
Happy reading guys .
...****************...
"Sial.... ! kenapa Pak Saleh punya anak seperti itu? kalau tahu dia anak Pak Saleh, males aku mesan kotak kue di tokonya," gumam Cinta.
"Nggak pakai helm, surat-surat motor tidak bawa lagi. Betul-betul hari tersial hari ini."
Cinta ngedumel terus sembari mengendarai motornya dengan waspada, karena takut ada polisi yang mengintai dirinya yang tidak mengunakan helm .
"Alhamdulillah!" Cinta gembira, karena tiba di toko kuenya dengan selamat.
Cinta memarkirkan motornya dan bergegas masuk kedalam toko kue.
Begitu dia masuk kedalam toko, dia di sambut oleh Santi. "Bagaimana, mbak?" tanya Santi.
"Cari percetakan lain, mulai sekarang kita jangan ada urusan lagi dengan percetakan Pak Saleh," kata Cinta dengan tegas.
"Kenapa Mbak? apa mereka tidak sanggup mengerjakan pesanan kita?" tanya Santi seraya mengikuti Cinta yang melangkah menuju area dapur.
"Aku minum dulu," ujar Cinta yang merasa kering kerongkongan dan bibirnya.
Santi mengamati Cinta seraya mengernyitkan keningnya. "Kenapa Mbak Cinta?" pertanyaan dalam benak Santi.
Cinta membuka lemari pendingin dan mengambil segelas air mineral dan meneguknya langsung tanpa mengunakan pipet. Santi berdiri tidak jauh darinya, menunggu pertanyaannya di jawab oleh Cinta yang sedang mengelap bibirnya yang basah kena air yang di minumnya.
Cinta menghela napas dengan kasar, baru mengeluarkan uneg-unegnya yang membara di dalam benaknya sejak meninggalkan percetakan Pak Saleh.
Cinta menarik kursi untuk dia duduki.
"Aku memutuskan untuk tidak memberikan pesanan kita kepada Pak Saleh," kata Cinta.
"Apa putri Pak Saleh tidak sanggup mengerjakan pesanan kita? tapi pesanan kita hanya sedikit, kenapa mereka tidak sanggup?" Santi heran, karena pesanan mereka kali ini tidak sebanyak yang sudah-sudah.
"Bukan karena itu, tapi karena putri Pak Saleh tidak suka dengan toko kue ini," kata Cinta.
"Ha... ! kenapa? apa dia pernah mempunyai pengalaman tidak enak dengan toko kue kita, Mbak?" Santi bertambah heran dengan apa yang dikatakan oleh Cinta.
"Bukan itu," ujar Cinta sembari menggelengkan kepalanya.
"Maira itu tidak suka denganku, kami musuhan," kata Cinta.
Cinta menceritakan masalahnya dengan Maira, anak Pak Saleh kepada Santi.
"Hanya gara-gara laki-laki yang disukainya tidak membalas cintanya, dia marah dengan Mbak Cinta? aneh itu orang. Cinta tidak bisa dipaksakan... ih.. ! apa laki-laki itu menyukai Mbak Cinta?" tanya Santi.
"Tidak! kami hanya teman sekolah, sekarang saja aku tidak pernah bertemu dengan Sandi," kata Cinta.
"Hanya karena itu dia menolak pesanan kita? bisnis di campur aduk dengan masalah pribadi? sudah tidak waras dia. Selama ini Pak Saleh tidak pernah ada masalah dengan toko kue kita kan, Mbak?"
__ADS_1
"Pak Saleh tidak, tapi Maira tidak suka dengan aku sebagai pemilik toko kue. Biarlah, percetakan juga bukan hanya punya dia," kata Cinta.
"Tidak bisa move on dengan masa lalu, orang sudah terbang di bulan. Dia masih tetap bertahan masa lalu," kata Santi.
"Oh ya mbak, tadi ada datang orang mencari Mbak Cinta," kata Santi.
"Siapa?"
"Tidak tahu, mbak. Dia tidak menyebut siapa dia," kata Santi.
"Dia nanya mbak Cinta, aku bilang mbak pergi. Lalu dia pergi saja, nggak bicara apapun lagi."
"Siapa? laki-laki atau perempuan?" tanya Cinta yang penasaran dengan orang yang mencarinya sampai ke toko kuenya.
"Laki-laki, Mbak," jawab Santi.
"Apa Mas Andrew? tapi Mas Andrew tidak tahu alamat toko kue ini, siapa?" pertanyaan dalam benaknya Cinta.
"Ciri-cirinya bagaimana?" tanya Cinta yang semakin penasaran dengan orang yang mencarinya.
