
Di atas pohon pinus sepasang mata sedang menganati pertempuran antara Beni melawan Karno yang di bantu saudaranya Karto. Tanpa ada yang menyadari seorang pemuda tampan, mengenakan kaos oblong dan celana langgar sedang mengintai mereka.
Pemuda ini sudah dari rumah pak Nanak menguntit Beni yang membawa tubuh Fhadlan. Dengan sangat hati hati Pemuda tersebut berkelebat di antara pohon pohon terkadang dia memilih jalan berbeda dari jalan yang di lalui Beni. Untugnya suasana hutan yang berkabut karena baru saja di terpa hujan lebat, sehingga tubuhnya luput dari pandangan Beni.
Pemuda tersebut mulai berpikir untuk membawa kabur Fhadlan saat menyaksikan bagaimana Beni sedang terlibat pertempuran sengit dengan Karno. Namun karena asiknya mengikuti jalannya pertempuran dia juga lupa dengan keberadaan Fhadlan.
"Oh tidak aku melupakan anak itu" guman pemuda tersebut pada dirinya sendiri, saat melihat Fhadlan sudah tak terlihat di posisinya semula, juga demikian dengan Tatang yang di bopong Karno.
"Stop, kita tunda dulu.. lihat anak anak sudah kabur" teriak Beni.
Belum lagi pemuda tersebut memikirkan kemana Fhadlan dan temannya, Beni di ikuti Karno dan Karto sudah melesat ke arah lereng bukit. Melihat arah kepergian Beni, Karto dan Karno mengertilah dia kalau Fhadlan dan Tatang kabur menuju lereng bukit.
Pemuda tersebut lalu melesat berkelebat di antara pepohonan, ikut memburu Fhadlan yang kabur bersama Tatang, perjalanan memang terasa agak sulit karena dia harus menghindari Beni, Karto dan Karno, sehingga dia harus melalui jalan yang tidak lazim di lewati.
Saat melihat Fhadlan terlempar ke sungai yang sedang di aliri arus banjir bandang, pemuda tersebut melompati sungai yang cukup lebar lalu berusaha memburu Fhadlan yang sedang terbawa arus. Dia berlari dengan sangat cepat dari sisi subgai yang bersebrangan dengan Beni, Karto dan Karno.
Beberapa kali dia berusaha terjun ke dalam sungai untuk menyelamatkan Fhadlan, tapi selalu gagal hingga akhirnya Fhadlan sudah berada di bibir air terjun. Pemuda tersebut nekat melompat ke dasar air terjun berkelebatan dari pohon kepohon yang tumbuh di tebing di sisi air terjun.
"Biur" tubuh pemuda tersebut jatuh ke dasar air terjun bersamaan dengan jatuhnya Fhadlan. Detik berikutnya Fhadlan sudah berada di pondongannya, untungnya arus di dasar air terjun cukup tenang, sehingga pemuda tersebut tidak kesulitan membawa Fhadlan menepi ke pinggir sungai.
Hal pertama yang di lakukan pemuda itu adalah memeriksa detak jantung dan nafas Fhadlan.
"Sepertinya jantungnya sudah berhenti bergerak dan napasnya sudah berhenti sama sekali" guman sang pemuda.
Setelah cara medis tak memungkinkan untuk menyelamatkan Fhadlan, dia teringat cara tradisional penyelamatan seorang anak yang hanyut di sungai, dengan digendong secara terbalik kaki di atas dan kepala di bawah, lalu dibawa lari lari hingga beberapa menit.
Saat tibuh Fhadlan yang sudah tidak bergerak dan tidak bernafas. digendong terbalik oleh sang pemuda, dari hidung dan mulut Fhadlan keluar air banyak sekali, setelah di gendong dengan posisi kepala di bawah selama 20 menit pemuda tersebut merasakan tubuh Fhadlan menggeliat lemah.
__ADS_1
"huk huk huk" terdengar Fhadlan terbatuk beberapa kali.
Sang pemuda berhenti di tempat yang datar lalu tubuh Fhadlan di baringkan di atas rerumputan, kembali dia periksa detak jantung dan nadi Fhadlan.
"Sungguh ajaib Anak ini hanyut begitu jauh terseret arus, lalu jatuh di air terjun setinggi seratus meter, tapi dia masih hidup dan dia tidak terlihat cedera sedikitpun" guman sang pemuda setelah mendapati jantung Fhadlan sudah berdetak normal dan dia sudah bernafas kembali.
