
Fhadlan sangat sedih berpisah dengan kakek Ammar, dia sudah terlanjur sayang pada kakek Ammar. Fhadlan berbalik menuju kamar kakek Ammar yang terletak di lantai atas, dilihatnya bungkusan berisi beberapa stel pakaian, selimut dan kain sarung kakek Ammar yang masih tergeletak di lantai.
Fhadlan juga melakukan hal yang sama seperti kakek Ammar, di ambilnya beberapa stel pakaiannya lalu di bungkus dengan kain sarung. Buntalan pakaian nya dan buntalan milik kakek Ammar persis menyerupai buntalan yang di bawa penggembara zaman dulu yang sering juga terlihat di flim film.
Perdinan memasuki kamar kakek Ammar hanya untuk mengambil buntalan pakaian kakek Ammar. Perdinan terlihat buru buru hingga tak lagi perhatian dengan Fhadlan yang juga sibuk dengan buntalannya. Seperti halnya Perdinan yang memangul buntalan kakek Ammar, Fhadlan juga melakukan hal yang sama meletakan buntalan di punggungnya dengan ujung kain buntalan terselendang di bahu dan di pegang di depan dada.
Dengan gaya seseorang sedang mengembara dia turun kelantai dasar, di lantai dasar dia tidak berjumpa dengan Perdinan maupun paman Haikal yang sudah dulu meninggalkan rumah?. Phadlan berlari keluar rumah dia masih sempat melihat arah kemana Perdinan dan pamsn Haikal membawa kakek Ammar. Fhadlan bertekad untuk menyusul kakek Ammar lalu dia menemui ibu Sarah untuk berpamitan.
"Ma Fhadlan juga mau ikut kakek merantau" ucap Fhadlan.
Fhadlan memang anak yang cerdas, dalam usianya 4 tahun, dia sudah bisa bicara sangat pasih, Terkadang dia juga menyatakan hal hal yang tak terpikirkan oleh orang dewasa. Tanpa menunggu izin dari Sherina dia sudah berlari kearah Perdinan dan panam Haikal membawa kakek Ammar.
"Hai tunggu dulu nak Fhadlan, kamu jangan ikut, kakek mau di asingkan di tengah hutan bukan mau merantau" pekik Sherina berusaha menyusul Fhadlan.
Fhadlan makin mempercepat langkahnya saat menyadari ibu Sherina berusaha menyusul di belakangnya. Namun langkah Fhadlan terhenti saat melihat abu Daud dan umi Sarah datang menghampiri rumah mereka dari arah yang berbeda.
"Nak Fhadlan berhenti dulu dengarkan ibu" ucap Sherina di belakang Fhadlan.
Langkah Fhadlan seperti terpaku saat menyadari Abu daud dan umi Sarah telah berada di depannya.
"Nak Fhadlan mau kemana? tanya umi Sarah.
"Fhadlan mau merantau ikut kakek umi" ucap Fhadlan kelihatan sudah tidak takut dengan umi Sarah.
"Fhadlan... kakek mau di asingkan di hutan, bukan mau merantau" ucap Sherina mengambil buntalan Fhadlan dari bahunya.
"Pokoknya Fhadlan tidak mau tingal sama ibu lagi, kalau kakek di asingkan" ucapan Fhadlan terkesan sangat dewasa, kata katanya mengagetkan Sherina, Abi Daud dan Umi Sarah.
"Kalian kok masih saja mengikuti budaya kuno, coba kalau ayah sekarat di tengah hutan siapa yang akan menuntun kematian nya" ucap abu Daud juga terlihat tidak suka jika kakek Ammar di asingkan.
"Pak Abu Daud....., sebenarnya bang Perdinan juga tidak ingin melakukannya tapi bang Haikal terus memaksa" ucap Sherina.
"Nak lan.. tinggal tempat umi ya nak" pinta umi Sarah.
__ADS_1
"Emang umi boleh....?" tanya Fhadlan, matanya seperti memiliki kerinduan untuk bersama uminya.
"Boleh sayang.... dari dulu umi pengen nak Lan tinggal sama umi" jawab umi Sarah.
"Umi tidak jahat lagi kan?" tanya Fhadlan lagi.
"Nak lan kok bilang Umi jahat, umi jadi sedih lo, Umi tak perah jahat sayang dan umi janji tak akan marahi nak Lan kalau nak Lan mau tinggal bersama umi" ucap umi sarah sedih.
