FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI

FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI
Episode 61


__ADS_3

Ketika dia memandang ke dalam ruangan, dia melihat seorang wanita setengah baya dengan dandanan seperti seorang Ratu sebuah kerajaan, duduk memegangi tongkat yang terbuat dari akar cendana dengan tujuh orang pengawal yang kesemuanya bersikap gagah.


Secara diam-diam Fhadlan berdoa di dalam hatinya semoga dia dan Tika akan berhasil dalam menyelesaikan urusan dengan Imperium Balqis secara damai. Kalau mereka gagal, boleh jadi mereka akan tewas di tempat ini.


Para pengawalnya berhenti di luar ruangan dan bergabung dengan murid-murid lain yang berdiri mengelilingi ruangan lainnya, di mana terdengar suara pertempuran sengit.


Tika membawa Fhadlan melangkah maju dengan sikap hormat sampai terpisah kira-kira lima meter dari ketua Imperum Balqis dan tujuh orang pengawalnya, kemudian dia menjura dan membungkuk sampai dalam.


"Saya Marantika dan adik saya Fhadlan, menghaturkan hormat kepada nyonya yang mulia sebagai pimpinan Imperum Balqis" Suasana hening kembali setelah Tika bicara sehingga andai kata ada sebatang jarum jatuh ke lantai tentu akan terdengar nyata.


"Marantika, apakah kehendakmu mendatangi Markas Imperum Balqis?" terdengar suara wanita setengah baya nyaring dan penuh wibawa.


Tika mengarahkan pandang matanya kepada wanita itu dan sejenak pandang mata mereka bertemu. Sinar mata wanita itu penuh selidik dan mengandung kemarahan. Sementara Tika hanya memandang dengan ramah dan tenang lalu berkata.


"Nyonya, saya sengaja menghadap untuk bicara dengan dengan pimpinan Imperum Balqis." Dia melirik ke arah Wanita yang belum pernah dia kenal itu.


"Tika... sikap dan bicaramu menarik seperti seorang bangsawan keraton. Wajah dan sikapmu mengingatkan saya pada R.M. Adiwilaga. Orang muda, akulah Ratu Iperium Balqis, Engkau hendak bicara apa?" ucapnya


"Maafkan saya, Nyonya. Saya amat berterima kasih bahwa Nyonya sudi menerima saya yang muda dan dan adik saya menghadap, juga sudi memberi kesempatan kepada saya untuk bicara. Hati saya selamanya tidak akan tenteram kalau belum bicara urusan yang timbul antara adik saya dan pangeran Imperium Balqis dan besar harapan saya bahwa Ratu akan cukup bijaksana untuk menyelesaikan semua perselisihan, sehingga segala bentuk permusuhan dapat dihabiskan sampai di sini saja."


"Enak saja bicara! Dosa adikmu terhadap pangeran Linggo sudah bertumpuk-tumpuk setinggi langit, minta didamaikan bagaimana?" bentak sang ratu dengan suara marah.

__ADS_1


Tika masih bersikap tenang. Dia pun maklum bahwa segala keputusan tergantung kepada kebijaksanaan wanita setengah baya ini, maka dia harus dapat menundukkan hati wanita ini dengan kata-kata yang tepat karena kalau sampai dia gagal, maka dia akan menghadapi ancaman maut di tempat ini.


"Ratu... Untuk menelaah urusan ini, sebaiknya kalau perkaranya sendiri dibicarakan. Maaf, dalam hal ini adik saya yang di zolimi, dia di racuni dan kalungnya di curi. Akan tetapi Nyonya Ratu malah menuduh adik saya yang salah..." ucap Tika.


"Permusuhan antara pangeran Linggo dengan adikmu terjadi karena seseorang mencuri harta warisan yang seharusnya kamilah pewarisnya, dan salah satunya adalah ajimat yang di pakai oleh Fhadlan adikmu..."


"Dicuri!" Tika memotong.


Tika tersenyum memandang wajah ratu Imperium Balqis "Benarkah di curi nyonya? menurut sepanjang pendengaran saya, Fhadlan tidak pernah nencuri justru kalung tersebut adalah hadiah dari ibunya, bahkan pangeran Linggo-lah yang mengambilnya secara paksa."


