
Di perumahan elit Fhadlan di tempatkan pada sebuah kamar yang di huni oleh dua orang anak, masing-masing Satrio dan Rolan. Satrio berumur dua belas tahun sedangkan Rolan berumur sepuluh tahun. Mereka diasuh oleh ibu Maryani seorang wanita muda berumur kira kira 25 tahun seumuran umi Sarah ibu Fhadlan.
Ibu Maryani orangnya periang, suka bercanda, bermain dan juga suka bercerita dengan anak anak, di samping itu ibu Maryani juga sangat pengasih dan sabar menghadapi tingkah laku anak anak. Sehingga hanya dalam waktu singkat ibu Maryani sudah terlihat akrab dengan Fhadlan.
Hanya tiga hari ibu Maryani terpaksa menggunakan obat tidur untuk menenangkan Fhadlan yang selalu menangis setiap ingin bertemu orang tuanya. Hari hari berikutnya tiap kali Fhadlan menangis ibu Maryani sudah bisa mendiamkannya.
Ibu Maryani memang familiar orangnya sehingga mereka berempat, Satrio, Rolan, Fhadlan dan ibu Maryani pengasuh mereka, hidup bagai keluarga layaknya. Ibu Maryan memperlakukan mereka layaknya anaknya sebaliknya Satrio, Rolan dan Fhadlan memandang ibu Maryani layaknya seorang ibu bagi mrreka.
Hari kelima ibu Maryani berdandan dan mendandani Fhadlan layaknya penduduk desa yang harus di kasihani.
"Fhadlan hari ini ikut ibu dan kakak ya!" ucap ibu Maryani.
"Gak... Fhadlan maunya sama umi Sarah" ucap Fhadlan nangis lagi.
"Ya sudah ... sekalian kita cari umi Fhadlan.. tapi Fhadlan jangan nangis lagi ya" ucap ibu Maryani.
Fhadlan mengangguk dan bersedia mengikuti ibu Maryani. Ibu maryani membawa Fhadlan, Rolan dan Satrio ke Jakarta Selatan, rencananya mereka akan mengemis dengan kedok jualan tisu di persimpangan lampu merah. Namun saat melewati pangkalan taksi sekilas Fhadlan melihat umi Sarah dan abu Daud melintas bersebrangan dengan mereka.
"Umi... Abi..." teriak Fhadlan memanggil umi Sarah dan abu Daud.
Namun suara Fhadlan hilang di dalam hiruk pikuknya kendaraan yang lalu lalang. Menyadari umi Sarah dan abi Daud tidak mendengar teriakannya, membuat Fhadlan nekat berlari mau menyebrangi jalan yang sedang ramai ramainya. Ibu Maryani pucat juga cemas lalu berteriak, saat melihat sebuah mobil yang melaju kencang, saat Fhadlan sudah memasuki jalan.
"Dedek awas" teriak ibu Maryani.
"Bang ... tolong anak saya bang" terirak ibu Maryani pada sopir taxi yang kebetulan dekat dengan Fhadlan.
Sopir taksi reflek menangkap Fhadlan menyelamatkannya dari sebuah mobil yang melaju dengan kencang, lalu Fhadlan dibawanya kembali ke ibu Maryani.
"Hati hati buk anaknya jangan di lepas" kata sopir taksi.
"ya ... Terimakasih bang" ucap ibu Maryani.
__ADS_1
"Umiiiii... Abiiiii. Fhadlan mau sama abi" teriak Fhadlan tangisnya makin kencang sambil menunjuk umi Sarah dan abu Daud di sebrang jalan tangannya menarik tangan ibu Maryani seolah minta di sebrangkan.
Ibu Maryani pucat pasi dan cemas melihat tingkah Fhadlan, timbul rasa takutnya bagaimana kalau orang tua Fhadlan melihat mereka. Fhadlan makin jadi tangisnya saat melihat di kejauhan umi Sarah dan abu Daud memasuki sebuah oplet angkutan umum meninggalkan tempat tersebut.
"Fhadlan mau pulang, Fhadlan mau sama abi, Fhadlan mau sama umi" Fhadlan menangis berguling guling memanggil manggil umi dan abinya.
"Fhadlan mau pulang.. Fhadlan mau pulang" tangis fhadlan tersedu sedu saat menyadari umi Sarah dan abu Daud telah pergi meninggalkannya.
Orang orang menjadi bergerombol melihat Fhadlan yang nangis tersedu sedu sambil berguling guling.
"Ini anak ibuk bukan sih?" tanya seseorang pada ibu Maryani dengan curiga.
"Ya anak lah pak" jawab ibu Maryani gemetaran.
