Fake Marriage

Fake Marriage
Bab 56


__ADS_3

Perkataan Michael bukan membuat Cinta gembira. Hatinya sakit mendengar Michael akan menuruti apa yang diinginkannya, yaitu berpisah.


"Kenapa hatiku sakit mendengar dia akan mengikuti keinginanku," ucap Cinta dalam hati.


"Aku akan mengabulkan semua keinginanmu, tapi bukan sekarang. Wanita hamil tidak boleh diceraikan, hal itu harus kau pahami," kata Michael.


"Jadi kapan kita bisa bercerai?" tanya Cinta.


"Tunggu bayi kita lahir," kata Michael.


"Tujuh bulan lagi? tujuh bulan tidak akan lama," kata Cinta dalam hati.


"Bagaimana?" tanya Michael.


"Baiklah," sahut Cinta.


"Sebelum bercerai, kita harus tinggal bersama. Aku tidak ingin ada bantahan," kata Michael.


Tanpa berpikir lagi, Cinta menyanggupinya. "Oke! tapi aku tidak ingin kita tidur satu ranjang," kata Cinta.


"Aku tidak setuju, kita harus tidur bersama. Jika tidak mau tidur satu ranjang, tidak akan ada perceraian ," kata Michael tegas.


"Tidak boleh ada kontak fisik !" kata Cinta mengajukan syarat lagi.


"Aku tidak setuju ! aku ingin merasakan bagaimana kondisi anakku didalam perut, aku ingin menyentuh anakku. Aku ingin dia merasakan kehadiranku sebagai Papanya," kata Michael.


"Oke ! tapi sebatas menyentuh perut saja, tidak boleh lebih. Dan lagi, aku ingin besok pulang," kata Cinta.


"Besok tidak bisa," kata Michael.


"Kenapa tidak bisa ? aku mau pulang besok."


"Tidak bisa, titik ! jika ingin mendapatkan kebebasan, nurut !" kata Michael.


'Kapan aku bisa pulang?"


"Jika kau menjadi istri dan ibu yang baik, kita akan pulang."


"Istri yang baik? aku harus bagaimana? aku tidak mau melakukan yang tidak-tidak," kata Cinta.


"Aku hanya ingin kau meminum teh ini, dan kemudian makan bubur ini." perintah Michael.


"Hanya itu?" tanya Cinta.


"Iya. Minum, setelah itu makan bubur ini," Michael mengambil nampan dan meletakkan didekat Cinta.

__ADS_1


"Makan di sini saja," kata Michael.


Cinta mengambil gelas yang berisi teh yang sudah tidak hangat lagi. Cinta meneguknya sampai tandas.


"Habis," kata Cinta.


"Buburnya," kata Michael.


Cinta melakukan apapun yang dikatakan oleh Michael, karena dia ingin cepat meninggalkan daerah yang tidak diketahuinya di mana saat ini dia berada.


Di apartemen, bundanya Cinta terus berusaha untuk mengunjungi ponsel Cinta. Tapi ponsel Cinta selalu operator yang menjawab, dengan jawaban yang itu-itu saja. Nomor yang anda hubungi diluar jangkauan.


"Kemana Andrew membawa Cinta ? keluar negeri? tidak mungkin, paspor Cinta sudah habis masa aktifnya.


"Cinta pasti masih berada di sekitar sini Tan, Cinta kan sedang hamil, tidak mungkin bepergian jauh," kata Ayana.


"Kita harus mencari Cinta, jangan menunggu dari pihak mereka," kata Rima.


"Mereka pasti akan menyembunyikan keberadaan Cinta, karena mereka tidak ingin kehilangan cucu."


"Betul Ay." Rima setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ayana.


"Lalu apa yang harus kita lakukan? siapa yang bisa kita mintai tolong? apa kita laporkan pada polisi?"


"Polisi akan menertawakan kita, Tan," kata Ayana.


"Bu Mel pasti tahu. Mungkin saja mereka tidak ingin mengatakan, karena masih mengharapkan Cinta kembali pada anaknya," kata Rima, bundanya Cinta.


"Bagaimana jika kita memata-matai mereka, Tan. Mungkin mereka akan pergi menemui anaknya itu," kata Cinta.


"Memata-matai? menyewa orang? tapi siapa?"


"Siapa?" Rima juga bingung.


Ting... ting.. ponsel Rima berbunyi, menandakan ada pesan masuk.


Rima melihat dan keningnya mengernyit, "Nomor siapa ini?"


