
"Bukan itu maksud Fhadlan om, tapi setelah perkelahian, besoknya ada seorang bapak bapak datang ke sekolah mencari Fhadlan lalu mengancam Fhadlan" ucap Fhadlan.
"Mengancam bagaimana?" tanya pak Sukarjan.
"Dia keluarkan pistol dari Jasnya, lalu di arahkan pada Fhadlan, lalu berkata"
"hee sampeyan Fadlan huh.. aja nganti ngganggu pangeran Bramantio Kawisworo, yen ora dak tembak"
"Gitu ancamamnya om" Fhadlan memperagakan bagaimana gerakan bapak bapak yang mengancam dirinya.
"hhhmmm begitu ya Lan, kalaupun ramalan Prabu Jaya Baya itu benar pasti bukan orang seperti itu Lan, Ratu Adil lebih menggambarkan ketinggian akhlak dalam setiap urusan, bukan main ancam begitu, bagaimana nanti jika dia memerintah bisa bisa setiap rakyat yang menantangnya di tembakin atau di penjara. bisa bisa rakyat memanggilnya Ratu Zholim bukan Ratu Adil, iya kan" komentar pak Sukarjan.
"Iya sih" ucap Fhadlan.
Saat Fhadlan berbincang bincang dengan pak Sukarjan, sepintas Fhadlan melihat dari balik kaca jendela seseorang memasuki pekarangan rumah pak Sukarjan.
"Di luar ada orang om" kata Fhadlan.
Benar saja saat utu terdengar seseorang mengucapkan salam dan pintu depan di ketok. Pak Sukarjan menjawab salam lalu membawa Fhadlan ke ruang tamu. Setelah mereka duduk di ruang tamu Fhadlan menjadi agak gugup, dia tau kalau tamu mereka adalah bapak bapak yang dulu pernah mengancamnya.
"Apa dia masih mencari Fhadlan karena perkelahian dengan Bramantio ya" pikir Fhadlan bermacam dugaan timbul di benak Fhadlan.
"hee sampeyan Fadlan huh.. aja nganti ngganggu pangeran Bramantio Kawisworo, yen ora dak tembak" ancaman bapak tersebut kembali terngiang di telinganya.
Fhadlan merasa lega saat bapak tersebut tidak menyinggung nyinggung masalah perkelahian dengan Bramantio.
"Pak Sukarjan, bapak sudah menterjemahkan buku buku kuno kan?" tanya bapak bapak yang duduk di depan mereka.
Pak Sukarjan terdiam seperti terpukau, bagaimana orang ini bisa tau kalau dia sudah menyelesaikan tugasnya padahal dia belum mengibarkan bendera sutra merah di teras sesuai perjanjian. "Mungkin mereka memang mengawasi setiap perbuatan saya" pikir pak Sukarjan.
"Sudah" ucap pak Sukarjan.
"Bagaimana pak Sukarjan menemukan petunjuk keberadaan harta warisan Raja Nusantara, beserta pusaka berupa kitab kesakitan, pedang, trisula atau cambuk samandiman untuk Pangeran satria peningit?" tanya bapak tersebut.
"Kalau itu yang bapak cari, bapak keliru, kitab kitab tersebut hanya bercerita tentang terbentuknya pemerintahan pertama di bumi Hindia, dan Sesemabahan penduduk pada yang maha kuasa" ucap pak Sukarjan.
"Bapak jangan bohong, tidak mungkin tidak di singgung masalah tersebut" ucapnya mulai bernada mengancam.
__ADS_1
"Memang ada di singgung masalah harta raja Nusantara, Kesakitan dan pusaka tapi tidak ada petunjuk keberadaannya." ucap pak Sukarjan jujur.
"Buku hanya membahas bentuk pemerintahan, agama penduduk dan kutukan kutukan bagi mereka yang melanggar" jelas pak Sukarjan lagi.
"Mana kitab kitabnya, bawa kesini" kata bapak tersebut.
"Oya maaf Sebelumnya saya sedang bicara dengan siapa ya?" tanya pak Sukarjan.
"Hmmm panggil saja saya Ismawan pengawal khusus Satrio peningit" ucapnya.
"Lan abilkan kitab kitab pak Ismawan dan sekalian terjemahannya" ucap pak Sukarjan pada Fhadlan.
Fhadlan bangkit menuju ruang kerja pak Sukarjan tak lama kemudian dia kembali dengan membawa kitab kitab kuno berserta terjemahannya yang telah di kemas dalam sebuah kardus.
"Ini om" ucap Fhadlan.
Pak Sukarjan pun menyerahkan buku buku tersebut pada pak Ismawan.
"Ini pak Ismawan semua terjemahannya sudah ada di kardus" ucap pak Sukarjan.
