
Pak Herman dan dokter Ferdi meringis kesakitan akibat terbanting oleh dorongan Fhadlan, yang ngamuk bagai sedang kerasukan.
Beberapa warga yang menyerbu masuk segera menyeret Pak Herman, dr Ferdy dan dr Edy keluar kamar. Tiap kali melewati warga mereka menerima pukulan dari warga yang sudah marah. Sebagian dari warga memeriksa keadaan Satrio yang masih dalam pengaruh obat bius.
"Panggil Ambulan... " teriak seorang warga.
Seorang warga terlihat sholat melihat jahitan yang masih sangat baru di perut Satrio.
"Dua anak di luar tadi benar kalau kakaknya sudah di bedah perut hingga pinggang nya. pasti anak ini telah kehilangan ginjal nya" Warga yang lain menunjuk bekas jahitan di perut Satrio.
Sementara itu pak Herman, dokter Edy dan dokter Ferdy sedang mengalami pemukulan warga yang marah, keadaan mereka sangat berbahaya kalau saja saat itu polisi tidak datang.
"Ampun pak, ampuni saya saya cuma di minta mengobati anak pak Herman yang terkena tusukan saat tawuran" kata dokter Ferdy berbohong.
Namun amukan warga seperti tak terbendung setiap mereka yang datang terus melayangkan pukulan.
"Hentikan....." teriak seorang polisi.
"Tar tar tar" tiga kali tembakan peringatan menghentikan amukan warga.
Dua orang polisi segera memborgol pak Herman, dr Edy dan dr Ferdy lalu mengamankan mereka dan beberapa barang bukti.
"Bawa pak Daud dan ibu Sara kemari" perintah sang komandan.
Seorang polisi membawa abu Daud dan umi Sarah ke lokasi di mana komandan polisi sedang mengamankan tersangka.
"Bagaimana pak apakah anak saya di temukan?" tanya umi Sarah.
Komandan polisi mengeluarkan photo screenshot cctv dari kantongnya. terlihat tiga anak kecil sedang melangkah keluar dari halaman rumah tersebut.
"Anak yang paling besar cocok dengan anak yang sudah mengalami pembedahan" kata polisi memperlihatkan fhoto di tangannya pada ibu sarah.
"Cari dua anak ini" kata komandan pada anggotanya sambil memperlihatkan fhoto tiga anak tersebut.
"Anak yang di kiri, pasti anak ini ... ndan" kata salah satu anggota menunjukkan Rolan yang sedang menangis di pelukan ibu Maryani.
"Bawa perempuan tersebut bersama tersangka dan bawa anak tersebut kesini" perintah sang komandan.
"Siap ndan" balas seorang polusi lalu memborgol ibu Maryani sedang Rolan di bawa ke hadapan sang komandan.
__ADS_1
"Siapa namamu nak?" tanya sang komandan.
Rolan masih gemetaran tapi setelah polisi datang ketakutannya mulai mereda.
"Saya Rolan pak" jawab Rolan.
Komandan polisi memperlihatkan photo di tangannya pada Rolan.
"Ini kamu kan?" tanya komandan menunjuk photo Rolan.
"Iya pak" jawab Rolan singkat.
"Lalu yang lainya siapa? tanya komandan polisi menunjukkan fhoto Satrio dan Fhadlan.
"Yang paling besar ini bang Satrio dan yang kecil adik Fhadlan" ucap Rolan.
"Jadi benar yang kecil ini si Fhadlan, di mana dia nak Rolan" tanya umi Sarah pada Rolan.
Rolan lihat lihat sekeliling mencari keberadaan Fhadlan tapi tidak menemukan Fhadlan.
"Barusan ada di teras bu" ucap Rolan menunjuk ke luar arah teras depan.
Umi sarah abu Daud dan beberapa anggota melihat ke teras depan yang terlihat hanya beberapa bapak bapak para warga, tidak terlihat keberadaan Fhadlan di sana.
Mendengar komando komandan seketika ramailah tempat tersebut oleh anggota kepolisian, di bantu warga mereka menggeledah rumah, dan tempat di sekitarnya mencari keberadaan Fhadlan. Namun setelah semua di geledah tidak juga di temukan ke beradaan Fhadlan.
"Coba kalian cek semua cctv di wilayah ini" kata komandan pada bawahannya.
Beberapa polisi dengan sigap melaksanakan perintah komandannya.
"Siap komandan" lalu mereka berpencar mendatangi rumah terdekat untuk cek cctv mereka.