"Cinta mungkin Tan," sahut Ayana.


Rima cepat membuka pesan yang masuk, dan membaca pesan tersebut.


"Bunda, ini Cinta. Jangan khawatir, Cinta baik-baik saja. Cinta akan kembali dalam dua hari ini." Rima membaca pesan yang dikirim oleh Cinta.


"Coba hubungi nomor yang mengirim pesan itu, Tan," kata Ayana.

__ADS_1


Rima menghubungi nomor tersebut dan nomor tersebut tidak dapat dihubungi, di luar jangkauan.


"Tidak bisa," kata Rima.


"Walaupun kita tidak bisa bicara dengannya, yang pasti kita tahu, Cinta baik-baik saja," kata Ayana.


"Dia akan kembali dalam pesan itu kan Tan ? sepertinya Andrew tidak berhasil meluluhkan hati Cinta dan dia akhirnya menyerah," tambah Ayana.


"Cinta tidak boleh bercerai sekarang ini," kata Bundanya Cinta.


"Setelah melahirkan bisa kan, Tan. Tidak lama itu," kata Ayana.


"Jika Michael tidak menginginkan perceraian, bagaimana? bagaimana jika Michael ingin mengambil anaknya?"


"Walaupun dia ingin mengambil anaknya, tapi itu tidak akan bisa Tan. Hukum tidak akan berpihak padanya, anak yang belum bisa mengambil keputusan sendiri, anak dibawah usia dua belas tahun itu harus tinggal bersama dengan ibunya. Itu sudah tercantum dalam undang-undang, Tan. Terkecuali ibu sang anak tidak bisa mengurus sang anak, hal itu bisa membuat ayah dari anak tersebut mendapatkan hak asuh. Ini kan Cinta normal, tidak aneh-aneh hidupnya. Cinta tidak bekerja, juga berpenghasilan. Toko roti itu bisa dijadikan jaminan, bahwa Cinta layak untuk mengasuh anaknya," kata Ayana panjang lebar.


"Iya... kenapa Tante lupa, tetangga Tante ada seperti itu. Dia mendapatkan hak asuh, dia juga tidak bekerja, tapi dia punya penghasilan hasil bertani. Dan juga sang suami diharuskan memberi biaya hidup untuk anaknya dan juga istrinya, sampai istrinya menikah lagi."


"Nah... tu kan, Tan. Jangan khawatir, kita akan memenangkan peperangan ini," kata Ayana dengan bersemangat dan mengepalkan kedua tangannya ke udara.


Rima dan Ayana sudah sedikit tenang, karena sudah mendapatkan kabar mengenai keadaan Cinta. Di mansion, kedua orangtuanya Michael belum bisa duduk tenang, karena kabar keberadaan Michael dan Cinta belum mereka dapatkan. Orang-orang Ardian belum bisa mengendus keberadaan Michael. Karena orang-orang Michael sangat bagus dalam melindungi Michael saat pergi meninggalkan mansion.


"Pa, di mana kira-kira Michael membawa Cinta?" tanya Melina, saat keduanya sedang berada di atas ranjang untuk beristirahat.


"Papa belum mendapatkan informasi, Ma. Anak itu benar-benar sudah mempersiapkan dengan matang rencananya. Apa mungkin selama ini dia sudah merencanakan ini ?"


"Begitu ada kesempatan, dia membawa Cinta." Melina menimpali ucapan sang suami.


Ardian mengangguk.


"Pa, Michael cinta apa tidak pada Cinta? dia kan ingin membalas dendam," kata Melina.


"Kalau tidak cinta, tidak mungkin Cinta bisa hamil, Ma," kata Ardian.


"Laki-laki tidak cinta juga bisa ehem... ehem," balas Melina.


"Papa tidak," balas Ardian.


Melina menoleh menatap wajah sang suami. "Betul itu? waktu papa sekolah di luar, apa papa tidak terpengaruh dengan kawan-kawan yang bebas?" kata Melina menyindir sang suami.


"Sini, ma," ujar Ardian, dan kemudian menarik tubuh sang istri untuk tidur dalam pelukannya.


"Papa itu perjaka tulen, waktu kita menikah. Papa masih tersegel, seperti mama juga." Ardian tertawa, begitu juga Melina.


"Ayo kita tidur, ma. Jangan karena gara-gara anak tengil itu kita sakit. Semoga besok sudah ada kabar," ucap Ardian.

__ADS_1


__ADS_2