
Linggo ingat kalau Beny dan om Wijaya sangat menginginkan Fhadlan, bahkan mereka sampai saat ini masih berusaha mencari peluang menculik Fhadlan. Tapi karena mereka tau Fhadlan sekarang sudah di bawah perlindungan orang sakti dari keraton maka niat mereka terpaksa mereka kesampingkan.
"Kalau gua dibantu beberapa orang sakti dari Balqis Kingdom, seperti Beni dan om Wijaya seorang datuk persilatan turunan Tiongkok yabg sangat lihai, jika bersama dirinya agaknya mereka bertiga akan dapat membunuh Fhadlan dengan mudah" otak Linggo makin berkecamuk mencari cara menyingkirkan Fhadlan.
Mendengar dari para pengawalnya bahwa Beny selalu menunggu di luar Ibukota di wilayah puncak, tidak jauh dari sebuah pondok kecil mungil di cat kuning gading yang sudah lama selalu kosong, lalu Linggo mengajak pengawalnya menemui Beni untuk merundingkan cara melenyapkan Fhadlan.
"Paman Beny... Sekarang gua sudah tau keberadaan Fhadlan anak angkat pak Sukarjan, dia sudah hebat sekali gua telah menyaksikan sendiri, saat Linggo mencoba menantangnya. Dia sudah menguasai keahlian dari kitab kitab kuno. Kalau dia tidak dilenyapkan dari muka bumi, bukankah kelak Balqis Kingdom akan hancur olehnya" ucap Linggo mulai membujuk beni.
"Ha-ha-ha-ha! Linggo siapa yang akan hancur oleh anak kecil" Beni tertawa ngakak.
Beni Seperti memang tidak pernah mau menyebut Linggo dengan julukan nya, yaitu Ratu Adil. Dia tidak mengakui kalau Linggo adalah Ratu Adil yang di ramalkan. karena dia bekerja di Balkis kingdom hanya lantaran materi semata.
"Antara Fhadlan dan om Beni tidak ada suatu urusan apa pun, yang di kuatirkan bukan Bakis Kingdom melainkan engngkau Linggo. Urusan pribadimu dengan dia boleh kau bereskan sendiri saja kalau kau mampu menghadapinya, ha-ha-ha! Karena kalau tidak maka Fhadlan akan menjadi kandidat kuat menggantikan kedudukan mu sebagai Ratu Adil, memimpin Balkis Kingdom di masa yang akan datang" ucap Beni.
"Mengapa om Beni seperti selalu tak perduli dengan urusan Linggo?" taya Linggo, emosinya makin tersulut oleh ucapan om Beni.
Diam-diam Linggo menyumpahi om Beni yang tak ada hormatnya sedikitpun pada dirinya yang telah di calonkan sebagai Ratu Adil pemimpin Balqis Kingdom. Linggo biar pun dia jauh lebih muda, patut menjadi ponaan kecil om Beni, namun dalam hal kecerdikan, Linggo menang jauh di banding Beni.
"Panan Beni, jangan paman sia siakan peluang bagus. Bukankah dahulu paman adalah salah seorang di antara mereka yang memperebutkan kitab kitab kuno yang di terjemahkan pak sukarjan? Fhadlan adalah anak angkat sekaligus murid pak Sukarjan, apa paman lupa?" tanya Linggo.
__ADS_1
"Aku tahu bahwa bocah itu murid pak Sukarjan, akan tetapi kalau dulu kita semua tidak berhasil membujuk gurunya dan gagal pula menculik bocah itu, bagaimana sekarang akan dapat berhasil memaksa nya yang sudah di bawah perlindungan keraton? Apalagi bocah itu sekarang Sangat lihai, belum lagi kemungkinan kitab kitab tersebut sudah menelorksn banyak orang sakti di pihak keraton, tentu kita kalah oleh nya bisa bisa balkis kingdom yang hancur oleh kekuasaan keraton" Beni mulai menasehati Linggo
"Tidak, Om Beni sudah tua dan kedudukan om Beni di sini sudah amat baik, mau apa lagi? Aku tidak akan mencari penyakit memusuhi orang yang di bawah perlindungan keraton, sama saja dengan membahayakan keselamatan sendiri tanpa tujuan yang jelas... ha-ha-ha" Beni kembali tergelak.
