FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI

FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI
Episode 81


__ADS_3

Abu Ghafur ikut memberikan pendapat setelah di persilahkan oleh paman Hamdi.


"Menurut Saya kita perlu mengetahui situasi di kota Aden terkini sebelum memutuskan akan kembali ke kota Aden, isu terakhir yang saya dengar kota aden semenjak kita tinggalkan malah di gempur pembrontak hounti" ucap abu Ghafur.


"Saya juga dengar, coba kita dengar bagaimana kesaksian teman kita yang baru saja melarikan diri dari Aden"


"Saudara Abdurahman coba ceritakan apa yang terjadi di aden selama dua minggu semenjak kami tinggalkan" pinta paman Hamdi.


Seorang laki lelaki setengah baya berdiri lalu mengucapkan salam pada semua hadirin, sebelum menyampaikan pakta yang terjadi di kota Aden.


"Pertempuran Aden sudah terjadi selama dua minggu tepatnya dua hari setelah resimen Hamdani meninggalkan Aden. Sampai saat ini pertempuran malah terjadi di dalam kota, sebuah pertempuran yang sengit memperebutkan kota Aden. Pertempuran ini berlangsung antara kelompok Houthi melawan pihak yang masih setia kepada penerintahan presiden Hadi Abdrabbuh Mansur"


"Pertempuran ini dimulai setelah pasukan Houthi merebut Bandar udara internasional Aden dan presiden Hadi melarikan diri dari Yemen dengan menggunakan kapal. pasukan pro-Hadi kembali berusaha merebut pelabuhan Aden tapi gagal bahkan pasukan Houthi terus maju memasuki pusat kota"


"Saat ini pertempuran kota makin seru setelah pasukan Houthie di bantu para pengikut Ali Abdulalah Saleh melawan pihak yang setia kepada Abdrabbuh Mansur Hadi" cerita Abdurahman.


"Apa?... pihak Ali Abdullah Saleh membantu pembrontak hauthie?" tanya Hamdi kaget.


"Iya pak Hamdi" jawab Abdurahman.


"Ini Artinya pemerintah Yaman yang sah sudah hampir berakhir, sementara kelompok kelompok militan mulai berbalik membantu pembrontak, Agaknya merupakan hal yang sulit bagi kita untuk kembali ke Aden memerangi bangsa sendiri" ucap Hamdi.


"Iya Hamdi... tidak usah heran itu permasalahan umum manusia, lebih cendrung menjilat penguasa tentu saja mereka tidak ingin ambil resiko membantu pihak yang akan kalah" ucap abu Ghafur.


"Sekarang jika kita bertahan di sini juga tidak mungkin, karena lama lama persediaan kita akan habis. Fhadlan bagaimana jika kita terus menggempur Imperium Balqis di Kota Magrib?" tanya Hamdi.

__ADS_1


Fhadlan diam sejenak lalu menanggapi pertanyaan paman Hamdi.


"Paman Hamdi ... tanpa Resimen Hamdani Fhadlan akan tetap mencari Kaisar Imperium Balqis di Magrib ucap Fhadlan pasti.


"Bagaimana yang lain?" tanya paman Hamdi.


Seorang komandan berdiri memberikan pendapatnya.


"Saya akan menyertai panglima Fhadlan ke Magrib tapi ini mungkin pertempuran terakhir yang saya ikuti, jika saya Selamat dan masih di beri kesempatan hidup saya akan melaksanakan ibadah Haji saya akan berdoa di depan kakbah, kemudian meminta petunjuk Allah jika harus berjuang supaya di tuntun ke jalan kebenaran dan di tuntun pada pihak yang benar pula".


Kemudian komandan yang lainya ikut memberi pendapat.


"Itu saya setuju, saya pun sama akan menunaikan ibadah haji dan minta petunjuk yang maha kuasa, setelah beberapa kali pertempuran kita miliki harta rampasan perang yang sudah memadai untuk merintis usaha. mungkin untuk sementara saya akan merintis usaha di Dubai bersama kuarga yang sudah berada di Dubai"


"Bagaimana dengan yang lainnya?" tanya Hamdi.


"Baiklah saudaraku, menyerng Magrib merupakan pilihan yang lebih mudah bagi kita di banding menyerbu Aden memerangi bangsa sendiri" ucap paman Hamdi.


Semenjak itu Fhadlan resmi di gelari panglima pasukan singa Aden, Panglima pasukan elite resimen Hamdani dan hasil kesepakatan mereka akan tetap menyertai Fhadlan menyerbu Magrib.


