
Sesudah bertanding selama empat lima puluh jurus, Tika maklum bahwa kalau sang penuda menghendaki, dengan mudah dia akan mampu merobohkan kedua pengawal Ratu Imperium Balqis.
"Mungkin pemuda ini ingin menguras jurus ilmu pedang pengawal Ratu Imperium Balqis" tika membatin.
Tiba tiba sang pemuda bersuit nyaring dan gerakannya dipercepat. Gulungan cahaya pedang berwarna keperakan menjadi terang dan lebih panjang, membentuk lingkaran-lingkaran aneh dan terus menghimpit serta membelit gulungan sinar putih dari pedang kedua pengawal tersebut.
"Aiiih, hiyattt" teriak pengawal kaget dengan serangan si pemuda.
Tampak kedua pengalwal makin terdesak hebat dan hal ini dapat diikuti dengan pandang mata dan jelas oleh Tika dan Fhadlan, serta Ratu Imperium Balqis dengan para pengawalnya sehingga mereka menjadi kagum sekali.
"Hebat dia mbak" komentar Fhadlan kagum.
Akan tetapi para murid pengawal tingkat dua yang berdiri di luar ruangan, yang ilmu kepandaiannya belum mencapai tingkat setinggi itu dan belum mempunyai ketajaman penglihatan mereka tidak dapat mengikuti kecepatan sinar pedang, tidak dapat melihat tiga orang yang bertanding, hanya melihat gulungan-gulungan sinar pedang.
Bagi mereka, pertandingan ini hanya merupakan pertandingan hebat yang menegangkan di mana mereka melihat betapa gulungan cahaya pedang putih tidak sehebat tadi bahkan ada kalanya terpecah menjadi dua lalu bersatu lagi dan kemudian terpecah lagi, bahkan kadang-kadang terpisah makin jauh, dan keduanya digulung oleh sinar pedang keperakan.
Tak lama kemudian tampaklah dua orang pengawal itu meloncat ke kanan kiri dengan muka pucat dan tanpa memegang pedang lagi, sedangkan sang pemuda masih berdiri di tengah-tengah dengan pedang diputar-putar sedangkan dua batang pedang milik pengawal itu menempel dan ikut berputaran pada ujung pedangnya.
"Kepandaianmu hebat, orang muda. Kami imperium balqis mengaku kalah" ucap sang Ratu.
Ratu merasa perlu sekali menghimpun tenaga tokoh persilatan yang lihai untuk memperkuat barisannya karena dia memiliki cita-cita mengembangkan kekuasaan sampai jauh ke luar negeri. Bahkan Imperium Balqis bercita-cita lebih jauh lagi, yaitu membentuk sebuah negara dan memiliki pasukan-pasukan kuat dengan persenjataan canggih.
Untuk itu dia sangat tertarik untuk merekrut penuda tersebut sebagai pengawal pribadinya.
"Anak muda untuk urusan adikmu saya akan memanggil pangeran Linggo minta keterangannya dulu, datanglah tiga hari lagi. Saya juga punya tawaran untukmu menempati kedudukan tinggi dengan gaji yang tinggi pula sebagai pengawal khusus Ratu Imperium balqis, saya tunggu jawabanmu tiga hari akan datang"
__ADS_1
"Saya akan minta tanggung jawab pangeran Linggo atas perbuatannya tiga hari akan datang, saya harap kalian tidak ingkar janji" sang pemuda lalu melesat meninggalkan ruangan dengan gerakan yang sangat cepat.
Setelah kepergian sang pemuda misterius yang sangat sakti, Tujuh orang pengawal rahasia yang menjadi jago-jago nomor satu dari istana imperium balqis itu sudah mengurung Tika dan Fhadlan dengan sikap mengancam.
"Ratu..., aku tidak mengerti bagaimana orang-orang semacam Linggo bisa jadi pangeran dan Beni, juga Wijaya yang nama busuknya sudah kudengar di mana-mana, bisa menjadi pengawal-pengawal dari Ratu Imperium Balqis"
"Apakah kalian akan membentuk sebuah Negara di pimpin dan di perintah oleh para penjahat?. Akan tetapi hal itu bukan urusanku dan aku pun tidak peduli. Kedatanganku ke sini tidak ada hubungannya sama sekali dengan para pengawal kalian yang bejat, juga sama sekali takkan membuat kekacauan. Kami datang khusus untuk menemui Linggo minta kembali kalung adik saya" ucap Tika.
