
Malamnya setelah kepulangan Jendral Sholeh, anggota resimen Hamdani berkumpul melakukan makan bersama masyarakat dan berdoa untuk keberhasilan misi mereka kali ini yang tentu lebih berat di banding misi pertama.
Pada kesempatan itu paman hamdi mengundang Abu Ghafur untuk berbicara di depan majlis.
"Saudaraku seiman saya mewakili resimen Hamdani, menyampaikan kalau kami mendapat tugas dari pemerintahan untuk mengamankan pipa minyak Yaman, dari sabotase sekelompok orang yang belakangan menamakan diri mereka kelompok Mujahidin Imperium Balqis"
"Untuk itu kami mohon doa restu dari masyarakat untuk keselamatan dan keberhasilan kami" ucap paman Hamdi.
"Hari ini saya memerkenalkan seorang teman seperjuangan dalam meyerbu markas Imperium Balqis tempo hari, beliau seorang yang hidup sederhana di desa tapi beliau sangat mulia di mata kami pejuang resimen Hamdani, di mata kami beliau sudah di sandingkan dengan derajat para Wali, beliau juga membawa anggotanya para penduduk desa mereka untuk kembali berjuang brsama kami, beliau adalah abu Ghafur, yang pada kesempatan ini sekalian kita minta pencerahan dari beliau"
Setelah di persilahkan abu Ghafur pun kembali naik mimbar, setelah mengucapkan salam abu Ghafur membuka topik pembicaraan.
"Saya malu di sandingkan degan derajat para wali, saya akui di desa saya lebih sering di mintak oleh penduduk desa mendoakan sesuatu, karena saya di anggap lebih rajin ibadah di masjid. Hingga saat Yaman terkena musibah semua yang datang untuk di doakan saya tolak, kenapa?"
"Karena beragama bukan untuk menjadi tukang do'a, tapi Beragama itu bertujuan untuk membuat dunia tidak kacau"
"Bisakah dunia damai hanya dengan do'a?.... laaa (tidak).... atau hanya dengan sholat, puasa ... naik haji? .. laaa (tidak), makanya agama punya syariah yang harus di tegak kan. Dunia akan damai jika syariah jika di tegakkan"
"Saya lebih malu ketika seseorang anak kecil menyerbu markas Imperium balqis sendirian menyelamatkan seorang penduduk desa yang di culik, membuat saya tersentak menyadari ini yang telah tiada dari saya, ber amar Makruf nahi mungkar"
"Banyak kita ibadah tak bisa di banggakan karena anak kecil pun bisa, tapi ber amar Makruf Nahi mungkar hanya orang yang yakin dengan ayat allah yang mampu"
"Saya juga sempat kebingungan saat menghadapi penomena bayaknya organisasi, suku bangsa yang berjuang menamakan diri sebagai mujahid tapi semua menginginkan kekuasaan sehingga kelompok Mujahidin ini setelah negosiasi dengan pihak Amerika di katagorikan menjadi dua golongan yaitu Mujahidin yang ingin Yaman menjadi negara demokrasi mereka sebut Mujahidin Demokrasi, dan Mujahidin yang ingin Yaman menjadi negara khilafah mereka sebut Mujahidin khilafah. Sedangkan suku suku dan organisasi yang bergerak tidak berdasarkan standar Amerika mereka sebut Mujahidin pengacau."
"Saat inilah ukhwah memanggil kita tapi kenalilah kebenaran dengan tolok ukur alquran dan hadist, gunakan akal sehat kalau mujahid itu hanya punya dua tujuan yakni menang menegakkan syariah di jalan Allah atau mati sebagai syahid"
__ADS_1
"Ingat tujuan mujahid itu bukan membangun Demokrasi, atau khilafah yang menerapkan sunah tidak lagi menggunakan sunah Rasulullah"
"Mari pastikan niat kita berdiri di atas kebenaran dan berjuang untuk kebenaran, mari saudaraku kita berjuang bersama resimen Hamdani, bagaimana kalian setuju?". tanya abu Ghafur.
"Setuju... setuju" teriak yang hadir.
"Hidup Abu Hamdi, jayalah resimen Hamdani" teriak abu Ghafur.
