FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI

FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI
Episode 92


__ADS_3

"Giza" desis jendral Cahyono saat melihat gadis di tengah ruangan yang baru saja melepas penutup mukanya lalu di balutkan ke tangan kirinya yang buntung sebatas pergelangan tangan.


"Giza... ????!" ucap Fhadlan mengulangi desisan jendral Cahyono.


Semenjak awal Fhadlan memang penasaran dengan gadis bercadar yang mirip topeng dengan selendang yang di lilitkan menutup wajahnya, Gadis ini sangat mengenal Fhadlan bahkan kehadirannya ingin membalas perlakuan Linggo dan Imperium Balqis pada Fhadlan.


sekian lama memperhatikan gadis yang bertempur di tengah ruangan sekalipun Fhadlan belum bisa mengenali gadis bertopeng ini, namun Fhadlan yang sudah mulai beranjak remaja bisa memastikan kalau gadis bertopeng ini memiliki wajah yang sangat cantik.


Kulit nya coklat cerah bahkan tergolong putih, tubuhnya langsing berisi dengan tinggi kira kira 166 cm, memiliki mata yang indah apalagi rambutnya pirang mempesona benar bebar membuat Fhadlan tidak bisa mengenali nya.


Fhadlan sempat mengeluh saat menyaksikan wanita ini memotong pergelangan tangan kirinya sendiri, hampir saja Fhadlan melompat untuk memberi pertolongan saat melihat darah mengucur deras dari tangan kiri si gadis yang telah terpotong.


"Sreeet Seeet...." terdengar bunyi kain di sobek saat berikutnya Fhadlan melihat cadar gadis tersebut sudah terbuka dan di sobek membelah menjadi dua potongan panjang satu potong ada di gigitannya dan potongan lain di tangan kanan nya.


Fhadlan ternganga memandang paras dari wanita tersebut, Karena kecantikannya. Fhadlan merasa wajahnya tidak asing baginya namun belum bisa mengenali nya.


"Mirip giza ...." fikir Fhadlan teringat gadis kecil teman sekolahnya di SMP.


Ya dia memang gezha


Keringat dingin mulai keluar dari wajah Ghiza, bibirnya mulai berdarah bekas gigitannya sendiri. terlihat jelas betapa menderitanya dirinya menahan sakit setelah mbuntungi tangannya sendiri.


"Dukkk...!" Tubuh Ghiza terpental dan bergulingan sampai lima meter jauhnya.


Keadaan jendral Cahyono lebih mengenaskan lagi keringat mengucur deras dari dahi mereka asap tipis mulai menguap dari ubun ubun mereka, kulit mulai menghitam melepuh seperti terbakar.


"Ahhh ...."

__ADS_1


"Ahhhh..."


"Ahhhhh...."


"Ahhhhh..."


Satu persatu anak buah Jendral Cahyono terpental lalu berkelonjotan tak bergerak lagi dengan tubuh melepuh seperti terbakar.


Di luar markas suara tembakan sudah terdengar sepi, kedengeran kalau seisi kota sudah di penuhi pekik takbir dan yel yel resimen Hamdani pertanda kalau kota sudah sepenuhnya di kuaasai resimen Hamdani.


Fhadlan tersentak sadar saat menyaksikan jendral Cahyono dan anak buahnya tewas secara mengenaskan. tubuhnya melesat kearah gadis yang membuntungi tangan nya dan memeriksa keadaannya. Gadis ini selamat dari keganasan racun tapi kondisi tubuhnya sangat memperhatikan.


"Ghiza...." desis Fhadlan.


"Fhadlan ..." desis Ghiza lalu menutup matanya.


"Tidak usah Fhadlan, aku merasa akan segera menyusul abang Rahadyan" ucap Ghiza Lirih.


"Tidak jangan tinggalkan Fhadlan... bertahan lah Fhadlan akan mencari bantuan" ucap Fhadlan.


