FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI

FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI
Episode 22


__ADS_3

Sungguh ini kasus tersulit bagi pak Sukarjan selama bergelut dengan benda kepurbakalaan. Terkadang timbul ide untuk minta bantuan beberapa temannya, namun setelah ingat amanah pak Budi niat tersebut dia urungkan.


Seminggu sudah pak Sukarjan bergelut untuk memecahkah misteri tulisan di lempeng tanah liat yang di bawa pak Budi, selama seminggu pula Fhadlan mendampingi pak Sukarjan bekerja, Terkadang Fhadlan menyiapkan makan minum dan kopi untuk pak Sukarjan.


Saat pak Nanak sudah kembali dari Cianjur bersama istri dan anaknya. Pak Sukarjan meminta izin pada pak Nanak supaya Fhadlan masih tinggal bersamanya. Tentu saja pak Nanak tidak keberatan dengan permintaan pak Sukarjan.


"Sepertinya tulisan ibi adalah kombinasi beberapa aksara, mungkin ini adalah induk dari aksara di dunia" pikir pak Sukarjan.


Fhadlan masuk membawa kopi ke ruang kerja pak Sukarjan di mana pak Sukarjan sedang sibuk bekerja. Fhadlan berdiri di samping pak sukarjan, cukup lama dia memperhatikan ekspresi dari pak Sukarjan yang terkesan aneh sembil mengulang ngulang kata yang rada rada aneh.


"Ba ra mu lo da ghi ang ngin nang ba hem bus ma nga duk la ut" ucap pak Sukarjan mengeja huruf demi huruf yang tertulis di lempeng tanah liat.


"Horeee" Fhadlan berteriak kegirangan mengira om Sukarjan sudah berhasil membaca tulisan di lempeng tanah liat.


"Om Sukarjan sudah bisa membaca tulisan di lempeng tanah liat ya?" tanya Fhadlan.


Om Sukarjan memandang Fhadlan lalu menyerumput kopi yang di buatkan Fhadlan sebelum menjawab pertanyaan Fhadlan.


"Om belum yakin Lan, kata kata nya sangat asing mungkin ada kekeliruan atau memang bahasa yang di gunakan tidak terpakai lagi di dunia" ucap pak Sukarjan.


"Coba Fhadlan dengar kan om baca sekali lagi, Ba ra mu lo da ghi ang ngin nang ba hem bus ma nga duk la ut. bukankah sangat asing di telinga!" ucap om Sukarjan.


Lagi lagi Fhadlan kegirangan setelah menyimak ucapan om Sukarjan.


"Roman romannya terdengar mirip bahasa kampung gua om" ucap Fhadlan.


"Apa" Pak parjan memegang pundak Fhadlan seperti ingin mendengar ucapan Fhadlan sekali lagi.

__ADS_1


"Kamu bilang apa?" tanya pak Sukarjan girang.


"Terdengar seperti bahasa kampung Fhadlan... om" ucap Fhadlan.


"Bagus ... coba kamu terjemahkan dalam bahasa Indonesia" pinta pak Sukarjan.


"Baramulo daghi angngin nang bahembus mangaduk laut artinya Berawal dari angin yang berhembus mengacau lautan" ucap Fhadlan.


Pak Sukarjan tercengang mendengar ucapan Fhadlan.


"Sepertinya itu benar nak Fhadlan, sekarang ayo bantu om menterjemahkan kalimat demi kalimat berikutnya" kata pak Sukarjan.


"ma rah nyo la ut ba ru po um bak mang gu nung itu artinya apa" tanya pak Sukarjan lagi.


"Kemarahan laut berupa ombak yang menggunung" ucap Fhadlan.


Pak Sukarjan terus membaca lalu menuliskan terjemahan yang di sebutkan oleh Fhadlan. Sehingga terbentuklah kalimat yang berbunyi.


"Sepertinya ini kisah Nabi Nuh atau kisah yang serupa dengan nabi Nuh" ucap pak Sukarjan.


Demikianlah selama sebulan Fhadlan membantu pak Sukarjan, Terkadang pak sekarjan juga mengajarkan berbagai aksara kuno, hingga setelah satu bulan Fhadlan sudah mahir membaca berbagai tulisan dengan aksara kuno.


