
Happy reading guys.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Michael menatap wajah Cinta Yang menatapnya dengan tatapan mata yang teduh. Michael galau untuk memulai pembalasan dendamnya. Tapi ia tidak mungkin bersama dengan Cinta, karena ia akan semakin masuk kedalam kehidupan Cinta, yang mungkin akan menjadi penyesalannya. Dan dia tidak mungkin terus tinggal bersama, karena pernikahan yang tidak sebenarnya.
"Apa Mas akan merindukanku?" Cinta mengulurkan tangannya dan memegang pipi Andrew.
Andrew terdiam mendengar pertanyaan Cinta, Andrew bingung untuk menjawabnya.
"Apa yang ditanyakan Cinta akan terjadi padaku? tidak! aku harus menepis rasa itu jika datang! ingat Andrew dengan rencana awalmu. Kau itu harus membuat wanita ini menderita, seperti dia melakukan Alex," ucap Andrew dalam batinnya, yang mengingatkan dirinya dengan rencana awal. Yaitu membalaskan sakit yang diderita Alex.
"Kenapa Mas diam? Mas tidak akan merindukanku?" tanya Cinta kembali, karena pertanyaan yang diabaikan oleh Andrew.
Andrew tersentak mendengar pertanyaan Cinta yang tidak ditanggapinya tadi, dia malah larut dalam lamunannya.
"Rindu, tidak mungkin tidak rindu. Kita kan pengantin baru, sudah harus terpisah karena keadaan," kata Andrew.
"Sudah pasti Mas akan rindu," tambah Andrew.
"Betul? tidak bohong?" Cinta tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Andrew.
"Betul!" sahut Andrew dengan tegas, agar Cinta tidak menaruh curiga padanya.
"Cinta merasa Mas Andrew tidak mencintai Cinta," kata Cinta dengan suaranya yang terdengar pedih digendang telinga yang mendengarnya. Andrew tersentak mendengar perkataan Cinta.
"Cinta.... " Andrew menatap Cinta dengan raut wajah yang sulit ditebak oleh Cinta.
"Apa Mas Andrew benar-benar mencintai Cinta?"
"Kenapa Cinta tanyakan pertanyaan itu? kalau aku tidak mencintai Cinta, tidak mungkin aku melamarmu dan kita menikah" Andrew berusaha untuk biasa-biasa saja saat menjawab pertanyaan Cinta. Padahal dalam hatinya bergemuruh, takut Cinta mencurigainya.
"Mungkin saja karena Mas Andrew merasa harus bertanggung jawab, karena kita sudah melakukan yang seharusnya tidak kita lakukan," kata Cinta.
"Cinta! mas mencintaimu," kata Andrew dan kemudian mendaratkan kecupan-kecupan di kening dan kemudian turun kedua bola mata Cinta dan kemudian kecupan berakhir di bibir Cinta.
Andrew mengangkat kepalanya dan berkata. "Sebentar lagi Mas akan pergi, kita tidak usah membahas hal-hal yang tidak berguna. Kita nikmati jam yang tersisa dengan menyatukan hati dan tubuh kita," kata Andrew.
__ADS_1
"Mas akan merindukan semua yang ada ditubuh ini," kata Andrew dengan berbisik, dan jemari tangannya meraba tubuh Cinta yang masih terbungkus dengan gaun terusan yang dikenakannya.
"Aku akan merindukan tubuh yang indah dan menawan ini," kata Andrew seraya membuka satu demi satu kancing depan baju yang dikenakan oleh Cinta. Cinta serasa terhipnotis saat suara Andrew berkata dengan tangan yang bekerja, sehingga Cinta tidak sadar bahwasanya bajunya sudah terbuka dan bagian dadanya terpampang di depan mata Andrew.
Cinta menikmati apa yang dilakukan oleh Andrew, sehingga dia tidak bisa bersuara menanggapi perkataan Andrew yang seperti musik penghantar tidur, dan membuat Cinta terhipnotis.
"Tubuh ini adalah canduku, yang selalu membuat aku sesak napas jika tidak bisa membelainya," kata Andrew.
"Ingin aku hari berhenti berputar, sehingga aku tidak harus pergi," kata Andrew lagi, dan berhasil membuat tubuh Cinta seperti melayang-layang karena perkataan Andrew yang membuai perasaannya.
Cinta merasa getaran nikmat, saat jemari Andrew membelai pucuk kedua dadanya. Tangan Andrew memilin dan mendaratkan kecupan di pucuk yang berwarna merah jambu yang menantang mata Andrew untuk disentuh.
"Indahnya," ucap Andrew seraya menyapukan lidahnya di area dada Cinta yang busung menantang mata Andrew.
Pipi Cinta merona merah, saat mendengar perkataan Andrew yang dibisikkannya pada telinganya Cinta.