Fhadlan memangku tubuh Ghiza lalu melesat keluar gedung, Fhadlan celingukan kebingungan mau bawa Ghiza kemana, rumah sakit sudah hancur berantakan.


Fhadlan memutuskan untuk membawa Ghiza ke arab saudi, dengan menggunakan jurus Saifi angin tubuhnya melesat mengikuti arah kiblat.


Tubuhnya melesat cepat Sekali sehinga hanya terlihat srperti BAYANGAN putih itu berkelebat, sukar diikuti pandang mata manusia biasa saking cepatnya.


Hari sudah mulai malam saat Fhadlan memasuki gurun pasir yang merupakan perbatasan yaman dan arab saudi, Kalau ada orang melihat bayangan putih itu berkelebat di tengah padang pasir, di iringi isak tangisnya, tentu orang itu akan mengira bahwa yang berkelebatan itu adalah iblis penghuni gurun!

__ADS_1


Bayangan putih itu adalah Fhadlan, Sesudah melarikan diri dari perbatasan Yaman, dia terus berlari ke arah kiblat yang dia yakini akan sampai di Makkah.


Di sepanjang jalan ia menangis, menangis dengan hati pilu, tak kuat dia melihat keadaan ghiza yang semakin lemah, dia sangat takut di tinggalkan Ghiza.


Fhadlan sudah sering mengalami kehilangan orang orang terdekat yang dia cintai, dari ibu cicilia dan terakhir kehilangan abu Ghafur, tapi teringat akan kehilangan Ghiza dia merasakan suatu bencana yang hebat membuat Fhadlan tak mampu menahan tangisnya.


Fhadlan sudah remaja, Ia harus mengakui bahwa dia memiliki perasaan aneh terhadap Ghiza semenjak dia SMP. perasaan cinta kasihnya terhadap Ghiza sudah tumbuh, bahkan makin mendalam setelah di pertemukan kembali.


Akan tetapi setelah melihat keadaan Ghiza, rasa kasih makin menjadi jadi, dia tak ingin kehilangan Ghiza, Ghiza harus Selamat, di peluknya Tubuh Ghiza makin kuat lalu berlari semakin kencang. Fhadlan ingin segera sampai di Makah atau kota apa saja yang memiliki perawatan medis.


"Berhenti dulu Fhadlan ..." bisik Ghiza Lirih.


Fhadlan menghentikan langkahnya dan berhenti di sebuah lereng bukit berbatu lalu memandang langit yang cerah dihuasi bintang bintang, di upuk utara di kejauhan terlihat pula cahaya terang benderang.


"Lihat di kejauhan ada berkas cahaya Fhadlan yakin itu adalah sebuah kota, Fhadlan akan membawa Ghiza kesana" ucap Fhadlan penuh harap.


"Aku cinta padamu, aku ingin bersama mu walaupun sebentar" ucap Ghiza lirih.


"Aku juga mencintaimu, Ghiza jangan tinggalkan Fhadlan" balas Fhadlan berbisik, dengan masih memeluk Ghiza.


"Biarkan aku duduk ... Bang Fhadlan" pinta Ghiza.


Fhadlan menurunkan Ghiza dan melelakkannya di sebuah tempat yang datar.


"Fhadlan ini kalung di curi linggo kan, ghiza dulu pernah lihat rasanya Ghiza tidak keliru" ucap Ghiza mengeluarkan sebuah kalung lalu di serahkan pada Fhadlan.


"Benar dari mana Ghiza memperoleh kalung ini?" tanya Fhadlan setelah memperhatikan kalung dengan bandul terbalut kain sutra merah yang tidak asing bagi Fhadlan.

__ADS_1


"Ghiza memperolehnya berkat bantuan abang Rahadyan, setelah bertempur dengan guru Bramantio, kami berhasil menewaskan guru Bramantio beserta empat pembantu utamanya, tapi abang rahadian juga tewas terkena racun seperti yang di alami jendral Cahyono" Jelas Ghiza.


__ADS_2