Fake Marriage

Fake Marriage
Bab 44


__ADS_3

Penyesalan itu selalu datang belakangan, karena itu berpikir sebelum bertindak.


"Apa gadis yang disukai Alex, teman kalian di kampus?"


"Kami betul-betul tidak tahu, Tan. Alex biasa-biasa saja pada teman-teman kuliah. Pasti bukan mahasiswi Tante, Ay jamin pasti bukan. Dia memperlakukan gadis-gadis di kampus biasa-biasa saja. Dan tidak ada juga gadis tebar pesona padanya, mungkin karena Alex ke kampus naik motor biasa saja. Di kira para gadis Alex pemuda miskin, ternyata dia tajir. Alex sangat sempurna menutupi jati dirinya," kata Ayana.


"Siapa gadis itu? sudah bisa dipastikan, bukan Cinta orangnya kan ?" tanya Rima lagi.


"Ay jamin 1000 persen, bukan Cinta orangnya Tante. Percayalah!" kata Ayana.


"Tante, ada yang ingin Ay sampaikan," kata Ayana.


"Apa? menyangkut Cinta?" tanya Rima.


Ayana menganggukkan kepalanya.


"Tan, tadi Cinta cerita, dia ingin cuti kuliah ," kata Ayana.


"Cuti? kapan Cinta bilang ?"


"Tadi Cinta cerita, sebelum Tante pulang," kata Ayana.


"Menurut Tante bagaimana ?" tanya Ayana.


Rima diam, Kening Rima mengerut. Lalu kemudian Rima membuka suaranya.


"Mungkin itu yang terbaik untuk Cinta. Dokter juga menyarankan Cinta untuk beristirahat dan laki-laki itu tidak akan bisa bisa menemui Cinta lagi. Tante rasa dia pasti akan berusaha untuk menemui Cinta, di kampus" kata Rima.


"Cinta juga tadi berkata begitu Tante."


"Kita tutup akses dia untuk bertemu dengan Cinta, kapok dia!"


"Apa Tante akan cerita, jika Tante sudah bertemu dengan laki-laki itu pada Cinta?" tanya Ayana.


"Tidak!" jawab Rima cepat.


"Tante tidak ingin Cinta terbebani. Dia pasti ingin bertemu dengan Michael, untuk bertanya kenapa dia melakukan ini semua," kata Rima.


"Melakukan apa Bun?" tiba-tiba suara terdengar dari arah pintu balkon.


Rima dan Ayana spontan memutar tubuhnya dan melihat Cinta.


"Sudah bangun Cin?" tanya Ayana.


"Aku tidak tidur, katakan Bun. Melakukan apa ?" Cinta menatap sang bunda dengan intens.


"Bunda mau mengambil pembantu untuk membantu di apartemen , bunda takut Cinta melakukan pekerjaan yang berat. Seperti mengepel, Cinta kan dilarang dokter untuk beraktivitas berat ," kata bundanya .


"Oh... ," ucap Cinta.


" Mengepel tidak berat bunda ," kata Cinta .

__ADS_1


"Seperti olahraga, menggerakkan tangan dan kaki." sambung Cinta.


"Tidak boleh! nurut kata bunda!" kata bundanya dengan tegas, dan tidak ingin menerima bantahan dari Cinta.


"Nurut Cinta! kenapa sih... kau sekarang suka sekali membantah?" kata Ayana.


"Mana aku bantah ? aku hanya mengatakan mengepel bisa juga dianggap seperti olahraga."


"Sekarang ini bunda ingin Cinta hanya bertugas menjaga kandungan saja, jika ingin olahraga, bisa jalan dari kamar ke dapur atau keruang tamu. Tapi jangan keseringan jalan, dan itu juga kalau sudah ada izin dari dokter."


"Hah... !" mulut Cinta menganga .


"Masa Cinta tidak boleh melakukan sesuatu pun bunda? kan boring berada di kamar terus," kata Cinta.


"Bunda tidak menyuruhmu untuk berkurung di dalam, Cinta! bunda hanya ingin Cinta tidak beraktivitas berlebihan... ! nanti jika sudah ada izin dari dokter dan kandungan Cinta sudah kuat, barulah Cinta bisa melakukan apapun juga. Itu juga jangan sampai memforsir tenaga."


"Hei... bumil! jangan bantah terus!" kata Ayana.


"Baiklah! Cinta akan patuh. Ayo bang, kita masuk kedalam kamar lagi. Kita akan menjadi putri penurut,"kata Cinta dan berlalu meninggalkan Rima dan Ayana.


"Bang? siapa yang dibilang Cinta, bang?" Rima heran mendengar apa yang dikatakan oleh Cinta.


Cinta tertawa-tawa mendengar apa yang dikatakan oleh Cinta.


"Kenapa ketawa, Ay?" tanya Rima.


"Bumil merajuk lucu, Bun," kata Ayana.


