Fake Marriage

Fake Marriage
Bab 32


__ADS_3

Michael berdiri disamping ranjang Alex.


"Lex.. wake up... ! kita nikmati kehancuran wanita itu! Cinta telah hancur ... ! kau senang kan? pastilah! wanita yang telah mempermainkan mu telah hancur!"


"Siapa yang hancur?" suara tiba-tiba dibelakangnya, membuat Michael seketika memutar tubuhnya.


"Apa Mama mendengar apa yang aku katakan?" tanya Michael yang hanya dapat diucapkannya dalam hatinya.


"Siapa yang hancur, Michael?" tanya Melina kembali, setelah pertanyaannya yang pertama tidak di jawab Michael.


"Tidak siapa-siapa, ma. Michael menceritakan kisah film yang lagi tayang di bioskop. Mama kan tahu, Alex itu suka menonton film. Michael menceritakan pada Alex ada film baru yang viral," kata Michael.


"Betul? jangan bohong !" Melina menatap wajah Michael dengan teliti , untuk mencari bibit kebohongan dalam wajah Michael .


"Mama, Michael tidak bohong ," kata Michael yang jengah melihat cara mamanya melihat dirinya.


"Ada film baru yang bagus, itu yang Michael ceritakan pada Alex ," kata Michael untuk membuat sang Mama untuk yakin dengan apa yang dikatakannya .


"Oh... " Melina akhirnya percaya dengan apa yang dikatakan oleh Michael padanya .


"Ayo Lex, Mama juga sudah lama tidak nonton film. Papa sibuk dengan pekerjaannya, sehingga jarang membawa Mama keluar. Alex cepat sehat, biar kita pergi nonton berdua," kata mamanya.


"Michael juga mau ikut, Ma. Masa Alex saja yang Mama ajak" kata Michael.


"Apa kau ada waktu ? kalian berdua sibuk mencari uang ," kata Melina.


"Demi Alex , Michael akan meluangkan waktu."


"Dengar Lex! Kak Michael janji pergi nonton bersama kita, Alex cepat sembuh ya.


Mata Alex terbuka dan terlihat air mata berada diujung sudut bola mata.


"Ma ... lihat ! Alex bangun " Michael menepuk pipi Alex. Dia melihat ada genangan air mata yang menempel di ujung bola matanya Alex, Michael dengan cepat mengelap air mata tersebut. Dia tidak ingin mamanya melihat, dan akan membuat mamanya khawatir.


"Alex kita anak baik, dia tidak ingin melihat kita khawatir. Karena itu dia bangun, iya kan Lex ," kata Melina .


"Nah... begitu, bangun ! lebih bagus lagi, bicara Lex " Michael kembali menepuk pipi Alex lagi dengan lembut.


"Sabar Michael, Alex pasti akan bicara, Sekarang ini Alex sedang melakukan puasa bicara ," kata Melina .


"Jangan lama-lama puasa bicara ya Lex.." timpal Michael.


"Besok Alex sudah bicara, dia akan kembali seperti Alex yang sehari-harinya selalu banyak bicara. Iya kan Lex?" kata Melina.


Melina dan Michael terus membawa Alex untuk bicara, walaupun Alex belum bisa memberikan respon yang positif. Tapi dengan terbukanya mata Alex sudah merupakan perkembangan yang cukup bagus menurut yang dikatakan oleh dokter yang merawatnya.


***


Setelah satu hati di rawat di rumah sakt, Cinta diperboluntuk pulang . Hari ini Ayana datang, setelah Cinta memegang ponselnya, Cinta melihat ponselnya penuh dengan panggilan dari Ayana. Nomor yang diharapkannya mengiriminya pesan, tidak ada menghubunginya.


"Cinta!" tegur Ayana dengan suara yang keras, karena Cinta lebih sering melamun daripada menanggapi dia bicara .

__ADS_1


"I-iya... ," sahut Cinta tergagap menjawab panggilan Ayana yang mendadak nenegurnya, menyebabkan lamunannya segera terbang dari alam pikirannya.


"Kau itu melamun saja, lihat aku!" titah Ayana dengan bibir mrngetat menatap wajah Cinta murung. Tidak ada lagi wajah ceria seorang Cinta menghiasi wajah cantiknya, kini yang terlihat, hanya wajah yang sembab dengan kantuk mata yang menghiasi wajah cantiknya .


"Ada apa ?" tanya Cinta dengan suara yang lirih tanpa semangat.


"Wow... ! bangun! cukup sudah kau menangis, apa yang kau baca di surat itu belum pasti kebenarannya. Apa kau tidak heran? mengirim berita meninggal, kenapa hanya melalui surat? seharusnya pimpinan perusahaan datang langsung menemui keluarga karyawan yang sedang berduka, bukan hanya mengirim pesan saja. Perusahaan apa itu? tidak bertanggung jawab ." Ayana kesal. Dia mengulangi membaca surat dari perusahaan tempat Andrew bekerja.


