
Happy reading guys 😘🙏
...****************...
"Apa iya? orang yang mengirim surat ini akan melakukan sesuatu padaku?" Cinta memikirkan apa yang dikatakan oleh Ayana.
"Kau dan bunda harus hati-hati, Cinta. Surat ancaman ini tidak bisa kita anggap enteng," ucap Ayana.
"Aku tidak khawatir pada diriku sendiri. Yang aku khawatirkan keselamatan Bunda. Bagaimana jika si pengirim surat melampiaskan kebenciannya kepada Bunda? Aku bisa mati, jika bunda celaka," kata Cinta.
"Bagaimana jika kau minta tolong pada Mas Andrew. Mungkin saja dia bisa membantu untuk menyelidiki, siapa gerangan orang yang mengirimkan surat ancaman ini padamu ini," kata Ayana.
"Aku takut orang itu akan mencelakai Mas Andrew juga, gara-gara aku dia ikut kena masalah. Tidak, aku tidak akan melibatkan Mas Andrew," kata Cinta.
"Laporkan polisi," kata Ayana.
"Bagaimana jika orang itu tahu aku melaporkannya kepada polisi, dan dia marah? Tidak!" Cinta membayangkan tindakan orang yang menerornya, jika mengetahui dia melapor ke polisi.
"Ini sudah tindakan kriminal, Cinta! biar polisi yang bertindak," kata Ayana.
Cinta menggelengkan kepalanya, dan berkata. "Tidak!" tolak Cinta usul Ayana untuk melapor ke polisi.
"Kalau pendapatku ya, Cin. Kau harus katakan pada Tante Maya" kata Ayana.
"Aku.... " ucapan Cinta terhenti, karena ponselnya berdering.
Derrt... derrt...
Cinta mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya dan melihat nomor asing .
"Nomor siapa ini?"
"Angkat saja. Mungkin penting," titah Ayana.
"Halo.." sapa Cinta pada orang yang menghubunginya.
"Iya, saya putrinya. Apa? Ya... Saya akan datang," kata Cinta dalam keadaan panik begitu mendengar apa yang dikatakan oleh sang penelepon.
"Ada apa Cinta?" Tanya Ayana yang melihat raut wajah panik Cinta.
"Bunda... Bunda kecelakaan... Ay... ! Orang itu telah melakukan ancamannya, Ay! Orang itu melaksanakan apa yang ditulisnya! Dia ingin menghabisi Bunda... !" Cinta menangis histeris.
"Cinta! Sadarlah..!" Ayana mengguncangkan tubuh Cinta, agar Cinta sadar dari histeris.
"Siapa yang menelpon tadi?" tanya Ayana.
"Pihak rumah sakit. Bunda berada di rumah sakit ," kata Cinta.
"Tunggu sebentar. Aku ganti baju."
Tidak menunggu waktu lama. Keduanya, Cinta dan Ayana tiba di rumah sakit tempat Bunda Cinta di rawat.
Pihak resepsionis menunjukkan ruangan tempat Bunda di rawat, yaitu UGD.
__ADS_1
Dengan melangkah cepat, keduanya melangkah menuju UGD. Tiba di depan pintu ruang UGD. Cinta dan Ayana langsung masuk dan mencari keberadaan Bunda Cinta. Begitu melihat keberadaan Bundanya. Cinta bergegas menuju ranjang tempat bundanya baring.
"Bunda... !" Pekik Cinta seraya berhambur memeluk sang Bunda yang sedang bicara dengan dua orang wanita yang ada didekat ranjang.
Cinta menangis di atas dada bundanya.
"Bunda tidak apa-apa, Cinta. Hanya kaki Bunda yang sakit kena minyak panas," kata Bundanya seraya menepuk-nepuk punggung Cinta.
Cinta mengangkat tubuhnya yang telungkup memeluk tubuh Bundanya yang terbaring di ranjang.
"Kena minyak panas? Bunda kena minyak panas? Bunda bukan kecelakaan di tabrak mobil?" Tanya Cinta.
"Hus... !" Bunda Cinta menepuk lengan Cinta.
"Ini anak mengharapkan Bunda ditabrak mobil?" Ucap Bunda Cinta.
"Bukan Bunda," ujar Cinta.
"Bunda Cinta kena minyak panas di kelurahan," kata wanita yang menghantarkan bunda Cinta kerumah sakit.
"Oh... !" ujar Cinta.
"Ini salah kami, yang tidak waspada," ucap wanita yang tidak dikenal oleh Cinta.
