FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI

FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI
Episode 10


__ADS_3

Tahun 2000 di kenal penduduk Kota Tapus sebagai awal masuknya milinium trendi, pada awal milinium ini terlihat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat pesat. Di tahun 2006 perkembangan smarpohene dan internet mulai menjadi layanan publik termasuk dalam transaksi perbankan.


Demikian perkembangan teknologi mengharuskan abu Daud yang mulai berbisnis di Ibukota untuk menguasai teknologi informasi dan teknologi. Dengan bermodalkan smartphon blacbarry Abu Daud melakukan transaksi pembelian saham sebuah perusahaan di Ibukota. Di bantu oleh kenalannya yang ada di Jakarta, hampir semua uang penjualan asetnya di tranfer melalui smartphone.


"Abi yakin dengan transaksi melalui telepon?" tanya umi Sarah pada Abu Daud saat mereka turun di terminal tanjung Priok.


"Gimana ya... yakin yakin aja lagi" jawab abu Daud.


"Gak... umi takutnya bayak kejadian sms, atau transaksi internet yang menjadi lapangan kejahatan baru saat ini" ucap umi Sarah mulai kuatir saat telepon Eko tak pernah di angkat lagi.


"Abi juga dengar sih, banyak penipuan melalui telepon, tapi abi percaya sama si Eko sahabat abi semasa kuliah dulu" ucap abu Daud meyakinkan istrinya, sekalipun dalam hatinya sendiri timbul keraguan.


Lalu Abu Daud coba kembali menghubungi Eko teman kuliahnya, wajah abu Daud terlihat pucat saat mencoba menghubungi telepon Eko teman kuliahnya tidak aktif aktif. Prasangka buruk mulai merasuki pikiran abu Daud saat menyadari dari pagi hingga siang telepon temannya tidak pernah aktif seolah sengaja menghindarinya. Untuk memghilangkan kecemasan dan prasangka buruk terhadap Eko temannya, Abu Daud mengajak istrinya untuk istirahat di sebuah masjid melaksanakan sholat zuhur berjamaah.


Saat melewati sebuah gang sempit menuju masjid tiba tiba mereka di hadang oleh seorang berpakaian kumal dengan peci hitam, kostumnya sangat akrab bagi abu Daud dan umi Sarah, seperti kostum yang biasa di kenakan penduduk desa di sekitar Kota Tapus. Di samping laki laki setengah baya tersebut terlihat anak kecil sebaya Fhadlan yang menangis memanggil manggil ibunya.


"Maaf dek... bapak mau tanya, kalau mau jalan kaki ke Sumatra butuh berapa hari ya?" tanya lelaki setengah baya sambil membujuk anaknya yang terus menangis.


Abu Daud dan umi Sarah saling pandang, seperti ada yang salah dengan pertanyaan lelaki tersebut.


"Emang kenapa ... pak?" Abu Daud pun balik bertanya karena merasa heran dengan pertanyaan aneh laki laki setengah baya di depannya.


"O ya dek... saya dan anak saya terdampar di sini sudah dua hari, kami kehilangan tas dompet di mana semua uang yang bapak punya ludes di gondol jambret" lelaki setengah baya tersebut menarik napas panjang dengan wajah sangat sedih.


"Bapak mau bawa anak bapak pulang, tapi jangankan untuk beli tiket mobil, untuk makan pun bapak sudah tak punya uang, makanya bapak harus jalan kaki" ujar lelaki setengah baya tersebut.


"Waduh kasian anaknya pak, emang pulang nya kemana pak?" tanya Abu Daud.


"Bapak harus pulang ke pedalaman Sumatra di Kabupaten Merangin provinsi Jambi" jawab pria setengah baya di depan Abu Daud.

__ADS_1


Umi Sarah merasa tersentuh mendengar keluh kesah pria di depan mereka. Seolah olah yang terlihat di depannya adakah abu Daud dan Fhadlan anaknya sedang tersasar di Jakarta.


"Kasian pa... kasih aja ongkosnya biar pulang dengan bus" saran umi Sarah.


