FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI

FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI
Episode 24


__ADS_3

Saat pak Nanak meninggalkan rumahnya, pak Sukarjan pun kembali memasuki rumahnya bersama Fhadlan.


"Fhadlan bisa bikinkan kopi om" pinta pak Sukarjan saat mereka duduk di ruang tamu.


"Bisa om" kata fhadlan.


"Emang dari pagi om belum ngopi ya?" tanya Fhadlan.


"Ada di rumah om Nanak mu, tapi om baru minum sedikit, malah kamu datang bawa polisi" kata pak Sukarjan.


"Bukan Fhadlan yang bawa om tapi polisinya datang sendiri" bantah Fhadlan sambil berlalu menuju dapur.


Pak Sukarjan melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya, hatinya sangat resah terkadang dongkol, mengingat apa yang di lakukannya membantu pak budi malah membuat dirinya berurusan dengan aparat hukum.


Untuk menenangkan hatinya pak Sukarjan mencoba membuat kesibukan dengan membaca atau pun kesibukan yang berkenan dengan pekerjaannya. Namun alangkah kagetnya pak Sukarjan mendapati seseorang tak di kenal berada di ruang kerjanya.


"Jangan bergerak dan jangan berteriak atau pekuru akan menembus kepala pak Sukarjan" kata seseorang menodongkan pistol kearah pak Sukarjan.


Entah kapan dan dari mana datangnya seorang laki laki berperawakan tegap, mengenakan pakaian serba hitam dengan muka di tutup sapu tangan dan topi lebar, sehingga sebagian besar wajahnya tak terlihat, telah duduk di meja kerja pak Sukarjan dengan pistol di todongkan ke arah pak Sukarjan yang baru saja masuk.


Pak Sukarjan menghentikan langkahnya sambil mengangkat tangan.


"Anda siapa? mau apa?" tanya pak Sukarjan.


"Hmmm belum saat nya pak Sukarjan mengetahui siapa kami. Saat ini kami perlu kerja sama pak Sukarjan, jika pak Sukarjan koperatip kami akan menghargai kerja pak Sukarjan" ucap lelaki di depan pak Sukarjan sambil mengeluarkan sebuah photo.


"Coba pak Sukarjan lihat" katanya memberikan photo pada pak Sukarjan.


Seketika wajah pak Sukarjan pucat melihat kalau photo tersebut adalah photo keluarganya dengan latar belakang rumahnya di kota Malang.

__ADS_1


"Jika pak Sukarjan tidak bisa bekerja sama atau berusaha menghubungi pihak aparat kepolisian, atau mencoba minta campur tangan pihak lain maka taruhannya adalah nyawa mereka" ancam lelaki di depan pak Sukarjan.


"Ok saya bersedia... Tapi katakan dulu maksud bapak, kerja sama dalam hal apa, dan bagaimana?" tanya pak Sukarjan makin pasrah.


"Begini pak Sukarjan kami telah berkomunikasi secara spiritual dengan alam gaib, dalam melakukan investigasi tentang Harta Amanah di negeri yang bernama Nusantara ini" ucap lelaki tegap masih duduk santai di meja kerja pak Sukarjan.


Pak Sukarjan juga tau berita dan sejarah tentang Harta Amanah yang saat ini sangat “booming” dan merupakan Sejarah yang membumi dan menyatu di dalam sanubari bangsa Indonesia khususnya dan bangsa-bangsa di luar negeri umumnya.


"Lalu apa hubungannya dengan saya?" tanya pak Sukarjan.


"Pak Sukarjan pernah meneliti situs candi Borobudur kan?" tanya laki laki tersebut.


"Iya pernah" jawab pak Sukarjan.


"Lalu apa hasil penelitian kalian?" tanya laki laki tersebut lagi.


"Kami hanya meneliti tenntang artefak kuno yang bercerita tentang kepemimpinan seseorang raja titisan Dewa yang sakti mandra guna, raja adil arif bijaksana yang membangun kota kota di Nusantara" kata pak Sukarjan.


Saat itu Fhadlan masuk membawa kopi pak Sukarjan. Orang asing yang duduk di depan pak Sukarjan meletakkan telunjuk di bibirnya meminta pak Sukarjan berlaku biasa biasa saja.


"Sini lan kopinya" ucap pak Sukarjan lalu menjawab pertanyaan laki laki di depannya.


