Fake Marriage

Fake Marriage
Bab 34


__ADS_3

Happy reading guys


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ayana menarik tangan Cinta. "Ada apa , Ay?"


"Ada yang ingin aku tanyakan padamu ," kata Cinta.


"Masalah apa ?" tanya Cinta.


"Jangan di sini " Ayana membawa Cinta menjauh dari kerumunan mahasiswa yang sedang membahas ujian semester, yang berakhir hari ini.


"Ada apa Ay? kenapa kita harus ditempat yang sepi?" Cinta penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Ayana.


Ayana melihat area di mana mereka saat ini, setelah melihat suasana yang sepi aktivitas, baru Ayana berkata kepada Cinta.


"Aku ingin bertanya padamu, apa kau memegang buku nikah?" tanya Ayana .


"Iya ada, kenapa?" jawab Cinta.


"Kita tanya ke KUA di mana kau nikah, pasti ada berkas-berkas kalian di sana. Kita bisa lihat alamat Mas Andrew," kata Ayana.


"Benar juga, di berkas surat nikah pasti ada alamat Mas Andrew," kata Cinta.


"Kita pergi ke KUA," kata Ayana.


"Kantor urusan agama mana?" tanya Cinta.


"Pasti didekat rumahmu Cinta," kata Ayana.


"Kapan kau mau ke sana?" tanya Ayana.


'Besok tidak mungkin. Aku dan bunda akan mengunjungi ibu dan bapak di kampung," kata Cinta.


"Besok tutup Cinta! besok itu semua kantor tutup, besok itu Minggu," kata Ayana mengingat cinta besok hari libur.


"Oh... iya, aku lupa. Senin saja."


"Besok mau ke kampung, aku ikut ya. Pakai mobilku saja. Besok kita pakai sopir saja."


"Terima kasih, Ay. Kau sudah sangat sering membantuku," kata Cinta.


"Siapa suruh kau menjadi budak cinta." sindir Ayana.


Cinta menundukkan kepalanya, dia sangat malu mendengar ledekan Ayana . Dia akui sangat ceroboh, tidak mengenal dekat sosok laki-laki yang menikahinya. Benar dengan yang dikatakan Ayana, cinta membuat matanya buta.


***


Mobil yang dikemudikan oleh sopir Ayana tiba di desa karang Turi. Desa karang Turi desa yang sangat asri, penduduknya terlihat berkecukupan, terlihat dari rumah dan jalan yang ada di desa tersebut.


"Kita ke mana Tante?" tanya Ayana seraya menoleh ke belakang, di mana Cinta dan bundanya duduk.


"Kita tanyakan pada penduduk alamat ini," kata Rima, bundanya Cinta.


"Sini Cinta tanya Bun," kata Cinta.


"Biar saya saja, Bu. Terlihat orang sini sangat sulit untuk mengerti bahasa Indonesia,' kata Pak Joko, sopir Ayana.


"Mereka tidak mengerti bahasa Indonesia, pak?" tanya Ayana.


"Sepertinya, Non. Tadi saat saya singgah di mesjid untuk buang air, saya bicara dengan penduduk dengan bahasa Indonesia, mereka bingung," kata Pak Joko.

__ADS_1


"Mereka mengerti, tapi tidak lancar mungkin." Rima menimpali ucapan Pak Joko.


"Mungkin," sahut Ayana.


Mobil berhenti didepan warung dan pak Joko turun. Dia bicara dengan sang pemilik warung dan tidak lama kemudian dia kembali.


"Bagaimana, pak?" tanya Cinta.


"Alamat ini diujung jalan Non, tapi pemilik warung tadi heran karena saya mencari alamat ini," kata Pak Joko sambil menjalankan mobil.


"Heran kenapa, Pak?" tanya Ayana.


"Saya juga tidak tahu, Non. Ibu itu tidak mengatakannya, dia menyuruh saya lihat sendiri alamat yang kita cari."


"Ada apa ya? apa ini dan bapak sudah tidak tinggal di sini lagi?" kata Cinta.


Hening, tidak ada yang bicara. Masing-masing memiliki pikiran masing-masing.


"Ini tempatnya Non," kata Pak Joko.


"Ini... ?!" Cinta melihat ke seberang jalan.


"Mana rumahnya?" Ayana melihat sisi kirinya, yang hanya ada lapangan kosong. Dan di sisi kanan terdapat pemakaman umum.


"Ayo kita turun, mungkin Pak Muklis dan Bu Sadiah tinggal di area pemakaman," kata Rima.


Masing-masing membuka pintu dan keluar. Keempat kepala celingukan mencari rumah yang mereka cari. Tapi tidak terlihat ada rumah di sekitar mereka.


"Coba kita ke sana," ujar bunda Cinta, menunjuk kearah seberang jalan.


"Ke pemakaman Bun?" Cinta memandang kearah pemakaman umum dengan perasaan yang ngeri. Karena area pemakaman yang dipenuhi dengan pepohonan yang tinggi-tinggi, sehingga menimbulkan kesan angker.


"Iya... kenapa? takut?" tanya Rima pada Cinta.


"Serem... agh... ," kata Ayana.


"Kalian sini saja," kata Rima, pada keduanya.


"Biar saya menemani ibu," kata Pak Joko.


Rima dan pak Joko melangkah menyeberangi jalanan yang sepi menuju ke pemakaman umum. Kedua tiba didepan pagar pemakaman umum dan melihat kedalam.


"Tidak ada rumah didalam area pemakaman, Bu," kata Pak Joko.


"Iya... pak," sahut bundanya Cinta.


Keduanya kembali. "Bagaimana bunda?" tanya Cinta.