"Ya kita pulang dek .. tunggu umi cari uang dulu buat ongkos" ibu Maryani juga nangis, tangis saking takutnya kedoknya terbongkar.
"Abang Rolan, abang Satrio.. jajakan tisunya nak biar ibu punya uang untuk bawa dedek pulang" ibu Maryani mengusap air matanya.
"Saya tinggal di Sumatra, sudah seminggu ke Jakarta mencari abinya" kata ibu Maryani menunjuk Fhadlan yang masih tersedu sedu.
"Emang Abinya di mana bu?" tanya seseorang pada ibu Maryani.
"Abinya ... katanya di Jakarta cari kerja.... tapi telah seminggu kami cari tidak ketemu" kata ibu Maryani dengan muka sedih.
"Ada alamatnya bu, biar dibantu di cariin, kasian adenya" kata seseorang.
"Katanya alamatnya di Jakarta Selatan" ucap ibu Maryani dengan aksen ndeso.
"Jakarta Selatan itu luas bu... mendingan bawa anak anaknya pulang ke Sumatra" kata salah seorang yang merasa kasihan menyaksikan Fhadlan nangis tersedu sedu.
"Maunya saya begitu bang... tapi saya belum punya ongkos" ucap ibu Maryani.
__ADS_1
"Ini saya kasih ongkos setidaknya cukup sampe ke merak" ucap seorang laki laki berpakayan necis memberikan uang tiga ratus ribu rupiah.
Melihat laki laki berpakayan necis memberi ibu Maryani uang, semua yang kasian menyaksikan Fhadlan lagi nangis, ikutan memberi uang pada ibu Maryani. setelah semua bubar uang yang di terima ibu Maryani terkumpul hampir sepuluh juta rupiah. Uang yang sangat banyak untuk ukuran saat itu sudah bisa membeli sebuah motor baru.
"Anak ini seperti hoki penarik rezki" guman ibu Maryani.
Tidak ingin menjadi pusat perhatian orang, ibu Maryani juga makin cemas "jangan jangan ayah dan ibu Fhadlan ada di sekitar mereka", maka ibu Maryani segera membawa Fhadlan, Rolan dan Satrio pulang.
****
Tiap hari jika ibu Maryani membawa Fhadlan mengemis di persimpangan lampu merah, ibu maryani heran sendiri saat mendapati seperti ada kekuatan gaib yang mendatangkan rezeki pada mereka. Ibu Maryani beroperasi berpindah pindah setiap harinya. Sering dia bandingkan penghasilan mereka mengemis dengan membawa Fhadlan di banding tidak membawa Fhadlan sangatlah jauh bedanya. hal ini membuat ibu Maryani makin sayang pada anak asuhnya khususnya Fhadlan.
Suatu hari ibu Maryani tidak melakukan aktifitas rutinnya membawa anak asuhnya untuk mengemis di sepanjang lampu merah. Terbersit di pikirannya untuk menjalani hidup normal berkeluarga dan punya anak. Selama ini ibu Maryani diam diam telah membuat tabungan, bahkan setahun semenjak Fhadlan bersamanya tabungan yang dia miliki sudah lebih dari cukup untuk modal membuka usaha. Kadang hati nuraninya berkata untuk mengembalikan Fhadlan pada orangtua nya. Namun di sisi lain dia terlanjur sayang dan meyakini kalau Fhadlan alah sumber penghasilannya.
"Ibu" ucap Fhadlan membuyarkan lamunan ibu Maryani.
"Ih Nak lan ... ngagetin aja, mana kakak Rolan dan Satrio?" tanya ibu Maryani.
"Kakak Satrio dan kakak Rolan pergi ngamen bu" kata Fhadlan.
"Lho kok gak pamit sama ibu sih" kata Maryani.
"Tadi mereka cari ibu, tapi ibu gak keliatan" kata Fhadlan.
"Lho ibu kan cari sarapan buat kalian" kata ibu Maryani.
"Ya udah Fhadlan sarapan gih" kata ibu Maryani.
Ibu Maryani memandangi Fhadlan yang berlalu meninggalkannya, air mata ibu Maryani menetes saat Fhadlan sudah menghilang di balik tembok yang membatasinya dengan ruang makan.
Ada hal yang sangat mengganggu pikirannya dua hari belakangan. Dua hari yang lalu juragan mereka menemui ibu muryani, dimana juragan mereka pak Herman meminta kesediannya untuk menjual salah satu ginjal anak asuhnya. Awalnya ibu Maryani menolak bagaimanapun ketiga mereka sudah terasa seperti keluarga nya sendiri. Namun setelah di iming imingi bayaran yang cukup besar dan di ancam akan di bunuh maka terpaksa ibu Maryani menyetujuinya.
__ADS_1