****


"Bagaimana strategi perang yang akan kita terapkan paman?" tanya Fhadlan saat 1 800 resimen Hamdani mulai bergerak menuju Kota Magrib.


"Ambil iktibar dari pertempuran terdahulu saja lan, bagaimana kita bisa menang atas mereka selama ini, juga tawakal pada tuhan. Biarlah keyakinan yang menjawab semuanya" ucap paman hamdi.

__ADS_1


"Benar paman Hamdi mu lan.. kalau untuk urusan yang tidak logis dan urusan masa depan serah kan pada keyakinan untuk menjawabnya" timpal abu Ghafur


"Propinsi Ma’rib di Yaman memiliki sejarah besar dan klasik. Bagaimana tidak, Ma’rib pernah menjadi ibu kota Kerajaan Saba’ di masa silam. Sebuah kerajaan kuno yang berdiri sekitar 1000 tahun sebelum Masehi. Ma’rib memiliki sejarah yang panjang. Menjadi saksi silih berganti kemajuan peraban di Yaman.Karena itulah Imperium Balqis mengklim Kota magrib sebagai ibukota mereka" ucap Hamdi.


"Menurut Informan kita, saat ini Imperium Balqis yang ada di kota magrib di dukung 24 000 personil tetlatih umumnya mereka adalah tentara asing yang di rekrut dari berbagai negara" kembali paman Hamdani menjelaskan situasi.


Mendengar keterangan paman Hamdani Fhadlan merasa akan sulit menaklukkan Imperium Balqis yang di dukung persenjataan modern dan beberapa orang berilmu tinggi. Fhadlan merasa cemas saat 1.800 tentara resimen Hamdani bergerak ke kota Magrib. bagaimana tidak Dalam hal teknik perang resimen Hamdani bukan ahlinya apalagi mengingat kalau resimen Hamdani hanyalah masyarakat sipil yang di sulap menjadi militer hanya dalam semalam. Namun Fhadlan tak ingin menyatakan kecemasannya pada paman Hamdi, takut akan menurunkan semangat tempur resimen Hamdani.


****


Serangan resimen Hamdani di Kota Marib Yaman berlangsung sudah selama berminggu-minggu, menjadi perang terbesar dan paling mematikan bagi mereka. Ratusan pejuang dari kedua belah pihak telah tewas dalam bentrokan di wilayah Marib yang kaya akan gas bumi ini.


"Tetap semangat korban di pihak Imperium Balqis lebih banyak di banding resimen Hamdani, dan mayoritas korban adalah pejuang, bukan warga sipil" ucap mereka saling hibur.


"Iya.. Resimen Hamdani selalu memperoleh kemenangan dan kemajuan dalam pertempuran, hingga kita terus merangsak maju hingga garis terdepan Imperium balqis, bahkan pertahanan Imperium balqis berada di Sarwah, di sebelah barat Kota Marib pun telah runtuh, dengan garis depan sekarang kira-kira 20 km dari kota" paman Hamdi terus nenyemangati mereka.


"Disini pertempuran terjadi semakin sengit korban dari pihak musuh sudah tak terhitung tapi resimen Hamdani belum juga bisa masuk kota Magrib. Pasukan Imperium Balqis berlindung pada salah satu benteng kota yang kokoh dan mengandalkan perisai hidup yakni penduduk kota Magrib. sampai detik ini Resimen Hamdani tertahan tak mampu menembus pertahanan mereka".


"Setelah pengepungan berlangsung beberapa lama, pasukan Imperium Balqis mulai di serang dari berbagai pejuru, yang membuat kesulitan besar menimpa pasukan Imperium Balqis. tapi Mereka mulai nenggunakan teknik kotor mengandalkan beberapa anggota mereka yang berilmu tinggi, menculik anggota resimen Hamdani yang berjaga atau sedang patroli terpisah dari barisan. Mereka bergerak secara gerilya dari dalam kota selalu mengintai anggota mereka yang terpisah" ucap salah satu komandan pada paman Hamdani suatu sore.


"Fhadlan apa kamu punya ide?" tanya hamil.


"Lan penjaga kita ada yang di culik, penculik penculik itu tak ubahnya seperti hantu yang bergerak tanpa di ketahui kapan dia datang dang pergi" ucap paman Hamdi.


"Di culik apa memang melarikan diri... paman?" tanya Fhadlan.

__ADS_1


"Mereka di culik Lan... dalam dua hari ini ada enam korban mereka. Setiap anggota resimen Hamdani yang berhasil mereka culik lalu akan mereka siksa hingga mati atau hampir mati, mayat mereka dan yang selamat di temukan di pinggir Kota" jawab paman Hamdi.


__ADS_2