"Ha-ha-ha-ha, bocah lancang! Kalian sudah memasuki istana seperti maling, bagaimana kami tidak akan mencampuri?"
"Bila tidak lekas dienyahkan, bocah ini membahayakan keselamatan Pangeran Linggo dan cita cita Imperium Balqis di masa depan. Serang!" Beni yang baru saja muncul dengan kecerdikannya sudah berseru dan menerjang maju karena kalau Tika diberi kesempatan bicara, mungkin akan mengubah keadaan.
Bersama tujuh pengawal beni sudah maju mencabut pedangnya, Kepala pengawal sudah pula menggerakkan senjata rantainya sehingga sepasang tengkorak di ujung rantai beterbangan sehingga terdengar suara ledakan-ledakan nyaring.
"Gunakan stik bambu kamu Lan" ucap tika mengingatkan Fhadlan.
Fhadlan cepat mencabut stik bambu nya, memutar stiknya sehingga segera tampak berkelebatnya sinar kecoklatan. Fhadlan pun menggunakan tangan kirinya mendorong ke depan.
"Aihhh.. Aihhh .... Aihhh" Terdengar berturut-turut suara nyaring disusul teriakan-teriakan kaget ketika tujuh orang itu merasa senjata mereka membalik dan disusul angin dorongan yang kuat sekali ke arah mereka.
Pada saat itu pula terdengar suara yang berwibawa, "Hentikan pertempuran!"
Semua orang menengok dan para pengawal terkejut ketika melihat hadirnya tiga orang berpakayan seragam polisi dengan pistol ditangan. Mereka kenal yang bicara tadi adalah seorang perwira yang memiliki jabatan penting di Kapolda Jatim.
"Pak polisi...., mereka adalah seorang pengacau yang masuk istana kami seperti penjahat!" Sang Ratu berusaha mempengaruhi Perwira polisi.
__ADS_1
Akan tetapi sang perwira polisi mengangkat tangannya dan berkata, "Harap para kalian minggir semua dan biarkan aku bicara dengannya. Aku datang karena laporan seorang pemuda kalau di sini ada keributan!" Mendengar ucapan ini, semua pengawal ratu Imperum Balqis lalu minggir.
Sang Perwira menatap Tika dan Fhadlan yang masih berdiri tegak. Tika terkejut sekali, cepat-cepat dia menyimpan sabuk sutranya dan memberi hormat dengan berlutut ala keraton.
"Orang muda yang gagah, engkau siapakah?"
Sang Perwira memperhatikan Tika segera mengenal seorang sakti dan memiliki kedudukan yang berpengaruh, kini melihat sikap dan mendengar suaranya, dia benar-benar menjadi kagum dan tunduk.
Mendengar pertanyaan yang dikeluarkan dengan suara halus itu, Tika segera menjawab dengan singkat dan hormat. "Saya Raden Ajeng Marantika dan ini Adik saya Raden Fhadlan."
"Raden Ajeng Marantika?, engkau seorang bangsawan keraton, telah berani membuat keributan di istana Imperium Balqis. Apa masalahnya?"
Dengan sikap penuh hormat Tika menjawab, "Maaf... , Pak Polisi kami tidak bermaksud mengacau, melainkan hendak bertemu dengan Pangeran Imperium Balqis yang telah merampas kalung adik saya".
Kemudian terdengar suara Perwira polisi menegur Ratu Imperium Balqis "Ratu... sungguh lancang dan besar kejahatan kalian, Tapi karena organisasi kalian belum melakukan sesuatu yang mengancam stabilitas Nasional, biarlah kaluan saya ampuni"
Perwira polisi diam sejenak.
"Hayo kembalikan kalung adik wanita ini"
Ratu Imperium Balqis terlihat melunak.
"Baik kami akan tanyakan dulu pada pangeran Linggo, tinggalkan alamat biar nanti petugas kami yang antar ke alamatnya"
"Ingat jika hal ini tidak kalian laksanakan kalian akan berurusan dengan aparat hukum, hmmmm Tika pergilah bawa adikmu kembali jika dalam tiga hari, merka ingkar janji maka segera hubungi saya" Ucap sang perwira penuh Wibawa.
__ADS_1