
Ghibran melajukan mobil dengan kencang sementara Fhadlan memperhatikan monitor di depannya, jalan masih terlihat sepi tanpa kendaraan yang lalu lalanh atau pun parkir.
"Lan.. perhatikan jika ada musuh dan mereka tidak menunjukkan keinginan untuk menyerang maka Fhadlan jangan tembak mereka Oke" ucap Ghibran.
"Ok kak... memang kenapa?" tanya Fhadlan.
"Jika mereka tidak menjadi penghalang biarkan saja karena kita ajan berusaha meledak kan kendaraan di markas utama mereka" ucap Ghibran.
"Baiklah kak.." jawab Fhadlan singkat.
Perjalan dua puluh menit mobil mereka mulai memasuki gerbang kota Magrib. kesibukan mulai terlihat yang di dominasi serdadu Imperium Balqis yang berjaga jaga.
"Mereka tidak melepaskan tembakan kak... kita bisa terus melaju memasuki gerbang Kota" ucap Fhadlan memperhatikan sardadu Imperium Balqis yang hanya menodongkan senjatanya.
"Ha ha ha.... mungkin mereka kepikiran kita seorang pembelot yang akan bergabung dengan mereka.. Lan" Ghibran tertawa saat melihat penjaga gerbang justru membuka portal untuk mereka.
Tapi belum jauh mereka memasuki gerbang mereka di hadang oleh empat orang bersenjata lengkap.
"Berhenti" teriak salah satu mereka berusaha menghentikan mobil.
Bukannya berhenti Ghibran justru malah tancap gas memaksa orang orang tersebut menyikir dari jalan yang akan mereka lalui.
"Tembak .... mereka mortir" teriak salah satu mereka.
"Tar tar tar tar..." suara rentetan tembakan senapan serbu menghujani mereka dengan peluru, namun peluru mereka tak ada artinya saat bertemu dinding lapis baja yang melindungi mobil, sehingga mobil melaju seperti tanpa hambatan.
"Mobil mereka berusaha mengejar" ucap Fhadlan saat melihat sebuah mobil pic up di lengkapi senapan mesin arteleri berat, sayup bergerak memburu mereka di motor kamera belakang.
"Ha ha ha ha... mereka baru menyadari kita bukan pembelot tapi mortir yang akan meledakkan markas mereka" tawa gibran.
Terlihat semua mobil berusaha menghadang mereka, Ghibran tak peduli berusaha menerobos.
__ADS_1
"Sip ... mereka menghindar dari kita" ucap Fhadlan yang tadi telah bersiap untuk menembakan arteri berat.
"Ha ha ha ha, mereka takut meledak bersama kita Lan" Ghibran terus tertawa seperti tidak ada takutnya menghadapi kematian.
Makin mendekati markas Imperium Balqis suasana makin kalang kabut seberapa kendaraan dan para tentara bukannya berusaha menembaki mereka tapi malah berusaha kabur sejauh mungkin.
"Mereka menghindar Lan... tidak ingin mati bersama kita" ucap Ghibran mulai tegang.
"Siap siap Lan... kita akan keluar mobil 50 meter dari lokasi ledakan, sekalipun kita selamat dari ledekan mungkin kita tidak akan Selamat dari tembakan serdadu mereka" kembali Ghibran mengingatkan.
Ghibran terlihat sangat tegang dengan muka pucat pasi, bibirnya mulai mengucap kalimat tauhid. saat mobil mereka mulai memdekati bangunan bertingkat tempat tempat tinggal petinggi Imperium balqis sekaligus komplek markas besar mereka.
"Saat hitungan nol kita akan terlontar keluar mobil lan" Ghibran menekan tombol darurat.
"Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam lima" suara monitor mulai menghitung mundur.
Fhadlan dan Ghibran makin tegang namun kembali mereka berusaha menenangkan diri, keringat di kening mereka makin deras mengucur menetes membasahi wajah mereka.
"Duuuuus.... suiiiiiit" sebuah getaran hebat terjadi kursi mereka terlontar keluar, dengan jurus saipi angin secepat kilat Fhadlan bergerak menyambar tubuh Ghibran lalu melesat ke parit perlindungan di luar markas Imperium balqis.
"krak ... krak.... " Fhadlan memukul dua serdadu terdekat yang berada di parit perlindungan.
