
Ilmu peringan tubuh Beni memang lihai, akan tapi jika fhadlan ingin mengejarnya dia harus mengerahkan seluruh kemampuannya untuk bisa menyusul. Namu Fhadlan mengurungkan niatnya untuk mengejar saat mendengar sumpah serapah dan kata-kata yang kasar dari wanita muda yang hampir menjadi korban Beni.
"Ya ukhti, jangan bergerak dulu, mari saya lepaskan belrnggu tangan mu, jangan sampai ukhti terluka!" ucap Fhadlan.
"Jazakallahu Khairan" ucap wanita muda tersebut setelah Fhadlan melepaskan belenggunya.
Jazakallahu Khairan merupakan sebuah ungkapan dalam bahasa Arab yang terdiri dari dua frase yakni jazakallah dan khairan/khair. Jazakallah sendiri dapat diartikan sebagai “semoga Allah membalasmu”, sedangkan Khairan berarti “kebaikan”. Jadi sederhananya, kalimat tersebut digunakan untuk mengungkapkan terimakasih.
"Ya akhi, siapa namamu, dari mana kamu kenapa bisa berada di kampung kami" ucap perempuan tetsebut.
"Ana Fhadlan... dari Indonesia, sampai ke sini mengikuti resimen Hamdani, kami sedang berusaha mengusir tentara Imperium Balqis yang selalu mencegat barang barang makanan yang akan masuk ke kota Aden, tapi kami belum tau pasti di mana markasnya" ucap Fhadlan.
Wanita itu melihat kiri kanan lalu bercerita tentang kondisi jalan menuju markas Imperium Balqis, setelah merasa yakin dia sudah aman.
"Hmmm... tidak semua orang bisa melihat langsung markas Imperum Balqis yang ada utara desa ini. Ke utara dan timur ketinggian menurun. Tebing curam dan ngarai curam turun dari dataran tinggi yang sangat sulit di capai" kata wanita tersebut setelah merasa yakin dia sudah aman.
"Bisakah Fhadlan mengenal ukhti, siapa kah nama ukhti?" tanya Fhadlan.
"Saya ... nama saya Asma.. saya pernah dengar cerita ayah asma tentang kondisi Imperum Balqis yang bermarkas di utara desa. tapi itu sebelum perang" ucap asma.
"Kelompok pertama serdadu bayaran Imperum Balqis itu tiba di Yaman pada 5 bulan lalu. mereka awalnya hanya sekitar 100 tentara berasal dari Indonesia merekalah yang selalu berada di garis depan pertempuran di Aden, mereka di pimpin oleh perwira tadi" ucap Asma.
"Saat meletus perang empat bulan lalu, mereka telah memiliki 1.800 tentara dari Amerika Latin. Hampir separuhnya telah diterjunkan dalam perang di Yaman. Mereka bergabung dengan ratusan tentara bayaran asing lain yang berasal dari Sudan dan Eritrea, jadi hampir 100 persen mereka adalah tentara bayaran dari luar Yaman" ucap Asma.
"Bisakah ukhti tunjukkan jalan menuju kesana?" tanya Fhadlan.
Setelah yakin dengan kampuan Fhadlan Asma pun setuju dengan keinginan Fhadlan.
"Ayo ikuti saya" ucapnya.
Asma membawa fhadlan ke arah lembah yang di tumbuhi pohon jeruk yang tumbuh terlihat seperti jarang jarang, di pinggiran baratnya di batasi oleh lereng curam yang besar.
__ADS_1
"Dari sini kita harus melewati lembah membentang lebih dari 15 km mengarah ke ke Arab Saudi. Markas mereka menjadi pusat pelatihan dan penggemblengan para personel mereka yang akan bertugas atau bertempur" ucap Asma.
"Sebelum perang Asma mendapat kesempatan untuk mengunjungi secara langsung markas mereka yang tertutup untuk warga sipil ini. Waktu itu Asma di janjikan pekerjaan tetapi, begitu tiba di markas, Asma disambut dengan tidak sopan di sejumlah pos penjagaan, lalu di beri latihan militer untuk berperang".
Mereka melewati jalanan yang mulai berliku liku dan cenderung terjal.
"Apalagi Asma sudah di beri latihan kemiliteran untuk memerangi bangsa sendiri, makanya Asma akhirnya membatalkan kontrak kerja dengan mereka" Asma terus bercerita.