Fhadlan membuka matanya sesaat menatap sang pemuda, awalnya dia hanya melihat samar, ketakutan kembali menguasai diri Fhadlan saat dia menduga orang di depannya adalah Beni yang baru saja nemculiknya.
"Ahhhhhh" keluh Fhadlan ketakutan tubuhnya menegang lalu diam kembali pingsan.
Kembali si pemuda memanggul Fhadlan seperti mengangkat barang yang sangat ringan. Sang pemuda membawa Fhadlan berlari dengan gerakan cepat dan ringan, menuju suatu tempat.
****
Sudah sehari semalam fhadlan tergeletak pingsan, saat siuman Fhadlan mendapati dirinya berbaring di sebuah kamar sederhana, hanya berukuran 2 x 3 meter. di Kamar hanya ada tempat tidur dan almari pakaian. Sepertinya tuan rumah bukanlah orang yang berada, sekalipun tidak juga di katagorikan sebagai orang susah.
"Hu hu hu ... " Fhadlan menangis saat menyadari kalungnya tidak berada di lehernya.
"Kamu sudah siuman nak?" tiba tiba lelaki setengah baya memasuki kamar saat mendengar Fhadlan menangis.
"Dimana aku, Siapa kamu, dimana kalung Fhadlan, kembalikan kalung Fhadlan" ucap Fhadlan pada lelaki setengah baya yang merawat Fhadlan.
Lelaki setengah baya yang merawat Fhadlan berusaha menenangkan Fhadlan. sambil memeriksa dahi Fhadlan lalu mengelusnya dengan lembut.
"Tenang nak Fhadlan, kamu sudah aman di rumah pak Adi Wijaya, kamu baru saja hanyut di bawa banjir bandang untung di selamatkan oleh Tuan Muda" ucap pak Adi Wijaya.
Fhadlan tau dia hanyut di sungai bahkan dia bisa mengingat kalau dirinya sempat jatuh ke air terjun yang sangat dalam tak terlihat dasarnya. Namun Fhadlan masih kepikiran akan kalung pemberian ibu Cicilia, dia merasa bersalah jika tidak bisa menjaga amanah ibu Cicilia.
__ADS_1
"Mana kalung Fhadlan, kembalikan kalung Fhadlan" ucapnya pada pak Wijaya.
"Jangan bergerak dulu nak Fhadlan, jangan pikirkan kalung mungkin sudah terhanyut terbawa arus, yang penting nak Fhadlan sudah selamat dari arus sungai yang deras"
Pak Wijaya kembali menghibur Fhadlan, sekalipun Fhadlan sangat kecewa dengan kehilangan kalungnya namun ucapan pak Wijaya cukup menenangkan, masih untung dia selamat tidak cedera sedikitpun.
"Maaf... apakah pak Wijaya yang telah menyelamatkan Fhadlan?" tanya Fhadlan sudah agak tenang.
"Bukan pak Wijaya nak... tapi kamu di bawa kesini sehari yang lalu oleh seorang pemuda, seseorang yang tidak ingin di sebut namanya, katanya hari ini akan ada orang yang akan menjemputmu" kata pak Wijaya.
"Kamu tentu lapar, bapak abilkan makan ya, bapak sudah belikan sop iga untuk menghangatkan tubuh, nak Fhadlan"
"Iya pak" ucap Fhadlan tiba tiba merasa sangat lapar saat mendengar pak Wijaya membelikan sop iga untuknya.
Fhadlan berusaha duduk saat pak Wijaya membawakan makanan untuknya.
"Minum air panas kuku dulu sebelum makan, biar perut nak Fhadlan tidak terlalu kaget nanti" ucap pak Wijaya.
Setelah minum air panas kuku, pak Wijaya memberikan nasi bubur dengan sop iga pada Fhadlan.
"Sekarang kamu boleh makan" ucap pak Wijaya.
Fhadlan menerima piring yang di berikan pak Wijaya lalu makan dengan lahap.
"Enak sop iganya nak?" tanya pak Wijaya.
"hummm hummm" Fhadlan mengangguk dan terus makan dengan lahap dia sudah lapar sekali, maklum sudah sehari semalam perutnya tak di isi makanan. Belum habis makanan di piringnya, dari sekujur tubuh Fhadlan telah mengucur keringat deras sekali.
__ADS_1