Fake Marriage

Fake Marriage
Bab 75


__ADS_3

"Bunda!" panggil Cinta, karena Rima termangu menatap wajah Cinta.


"Ehh... iya. Ada apa?" Rima tergagap.


"Untuk apa Cinta di rawat ? jika Cinta tidak sakit? katakan bunda! apa Cinta sakit parah? apa jantung Cinta bermasalah?" beruntun pertanyaan meluncur dari mulut Cinta, sehingga membuat bundanya bingung untuk menjawab.


Ayana yang tahu ada yang disembunyikannya oleh bundanya Cinta, menimpali perkataan bundanya Cinta.


"Cin... kau itu hamil. Dokter pasti ingin yang terbaik untukmu. Di rawat juga bukan selamanya memiliki penyakit yang parah. Iya kan Tante.... ?"


"Iya... dokter bilang pada bunda, bahwa Cinta harus di rawat inap untuk diamati. Jantung Cinta baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," tutur Rima.


Dia menceritakan mengenai pertemuannya dengan dokter tadi. Bundanya Cinta tidak menceritakan mengenai kondisi kandungan yang lemah.


"Cinta harus rileks ya... jangan pikirkan yang berat-berat," kata Bundanya.


"Apa sih... yang kau pikirkan, Cinta? masalah berat apa yang menjadi pikiranmu? apa kau memikirkan batu-batu yang bertebaran ditepi sungai? karena setahuku itu, yang berat itu batu," kata Ayana bergurau. Dia ingin mengajak Cinta untuk tertawa, melupakan apa yang menjadi pikirannya.


"Aku tidak memikirkan apapun, aku sudah melepaskan semua apa yang selama ini menggelayuti isi kepalaku ini," kata Cinta.


"Bunda keluar mengurus rawat inap ya, Ayana tolong temani Cinta ya," kata bundanya.


Sepeninggal sang bunda, Cinta mendesak Ayana untuk bertanya langsung pada dokter yang menanganinya.


"Ay... kau temui dokter! aku koq tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh bunda. Pasti ada yang disembunyikan oleh bunda," kata Cinta.


"Percayalah pada bunda, Cinta! kau itu tidak sakit apa-apa. Kau itu butuh istirahat saja. jika di rumah kau pasti tidak bisa baring dengan tenang, iya kan? apa yang kau lakukan tadi di apartemen?" tanya Ayana dengan mata mendelik menatap Cinta.


"Aku hanya memindahkan barang-barang di samping ranjang, setelah itu aku nonton film," kata Cinta.


"Kau membersihkan kamar? kau itu kan dilarang dokter untuk beraktivitas yang berat..... !"


"Hanya mindahin buku-buku kedalam lemari buku! itu tidak berat. Terlalu berlebihan, jika itu saja dikatakan pekerjaan yang memforsir tenaga," kata Cinta.


Rima duduk di dekat meja resepsionis di dekat taman. Setelah selesai mengurus rawat inap untuk Cinta, Rima tidak langsung balik ke unit gawat darurat. Dia menghubungimu Melina untuk memberitahukan kondisi Cinta, tapi belum sempat dia bercerita, Rima sudah mendengar suara Melina menangis sembari berkata mengenai kondisi Michael yang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Rima memutuskan tidak mengatakan kondisi Cinta pada Melina, Karena dia takut Melina semakin sedih mendengar kabar yang akan disampaikannya.


"Tidak mungkin aku beritahukan pada Bu Mel mengenai kondisi Cinta, dokter juga akan berusaha untuk mempertahankan janinnya tidak luruh. Ya... Tuhan, tolong cucu hamba ini ya Tuhan, berilah kesempatan untuk cucu hamba terlahir dan menghirup udara di dunia ciptaan MU ini," ucap Rima dengan suara yang pelan, dengan kedua mata menatap lurus kearah langit yang cerah.


Di kota kecil tempat Michael di rawat. Ardian dan Melina tiba. Melina langsung berlari dan menubruk tubuh Michael yang terbaring dengan baju yang berlumuran darah.


"Michael.... !" ratap Melina.


Ardian meletakkan satu tangannya dipundak sang istri dan berkata padanya, "Ma... tahan tangisannya, jangan sampai suara tangis Mama membuat Michael sedih," kata Ardian.


