia mendengar cerita mengenai kepindahan Johan dan Mamanya, Sera, dari sang bunda.
Johan menganggukkan kepalanya. "Kakak pindah kerja, Mama kakak ajak ikut. Tidak mungkin Mama tinggal sendiri di sini," kata Johan.
"Kakak tidak bisa lama-lama, karena kakak harus melapor ke perusahaan mengenai kepindahan tugas kakak," kata Johan.
Johan bangkit dan mengulurkan tangannya mengambil tangan Cinta dan menggenggamnya.
"Walaupun Cinta sudah menikah, jangan putuskan silahturahmi diantara kita. Nomor ponsel kakak tidak pernah berubah," kata Johan.
"Ingat, hubungi kakak jika Cinta membutuhkan bantuan, kakak akan siap membantumu." Johan menambah perkataannya.
Johan pergi meninggalkan kamar Cinta. Maafkan aku kak Jo, semoga Kak Jo akan mendapatkan gadis yang baik. Kak Jo akan selalu menjadi kakakku sampai kapanpun," kata Cinta.
__ADS_1
Cinta memandang punggung Johan dengan tatapan mata yang penuh dengan rasa bersalah, tapi bagaimana lagi, jika tidak ada rasa sedikitpun cinta dalam hati Cinta pada Johan. Perasaan cinta tidak bisa dipaksakan. Menerima seseorang karena takut menyakiti hati orang itu, tidak akan baik kedepannya. Perasaan cinta itu harus datang dari dalam lubuk hati, bukan karena terpaksa.
"Cinta, calon suami sudah datang!" Ayana masuk kedalam kamar seraya berseru nyaring.
"Mas Andrew datang?" tanya Cinta.
"Ya datang! Apa kau takut dia tidak datang? Jangan-jangan kau diam tadi karena takut calon suami tidak datang?" kata Ayana.
Cinta menganggukkan kepalanya, mengiyakan apa yang dikatakan oleh Ayana.
"Dasar bodoh! Tidak mungkin dia meninggalkan gadis secantik dirimu ini Cinta, rugi dia," kata Ayana.
"Kau tidak tahu saja, Ay. Aku ini sudah tidak suci lagi, jika Mas Andrew meninggalkanku, tidak akan ada laki-laki yang mau dengan gadis yang sudah ternoda," ucap Cinta yang hanya bisa diungkapkannya dalam batinnya.
"Ayo kita keluar, jangan melamun lagi terus. Nanti kau kelamaan dalam kamar, Mas Andrew kembali pulang." Ayana menggoda Cinta yang terlihat sangat gugup.
"Aku gugup Ay," kata Cinta.
"Kenapa kau yang gugup? Kau itu nanti hanya duduk anteng, yang harus gugup itu suamimu itu. Dia yang nanti jangan salah sebut nama, asal jangan menyebutkan namaku saja Mas Andrew mu, aku yang menikah... hehe.. he," kata Ayana diakhiri dengan suara tawa kecil meluncur dari bibirnya.
Tidak membutuhkan urusan yang berbelit-belit, pernikahan Andrew dan Cinta terjadi. Satu sosok menatap terjadinya pernikahan dengan perasaan yang hancur.
Johan belum meninggalkan rumah Cinta. Dia berdiri di sudut ruang tempat diadakannya akad nikah berlangsung. Setelah terdengar kata "SAH" baru Johan meninggalkan rumah Cinta. Satu pasang mata menatap kepergian pria yang sedang patah hati tersebut. Ayana melihat Johan.
"Lupakan Cinta, Kak Jo," ucap Ayana dalam benaknya.
"Tolong jaga Cinta," ucap bundanya Cinta pada Andrew.
"Saya akan menjaga Cinta, Tante," jawab Andrew.
"Koq masih panggil Tante," celetuk Sera, Mama Johan yang berdiri disamping Rima, bundanya Cinta.
"Panggil bunda, sama seperti Cinta," kata Rima pada Andrew.
"Bunda," ucap Andrew.
"Cinta, nurut kata suaminya. Sekarang sudah ada yang menjagamu, Bunda sudah tenang jika suatu waktu Bunda sudah tidak ada sisimu," kata Bundanya.
"Bunda! Kenapa berkata begitu? Cinta tidak suka!" Cinta tidak suka mendengar apa yang dikatakan oleh Bundanya.
__ADS_1
Bersambung