"Ternyata biar pun sudah tua paman Beni masih saja tetap bodoh" kata Linggo.
"Apa maksudmu.. Linggo?" Kening tebal om Beni berkerut dan sinar matanya membayangkan kemarahan.
"Coba saja paman bayangkan, kira dari manakah Fhadlan mendapat kepandaian sehingga Gua sendiri yang di gembleng okeh raja Cambuk hanya seperti kucing menghadapi singa. Dari mana dia mendapatkan kepandaian setinggi itu kalau bukan dari kirab kitab pusaka Raja Nusantara yang kita cari cari" kata Linggo kembali menghasud om Beni.
Mendengar di sebutnya kitab pusaka raja Nusantara membuat beni kembali bergairah, tampa berpikir lagi dia sudah mbuat keputusan.
"Tapi Om tidak mau bertindak sembrono," ucap om Beni.
"Menghadapi lawan yang demikian lihai tentu dia juga punya perlindungan keraton, perlindungan orang yang sangat lihai pula sehingga pihak pihak yang selama ini memburu bocah tersebut terpaksa menahan diri, om dengar dua dari setan gentayangan juga sudah pernah merasakan hebatnya tenaga dalam Fhadlan" tutur om Beni.
"Makanya kita tidak boleh terlalu mengandalkan kepandaian sendiri agar jangan sampai gagal. Terus terang saja, ilmu kepandaian yang kini dimiliki Fhadlan tentu didapatkannya dari kitab-kitab pusaka peninggalan Raja Nusantara yang berisi kesaktian bagaikan kesaktian para Dewa" Linggo menarik napas panjang karena dia benar-benar merasa penasaran dan kecewa saat di kalahkan Fhadlan.
"Akan tetapi, kalau Linggo dibantu om Beni dan om Wijaya lalu kita maju bersama, apa sukarnya melenyapkan Fhadlan" ucap Linggo.
__ADS_1
Om Beni sekarang menjadi sangat bersemangat oleh karena dia ingin sekali segera dapat memiliki kitab peninggalan Raja Nusantara, berkata,
"Om Beni tidak bermaksud membunuhnya bukankah tujuan semua orang hannya memginkan Fhadlan sebagai petunjuk menemukan pusaka dan harta karun raja Nusantara" Om Beni kembali mengingatkan Linggo.
"Apa Linggo perhatikan jurus silat yang di gunakan saat menghadapi nya?" tanya om beni lagi.
"Iya om...Belum pernah Linggo lihat dia mempergunakan ilmu silat aneh seperti kemarin, dia hanya bergerak enteng tapi semua jurus Linggo tak satupun yang mengenai dirinya." ucap Linggo.
"Peringan tubuhnya juga sangat hebat dia bisa bergerak seperti terbang saja, Namun gua percaya jika om beni membantu maka Linggo akan dapat mengalahkannya!" kata Linggo sesumbar lagi.
Om Beni mengangguk lalu berkata. "Om Beni rasa begitu. Sungguh pun Bocah itu sudah sangat lihai, tapi mustahil kita tak dapat mengalahkannya."
Linggo mengerutkan alisnya. "Gua sangat ingin sekali turun tangan Secepatnya, namun tidak ingin sampai gagal. Kalau kita betdua maju, kita hanya merasa unggul, akan tetapi gua belum yakin bisa membekuk Fhadlan tanpa membunuhnya". ucap Linggo ragu.
"Sebaiknya kalau begitu Linggo, harus bisa mengajak salah seorang lagi di antara petinggi Balqis kingdom. Om rasa Wijaya paling boleh diandalkan, dengan jurus pisau terbangnya dia akan dapat mengacaukan lawan." ucap Beni
"Hemmm, akan tetapi wataknya yang keras mana mungkin dapat Linggo bujuk?" Linggo merasa ragu.
"Ha-ha-ha-ha-ha! Kesukaan Kesukaan om Wijaya hanya ada satu dan pandang matanya kepada gadis perawan..." ucap Beni
__ADS_1
Linggo mengangguk. "Gua mengerti dan gua siap membalas budinya, kebetulan Fhadlan juga punya teman dekat namanya Giza, teman sekelasnya yang sedang jadi kembang sekolah, gua yakin om wijaya akan puas dilayaninya."