"Cinta bicara pada baby bunda, Cinta bilang baby-nya itu laki-laki," kata Ayana.


"Ada-ada saja, baru sebulan. Belum terlihat laki atau perempuan."


"Feeling kata Cinta, Tan," kata Ayana.


"Tante, kapan kita ketempat Alex. Aya mau secepatnya kita meluruskan masalah ini, biar nama Cinta bersih. Bukan Cinta gadis yang di cintai Alex.


"Besok saja bagaimana?"


"Cinta sama siapa di apartemen, Bun? jika kita tinggal sendiri, jangan-jangan dia nakal."


"Santi kita suruh datang menemani Cinta."


"Di toko siapa?"


"Dion sudah bisa ditinggal untuk menjaga toko," jawab Rima.


"Besok Tante Ay jemput," kata Ayana.


"Jangan naik, nanti Cinta heran kita pergi bersama."


"Siap Tante, jam sembilan ya Tante," kata Ayana.

__ADS_1


**


"Michael bertemu dengan Sandra," ujar Ardian, setelah melihat gambar yang ditunjukkan oleh Hilman kepadanya.


"Nama gadis itu Sandra? cantik Tuan Ardian, mungkin gadis ini kekasih putra anda Tuan," kata Hilman.


"Mereka tidak ada hubungan, kata Michael. Alex sebenarnya yang lebih dekat dengan Sandra, mereka seumuran," kata Ardian.


"Apa yang mereka bicarakan?"


"Itu dia Tuan, saya tidak bisa duduk dekat meja mereka. Saya tidak bisa mendengar mereka membicarakan masalah apa. Tapi sepertinya putra Tuan, Michael terlihat marah pada gadis ini," kata Hilman.


"Hilman, kau ikutin gadis yang bernama Sandra ini. Mungkin dia tahu sesuatu mengenai kecelakaan yang menimpa Alex."


"Baik Tuan Ardian, kalau begitu saya permisi dulu Tuan Ardian." Hilman keluar dari mobil Ardian. Karena pertemuan mereka kali ini diadakan ditempat parkir hotel.


Michael menunggu kedatangan Handi untuk mengatakan padanya, mengenai tugas yang diberikannya pada Handi.


Tok... tok dua kali ketukan, pintu ruang kerja Michael terbuka. Handi masuk.


"Bagaimana?" tanya Michael dengan tidak sabar.


"Di jalan baru ada seratus lima puluh toko roti, Tuan. Dan baru diselidiki oleh orang suruhan kita lima puluh toko roti. Dan ini mereka beli saat mendatangi toko roti." Handi meletakkan lima bungkus berisi roti ke meja kerja Michael.


"Ini semua roti?" tanya Michael.


"Sebenarnya masih banyak tadi Tuan, mereka setiap masuk ke toko roti, mereka harus membeli rotinya, agar tidak ketahuan mereka sedang mencari seseorang."


"Ini untuk apa diberikan pada saya? kau bagi-bagikan pada karyawan. Besok-besok kau bagikan kepada pengemis atau gelandangan di jalanan." Michael mendorong bungkus roti yang diberikan oleh Handi tadi, tiba-tiba dia mual mencium bau roti yang keluar dari dalam bungkusan.


Michael menutup mulutnya, karena tidak tahan mencium aroma roti. "Bawa keluar, Handi!" titah Michael.


"Ini ... semua, Tuan?" tanya Handi.


Michael bangkit dan menjauh dari meja kerjanya dengan menutup hidungnya. "Iya... cepat!" seru Michael.


"Baik Tuan," sahut Handi. Dengan gerak cepat Handi mengambil roti tersebut, dengan langkah lebar Handi keluar dari ruang kerja Michael.


Tiba di luar, Handi mencium roti yang dipegangnya.


"Tidak bau, ada apa dengan Tuan Michael? tidak seperti biasanya? biasalah Tuan Michael lebih suka makan roti dari pada nasi, ini kenapa tidak suka mencium bau roti? penciuman Tuan Michael lagi sensitif terhadap roti."


"Pak Handi bawa apa itu?" Tanya Arini, sekretaris Michael.


"Roti, kau bagikan pada karyawan lantai ini saja," kata Handi dan menyerahkan bungkusan yang ditenteng kepada Arini. Dan langsung pergi meninggalkan Arini.


"Roti?" gumam Arini.


"Tumben baik Pak Handi, tidak biasanya. Mungkin Pak Handi dapat rezeki nomplok. He... he.. he.. sering-seringlah." Arini cengengesan membawa roti untuk dibagikan ke rekan-rekannya.


Michael menggerutu dalam ruang kerjanya, karena aroma roti masih membaui ruang kerjanya.

__ADS_1


"Terbuat dari apa roti itu? bau sekali." Michael menyemprotkan parfum untuk menghilangkan bau roti. Setelah bau roti hilang, baru Michael bisa menghirup udara dengan bebas.


__ADS_2