
Saat pasukan anti ranjau mulai menyisiri pipa minyak di gurun yang mulai menyempit di apit oleh pengunugan berbatu, semua terlihat aman. tapi Fhadlan merasa ada ancaman lain dari bukit batu di kedua sisi kilang minyak.
"Stop.. kita berkemah di sini dulu, dari pengalaman terdahulu bukit baru merupakan tempat para sniper dan anti tank Imperum Balqis" ucap Fhadlan.
"Benar... kita susun strategi di sini, menurut hasil pengintaian drone pemerintah, kekuatan Imperium Balqis sedang di pokuskan ke sini untuk menghadang resimen Hamdani" timpal paman Hamdi.
Fhadlan mulai punya pirasat yang buruk tentang medan perang kali ini, yang pasti Imperium balqis memiliki pengetahuan situasi medan di banding mereka, ditambah lagi jika mereka yang kabarnya memiliki 24 000 personil terlatih dengan senjata super canggih yang mereka tempatkan di Maghrib.
"Fhadlan merasa mereka akan menjebak kita di sini paman" ucap Fhadlan.
Paman Hamdani sepertinya punya pemikiran yang sama dengan Fhadlan, wajah cemas sudah mulai terlihat, di sertai napasnya yang berat. "Ya sepertinya terlihat aman tapi perlu kita waspada sekalipun mereka tidak punya rencana menjebak resimen Hamdani di sini, namun secara logika jika pertempuran terjadi sekarang mereka lebih unggul jumlah, unggul senjata dan mereka mengenal medan dengan baik"
Abu Ghafur yang dari tadi meneropong bukit bukit berbatu setengah berteriak memberikan teropongnya pada paman Hamdi.
"Hamdi... Lihat sepertinya di bukit bukit berbatu ada banyak aktifitas, dan di lembah bukit seperti terlihat banyak kendaraan yang di samarkan. Saya juga yakin mereka mempersiapkan sesuatu kali ini"
"Apa yang akan kita lakukan?" tanya abu Ghafur.
"Benar Fhadlan kita sepertinya telah masuk petangkap mereka... kita sudah di kepung" ucap paman Hamdi lalu memberikan teropong pada pada Fhadlan.
"Masing masing komandan segera siagakan pasukan" teriak paman Hamdi.
"Siap... pak" semua komandan segera berlari ke pasukannya masing masing.
Pasukan mereka pecah menjadi empat barisan, satu berusaha merebut perbukitan kiri, satu lagi akan bergerak ke perbukitan di kanan, dan satu lagi akan bergerak menuju markas Imperium Balqis di belakang kilang minyak.
Sebelum mereka sempat bergerak dari arah belakang mereka terlihat iring iringan kendaraan lapis baja, di dukung persenjataan berat, membuat debu membubung tinggi di udara.
__ADS_1
"Cik cik cik banyaknya mereka menerbangkan debu seolah gurun pasir sedang di landa topan" decak abu Ghafur.
"Kita harus maju" kata paman Hamdi.
"Tidak paman Fhadlan pikir itulah jebakan mereka saat mereka menyerbu dengan kekuatan penuh lalu kita di paksa ke lembah sempit di antara dua bukit itu, di situlah mereka akan membantai kita" ucap Fhadlan.
"Benar ... nak Fhadlan benar benar apa yang di katakan Rasulullah satu orang berilmu lebih utama dari ahli ibadah" ucap abu Ghafur.
"Bertahan di sini, hadang mereka cari perlindungan" teriak paman Hamdi saat iring iringan mereka makin dekat.
Semua bertebaran mencari perlindungan sesuai posisi masing masing
"Tar tar tar" kendaraan di belakang mereka mulai menembak.
"Tank dan kenderaan lapis baja tembak" teriak komando seorang komandan saat musuh sudah menghujani pasukan mereka dengan tebakan.
Dentum meriam dan senjata berat di ikuti teriak kesakitan dan jerit kematian prajurit yang tertembak menggema di mana mana. Kembali Fhadlan menunjukkan kepahlawanannya.
Ketika panglima perang Hamdi melihat pertempuran kian berkobar, ia berpaling kepada Fhadlan' seraya berseru, "Wahai Fhadlan', kerahkan pasukan elit sesuai rencana!"
