
Sekitar 10.000 kombatan Imperium Balqis terus melancarkan serangan kejutan dari Arah belakang resimen Hamdani, memicu pertempuran sengit di gurun pasir memasuki kompleks kilang minyak.
Pasukan Resimen Hamdani berupaya bertahan, namun kalah jumlah membuat mereka terpaksa mundur menuju pasukan Fhadlan yang sudah lebih dulu menguasai lembah yang di apit tebing berbatu.
"Mundur dan bergabung dengan pasukan Fhadlan" Hamdi kembali memberi komando saat hampir sepertiga pasukan resimen Hamdani sudah jadi korban tembakan.
"Selamatkan yang terluka ke mobil, sepanjang pertempuran berlangsung kemungkinan risiko tertembak akan lebih tinggi di lembah sempit di depan kita, tapi tak ada pilihan kita harus kesana" ucap Hamdi putus asa.
Resimen Hamdani mulai menjauhi medan pertempuran, untungnya asap dan debu yang terus berhamburan karena tembakan membuat padangan musuh agak terbatas, sehingga mudahkan mereka mengevakuasi teman mereka yang terluka.
"Sing sing sing" Desingan peluru terus menghujani resimen Hamdani. Puluhan Anggota resimen Hamdani yang baru saja di rekrud terjebak dalam ketakutan di balik dinding mobil lapis baja. Kebingungan, ketakutan, bercampur dengan rasa lelah, dirasakan mereka membuat mereka tak bisa beranjak seperti sudah ingin menyerah.
"Ayo bergerak" teriak abu Ghafur yang melihat keadaan mereka.
"Kami sudah tidak kuat berjalan" ucap mereka.
"Hmmmm ... merangkak" atau segera naik kendaraan ucap abu Ghafur.
Tampa komando lagi mereka berlarian dengan tenaga mereka yang tersisa mencari mobil yang akan mengangkut mereka.
Setelah memastikan semua yang terluka dan kelelahan di angkut kendaraan. Hamdi memberi komando untuk pasukannya yang tersisa untuk melarikan diri, di bawah kontak senjata yang terus berlangsung.
"Kita tidak bisa bertahan lebih lama lagi ayo bergerak semoga tuhan merahmati kita dengan keselamatan" Teriak Hamdi memberi komando.
Bersamaan dengan itu, tembakan penembak jitu dan artileri Imperium balqis terus berlanjut, namun di luar pengetahuan musuh resimen Hamdani telah jauh meninggalkan medan tempur.
"Paman selamat bergabung kembali" teriak Fhadlan yang telah menunggu di lembah sempit.
"Pasukan Fhadlan berhasil merebut sebagian besar lebah dan dua sisi tebing berbatu, bawa terus pasukan resimen Hamdani ke komplek kilang minyak lalu menghadang mereka yang masuk ke lebah" ucap Fhadlan.
"Luar biasa .. nak Fhadlan seperti benar benar di bawah perlindungan Yang Maha Penguasa. Wahai satria Aden teruslah bertempur selama Fhadlan bersama kita insyaallah kita akan peroleh kemenangan" teriak abu Ghafur mbangkitkan semangat tempur resimen Hamdani.
"Hidup panglima elite... hidup Fhadlan" teriak pasukan resimen Hamdani lalu menyerbu ke arah kilang minyak yang sudah di tinggalkan Imperium Balqis.
__ADS_1
Tanpa ada perlawanan Kilang minyak sudah berada di bawah kendali resimen Hamdani, kembali mereka menyusun kekuatan untuk menghadang pasukan Imperium Balqis yang menyerang mereka dari belakang.
"Mereka mulai bergerak ucap" Fhadlan menunjukkan asap tebal kembali membubung tinggi di tengah gurun pasir.
"Paman beri komando tembak saat mereka memasuki lembah sempit" ucap Fhadlan.
"Lalu apa rencana Fhadlan?.. mereka sangat banyak di dukung senjata berat dan kendaraan lapis baja" ucap Fhadlan.
"Semoga tuhan melindungi kita semua, Fhadlan hanya nengadopsi teknik mereka dengan nenghujani mereka dari dua sisi tebing berbatu, sementara tank dan kendaraan lapis baja resimen Hamdani menbaki mereka dari kilang minyak, bagaimana paman?" tanya Fhadlan.
"Ide bagus.. sekalipun tidak menang setidaknya korban di pihak kita bisa diperkecil dan terselamatkan"
"Ayo.... go go go" ucap Hamdani memberi komando pada pasukan yang tadi di rencanakan merebut tebing kiri dan kanan.