"Pak Sukarjan semua kitab sudah kau terjemahkan kah?" tanya Ismawan.
"Iya sudah" ucap pak Sukarjan.
Tiba tiba seorang pria berjubah hitam dengan muka tertutup kain hitam, entah dari mana datangnya sudah berdiri di depan mereka.
"Heh siapa kamu... Jangan coba coba bermain dengan Hindia Empire" ancam kaki laki berpakaian serba hitam dengan wajah tertutup kain hitam yang berdiri di pintu masuk.
Pak Sukarjan ingat laki laki inilah yang dulu memasuki tempat kerjanya dan membuat kerja sama dengan nya untuk menterjemahkan kitab kono tersebut.
"Pak Sukarjan ... ingat perjanjian kita, ingat keselamatan keluarga pak Sukarjan" bentaknya.
Seketika wajah pak Sukarjan pucat pasi, saat menyadari kekeliruannya.
"Maaf tuan.. saya salah orang" kata pak Sukarjan merebut kembali kardus buku di tangan pak Ismawan.
"dor dor dor" tiga kali bayi tembakan menembus dada pak Sukarjan.
__ADS_1
"Ahhhh .. terkutuklah kau Ismawan semoga tuhan mengazab kalian" ucap pak Sukarjan lalu jatuh tak bergerak lagi.
Dengan pistol masih di todongkan ke arah laki laki berjubah hitam, pak ismawan meninggalkan ruang tamu di mana pak Sukarjan tergeletak.
"Ha ha ha ha Ismoyo, kalian tak berharga untuk menjadi penguasa, pusaka ini milik Kediri hanya keturunan mereka yang mewarisi pusaka dan kerajaannya" ucap Ismawan.
"Bangsat siapa kau, sudah tau berhadapan dengan Ismoyo pangglima perang Hindia Epire, masih banyak bacot" bentak pria yang bernama Ismoyo.
Fhadlan terpaku sejenak melihat kejadian yang sangat tiba tiba, jiwanya terasa seperti di iris iris saat menyaksikan pak Sukarjan jatuh dengan darah mengalir dari bekas luka tembak di tubuhnya.
"Penjahat... kau apakan om gua" teriak Fhadlan, cepat luar biasa tubuhnya telah menubruk Ismawan.
"Bruk" tubuh Ismawan terbanting dengan keras saat pukulan Fhadlan tak terelakan tepat mengenai ulu hatinya.
Fhadlan yang emosi ternyata membangkitkan suatu tenaga sakti di tubuhnya, sehingga pukulan yang di lepaskan mengandung tenaga sakti akibatnya pak Ismawan terbanting menabrak tembok dengan keras.
Kardus dan pistol di tangan Ismawan terlempar, melihat kesempatan bagus Ismoyo berkelebat menyambar pistol dan kardus berisi buku buku kuno dan terjemahannya oleh pak Sukarjan.
"Dor" kembali sebuah tembakan terdengar dari pistol di tangan pak Ismoyo di arahkan pada kepala Ismawan.
Ismawan yang masih limbung akibat pukulan Fhadlan tak bisa mengelak dari tembakan Ismoyo dalam jarak yang sangat dekat, hanya hitungan detik peluru telah menembus kepalanya.
"Brukk" tubuh Ismawan jatuh tak bergerak nyawanya telah melayang dengan luka tembak di kepala.
Ismoyo menghentakkan kakinya tubuhnya nencelat keluar rumah lalu berkelebat cepat sekali meninggalkan rumah pak Sukarjan.
"Berhenti" seseorang berteriak berusaha menghentikan lari Ismoyo.
Tiga kaki laki kurus yang dari tadi memperhatikan kejadian di rumah pak Sukarjan berusaha mengejar Ismoyo yang berlari secepat kilat.
****
Fhadlan meraung menangis melihat tubuh om Sukarjan tidak bergerak lagi, dia tak tau apa yang harus di lakukan, setelah cukup lama menangisi pak Sukarjan barulah dia ingat untik menghubungi pak Nanak tetangga mereka.
Sabil berjalan kerumah pak Nanak, bayangan kebersamaan dengan pak sukarjan selalu muncul. dia ingat kata kata pak Sukarjan "Apa yang saya terima itupun tidak gratis Lan, banyak yang menginginkan kitab kuno belakangan, resikonya jika kitab ini ada bersama kita artinya nyawa taruhannya"
Ucapan pak Sukarjan terbukti sudah Munculnya kerajaan baru, komunitas tertentu, disertai tokoh utama yang dinilai punya kelebihan khusus, bukan hal yang aneh di Indonesia belakangan. Mereka mengaku sebagai ratu adil, meburu harta karun dan benda benda pusaka kuno yang meteka yakini akan membantu keberhasilan misi mereka.
__ADS_1