"Dicuri atau tidak, yang jelas semua pusaka itu tidak mungkin bisa lenyap dan sekarang jatuh ke tangan adikmu. Pusaka itu harus dikembalikan kepada Kami pewarisnya yang sah" Sang Ratu masih saja membenarkan perbuatan pangeran Linggo.


Tiba tiba dari ruangan lain berkelebat seorang pemuda menyeret dua orang pengawal yang sudah tak berdaya.


"Siapa yang tidak tau kebusukan kalian menjalin kerja sama dengan pihak luar menjual harta karun yang ada di Indonesia" pemuda tersebut lalu melemparkan dua pengawal ke depan ratu Imperium Balqis.


Pemuda tersebut menatap Tika dan Fhadlan sejenak sebelum melanjutkan bicara.


"Nona kita berjumpa kembali, jangan percaya pada mereka, mereka sangat pintar membuat opini menutupi kebusukan mereka, saya mau tanya apa salah adik saya Giza teman pangeran Linggo, sehingga di racun dan hampir di perkosa?"


Kedua pengawal yang tadi di lemparkan merangkak maju menghadap sang ratu lalu berkata.

__ADS_1


"Ratu, kami tidak cukup mempunyai ilmu kepandaian untuk mengalahkan pemuda ini, kami juga gagal menjaga pangeran Linggo"


Wajah Ratu Imperium balqis merah padam karena malu dan marah lalu memberi komando pada dua pengawal yang lain untuk menyerbu.


"Singgg…! Singgg…!"


Tampak sinar putih menyilaukan mata saat kedua pengawal Ratu Imperum Balqis mencabut pedang mereka. Kini mereka sudah berdiri berdampingan dan memasang kuda-kuda yang sama, dengan pedang pada tangan kanan melintang di depan dada, tangan kiri diangkat ke atas kepala dengan jari jari disatukan menuding ke langit, lutut kaki kanan ditekuk di depan kaki kiri, mata mereka menatap tajam kepada sang pemuda.


"Anak muda, lihat serangan kami!" Pengawal berseru keras dan tiba-tiba saja mereka sudah menerjang maju, salah satu pedangnya menusuk leher dan pedang pengawal lainnya menusuk pusar.


"Trang-tranggg...!"


Pedang rampasan di tangan sang pemuda sudah menangkis kedua pedang itu sekaligus hingga kedua pedang itu terpental. Namun kedua pengawal itu adalah ahli-ahli pedang yang kenamaan dan banyak pengalaman. Saat pedang mereka terpental, mereka ikuti dengan tubuh, dan mereka kini berpencar ke kanan kiri. Cepat sekali datangnya mereka sudah melanjutkan serangan membabat kaki sedangkan pedang pengawal lain menusuk lambung.


"Sing-singggg...!"


Sang pemuda tetap tenang, kakinya meloncat ke depan, tubuhnya membalik, cahaya putih pedangnya membabat ke kanan kiri menangkis.


"Cring-cringgg...!"


Kembai kedua pengawal itu memutar tubuh karena pedang mereka terpental. Sekarang mereka berdiri saling berdekatan, pedang mereka diputar membentuk dua gulungan sinar yang menyilaukan, makin lama semakin cepat dan dua gulungan sinar itu lalu bersatu, menjadi segulung sinar yang tebal dan kuat, kemudian tubuh mereka berkelebat lenyap dan yang tampak hanyalah sinar pedang tebal meluncur ke arah sang pemuda.

__ADS_1


"Aiiiih" sang pemuda mengeluh mendapat serangan yang saat hebat, Ia pun lalu mengerahkan tenaganya dan mempercepat pemutaran pedang di tangannya hingga bayangan tubuhnya terbungkus sinar keperakan yang meluncur dan menyambut sinar pedang putih yang mengeluarkan suara bercuitan itu.


Terjadilah pertandingan ilmu pedang sakti, yang tampak hanya gulungan sinar putih dan sinar keperakan di sertai, suara angin bercuitan dan gerakan pedang berdesing-desing diselingi suara ‘crang-cring-trang-tring!’ dan tampak pula bunga api kadang-kadang muncrat berhamburan saat pedang mereka beradu.


__ADS_2