"Iya ... beberapa situs borobudur bercerita tentang kehidupan Negeri yang makmur, masyarakat menanam padi di sawah, berburu di hutan, memancing ikan di kali, membaca kitab yang dengannya bangkit beragam profesi, mengobati penyakit, membuat bangunan tinggi dan membuat senjoto menjadikan nenggri besar tak tertandingi" jawab pak Sukarjan.


Fhadlan yang baru datang hanya menyimak percakapan mereka, diam diam dia juga sangat tertarik mendengar cerita pak Sukarjan.


"Juga menceritakan kepatuhan masyarakat pada syang yang Tunggal, sehingga turunlah rezeki dan kekayaan yang tak terhingga, harta yang di kelola negara turun temurun tak habis habisnya, hingga masyarakat tidak ada yang merasa miskin" ucap pak Sukarjan.


"Ini yang saya maksud pak Sukarjan, di situ di ceritakan Baginda Raja titisan dewa maksudnya adalah utusan Dewa atau Tuhan. Menguasai harta yang tak habis habisnya, merupakan harta yang dititipkan Tuhan kepada penguasa tersebut secara turun temurun pula" ucap laki laki tersebut.

__ADS_1


"Pertanyaan saya harta tersebut sudah habis atau mereka simpan?" tanya laki laki tersebut lagi.


Tanpa menunggu pak Sukarjan menjawab laki laki tersebut melanjutkan bicaranya.


"Sudah menjadi legenda dalam cerita turun temurun kalau harta itu masih ada, bahwa Harta tersebut adalah harta amanah bagi turunan sang raja yang akan berkuasa di Nusantara" ucap laki laki tersebut.


"Pak Sukarjan juga tahu itu kan?" tanya laki kaki tersebut.


"Benar saya sering dengar belakangan ini, bahkan ratusan tahun lalu Prabu Jayabaya raja Kediri, mengatakan kalau Ratu Adil lah yang akan berkuasa di Nusantara sebagai pewaris harta amanah tersebut" jawab pak Sukarjan.


"Itu dia pak Sukarjan, maksud saya Ratu Adil itu sudah lahir, suatu saat nanti pak Sukarjan akan saya beri kesempatan untuk mengenalnya, cuma untuk saat ini dia masih harus sembunyi sebagai Satrio piningit" Laki laki tersebut mengeluarkan sesuatu yang di bungkus dengan kain sutra berwarna merah saga.


"Ini adalah kitab kitab peninggalan sang raja yang di kisahkan, zaman dulu di baca saat penobatan raja. Tugas pak Sukarjan adalah menterjemahkan isi kitab ini dan di tulis menjadi sebuah kitab dalam bahasa Indonesia, yang nantinya akan di gunakan saat Ratu Adil berkuasa" kata lelaki tersebut.


"Bagaimana pak Sukarjan?" tanya laki laki tersebut setelah melihat pak Sukarjan hanya diam.


"Apa tidak sebaiknya kita lakukan melalui instansi pemerintah" saran pak Sukarjan masih enggan terlibat dengan orang orang yang tak jelas status dan tujuannya pak Sukarjan juga merasa berat apalagi mengingat peristiwa terbunuhnya pak budi.


"Pak Sukarjan pemerintahan ratu adil itu sudah ada, dan ini perintah Ratu Adil" kata laki laki tersebut kembali memperlihatkan photo anak dan istri pak Sukarjan lalu memberi isyarat menggorok lehernya sendiri.


"Pak Sukarjan tak ingin mereka kenapa kenapa kan!!" ucap laki laku tersebut dengan nada mengancam.


Mengingat anak dan istrinya sebagai jaminan, pak Sukarjan tidak punya pilihan lain selain menerima permintaan laki laki tersebut.


"Baiklah saya akan coba tapi beri saya waktu" ucap pak Sukarjan.


"Ha ha ha, tidak masalah dengan waktu, jika pak Sukarjan sudah selesai cukup kibarkan kain sutra merah di teras rumah pak Karjan" laki laki tersebut tertawa penuh kemenangan.


"Ingat pak Sukarjan... kalau kami selalu mengawasi mu" ucapnya.

__ADS_1


"Ini Sebagai uang muka untuk pekerjaan pak Sukarjan" laki laki tersebut mengeluarkan amplop berisi uang, kalau di lihat dari luarnya jumlahnya setidaknya ada puluhan juta rupiah, jumlah yang sangat besar jika di bandingkan standar gaji bulanan pns waktu itu.


__ADS_2