Saat itu juga Fhadlan berteriak memanggil pasukannya "Wahai singa Aden, kalian jangan berpikir kembali ke Aden! Tidak ada lagi Aden setelah hari ini kecuali jika kita mengalahkan mereka. Ingatlah Allah, ingatlah surga!"
Setelah berkata demikian, dia maju kearah kilang minyak, diikuti prajurit elit resimen Hamdani.
Bidik setiap gerakan yang ada di depan dan perbukitan ucap Fhadlan setelah berada di tengah lembah sempit.
Benar saja saat beberapa senjata mereka mulai mengenai sniper yang ada di perbukitan mereka mulai jadi sasaran tembakan dari bukit, sedang kan dari lembah ribuan prajurit Imperium balqis menyerbu ke arah Fhadlan dan pasukannya.
__ADS_1
"Tar tar tar" senjata Fhadlan terus memuntahkan peluru, menembus musuh-musuh musuh yang datang mendekat.
Melihat prajuritnya berguguran, prajurit Imperium balqis jadi gentar. Mereka berhenti dan berlindung di balik kendaraan lapis baja. sementara Albara melihat mobil lapis baja dengan persenjataan berat menembaki prajuritnya satu persatu mulai berguguran.
Lembah ini menjadi lembah Maut bagi mereka, di mana mereka menjadi sasaran tembak yang empuk bagi senjata berat Imperium balqis.
Menghadapi keadaan yang demikian, prajurit elite resimen Hamdani sempat kebingungan, mereka menatap Fhadlan betaharap memberikan perintah untuk mundur. Namun dalam benak Fhadlan muncul ide. Ia pun berteriak, "Saya akan melumpuhkan kenderaan lapis baja mereka dan setelah itu kalian segera merebut kendaraan mereka ucap Fhadlan.
Dengan menggunakan ilmu saipi angin yang dipelajarinya bersana tika, tubuh Fhadlan melesat bagai bayangan menuju sisi bukit di kiri yang dia anggap lebih kuat tapi lebih dekat.
"Tar tar tar" Fhadlan mulai menembaki prajurit prajurit yang berlindung di balik kendaraan lalu tubuhnya berkelebatan dari kendaraan satu ke kendaraan lainnya. kendaraan menjadi tak terkendali karena sopir dan operator senjata sudah tertembak oleh Fhadlan, seketika tembakan senjata berat juga terhenti
"Ambil alih kendaraan" teriak fhadlan pada anggota resimen elit Hamdani, saat mobil sudah pada berhenti tak terarah, sementara itu ribuan prajurit Imperium balqis yang tadinya mengandalkan perlindungan kendaraan lapis baja, menjadi ciut dan genntar berlarian menuju bukit mencari perlindungan.
Satu persatu Anggota elit Resimen Hamdani telah mengambil alih mobil lapis baja dan berbalik mengarahkan tembakan ke arah perbukitan.
"Awasi kendaraan di sisi kanan, saya akan melumpuhkan kendaraan di sisi kanan, kalian segera ambil alih setelah mereka di lumpuhkan" kembali Fhadlan berteriak memberi komando pada pasukannya yang masih tersisa.
Kembali Fhadlan melesat ke sisi kanan perbukitan, seperti kendaraan di sisi kiri kendaraan di sisi kanan yang di sokong senjata berat satu persatu mulai diam tak bergerak.
"Mudur.... dia bukan manusia tapi pasukan jin" teriak para prajurit Imperium balqis ketakutan, setelah menyaksikan kendaraan mereka satu persatu lumpuh lalu berbalik menembaki mereka.
Kendaraan lapis baja yang sudah di kuasai pasukan elit resimen Hamdani berbalik menembaki sisi tebing berbatu kiri kanan lembah gurun pasir di mana pasukan Imperium balqis mundur cerai berai mencari perlindungan.
Sementara itu resimen Hamdani di bawah komando Hamdi yang juga di dukung tank baja dan kendaraan lapis baja mencoba menahan gemmpuran yang meyergap mereka dari belakang.
"Pertahankan posisi kalian" ucap Hamdani mengamati pertempuran.
__ADS_1