Pasukan resimen Hamdani segera mengambil posisi di kedua tebing berbatu, dengan mengugakan senjata dan kendaraan Imperium balqis yang tertinggal
"Jangan tembak sebelum ada komando" ucap Fhadlan.
"Siap kami mendukung setiap keputusan panglima Fhadlan... hidup panglima ... hidup Fhadlan" pekik bala tentara resimen Hamdani serempak.
Sementara itu di tengah gurun pasir pasukan Imperium Balqis belum menyadari keadaan, mereka menyangka sudah menang, mereka berteriak meneriakkan yel yel kemenangan saat, tak satupun tembakan balasan dari resimen Hamdani.
"Hidup kaisar Linggo... " sorak mereka saat iring iringan mereka terus bergerak menuju kilang minyak.
"Hidup Imperium Balqis.." teriak mereka sepanjang jalan memasuki lembah sempit, sambil melambaikan tangan ke arah tebing berbatu di dua sisi lembah.
Saat tidak ada jawaban dari sisi kedua tebing, jendral Benyamin yang memimpin pasukan Imperium Balqis merasa curiga lalu memandang pembantu pembantunya.
"Stop...." teriak Jendral Benyamin memberi komando seketika pasukan berhenti tepat di tengah lembah.
Namun mereka terlambat menyadari keadaan, saat pasukan mereka berhenti di tengah lembah, paman Hamdi memberikan komando pada pasukanya.
"Tembaaaaaak" teriak Hamdi.
__ADS_1
"Tar.. tar... tar.. tar... tar..."
"Duaar Duaar Duaar"
Tembakan sniper, anti tank, senjata berat dan Thank dari kedua sisi tebing juga dari arah kilang minyak membahana mengarah ke pasukan Imperium Balqis.
"Duar Duaar Duaar" beberapa kendaraan lapis baja Imperium balqis meledak di hantam anti tank, dan senjata berat resimen Hamdani.
"Ahhhh ahhhh ahhhhh" teriakan pasukan Imperium balqis menggema memenuhi lembah, mereka telah menjadi sasaran empuk sniper dan senjata berat Resimen Hamdani.
Dalam beberapa detik terakhir, pertempuran di sekitar lembah sempit, telah pecah dengan sengit, serangan dadakan resimen Hamdani terhadap Pasukan Imperium Balqis sangat mengagetkan jendral Benyamin.
Bentrokan tersebut telah memaksa ribuan serdadu Imperum Balqis kocar kacir mencoba menyelamatkan diri, mereka berusaha berkerumun di balik kendaraan lapis baja.
"Duaaaar duaaaar duaaaar" kembali anti tank resimen Hamdani menghantam kendaraan lapis baja dan numpuhkan senjata berat Imperium Balqis, semua yang yang berlindung di mobil berhamburan keudara dan jatuh dengan bentuk tak di kenali lagi.
"Mundur... lembah dan kilang minyak sebagian besar sudah dikendalikan oleh Resimen Hamdani yang dipimpin Hamdi, mitra utama kita telah mereka taklukkan" teriak jendral Benyamin memberi komando pemasukan untuk mundur.
Dalam perang ini hanya dalam hitungan menit hampir sembilan puluh persen senjata berat dan mobil lapis baja Imperium balqis lumpuh di hantam anti tank resimen Hamdani, sebelum mereka sempat membalas serangan.
"Mundur... mundur" kembali Jendral Benyamin memberi komando lalu memutar arah mobil yang di kemudikannya, di ikuti kendaraan yang masih tersisa.
"Serbu ..." terdengar komando Hamdi di kejauhan.
"Freedom... freedom freedom" teriak resimen Hamdani menuruni dua bukit mulai menembaki infantri Imperium balqis yang lari kocar kacir menuju gurun pasir.
Tembakan senapan serbu dan artileri berat disertai pekik kesakitan dan jerit kematian serdadu Imperum balqis susul menyusul memenuhi lembah. Perang dengan telak di menangkan resimen Hamdani sekalipun mereka juga harus kehilangan sepertiga pasukannya.
****
"Paman sepertinga dari aggota resimen Hamdani telah tewas di medan tempur kali ini, bagaimana rencana paman selanjutnya?" tanya Fhadlan saat Hamdi memanggil mereka untuk rencanakan aksi berikutnya.
"Benar.. perang ini sangat menyakitkan bagi resimen Hamdani tapi pihak mereka mengalami kerusakan lebih parah bahkan separoh mereka tewas di perang ini, dengan fasilitas hancur, dan sebagian telah jatuh ketangan resimen Hamdani"
__ADS_1
"Selanjutnya kita mungkin perlu pendapat yang lainnya apa terus menyerbu Maghrib, mudur ke aden atau bertahan disini, bagaimana!?" tanya Hamdi.