
Makin mendekati markas militer Imperium balqis Fhadlan makin mekpercepat laju kendaraan. Fhadlan melihat tank dan kendaraan lapis baja menghadang di depan, tak mungkin baginya untuk terus mrnerobos, pada jarak lima puluh meter Fhadlan mencoba menyelamatkan diri dengan melompat keluar mobil, yang masih melaju dengan kencang.
Mobil yang di kenderai Fhadlan berhenti tepat di depan tank baja Imperium Balqis, tanpa terjadi apa apa. Sementara itu Fhadlan sudah berdiri dengan senapan laras panjang, mulai membidik kearah pasukan Imperium Balqis.
"Tar tar tar tar tar" sebelum Fhadlan sepat menarik pelatuk senjatanya. ribuan anggota Imperium balqis telah menghujsni Fhadlan dengan peluru.
"Ahhhhhh... " keluh Fhadlan saat sekujur tubuhnya tertembus peluru.
"Panglima Fhadlan.... kenapa anda mengeluh" ucap Maulana Qasim seorang komandan infantri yang sudah duduk di sebelah Fhadlan.
"Apa... tidak tidak tidak apa apa" jawab Fhadlan gugup tersadar dari lamunannya, wajahnya terlihat tegang dia benar benar menghayati semua yang dia pikirkan. Seolah olah apa yang dia pikirkan benar benar sedang terjadi.
"Fhadlan kenapa...? ada masalah atau ada sesuatu yang jadi pemikiran nak Fhadlan?" tanya paman hamdi ikut cemas melihat wajah Fhadlan sangat tegang dengan napas sangat deras.
Fhadlan mencoba memenenangkan diri mengatur pernapasannya. Amzar Hafizzuddin juga seorang komandan infantri mengelus punggung Fhadlan.
"Jika ada masalah katakan saja ... kami akan siap membantu panglima" ujar Amzar.
Setelah cukup tenang Fhadlan mengemukakan idenya pada semua komandan resimen Hamdani yang telah hadir.
"Paman Hamdi, Maulana Qasim, Amzar Hafizzuddin dan semua petinggi resimen Hamdani yang telah hadir di sini. Fhadlan punya rencana membawa mobil yang berisi bahan peledak menyerbu markas besar Imperium Balqis di kota Magrib. kemudian setelah markas mereka Fhadlan ledakkan maka secara serentak resimen Hamdani menyerbu kota secara serentak dari tiga pejuru kota" ucap Fhadlan menyampaikan idenya.
"Maksud panglima ... menyerbu markas mereka sebagai mortir?" tanya Amzar.
"Benar.. Fhadlan akan masuk dari barat daya kota magrib, sementara resimen Hamdani seperti biasa di pecah menjadi tiga padukan, satu pasukan menyerbu dari Barat, satu lagi dari Selatan dan pasukan utama bergabung dengan singga Aden masuk melalui barat daya kota Magrib" ucap Fhadlan.
Semua komandan merasa keberatan jika Fhadlan melakukan serangan sebagai mortir, menurut mereka itu sangat berresiko bagi keselamatan Fhadlan dimana 99 persen sudah di pastikan tewas terkena ledakan atau brondongan peluru musuh.
"Itu ide yang sangat bagus ... tapi jangan Panglima Fhadlan yang melakukannya, apa tidak sebaiknya kita mita operator yang bersedia untuk tugas ini" usul Maulana Qasim.
__ADS_1
Paman Hamdi cukup kaget dengan pernyataan Fhadlan, dia sangat sayang pada Fhadlan rasanya belum rela jika Fhadlan yang akan menjadi mortir.
"Benar Qasim... operator pasti lebih paham bagaimana menjadi mortir... siapa di antara operator yang bersedia sebagai mortir?" tanya paman Hamdi.
Cukup lama suasana hening dalam ketegangan, tentu saja siapapun akan berpikir seratus kali untuk melakukan pekerjaan yang berujung dengan maut. setelah jeda hingga beberapa menit seorang operator bicara.
"Panglima Hamdi... saya Ghibran yang biasanya menggoperasasikan kendaraan lapis baja khusus mortir. Menjadi mortir itu berarti menuju kematian, walaupun demikian saya bersedia melakukan hal ini akan tetapi saja mohon di dampingi oleh seseorang yang akan mengoperasikan Arteleri berat sebagai pembuka jalan" ucap Ghibran.
