
"Cinta... !" seru Rima.
"Dimana Cinta ini? siapa yang menculik Cinta ?" tanya Ayana.
Dalam gambar yang dikirim ke nomor Melina, terlihat Cinta tidur di jok belakang mobil.
Rima terduduk lemas. "Apa Andrew yang membawa Cinta ?" Rima menoleh menatap Melina.
Melina diam. "Tante ! apa dia yang telah menculik Cinta ?" tanya Ayana, karena pertanyaan Rima belum di jawab Melina.
"Bu Mel!" Rima sedikit keras memanggil Melina, yang termangu. Entah apa yang ada dalam pikiran Melina saat ini, sehingga dia seperti orang bingung.
Melina terhentak dari diamnya. "Michael membawa Cinta," ucap Melina.
"Bagaimana bisa? dari cctv tidak terlihat ada Michael?" Rima heran dengan apa yang dikatakan oleh Melina. Saat mereka melihat cctv, tidak ada terlihat Michael dalam layar.
"Michael telah mengerjai cctv," kata Melina.
Ting...
Ponsel Melina kembali menerima pesan. "Ini Tan," ujar Ayana, memberikan ponsel Melina yang dipegangnya.
Melina membuka pesan yang dikirim Michael, dan membacanya dengan keras.
("Istri harus tinggal dengan suami." ) Pesan Michael yang dikirimnya pada Melina, Mamanya.
"Bu Mel, bagaimana ini? apa Bu Mel bekerja sama dengan Michael?" tanya Rima.
"Bu Rima! demi Tuhan... saya tidak tahu apa-apa. Michael biasanya pulang larut malam. Saya tidak tahu Michael merencanakan ini semua! saya juga tidak ingin ini semua terjadi," kata Melina.
"Maaf Bu Mel, saya panik," kata Rima meminta maaf, karena telah menuduh Melina.
"Cinta dibawa pergi Andrew, dari mana dia keluar? tadi semua tidak ada yang melihat Cinta, kan ?" Ayana mengutarakan keheranannya.
"Ada yang melindunginya. Bu Mel, ada pelayan yang bekerja sama dengan putra ibu," kata Rima.
Melina mengumpulkan semua pelayan, mulai dari sekuriti, tukang kebun dan yang bertugas bagian dapur dan bersih-bersih, semua dikumpulkan Melina.
Melina mengamati satu persatu pelayan yang bekerja di mansion. Para pelayan menundukkan kepalanya.
"Bapak yang bertugas di pos depan, katakan dengan jujur. Apa bapak melihat kedatangan Michael?" tanya Melina.
"Saya mengatakan yang sebenarnya, nyonya. Saya tidak melihat kedatangan Den Michael. kedua mata saya terbuka lebar, nyonya!"
"Apa bapak ada pergi meninggalkan pos ?" Rima ikut bertanya.
"Tidak ada Bu, saya terus berada di pos. Makan saja saya di pos."
"Pak Adil jujur kan?" tanya Melina pada sekuriti tersebut.
__ADS_1
"Saya berkata yang sebenarnya, Bu. Tidak ada Den Michael masuk atau pun keluar dari dalam," kata Pak Adil.
"Bagaimana dia masuk dan keluar membawa Cinta?" kata Melina.
"Nyonya, desain mansion dibuat oleh Den Michael. Pasti ada jalan rahasia, mungkin Tuan tahu ada jalan rahasia nyonya," kata Bik Marni.
Melina menatap wajah Bik Marni dengan lekat.
"Jangan sampai ketahuan," ucap Pak Mahmud dalam hati.
"Ketahuan juga tidak apa-apa, Den Michael sudah jauh meninggalkan mansion." tambah Pak Mahmud dalam hati.
"Pak Mahmud." Melina beralih melihat pada Pak Mahmud, kepala pelayan di mansion.
"Saya juga tidak lihat, nyonya. Saya menjaga para pelayan yang sedang memperbaiki taman di dekat kolam renang," jawab Pak Mahmud.
"Kapan Pak Mahmud menjaga kami," ucap Aida, yang bertugas mengurus taman di mansion.
Tapi Aida tidak mengatakan apa yang ada dalam pikiran. Dia tidak ingin mencari masalah dalam bekerja.
"Diam saja, untuk selamat dalam bekerja," ujar Aida dalam hati.
Tidak ada yang mengaku melihat Michael, akhirnya Melina menghubungi Ardian. Tidak begitu lama, sang suami sudah tiba di rumah.