Tak lama kemudian polisi yang yang ditugaskan kembali untuk melaporkan hasil pengecekan.
"Lapor komandan, di cctv terlihat target sudah meninggalkan lingkungan perumahan" lapor seorang polisi.
Setelah mendapat laporan anggotanya komandan memerintahkan untuk mencari Fhadlan di lingkungan yang berdekatan dengan komplek perumahan mewah tersebut. Namun masalahnya di luar lingkungan tidak terdapat cctv yang dapat di pantau hingga keberadaan Fhadlan tidak bisa di lacak. Abu daud dan umi Sarah minta izin pada polisi membawa Rolan dalam membantu pencarian anaknya Fhadlan. Setelah tidak memperoleh hasil akhirnya abu Daud dan umi Sarah pulang dengan membawa Rolan ke tempat tinggal mereka.
****
__ADS_1
Kita lihat apa yang terjadi terhadap Fhadlan saat warga yang marah menyerbu tempat tinggal mereka. Saat warga sibuk dengan pak Herman dan komplotannya, sedangkan Rolan yang menjerit ketakutan di peluk ibu Maryani, mereka seperti lupa dengan keberadaan Fhadlan.
Dalam ketakutannya Fhadlan berlari meninggalkan tempat tersebut, dia terus berlari hingga dia merasa sangat lelah. Entah sudah berapa jauh menyusuri jalan memasuki lorong dia tidak tau hingga dirinya terduduk kelelahan dengan nafas ngos ngosan. Lama sekali Fhadlan berusaha mengatur napasnya, nyawanya seperti akan melayang.
"Hik hik hik" tak dia sadarinya rupanya Fhadlan sudah menangis.
Dalam tangisnya Fhadlan merasa sedih sekali tak terbayangkan kemana dia harus melangkah, dia sangat takut untuk kembali kerumah dimana dia dengan sangat jelas melihat Satrio di bedah lalu ginjalnya di keluar kan kemudian di jahit kembali.
"Hiiiiiiiiiii" jerit Fhadlan menggigil rambutnya berdiri saat terbayang adegan dokter Ferdy membedah Satrio.
"Hik hik hik..." tangis Fhadlan makin menjadi saat ingat ajan ayah dan ibunya, timbul rasa rindu yang sangat pada umi Sarah ibunya.
"Umi... umi.... Fhadlan pengen sama umi" tangis Fhadlan sendirian.
Seorang wanita muda yang kebetulan lewat merasa kasihan melihat Fhadlan menangis begitu sedihnya.
"Kemana orang tuanya" pikir wanita tersebut.
"Sakitkah anak ini" pikir wanita tersebut lalu mendekati Fhadlan.
"Hai .... kamu Fhadlan kan?" tanya wanita tersebut kaget.
Fhadlan hanya mengangguk tanpa berhenti menangis.
"Kamu kenapa di sini, kemana ibu Maryani, kenapa Fhadlan di tinggal sendiri?" tanya wanita tersebut.
"Tante Cicilia" ucap Fhadlan masih nagis.
"Udah Fhadlan ikut tante aja, coba cerita apa yang terjadi" kata tante Cicilia.
Wanita tersebut memang Cicilia salah satu pengasuh anak anak pengemis yang di tampung pak Herman. Cicilia berasal dari pedesaan di wilayah Malang Jawa Timur dia ke Jakarta setahun yang lewat. Awalnya Cicilia minggat ke jakarta karena tidak ingin di nikahkan, di jakarta dia bertemu pak Herman lalu di janjikan pak Herman untuk di jadikan PNS.
Namun hingga hari ini janji pak Herman hanya tinggal janji. Cicilia di minta mengasuuh anak anak yang di deportasi menjadi pengemis, sebenarnya Cicilia sudah ingin kembali ke desanya tapi pak Herman selalu memberi harapan.
"Tiga bulan lagi Sk Cicilia keluar" selalu demikian ucapan pak Herman saat Cicilia mengatakan akan pulang kedesa.
"Kita pulang ya" ucap Cicilia pada Fhadlan.
"Gak mau... Fhadlan takut di rumah ada penculik ginjal" kata Fhadlan lalu menceritakan apa yang barusan terjadi di rumah mereka.
__ADS_1
Mendengar cerita Fhadlan Cicilia juga ketakutan lalu kepikiran untuk pulang kedesanya.
"Kalau gitu kita pulang kerumah kakek Cicilia, bagaimana!?" tanya Cicilia.