"bagus ya Ghibran... " ucap Hamdi lalu memandangi orang orang yang hadir di pertemuan satu persatu.
"Sekarang siapa diantara kita yang bersedia mendampingi Gibran? tanya Hamdi lagi.
Sekali lagi suasana menjadi mencekam, semua terlihat tegang sibuk dengan pertimbangan masing masing.
"Fhadlan harus ikut saudara Ghibran" ucap Fhadlan memecahkan suasana.
Kembali suasana terlihat tegang semua memandang Fhadlan tak berkedip, seakan tak percaya dengan keinginan Fhadlan. Kali ini paman Hamdi tidak melarang tapi mencoba meyakinkan keinginan Fhadlan.
"Iya paman... Fhadlan harus menyertai Ghibran" ucap Fhadlan ngotot.
"Baiklah jika demikian.. ayo semua siapkan pasukan kita tidak punya waktu banyak ayo segera bergerak" perintah Hamdi.
Semua meninggalkan ruangan dan sesuai ide Fhadlan pasukan bergerak ke tiga jurusan.
"Maulana Qasim bawa pasukan mu ke barat kota Magrib, dan kamu Amzar bawa pasukan mu ke selatan kota Magrib dan ingat jika kalian telah melihat ledakan dahsyat dari dalam kota itu tanda nya kita akan menyerbu kota secara serentak" paman Hamdi memberi komando.
"Siap instruksi panglima tertinggi akan di laksanakan" ucap Qasim dan Amzar serentak. lalu kedua kelompok pasukan resimen Hamdani mulai bergerak, satu bergerak ke arah barat kota dan satu lagi bergerak ke arah selatan kota.
Sementara itu Gibran dan Fhadlan menuju mobil lapis baja yang di isi bahan peledak dengan daya ledak tinggi dan di lengkapi senapan mesin.
__ADS_1
"Gibran.... Fhadlan .... kalian bergerak setelah 20 menit dari sekarang" komando paman Hamdi.
"Siap paman... komando akan Fhadlan di laksanakan" ucap Fhadlan
"Panglima Fhadlan... anda tidak takut dengan misi kali ini?" tanya Ghibran.
"Takut juga kak ... tapi Fhadlan pikir di tempat tidurpun maut bisa datang, bagaimana dengan kakak Ghibran apa tidak takut?" tanya Fhadlan.
"Sama takut juga... tapi selagi bersama panglima Fhadlan semua terasa enteng" jawab Ghibran.
"Oya kak ... bagaimana mengoperasikan senjata berat ini, sedang kan Fhadlan tidak bisa melihat apa apa" ucap Fhadlan.
"oya kakak lupa menyalakan kamera" ucap Ghibran lalu memencet tombol kamera yang terhubung dengan monitor di depan Ghibran dan Fhadlan.
"Mobil di lengkapi dua senjata Arteleri berat kiri dan kanan. jika ada musuh terlihat di monitor menghalangi jalan, Fhadlan cukup tekan tombol hijau maka otomatis senjata akan mengunci sasaran dan menembak" ucap Ghibran.
"Wah canggih juga ya kak" ucap Fhadlan.
"Iya begitulah .. karena senjata mesin di lengkapi raddar yang mengunci sasaran tembak" jelas Ghibran.
"Mobil sekelilingnya di lapisi baja anti peluru, bahkan Arteleri berat tak akan sanggup menembusnya. Satu satunya celah hanya di depan sopir yang terbuka seukuran 50 x10 cm persegi untuk tempat sopir melihat jalan, Sniper yang ahli sekalipun tak akan sanggup membidik lobang sekecil ini saat kendaraan bergerak" ucap Ghibran.
"Wah kalau begitu kita akan meledak bersama kendaraan ini kak?" tanya Fhadlan.
"Iya... tapi masih ada kemungkinan selamat, karena kursi operator mesin dan sopir di rancang dengan kursi lontar pesawat. Jadi semenit sebum mobil tabtarakan kita harus tekan tombol hijau, maka kursi kita akan terlontar keluar, dan bahan peledak akan aktip lalu meledak semenit kemudian" ucap Ghibran.
"Ohhh begitu.... kak Ghibran waktu kita tingal dua menit lagi, ayo kita serahkan mati hidupnya kita pada tuhan" ucap Fhadlan.
"Bismillah hirohmanirohim... "
__ADS_1
"Brummm" Ghibran langsung menyalakan mobil.