Sepanjang perjalanan nenuju markas Imperium Balqis sangat asri karena banyaknya pepohonan jeruk di kanan-kiri jalan, sekalipun terlihat jarang jarang tapi sudah bisa di katakan sebuah hutan yang cukup luas.
"Hati hati ukhty, Keberadaan pohon-pohon ini tentu sangat membantu penjagaan para anggota mereka" ucap Fhadlan.
Asma menghentikan langkahnya, dia seperti ragu melanjutkan perjalanan.
"Ya, pepohonan yang membentuk hutan kecil ini memang sering mereka gunakan sebagai tempat pelatihan bagi para anggota Imperium Balqis sebelum terjun ke medan pertempuran yang sebenarnya"
Di tengah-tengah perjalanan, Asma berbagi berbagai cerita soal pengalamannya saat masih menjalani pelatihan bersama Imperium Balqis.
Asma kemudian juga menceritakan kondisi medan ke markas induk.
"Jalan menuju markas yang mayoritas berbentuk hutan dengan pohon jarang jarang, dengan lereng perbukitan yang tiba tiba berubah curam, Kondisi seperti ini dinilai sangat tepat untuk melatih dan menempa para anggota mereka menjadi militer yang tangguh".
"Jalur ini biasa digunakan untuk melatih prajurit supaya mampu bertahan hidup di atas gunung tandus dan terjal, setiap latihan kami dibiarkan tidur di atas pohon nanti ditembaki, seakan akan kami sedang dikepung oleh musuh," terangnya.
"Meski terkesan berat dan melelahkan, namun pelatihan semacam ini telah memberikan kenangan tersendiri bagi Asma. Saat latihan Asma pernah tersesat ketika perjalanan menuju markas dan baru ditemukan dua hari kemudian," ucapnya.
Kembali asma makin tegang lalu menarik tangan Fhadlan dan membawa Fhadlan bersembunyi di balik batu di samping jalan.
"Kenapa mbak... eh ukhti?" tanya Fhadlan kaget.
"Kamu perhatikan bukit di sebelah barat itu, apa yang kamu lihat?" tanya Asma.
__ADS_1
Fhadlan memperhatikan arah yang di tunjuk asma dengan seksama, sekilas hanyalah perbukitan batu yang curam tanpa tanaman, yang mengkilap saat di timpa sinar matahari, tapi tiba tiba Fhadlan melihat beberapa kilatan cahaya menyilaukan, yang merupakan pantulan sinar matahari di beberapa titik yang berbeda.
"Ukhty ... Fhadlan melihat ada beberapa kilatan cahaya dari beberapa tempat di puncak bukit" ucap Fhadlan.
"Sebaiknya kita pulang ke desa dulu, itu adalah kilatan pantulan cahaya matahari dari kekeran senjata sniper yang di tempatkan di bukit tersebut" ucap Asma.
"desss" benar saja sebuah peluru sudah menerjang mengenai batu tempat mereka berlindung.
"Ayo kembali kak Asma.. kita kembali mereka telah melihat kita" ucap Fhadlan kali ini dia yang menyeret Asma.
"Pegang tangan Fhadlan erat erat kak" pinta Fhadlan lalu membawa Asma lari bagai terbang.
*****
Akan terbit:
"Ristie apa warga mu, nanti tidak takut atau jijik dengan wajah Mulan yang seram seperti ini?" tanya Mulan.
"Ha ha ha... Mulan mereka tidak pernah jijik apalagi takut dengan rupa seram, justru Ristie kuatir Mulan lah yang akan takut dan jijik dengan tingkah laku mereka" ucap Ristie sambil tertawa.
"Kenapa begitu" tanya Mulan.
Ristie terlihat murung mendengar pertanyaan Mulan.
"Lima tahun yang lalu kaisar Velon Romir suami Ristie menerima kutukan penyihir bangsa Bunian karena menolak kerja sama dengan bangsa Jarjud untuk menguasai manusia" cerita Ristie.
Baca juga Novel Sebelumnya :
Legenda Cincin Pintak Pinto dan novel yang akan terbit : Bidadari Turun ke Bumi
Jangan lupa like, komen, vite dan love juga ya....
__ADS_1