"Tidak ada yang patut di salahkan, Bu Idam. Ini musibah yang tidak bisa di prediksi kapan akan terjadi. Memang sudah ditakdirkan, hari ini saya akan mengalami ini semua," kata Mama Cinta.
Setelah kondisi Bundanya baik-baik saja. Hari itu juga bundanya Cinta bisa meninggalkan rumah sakit, tanpa perlu di rawat.
"Bunda mau apa?" Cinta melihat bundanya keluar dari kamar, menuju dapur.
"Malam ini, biar cinta yang masak. Bunda istirahat saja.."
"Bunda tidak sakit, Cinta! Biar Bunda masak."
"Bunda jangan ngeyel. Cinta yang masak hari ini," kata Cinta.
Baiklah," akhirnya Bunda Cinta mengalah.
***
Hari ini hari terakhir ujian semester. Cinta menunggu kekasihnya Andrew didepan kampus. Karena Andrew ingin membawa Cinta ketempat yang dirahasiakan oleh Andrew.
Dengan berlari kecil, Cinta mendekati mobil Andrew yang baru saja datang. Cinta langsung membuka pintu depan dan duduk disamping sang kekasih, Andrew.
"Sudah lama nunggu, maaf ya. Tiba-tiba boss Mas datang dan kasih kerjaan."
"Nggak pa-pa Mas. tadi agak lama juga keluar dari dalam kelas," kata Cinta.
"Kenapa lama, apa semalam tidak belajar..?"
"Soalnya lebih sulit mas, lagian teman-teman Cinta belum pada keluar. Malas sendirian diluar," kata Cinta.
"Apa tidak apa-apa mas sering keluar kantor? nanti ada karyawan yang iri Mas, melihat mas sering meninggalkan kantor."
__ADS_1
"Mas kasih alasan mau ngunjungi proyek di luar." Andrew menjalankan mobilnya meninggalkan area kampus.
"Mas korupsi waktu," kata Cinta.
"Demi bertemu dengan kekasih pujaan hati ini. Apa pun akan mas lakukan." Andrew menarik hidung bangir Cinta.
Mendengar perkataan Andrew. Cinta mencebikkan bibirnya. Membuat Andrew menjadi gemas. Andrew meraih tangan Cinta dan kemudian mendarat kecupan ke tangan Cinta.
Mas, hati-hati. Kita dijalan raya ini. Cinta masih ingin hidup.." Cinta menarik tangannya yang di cium Andrew.
"Mas juga belum ingin mati. Mas belum merasakan malam pertama dengan kekasih mas ini." kata Andrew. Jemari tangannya menjulur untuk mencubit pipi Cinta.
"Hih..Mas Andrew pandai sekali gombal sekarang ya.." bibir Cinta ngerucut.
"Jangan dibuat begitu bibirnya. Mas nggak tahan ini, mau Mas gigit," kata Andrew.
Cinta dengan gemas mencubit lengan Andrew.
"Sudah berani cubit ya.!"
"Kenapa ? takut ya... ?" Cinta mencebikkan bibirnya kepada Andrew.
"Mas kita mau kemana ini ?" Cinta melihat arah mobil memasuki area perumahan yang masih baru.
"Mas mau menculik, kekasih tersayang mas ini.." gada Andrew.
"Mau culik kenapa bilang-bilang.." ujar Cinta dan melengos kepada Andrew.
Andrew tertawa melihat Cinta melengos kepadanya.
Perlahan-lahan mobil Andrew mendekati pagar dari rumah berwarna putih.
"Kita mau ketemu siapa mas..?"
"Ada deh.." senyum lebar menghiasi bibir Andrew.
Pintu pagar terbuka dengan sendirinya.
Mobil berhenti dihalaman yang banyak ditumbuhi bunga mawar dengan berbagai macam warna.
"Ayo kita turun.."
Cinta masih berdiam diri didalam mobil. Pandangan matanya menatap kearah rumah.
"Ayo.." Andrew membuka pintu mobil, dan meraih tangan Cinta untuk turun dari mobil.
"Rumah siapa mas? Rumah temannya mas ya..?" Tanya Cinta.
"Sangat bagus rumahnya." tambah Cinta lagi.
"Ini rumah kita sayang.." Andrew membawa Cinta masuk menuju teras rumah minimalis modern tersebut.
"Serius mas..?" tanya Cinta yang kurang yakin dengan perkataan Andrew.
__ADS_1
"Serius lah... ! tidak mungkin mas berbohong.." Andrew mengeluarkan kunci dari dalam sakunya, dan kemudian membuka pintu.
"Ayo masuk Nyonya Andrew.." Andrew membuka pintu lebar-lebar, dan mempersilahkan Cinta untuk masuk kedalam rumah.