"Tinggi, kulitnya sawo matang. Rambutnya sedikit panjang, tidak pendek seperti rambut laki-laki," kata Santi menggambarkan ciri-ciri laki-laki yang mencari Cinta.
"Besok dia akan datang lagi, katanya mbak," kata Santi.
"Baiklah, sekarang kita cari percetakan yang bisa menyelesaikan kotak kue kita hari ini juga. Santi, kau tanganin itu ya. Aku mau pulang dulu, nanti siang aku datang lagi," kata Cinta.
Teng... Tong...
Duk... duk... duk..
Teng... tong.
Suara bel dibarengi dengan suara ketukan di pintu, membuat orang yang berada didalam menjadi tergopoh-gopoh membuka pintu untuk orang yang melakukan keributan didepan pintu apartemennya.
Begitu pintu apartemen terbuka. Cinta langsung masuk tanpa menyapa Ayana yang berdiri memegang daun pintu.
Ayana menutup pintu dengan kening mengerut, dia heran melihat Cinta datang dengan raut wajah yang terlihat panik.
"Ada apa? Kau datang seperti ingin menjebol pintu apartemenku saja. Terlambat lima menit, mungkin aku akan tidur dengan pintu jebol," kata Ayana.
"Lihat... !" Cinta melemparkan secarik kertas ke atas meja.
"Apa itu?" tanya Ayana.
"Kau baca saja," kata Cinta.
Dengan sedikit membungkuk, Ayana mengambil kertas yang dilemparkan Cinta ke atas meja.
Ayana membacanya dan terlihat matanya membesar dan mulutnya membulat.
__ADS_1
"Apa-apaan ini? Siapa yang mengirimkannya?" tanya Ayana setelah membaca surat berisi ancaman untuk Cinta.
"Aku tidak tahu. Aku tidak ada musuh! Ay, apa aku pernah menyakiti seseorang?" Tanya cinta pada Ayana. Karena surat yang baru saja di Ayana, mengatakan bahwa Cinta telah membuat seseorang menderita dan sakit berkepanjangan. Dalam surat juga tertulis bahwa si pengirim surat akan membuat Cinta kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya.
"Aku juga merasa kau tidak ada musuh, Cin... ! Siapa orang yang mengirimkan surat ini...? Orang yang mengirimnya pasti seorang banci! Hanya berani bermain dibelakang layar," kata Ayana.
"Aku takut Ay," kata Cinta.
"Apa yang kau takutkan? Ini pasti perbuatan orang yang tidak suka denganmu. Orang-orang sirik yang mengirim surat ini. Yang hanya berani mengatakannya melalui surat, tidak berani mengatakannya secara langsung. Pasti banci..!" Ucap Ayana dengan geram, kedua tangannya meremas surat yang masih berada dalam genggamannya.
"Apa Tante kau beritahu mengenai surat ini... ?" tanya Ayana.
"Tidaklah... ! Aku tidak ingin membuat Bunda panik, Ay," kata Cinta.
"Siapa yang mengirimnya?" Gumam Cinta.
"Yang berharga dalam hidupmu, apa Cinta?" tanya Ayana
"Suatu yang berharga, itu pasti Bunda... ! Mereka akan mencelakakan Bunda, Ay..!"
"Bunda sangat berharga dalam hidupku! Apa mereka akan... ?" Cinta tidak melanjutkan ucapannya.
"Oh...tidak... !" Cinta menutup mulutnya dengan jemari tangannya.
"Apa yang kau pikirkan itu. 'TIDAK'! akan terjadi," Kata Ayana yang tahu apa yang ada dalam pikiran temannya tersebut.
"Aku bisa gila jika aku kehilangan bunda."
"Yang berharga itu mungkin saja itu menyangkut dirimu Cinta! oh... My God... !!" Ayana berteriak dan menutup mulutnya.
"Kenapa kau berteriak? apa kau tahu orang yang mengirim surat ini?" tanya Cinta.
"Bukan, Cin.... !" kata Ayana.
"Lalu apa?"
"Apa ancaman ini akan melakukan sesuatu padamu? ancaman ini.... " Ayana tidak melanjutkan ucapannya.
"Apa? Katakan Ay.... !"
"Apa orang yang mengirim surat ini ingin melecehkan mu?" kata Ayana.
"Melecehkan? maksudnya, dia akan memperkosa aku?" tanya Cinta.
Ayana menganggukkan kepalanya.
Next...
Jangan lupa, selesai baca tap like ya kakak-kakak. Terima kasih 🙏
__ADS_1