"Kenapa bisa terjadi? satu orang hilang, tidak ada yang tahu!" seru Ardian marah.
Cinta hilang di rumahnya, Ardian merasa malu. Karena sang putra membawa Cinta tanpa ada yang mengetahuinya. Padahal, di mansion banyak pekerja.
Semua menunduk, tidak ada yang berani membalas tatapan mata sang majikan. Jika Ardian Aditya Subrata sudah turun tangan, para pelayan akan menunduk dan tidak ada yang akan mengeluarkan suaranya.
"Kenapa diam! apa kalian semua, selain tidak punya mata? juga tidak punya mulut? jangan bilang kalian semua juga bisu dan tuli!" Ardian benar-benar marah.
"Bu Rima, maafkan saya. Putri ibu baru pertama kali datang, sudah hilang," kata Ardian pada Rima mohon maaf.
"Sudahlah, Pak. Jangan marahi lagi mereka, kita juga tahu siapa yang membawa Cinta. Sekarang ini kita harus tahu, kemana dia membawa Cinta," kata Rima.
"Michael pasti tidak akan menyakiti Cinta. Dia hanya ingin dekat dengan Cinta. Saya jamin itu, Bu Rima," kata Melina.
"Saya akan mencari Cinta dan menghantarkan pada ibu dalam kondisi baik-baik saja, Bu Rima," kata Ardian.
Mobil yang dikemudikan oleh Michael masih berada dijalan. Michael sesekali melihat kebelakang melalui kaca spion, untuk melihat kondisi Cinta.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, menyelusuri malam. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Suara binatang malam terdengar, menambah suasana angker.
Kemana Michael membawa Cinta? sepanjang perjalanan yang dilalui mobil yang dikemudikan oleh Michael, pohon-pohon besar berdiri disepanjang jalan. Suasana gelap yang hanya diterangi oleh lampu jalan yang redup, mengiringi perjalanan Michael membawa Cinta.
Mobil yang dikemudikan oleh Michael mulai melambat, dan berhenti didepan pintu gerbang.
Tet... tet..t..t...
__ADS_1
Klakson mobil Michael terdengar nyaring, dan seorang pria muda berlari keluar dari dalam rumah yang tergolong besar untuk membuka pintu gerbang. Mobil Michael mulai melaju kembali dan kemudian berhenti.
Michael keluar dari dalam mobil, di sambut oleh anak muda yang membuka pintu gerbang.
"Selamat malam, Den Michael." sapa pria tersebut.
"Kamar yang saya suruh bersihkan, sudah di bersihkan ?" tanya Michael.
"Sudah Den.. Mbok sudah membersihkannya, sejak Den Michael perintahkan tadi."
"Siapa itu Den?"
"Istri saya Ramli..," sahut Michael.
"Istri.... !?" kaget pria muda tersebut, mendengar apa yang dikatakan oleh Michael.
Michael mengangkat Cinta, membawanya masuk ke dalam rumah.
""Kapan Den Michael menikah?" pertanyaan yang terus berseliweran di dalam pikiran Ramli.
Ramli membuka pintu kamar, karena Michael tidak bisa membuka pintu kamar.
Michael membawa Cinta masuk ke dalam kamar, dan kemudian menutup pintu dengan memakai tumitnya.
Sebelum pintu tertutup rapat, Michael beri pesan pada Ramli. "Jangan sampai ada yang tahu, saya berada di sini Pak," perintah Michael.
"Baik Den," sahut Ramli.
"Ramli, Den Michael bawa siapa?" tanya wanita yang sudah terlihat sepuh, tapi terlihat masih gesit.
"Istrinya," sahut Pak Ramli.
"Istri? istri Den Michael?"
"Iya... Mbok," sahut Ramli.
"Den Michael sudah menikah? kapan? istrinya kenapa, Ramli?"
"Banyak sekali pertanyaan nya, Mbok! saya juga tidak tahu. Yang saya tahu, wanita itu istrinya Den Michael," kata Ramli.
"Tanya pada Den Michael, Ramli. Mau disiapkan makanan?"
"Mbok yang tanya, saya tidak berani," kata Ramli dan kemudian berlalu.
"Hei... Ramli!"
Ramli terus melangkah pergi keluar rumah.
"Dasar Ramli.... !"
__ADS_1
Dalam kamar, Michael merebahkan Cinta di ranjang. Michael duduk di sisi ranjang dan mengulurkan tangannya untuk menghela helaian rambut yang menutupi sebagian wajah Cinta.
"Aku tidak akan melepaskan mu."