"Hidup Abu Hamdi, jayalah resimen Hamdani" balas hadirin bersemangat
"Terima kasih sebelumnya saya mau mengingatkan apa itu khilafah apa itu pemerintah al qur'an memberikan dasar pemerintahan sebagaimana Allah berfirman"
“Wahai Dawud! Sesungguhnya engkau Kami jadikan khalifah (penguasa) di bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sungguh, orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan"
"Subhanallah..." guman para hadirin.
Demikianlah selama 4 hari resimen Hamdani melakukan latihan perang kota untuk persiapan menyerbu Kota Magrib yang merupakan markas besar Imperium balqis dengan fasilitas lengkap. Selama 4 hari pula penduduk kota Aden berduyun duyun mendaftar untuk menjadi anggota resimen Hamdani.
Saat resimen Hamdani sibuk mempersiapkan keberangkatan kemedan perang, Fhadlan menemui paman Hamdi untuk minta persetujuan mengikuti misi resimen hamdi kali ini.
"Paman... Fhadlan masih punya hutang piutang dengan anggota Imperium Balqis, untuk itu tolong izinkan Fhadlan ikut serta menemani paman" pinta Fhadlan.
Paman Hamdi tidak kuatir lagi dengan Fhadlan, bahkan dia percaya penuh dengan kemampuan Fhadlan langsung menyetujui keinginan Fhadlan.
"Ok ... tapi Fhadlan harus ingat resimen Hamdani akan bergerak menuju kota Magrib kemungkinan akan tinggal di Magrib untuk waktu lama atau kita akan tewas sebelum sampai ke kota Magrib"
__ADS_1
"Itu yang Fhadlan harapkan paman, karena orang yang Fhadlan cari ada di kota Magrib" ucap Fhadlan girang.
"Ok.. kamu segera bergabung dengan para sniper resimen Hamdani besok pagi kita bergerak" ucap paman Hamdi.
Pada keesokan harinya pada hari kelima iring iringan Resimen Hamdani meninggagalkan kota Aden bergerak ke arah utara.
"Kita tidak mengambil jalan umum tetapi berjalan melintasi jalur pipa minyak dan gas yang menuju kota Magrib" ucap Hamdi memberikan peta pada masing masing komandan.
Perjalanan baru 10 km mereka sudah di hadang di sebuah kilang minyak kota Aden, pertempuran hebat terjadi di permukiman penduduk desa di pinggir kota Aden.
"sing.. siiuuuu....siuuu ..... ahhhhhh... ahhhh. ahhhh.." pasukan segera mencari perlindungan, saat mendengar desingan peluru di susul robohnya tiga orang invantri di truk terdepan mereka
Mobil berhenti semua sardadu resimen Hamdani semua berhamburan dari mobil, mencari tempat berlindung.
"Cari tau siapa musuh di depan" ucap Hamdi.
"Lapor komandan mereka adalah, Pejuang yang setia pada prediden Hadi yang akhirnya berhasil merebut kilang minyak setelah bertempur semalaman dari Al qaida" ucap seseorang.
"Mereka gila tidak lihat apa kalau kita memasang bendera Yaman, Kasih tau mereka kita adalah teman" perintah Hamdi.
Pertempuran sengit sudah terjadi antara kedua belah pihak ini membuat diplomat resimen Hamdani kesusahan untuk melakukan pembicaraan.
"Biar saya yang mendatangi mereka" ucap Fhadlan setelah melihat utusan resimen Hamdani tak dapat bergerak dalam hujan puru ke dua belah pihak.
Fhadlan mengikat kain putih di ujung stik bambunya lalu mengacungkannya tinggi ke udara, sebagai pertanda minta perdamaian. secara berlahan Fhadlan mengendap endap ke arah markas musuh. Sesekali Fhadlan harus mengelakkan peluru yang menerjang je arahnya.
__ADS_1
Melihat Fhadlan pergi abu Ghafur yang tadinya di tugaskan sebagai juru runding pun ikut berdiri dan menyusul.
"Anak muda kamu benar benar membuat paman yang tua ini menjadi iri dan malu" ucap abu Ghafur setelah berada di samping Fhadlan.