"Umi.... " ucap Fhadlan seperti ingin di peluk umi nya, tapi dia tak berani mendekat.
"Umii Fhadlan mau sama umi tapi Fhadlan pengen ketemu kakek dulu" ucap Fhadlan lalu berlari kearah Perdinan dan Haikal membawa kakek Ammar.
"Ehhh Fhadlan" ucap Sherina dan umi sarah berbarengan.
"Bi... susul Fhadlan bi.. " pinta umi sarah pada abu Daud.
Abu Daud juga berlari berusaha menyusul Fhadlan, mereka menelusuri jalan setapak di perkebunan kopi penduduk desa menuju hutan di sebelah timur desa. setelah melewati beberapa bidang kebun kopi jalan terlihat menurun menuju sebuah sungai. Beberapa saat kemudian Haikal dengan ambung berisi kakek Ammar di punggungnya dan Perdinan dengan buntalan di punggungnya terlihat berjalan mendekati sungai.
Haikal dan Perdinan berbalik mendengar teriakan abu Daud, lalu berhenti di tempat yang datar dan teduh. Fhadlan lebih dahulu sampai berhenti di depan Haikal.
"Paman Haikal, ..." teriak Fhadlan terengah engah.
"Kenapa nak Fhadlan...?" tanya paman Haikal.
"Pamankan sudah tua juga, lihat rambut dan jenggot paman sudah putih penuh uban" ucap Fhadlan.
"Iya ... emang kenapa nak?" tanya paman Haikal.
"Fhadlan pingin minta sesuatu boleh?" tanya Fhadlan.
"Kamu mau minta apa? buah buahan, anggur hutan, markisa hutan atau terong virus yang ada di hutan, pasti paman carikan, tapi syaratnya Fhadlan jangan ikut ya!" kata paman Haikal membujuk.
"Bukan itu paman..." kata Fhadlan.
__ADS_1
"Lalu kamu pengen apa?" tanya paman Haikal.
Fhadlan memperhatikan kakek Ammar yang masih terlihat sedih di punggung paman Haikal.
"Bukinkan juga podok di damping pondok kakek di tengah hutan untuk paman Haikal" kata Fhadlan.
Bagai di sambar petir paman Haikal tak bicara, terbayang bagaimana nantinya saat dirinya sendiri yang di asingkan anak anaknya.
"Lalu paman bawa juga ambung tempat kakek, saat paman kembali kedesa" ucap Fhadlan menunjukkan Ambung yang berisi kakek Ammar.
"Lho untuk apa kamu ambung ini" tanya Haikal lagi.
"Untuk Fhadlan gunakan sebagai tempat membawa paman Haikal, saat paman Haikal di asingkan nanti" kata Fhadlan.
Seketika tubuh paman Haikal gemetar, keringet membasahi dahinya lututnya terasa goyah tak mampu lagi menahan tubuhnya. Di letakkan nya ambung berisi kakek Ammar di tempat yang datar, lalu di keluarkannya kakek Ammar kemudian di dudukan di sebuah batu lebar.
"Ayah... maafkan Haikal" tangis paman Haikal pecah saat memeluk kakek Ammar ayahnya.
"Untung nak Fhadlan datang, kalau tidak celakalah paman, ini Ambung bawa saja untuk tempat bapak mu Perdinan saat di asingkan" kata Haikal.
"Bang Haikal, bawa saja ayah Ammar kerumah saya, tak usah di asingkan di kota tapus hanya desa kalian yang masih menerapkan budaya kuno seperti ini" ucap Abu Daud.
"Tidak dik Daud... Abang sadar biarlah ayah di rawat di rumah abang hingga akhir hayatnya" kata paman Haikal penuh penyesalan.
"Kakek.. Fhadlan juga mau pamit ingin merantau kerumah abi dab umi" kata Fhadlan meluk dan memciumi kakek Ammar.
Kakek amar balas memeluk dan menciumi Fhadlan.
"Kamu sudah besar cung,.... sudah saatnya merantau bersama abi dan umi Fhadlan" ucap kakek Ammar haru.
Perdinan dan abu Daud sama sama tercengang menyaksikan apa yang di lakukan Fhadlan, timbul rasa bangga dan kagum dengan kecerdasan Fhadlan.
"Terima kasih nak Fhadlan, telah menyelamatkan bapak dari dosa yang sangat besar" kata Perdinan ikut memeluk dan menciumi Fhadlan.
__ADS_1