"Ini ada alamat tempat kerjanya. Ayo kita ke sana," kata Ayana mengajak Cinta untuk mencari berita mengenai kebenaran meninggalnya Andrew.


"Ayo mandi sana! jangan bergulung dibalik selimut saja. Cukup berdiam diri. Jika mengurung diri tanpa mencari kebenarannya, tidak tahu apa yang terjadi!" semprot Ayana yang gemas melihat kondisi Cinta.


Ayana menyibakkan selimut yang menutupi bagian tubuh Cinta. "Cepat!" seru Ayana.


Cinta bangkit dari ranjang, dan turun. Dengan langkah kaki yang di seret, Cinta melangkah menuju kamar mandi. Begitu Cinta sudah hilang dibalik pintu kamar mandi. Ayana keluar menemui bundanya Cinta yang menunggu apa yang terjadi, setelah Ayana bertemu dengan Cinta.


"Bagaimana Ay?" tanya bundanya Cinta.


"Cinta sudah keluar dari tempat persembunyiannya Tante, lagi mandi," jawab Ayana.


"Alhamdulillah... bunda senang, sejak keluar dari rumah sakit Cinta tidak keluar kamar, makan juga hanya sesuap," kata Rima, Mamanya Cinta.


"Kami mau kekantor Mas Andrew, Tante," kata Ayana.


"Tante rencana mau ke kampung Andrew," kata bundanya Cinta.


"Tante tahu alamat kampungnya?"


"Tante pergi dengan Cinta?"


"Jangan beritahu Cinta, Tante tidak ingin dia menaruh harapan yang belum jelas. Nanti kita beritahu jika Tante sudah mendapatkan kepastian dari kampung," kata Rima.


"Semoga tidak terjadi apa-apa ya Tan. Cinta pasti tidak akan bisa menerima, jika ini semua kenyataan."


"Kita hanya bisa berdo'a, semoga ini semua hanya kesalahan. Andrew baik-baik saja di manapun dia berada," kata bundanya Cinta.


"Amiin," kata Ayana.


Mata keduanya terarah ke langkah kaki, Cinta datang dengan wajah yang terlihat fresh. Walaupun sisa-sisa mata yang sembab masih terlihat dikedua belah bola matanya.


"Makan dulu," kata Rima, bundanya.


Cinta menggelengkan kepalanya.


"Tidak pergi! jika tidak mau makan," kata bundanya Cinta dengan tegas.


"Makan Cin! aku tidak mau membawamu jika tidak mau makan. Bagaimana jika kau pingsan di jalan? aku tidak sanggup mengangkat mu," kata Ayana juga.


" Aku tidak lapar." tolak Cinta.


"Makan!" bundanya meletakkan sepiring bubur ayam dihadapan Cinta.

__ADS_1


"Tapi... "


"Tidak ada tapi-tapian. Makan!" titah sang bunda yang tidak mau dibantah perintahnya oleh Cinta.


"Dengarkan Tante, Cinta. Makan ! apa yang kami lakukan untuk kebaikanmu, jangan membuat Tante khawatir," kata Ayana .


Akhirnya Cinta menyuapkan sesendok bubur kedalam mulutnya dengan sangat terpaksa, karena tidak ingin membuat bunda dan temannya mencemaskan kondisinya.


Setelah tinggal beberapa suap lagi, Cinta menghentikan makan.


"Cukup," ujar Cinta dan mendorong piring menjauh dari hadapannya.


"Baiklah, cukup. Bunda tidak ingin melihat kau menolak makanan."


Cinta menganggukkan kepalanya.


"Sudah bisa kita pergi?" tanya Ayana.


"Ayo," sahut Cinta.


"Tunggu!" panggil Rima, bundanya.


"Makan obat dulu," kata Rima.


"Cinta tidak sakit bunda," ujar Cinta menolak obat yang di sodorkan sang bunda.


"Ini vitamin," titah sang bunda.


Cinta mengambil obat dan memasukkannya kedalam mulutnya, lalu mengambil gelas air dan meminumnya sampai tandas tak tersisa.


"Bagus," ujar Rima, setelah Cinta selesai meminum obatnya.


"Pergi dulu, Tante," kata Ayana.


"Iya, hati-hati," sahut bundanya Cinta.


"Cinta pergi, Bun," ujar Cinta, pamit pada bundanya.


"Hati-hati, bunda menyayangi Cinta," kata sang bunda.


"Cinta juga," sahut Cinta dengan suara yang lirih.


Mobil yang dikemudikan oleh Ayana tiba di satu bangunan yang besar.


Tapi...


Keduanya berdiri didepan bangunan tersebut dengan mata membola dan mulut yang terbuka.


"Ini tempatnya?" Ayana menoleh menatap Cinta.


"Terlihat dari alamat surat ini benar," sahut Cinta .

__ADS_1


__ADS_2