"Aku ingin memiliki kenangan indah, sebagai pengobat rindu untuk kita berjauhan nanti," kata Andrew.
"Mas Andrew!" lirih suara Cinta.
Andrew mendaratkan kecupan di leher Cinta dan menyesapnya lama, sehingga Cinta menggeliat dan menggelinjang kegelian.
Keduanya tepar, setelah menuntaskan hasrat untuk saling memuaskan.
***
Ayana menghentikan langkahnya, kedua matanya terarah kearah dua sosok yang sedang melangkah menuju ke terminal keberangkatan.
"Suami Cinta? pasti suami Cinta. Pria yang bersama dengannya pria yang sombong itu! tapi cara berpakaiannya tidak seperti suami Cinta. Cara berpakaiannya saat ini seperti cara berpakaian Boss muda. Apa dia orang yang mirip dengan suami Cinta? atau orang itu benar-benar suami Cinta?" pertanyaan berkecamuk didalam pikiran Ayana.
"Woi.... !" suara mengagetkannya dibarengi dengan tepukan dipundaknya membuat Ayana mengalihkan pandangannya dari orang yang mirip dengan suami Cinta, kepada orang yang membuat dirinya terkejut.
"Bushettt.... !" umpatan meluncur dari mulut Ayana.
"Kau mau membuat aku kena serangan jantung?" Ayana memberikan tatapan mata yang tajam kepada orang yang membuat dirinya kaget.
"Begitu saja sudah kena serangan jantung? parah sekali jantungmu, mungkin jantung pisang yang kau punya." ledek Annisa.
__ADS_1
"Jantungmu yang jantung pisang!" balas Ayana.
"Hei... kenapa galak sekali dengan kakaknya? awas durhaka," kata Annisa.
"Kakak yang membuat jantung adiknya mau copot."
"Sorry, bawa ini tas kakak. Lihat apa tadi? sampai kakak saja dikacangin. Padahal kakak sudah panggil-panggil, lihat apa tadi? pasti cowok tampan kan?" tanya Annisa.
"Tadi seperti melihat suami Cinta, tapi koq terlihat beda," kata Ayana.
"Cinta sudah menikah? cepat sekali, apa dia sudah tamat?" tanya Annisa.
"Belum tamat, tapi tidak apa-apa kan menikah walaupun masih kuliah? asik kali, ada yang nemani saat mengerjakan tugas kuliah. Ada yang bantu jika tidak mengerti dengan tugas kuliah," kata Ayana.
"Untuk apa menikah, jika ingin menikah biar ada yang bantu dan menemani. Fungsi teman juga bisa didapatkan, jika untuk mendapatkan apa yang kau katakan tadi," kata Annisa.
"Teman kan tidak bisa dua empat jam bersama kita, jika suami bisa," balas Ayana.
Keduanya meninggalkan area bandara, dengan pikiran Ayana masih berada pada sosok yang dilihatnya tadi. Ingin rasanya dia mengatakan pada Cinta mengenai apa yang dilihatnya, tapi Ayana memutuskan untuk mengatakannya secara langsung pada saat mereka bertemu di kampus.
Dalam pesawat Andrew mentitahkan Handi untuk menghapus seluruh jejaknya bersama dengan Cinta. Rumah yang pernah dibawanya Cinta kesana sudah rata oleh tanah.
Pak Muklis dan Sadiah sudah meninggalkan pekerjaannya, Pak Muklis resign dari pekerjaannya sebagai penjaga sekolah. Handi menyuruh keduanya pergi yang jauh dari ibukota.
"Semua sudah bersih Tuan, tidak ada yang bisa menyangkutkan anda dengan wanita itu," kata Handi.
Andrew memejamkan matanya, pikirannya menerawang jauh. Dia ingat saat dia pergi tadi. Tatapan mata Cinta yang terlihat sedih, hampir membuat dia urung untuk meninggalkan Cinta. Tapi rasa benci yang teramat besar membuat langkah kakinya mantap keluar dari dalam rumah Cinta, tanpa dia menoleh ke arah belakang untuk melihat Cinta yang berdiri didepan pintu menatap kepergiannya.
"Kita tidak akan bertemu lagi, itu hukuman karena telah berani menyakiti keluargaku." monolog dalam benak.
"Selamat tinggal!"
Hari ini Michael pergi keluar negeri untuk mulai menjalankan bisnisnya dengan klien dari Korea Selatan, Tuan Geun-hye. Sebenarnya Michael hanya tiga hari berada di Korea Selatan.
"Besok kau utus orang untuk bertemu dengan Cinta, dan kau perintahkan orang itu untuk merekam saat Cinta mendengar berita yang didengarnya," kata Michael.
"Iya, Tuan," sahut Handi.
__ADS_1
Dia mengikuti saja apa yang diperintahkan oleh sang Boss, padahal dalam hatinya tidak tega melihat Cinta.