"Siapa yang melakukannya ? mana orang itu?" dengan mata yang nyalang, Melina menatap Hilman.


"Handi sudah menangani orang itu, dia sudah tertangkap," kata Hilman.


"Apa salah anakku ? sehingga keduanya mendapatkan musibah seperti ini? Pa... katakan!" Melina menunggu jawaban yang ditanyakan nya pada sang suami.


"Ini semua cobaan, Ma. Kita harus kuat," kata Ardian.


"Tuan, dokter menyuruh anda untuk menemuinya," kata Hilman.


Ardian keluar dari ruangan tempat Michael terbaring.


"Suster, kenapa baju anak saya masih berdarah begini? apa tidak ada baju rumah sakit yang bisa anak saya pakai?" tanya Melina.


Suster melihat kearah baju Michael, "Maaf Bu, bukan tidak ada. Tapi tadi bapak yang satunya melarang kami untuk mengganti baju pasien," kata suster tersebut.


"Oh... " Melina sadar, Michael tidak suka memakai baju bekas orang lain. Sudah tentu baju milik rumah sakit, baju khusus untuk para pasien sudah dipakai ribuan pasien yang pernah dirawat di rumah sakit tempat Michael di rawat.


"Maaf suster, saya lupa. Anak saya ini tidak suka berbagi pakaian," kata Melina.


"Kalau ibu mau, di sini ada jual pakaian yang masih baru," kata suster.


"Di mana letaknya, suster?" tanya Melina.


"Ibu keluar dari ruang ini, belok kiri. Ada toko yang menjual perlengkapan yang dibutuhkan oleh pasien."

__ADS_1


"Terimakasih suster."


"Sama-sama, Bu. Permisi." suster meninggalkan ruangan.


"Michael, sadarlah," ujar Melina sambil mengusap pipi Michael.


"Kenapa kalian berdua suka sekali bermain-main dengan maut?" Melina mengusap pipinya yang basah terkena linangan air yang mengalir dari kedua bola matanya.


"Apa ini akibat dari perbuatanmu pada Cinta ? sadarlah Michael ! minta maaf pada Cinta," kata Melina.


Pintu terbuka, Ardian dan Hilman masuk. Melina langsung mencerca pertanyaan yang bertubi-tubi pada sang suami.


"Apa kata dokter, Pa? apa otak Michael rusak? kenapa Michael belum sadar juga, Pa? apa Michael akan seperti Alex, Pa ? jawab Pa?"


"Sabar, Ma," kata Ardian.


Lalu Ardian mendudukkan dirinya di kursi dan diikuti oleh Melina yang tidak sabar menunggu pertanyaannya di jawab oleh sang suami.


"Cepat, Pa!" kata Melina tidak sabaran.


"Biar Papa narik napas dulu, Ma." Ardian menghela napasnya.


"Sudah.... !"


Ardian menceritakan apa yang dikatakan oleh dokter padanya tadi. Melina mendengar dengan serius dan sesekali keningnya mengernyit.


"Michael perlu di operasi? pembekuan darah itu yang menyebabkan Michael belum sadar? Michael tidak cedera otak kan, Pa? Papa jujur ya ! jangan ada yang ditutup-tutupi dari Mama," Kata Melina.


"Apa yang dikatakan oleh dokter itu yang papa katakan, Ma. Hilman sudah mengurus semua prosedur untuk membawa Michael, Karena harus secepatnya dilakukan operasi untuk menghentikan darah beku bertambah di kepala Michael."


"Sadis sekali orang itu, sampai segitunya mencelakai anak kita. Jika tidak suka langsung berhadap-hadapan ! jangan diam-diam merencanakan membuat anak kita cedera."


"Apa motifnya, Pa?"


"Handi belum mengatakannya, tadi kata Handi orang itu ikut dalam kelompok masyarakat yang bertemu dengan Michael."

__ADS_1


Sudahlah, Pa! Lepaskan proyek itu, proyek itu hampir menghilang nyawa putra kita! Atau tutup saja perusahaan itu... ! lebih baik tidak usah punya perusahaan, jualan sembako saja di depan rumah," kata Melina.


Ardian menebarkan senyum tipis dibibir, begitu mendengar Melina menyuruh dia untuk menutup perusahaan.


__ADS_2