Abu Daud pun merasa iba membayangkan pria setengah baya tersebut harus berjalan kaki ke Sumatra membawa anak yang masih balita. Segera saja dikeluarkannya uang lima ratus ribu dari dompetnya lalu di serahkan pada pria setengah baya tersebut.


"Ini saya kasih ongkos untuk beli tiket, mudah mudahan cukup sampai kampung halaman bapak" abu Daud menyerahkan uang lima ratus ribu pada pria tersebut.


"Terima kasih banyak dek" ucap pria tersebut lalu meninghalkan Abu Daud dan umi Sarah.


*****


Abu Daud dan umi Sarah bergegas menuju masjid untuk mengerjakan sholat zuhur berjamaah. Sebelum nemasuki masjid barang barang mereka di titipkan di tempat penitipan barang.


"Bapak baru di jakarta...ya?" tanya seseorang yang ke betulan melihat Abu Daud, di gang sempit bersama pria setengah baya dengan anaknya.


"Iya pak.. ni juga baru nyampe" ucap abu Daud.


"seeeerr" darah di dada abu Daud berdeser, prasangka buruknya pada Eko makin menjadi jadi membuatnya semakin cemas.


"Semenjak krisis moneter kejahatan di ibukota meningkat, tidak saja kasus tipu tipu bahkan perampokan dan pembunuhan juga meningkat" ucap pria di samping abu Daud.


"Terima kasih nasehatnya pak" ucap abu Daud.


*****


Saat umi Sarah sholat zuhur, Fhadlan yang sedang lasak lasaknya berlarian di sekitar umi Sarah, lama kelamaan Fhadlan malah berlarian keluar masjid. Di luar masjid Fhadlan berdiri memperhatikan seorang anak kecil yang sedang makan es krim duduk di samping ibunya. Lama sekali Fhadlan memperhatikan anak kecil tersebut seakan dia juga pengen mencicipi bagaimana rasanya es krim di tangan anak kecil tersebut.


Seorang pria setengah baya yang dari tadi memperhatikan Fhadlan mengerti kalau Fhadlan lagi ngiler dengan es krim di tangan anak kecil di depannya. Segera di hampirinya Fhadlan dengan berlaku sok akrab pria setengah baya tersebut lalu menyapa Fhadlan.

__ADS_1


"Nak siapa namanya?" pria tersebut mengusap kepala Fhadlan.


"Fhadlan" ucap Fhadlan singkat.


"Fhadlan mau es krim juga?" tanya pria tersebut menunjukkan es krim yang di pegang anak kecil di depannya.


"Mau" ucap Fhadlan.


"Ayo om belikan" ucap pria tersebut lalu lalu mengangkat Fhadlan ke pelukannya.


Fhadlan nurut dan diam saat dirinya di gendong di bawa meninggalkan masjid untuk mencari es krim.


Tak begitu jauh dari masjid pria tersebut membelikan es krim untuk Fhadlan.


"Nak Fhadlan ini es krimnya" ucap pria tersebut.


"Nanti bilang mamanya, kalau Fhadlan di belikan es krim sama om Herman ya!" kata pria setengah baya yang mengaku bernama Herman.


Fhadlan hanya mengangguk sabil menikmati es kirimnya.


"Enak es krimnya nak Fhadlan?" tanya om Herman.


Sekali lagi Fhadlan mengangguk.


"Om belikan yang lebih enak Fhadlan mau?" tanya om Herman.


"ya" kata Fhadlan mulai merasa akrab.


"Bagus ayo kita cari es krim yang lebih enak" ajak om Herman kembali membopong Fhadlan.

__ADS_1


Fhadlan di bawa naik taksi ke sebuah rumah dua lantai di komplek perumahan elit di darah Jakarta Utara. Sebuah rumah elit dengan enam tempat tidur utama. Di masing masing kamar di huni oleh empat hingga delapan anak berdasarkan tingkat usia. Berkedok penampungan anak terlantar rumah ini di jadikan sebagai tempat anak bawah umur yang di exploitasi sebagai pengemis dan untuk tujuan penipuan.


__ADS_2