****


Sebulan sudah janji pak Sukarjan dengan pak budi untuk menterjemahkan tulisan di lempeng tanah liat. Sesuai janji nya pak Budi mendatangi rumah pak Sukarjan, pak budi juga sangat senang mendengar kisah yang tertulis di lempeng tanah liat tersebut.


"Sepertinya ini hanya peringatan bagi penduduk Al Hind, negeri eyang Esis" ucap pak Sukarjan pada pak budi.

__ADS_1


"Saya pernah dengar kalau kakek kami bilang lalau kami adalah keturunan Eyang Esis, Apakah mungkin yang di maksud Al Hind adalah Hindia? dan eyang Esis adalah Nabi Sis atau Sits seperti yang di kisahkan kakek saya?" tanya pak budi.


"Bisa jadi demikian tapi itu perlu pembuktian lebih lanjut" jawab pak Sukarjan.


"Lalu bagaimana dengan tulisan lainya pak karjan?" tanya pak budi.


"Sama seperti sebelumnya mengisahkan sebuah perahu dengan rombongannya mendirikan pemukiman di Gunung Marapi di tanah al Hind negeri eyang Esis dengan menobatkan nahkoda kapal sebagai penguasa yang bergelar Maharaja Diraja mengatur susunan negari" ucap pak Sukarjan.


"Cerita berikutnya tentang seseorang bernama raja Gunung yang di utus menghukum penduduk negri al Hind yang sudah tidak patuh pada tuhan yang maha kuasa, Raja gunung mendatangi tanah al Hind di tangannya ada cambuk Samandiman, yang mengeluarkan petir saat di lecutkan, semua orang sakti atau pun mahluk di tanah al Hind tidak ada yang sanggup menghadapinya" ucap pak Sukarjan.


"Saat kembali Raja gunung menyembunyikan cambuk Samandiman di suatu tempat, di mana setiap orang yang berjodoh menemukan cambuk samandiman akan menjadi raja di tanah al Hind dan mewarisi kekayaan al Hind" ucap pak Sukarjan.


Sinar mata pak budi makin bersinar mendengar keterangan pak Sukarjan.


"Lalu apa di tulis juga petunjuk di mana cambuk Samandiman di sembunyikan?" tanya pak budi.


"Di lempeng ini tidak ada keterangan tentang tempat penyimpanan, mungkin adanya pada keluarga pak budi sendiri" ucap pak Sukarjan.


Pak budi mulai berpikir apakah ada sesuatu yang berkenaan dengan lempeng tanah liat tersebut. Menurut penuturan kakeknya kalau di samping lempeng tanah liat juga terdapat beberapa kitab kuno dan senjata pusaka berupa keris, yang di turunkan dari generasi ke generasi. Artinya kakeknya pasti menurunkan pusaka tersebut pada ayahnya sebagai anak tertua, seharunya ayahnya akan menurunkan pada kakaknya yakni bapaknya Cicilia yang merupakan anak tertua.


"Masalahnya orang yang seharusnya mewarisi barang barang pusaka keluarga kami sudah pada meninggal dan saya orang terakhir tidak merasa di titipin barang pusaka tersebut" ucap pak budi.


Saat mereka membicarakan arti bacaan dalam lempeng tanah liat entah dari mana datangnya tiga sosok laki laki kurus seperti melayang memasuki ruang kerja pak Sukarjan. Cara dia masuk dengan melayang seperti terbang sangat cepat, menunjukkan kalau dia bukan manusia biasa, atau mungkin bukan manusia.


"Pak budi, kamu tidak membutuhkan pusaka Kediri, serahkan pada kami dan mana pusaka lainnya" kata salah satu lelaki kurus tangannya sudah mencengkram pundak pak budi.


"Pak Sukarjan jangan ceritakan apa yang terjadi hari ini, suatu saat kami juga akan membutuhkan kamu" ucap salah satu lelaki kurus lalu kembali melesat bagai terbang membawa lempeng tanah liat, di ikuti dua temannya yang memanggul tubuh pak budi yang terkulai lemas.

__ADS_1


Seperti halnya pak Budi yang tertotok lemas, pak Sukarjan pun lemas setelah mendapat totokan di lehernya.


****


__ADS_2