Rima menggelengkan kepalanya, seraya berkata. "Tidak ada rumah di sana."


"Kenapa mereka memberikan alamat ini? ada yang mencurigakan? kita pergi kantor kepala desa, kita tanya pada kepala desa. Pasti mereka mengenal penduduknya," kata Ayana.


"Ayo," ujar Rima, bundanya.


Dengan bertanya kepada penduduk yang mereka jumpai, mobil yang dikemudikan oleh Pak Joko tiba di kantor desa yang tidak jauh dari tempat mereka tadi. Pemakaman umum.


Kekecewaan yang harus mereka hadapi. Cinta lemas, setelah mendengar kepala desa tidak mengenal dia orang yang mereka cari. Cinta menunjukkan gambar Andrew dan kedua orangtuanya, yang diambil pada saat akad berlangsung. Kepala desa juga tidak mengenal Andrew sebagai penduduk desa karang Turi.


"Mereka menipu kita," gumam Rima dengan suara yang lirih. Sedangkan Cinta duduk lemas. Saat melangkah keluar dari kantor kepala desa, kakinya sudah tidak bisa diajak kompromi untuk melangkah. Ayana memapahnya.


"Kenapa mereka menipuku? kenapa? Mas Andrew menipuku!" Cinta menangis dalam hatinya. Dia tidak bisa mengeluarkan tangisnya, karena khawatir sang bunda ikut sedih.

__ADS_1


"Pak, ayo kita pulang," kata Ayana pada sang sopir, karena dia merasa tidak perlu lagi berada di desa karang Turi. Karena apa yang mereka cari tidak tinggal di desa ini, atau bukan penduduk desa yang mereka datangi.


Sedangkan Michael yang mereka cari sedang bersenang-senang dengan temannya, di club' malam.


"Tumben kau bisa kumpul di sini, apa kau tidak ada pekerjaan?" Jack menyodorkan satu gelas minuman kepada Michael. Michael mengambilnya dan langsung meneguknya, sampai tidak tersisa setetes pun di dalam gelas.


"Aku gembira," kata Michael dan menyodorkannya gelasnya untuk diisi minuman keras lagi.


"Gembira? apa kau mendapatkan gadis perawan?" Sony yang play boy langsung menebak, Michael gembira karena wanita.


"Tebakanmu selalu jitu, kawan...," balas Michael.


"Gila kau! gadis mana yang kau bobol kegadisannya? apa cantik? seksii... !" Jack sama dengan Sony, selalu bersemangat jika menyangkut masalah wanita. Hanya Juan yang memberi batas dengan para wanita, karena pernah menjadi korban sakit hati yang dilakukan oleh mantan kekasihnya.


"Kalian tidak harus tahu, siapa gadis itu," kata Michael dan kembali menyesap minumannya.


"Sombong! mentang-mentang dapat perawan, hati-hati jangan sampai kau menjadi papa tanpa tahu keberadaannya," kata Sony.


Jack dan Juan menatap Michael. "Ada apa? kenapa kalian menatapku segitunya?"


"Kau main amankan?" tanya Jack.


"Tenang saja, dia tidak akan hamil. Jika hamil juga, aku akan mengambil anakku," kata Michael.


"Dasar bajingan kau! sudah ngambil perawan tanpa bayar, sudah gitu mau ambil anak saja jika ada," kata Jack.


"Bagaimana rasa perawan gadis sini dengan gadis luar, Mich..?' tanya Sony.


"Apa wanita luar masih ada yang masih perawan? kalaupun ada, pasti sangat sulit mencarinya," kata Juan.


"Hei... Michael... ! jawab tuh pertanyaan Sony ," kata Jack.


"Kau saja yang jawab, kau kan sering bermain dengan wanita pirang," kata Michael.


"Bushett... !" umpat Jack yang disuruh Michael untuk menjawab pertanyaan Sony.


"Jangan bahas wanita lagi, sekarang lupakan manusia yang berjenis kelamin perempuan,” kata Juan.


"Yang sudah pernah disakiti manusia berjenis kelamin perempuan bicara, dengarkan!" ledek Sony.


Juan mengambil kacang, dan melempar Sony.


"Terima kasih kacangnya, tapi aku bukan monyet," Sony mengembalikan kacang yang dilemparkan Juan.


**


Cinta sudah berada di dalam kamarnya. Waktu sudah menunjukkan jam satu malam, tapi mata Cinta belum bisa terpejam. Pikirannya penuh dengan wajah Andrew yang selalu melintas didalam otaknya.


"Apa sebenarnya yang terjadi? kenapa Mas Andrew memalsukan alamatnya? apa Mas Andrew ada masalah? sehingga harus membuat alamat palsu."


Cinta ingin percaya, bahwa Andrew tidak membohonginya. Andrew suami yang baik dan mencintainya.


Tidak berbeda jauh dengan Cinta. Rima bundanya juga tidak dapat memejamkan matanya. Masalah yang dihadapi Cinta membuat harus ikut berpikir.


"Mas... bagaimana ini, putri kita telah dipermainkan oleh laki-laki yang menikahinya. Apa yang harus aku lakukan Mas? siapa yang aku harus mintai tolong?"


Rima meratapi nasib Cinta, sambil menatap gambar mereka bertiga.


"Mas ! kenapa Mas begitu cepat meninggalkan kami, sehingga orang berani berbuat jahat kepada putri kita, mas."


Rima merebahkan dirinya dan gambar mereka bertiga berada didalam dekapan tangannya. Air mata telah membasahi pipinya. Jemari tangannya terus menerus mengusap air matanya, tapi air matanya tetap membasahi kedua pipinya.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2