"Duaaaar" bersamaan dengan itu ledakan terjadi saat mobil mereka menghantam gedung bertingkat markas Imperium Balqis. Debu, kerikil dan serpihan gedung bertebaran hingga radius lima puluh meter, gedung tujuh tingkat yang merupakan markaas utama imperium balqis ambruk, menewaskan semua penghuni gedung dan komplek serta orang orang yang berada di sekitar ledakan, asap membubung tinggi keudara memberi tanda pada resimen Hamdani untuk menyerbu kota.
"Duar... duar... duar..."
"Tar tar tar tar"
"Bummm bummm bummm"
Tambahan thank, Arteleri berat dan senapan serbu terdengar menghujani pos pos Imperium Balqis dari tiga pejuru. pertempuran makin sengit saat Imperium Balqis membalas tembakan dan berusaha bertahan.
__ADS_1
"Kak Ghibran merunduk" ucap Fhadlan.
Saat serdadu Imperium baqis masih shock dengan ledakan yang dahsyat meledakkan markas mereka, Fhadlan berkelebatan sibuk melumpuhkan beberapa orang serdadu Imperum balqis di parit perlindungan, tubuhnya berkelebatan menotok setiap sardadu yang berusaha membidikkan senjata ke arah mereka. hanya dalam waktu singkat puluhan serdadu yang berusaha berlindung di parit peindungan telah lumpuh tertotok.
"Bang Ghibran.. lucuti senjata mereka tembak setiap serdadu yang berusaha mendekat" ucap Fhadlan dengan senjata rampasan siap menembak siapa siapa saja yang melawan.
"Siap panglima" ucap Ghibran mulai melucuti senjata mereka satu persatu.
Fhadlan melemparkan mereka keluar parit perlindungan, satu persatu mereka jatuh tumpang tindih, lintang pukang di luar parit.
"Kak Ghibran.. beetahanlah di sini Fhadlan akan berusaha mencari keberadaan paman abu Ghafur, jangan tangu tembak saja semua yang berusaha mendekat" ucap Fhadlan.
"Siap panglima" ucap Ghibran
Detik itu juga Fhadlan sudah melesat ke arah puing puing markas Imperium balqis yang telah luluh lantak karena ledakan. namun setelah memenyusuri puing gedung utama dan komplek sekitarnya Fhadlan tidak melihat tanda tanda kehidupan sama sekali.
Sementara itu Ghibran melihat Fhadlan berkelebatan dari puing ke puing bangunan yang sudah mulai jelas terlihat setelah debu dan asap di sapu angin yang bertiup cukup kencang.
"Cik cik cik.. Fhadlan benar benar seperti malaikat yang di turunankan untuk kemenangan resimen Hamdani" decak Ghibran.
Ghibran mencoba melaksanakan sholat sunat dua rakaat, berserah diri mati hidupnya dirinya dan Fhadlan pada Tuhan Yang Maha Esa. Setelah selesai sembahyang, Ghibran memejamkan mata dan menarik napas panjang sambil menadahkan kedua tangan di depan dada minta keselamatan bagi Fhadlan dan dirinya.
"Ya Allah... mati hidup manusia berada di tangan Mu, tak ada yang harus disesalkan dalam menghadapi kematian seseorang. Akan tetapi, jika Panglima Fhadlan meninggal dunia dalam usia yang sangat muda itu ajan sangat menyedihkan sekali bagi kami resimen Hamdani, Ya Allah lindungi dan selamatkan dirinya dengan rahmatmu." doa Ghibran.
Fhadlan terus berkelebat ke sebuah bangunan yang megah agak terpencil dari komplek markas, sehingga gendung ini terlihat utuh selamat dari ledakan. geding ini terlihat sepi tapi masih terlihat kalau berbagai aktivitas baru saja di lakukan di suni.
Gedung yang tadinya di jaga sekarang kosong mungkin para penjaganya ikut tewas saat ledakan, karena beberapa kaca jendela terlihat pecah terkena puing puing ledakan.
"Gedung ini juga sepi" guman Fhadlan saat melewati pos penjagaan waktu dia memasuki gedung.
Fhadlan terus memeriksa gedung yang sepi, lalu mencoba masuk melalui pintu yang terbuka, di dalam gedung sepertinya juga sepi tak berpenghuni. Fhadlan terus melangkah memeriksa ruangan demi ruangan.
__ADS_1
"Ahhhhh .... " sebuah rintihan terdengar lemah dari sebuah ruangan belakang.