
Tika masih duduk bersila dan kini dia pun merangkap kedua telapak tangan di depan dada seperti sedang memberikan hormat. Sebagai bangsawan Keraton Tika juga di didik berbagai seni kebudayaan jawa, bahkan sedari kecil tika di didik ilmu bela diri termasuk melatih tenaga dalam.
Tika memandang Fhadlan sambil tersenyum, pandang matanya bersinar gembira. Fhadlan orang yang ulet dan jujur selalu mendatangkan rasa suka di hatinya, karena Fhadlan juga orang yang menyenangkan dalam berbicara.
"Hemm, bagus! Fhadlan dengan memiliki tanaga dalam kamu juga harus membuka jalan darah dan belajar ilmu silat biar terkenal sebagai ahli silat dan ahli tenaga dalam, nanti mbak tika ajari sedikit-sedikit ilmu silat tapi kamu juga harus tekun berlatih" Setelah berkata demikian, Tika kembali bersemedhi.
Dengan mata terpejam Tika seperti tidak peduli lagi dengan keadaan sekelilingnya, dia mulai pokus melatih tenaga dalamnya dengan cara bersemedhi yang baru saja mereka pelajari.
Fhadlan yang juga masih duduk bersila mencoba menggerakkan kedua tangannya ke depan, ke arah kertas kertas yang berantakan berhamburan di atas lantai bekas coretan coretan tika tadi dan... bagaikan ada angin puyuh, secara tiba-tiba semua kertas itu bergerak, berputar-putar dan terbang naik ke atas meja kemudian jatuh kembali di atas meja, seperti menempel tidak ada yang jatuh lagi ke lantai.
"Yes berhasil" ucap Fhadlan
Merasakan adanya hembusan angin yang cukup keras, Tika membuka matanya saat melihat kertas kertas beterbangan lalu jatuh di atas meja. Mata Tika terbelalak wajahnya menjadi agak pucat, seketika maklumlah dia bahwa tingkat kekuatan tenaga dalam Fhadlan sudah jauh lebih tinggi dari padanya.
Tika seperti melompot berdiri lalu melangkah mundur sambil merangkapkan kedua tangan di depan dada sambil berkata.
"Wah, makin hebat saja tenaga dalam mu Lan, Akan tetapi belum begitu sempurna gerakannya. Sayang masih begitu kasar! coba mbak buka beberapa jalan darah Fhadlan, Coba kamu semedhi lagi biar mbak tika bantu Fhadlan" kata Tika.
Dengan patuh Fhadlan mengikuti instruksi Tika, lalu Fhadlan sudah bersemedhi kembali di hadapan Tika, dengan duduk bersila kedua tangannya dengan telapak tangan terbuka di rangkapkan di depan dada.
"Mbak Tika, Fhadlan sudah siap" ucap Fhadlan.
Tika nenotok beberapa urat darah di bahu, leher hingga ke daerah pinggang Fhadlan. lalu meminta Fhadlan mengulurkan tangannya.
"Sekarang ulurkan tangan Fhadlan kedepan dengan telapak tangan terbuka" perintah Tika, lalu mengambil posisi duduk bersila di depan Fhadlan, kemudian Tika menempelkan telapak tangannya di telapak tangan Fhadlan.
Sungguh luar biasa sekali. Begitu kedua telapak itu bertemu, terdengar suara seperti api membara bertemu benda basah dan tampak asap mengepul dari kedua pasang telapak tangan yang saling bertemu.
__ADS_1
"Biarkan tenaga mbak Tika masuk jangan di lawan" ucap Tika mengingatkan.
Dahi Tika mulai berkeringat, matanya merah dan mulutnya terbuka karena nafasnya menjadi terengah-engah saat secara otomatis tenaga Fhadlan mengalir menjalar dari pusarnya menjalari kedua telapak tangan Tika.
"Ceeeees" terdengar seperti besi panas tersiram air.
Fhadlan masih saja tersenyum enteng, sama sekali tidak kelihatan lelah. Tahulah Tika jika tenaga dalam Fhadlan sudah mengalir ke telapak tangannya, jika hal ini terus dilanjutkan, maka ia akan roboh cedera.
Tika lalu menarik kembali kedua tangannya dan pada saat yang bersamaan, Fhadlan juga menarik kedua tangannya.
"Kamu luar biasa sekali Lan" ucap Tika.
Tika melangkah mundur ke tempat semula. Tubuhnya menggigil dan sampai lama barulah dia dapat memulihkan keadaannya, lalu menjura dan membungkuk dan berkata dengan suara lemah.
"Sungguh hebat tenaga kamu Lan, hampir saja mbak Tika cedera karenanya" puji Tika jujur.
"Ok mbak Tika" ucap Fhadlan lalu mengambil sikap semedhi kembali.
Mereka kembali duduk bersila di bawah sisi meja dengan sepasang kaki dan kedua lengan menyilang, duduk tak bergerak-gerak dengan kedua mata dipejamkan.
Dilihat sepintas lalu, mereka seperti telah membatu, lebih menyerupai sebuah arca batu dari pada seorang manusia hidup. Namun bila diperhatikan, tampak betapa dada di balik kain yang mereka kenakan itu bergerak perlahan seirama dengan pernapasan mereka yang halus dan panjang.
*****
Sudah dua minggu, tilik sandi Keraton mendengar adanya beberapa orang orang berkepandaian tinggi berkeliaran di kota Jogja mencari seorang anak yang di sebut sebut sebagai juru kunci harta warisan dan pusaka raja Nusantara.
Bahkan mereka juga menjelajahi keraton Jogjakarta, kecuali tempat tempat terlarang dan rumah rumah bangsawan keraton. Sehingga raja kesultanan Jogja mengultimatum keamanan keraton untuk melindungi setiap anak yang berada di keraton, apakah dia warga keraton atau cuma pelancong yang sedang mengunjungi keraton.
__ADS_1
Hal ini juga tak luput dari pengetahuan romo Adiwilaga yang sudah tau kalau yang meteka cari adalah Fhadlan. untuk itu dia minta Tika untuk selalu menjaga Fhadlan.
Tika merupakan salah satu seniman bela diri pilih tanding yang menjadi kebanggaan keraton. Bahkan karena keahlian dan kecantikannya pangeran putra mahkota kabarnya meminta sultan untuk menjodohkannya dengan Tika.
Sabtu sore romo Adiwilaga yang baru saja pulang dari kantor tempat dia bekerja, sengaja duduk santai di ruang keluarga menunggu Tika dan Fhadlan. namun hingga sore dia tidak pernah melihat tika ataupun Fhadlan.
"Bik coba priksa Tika ada dikamarnya tidak" titah Romo saat pelayannya membawakan kopi Jangkat pesanannya.
"Baik romo" ucap pelayan lalu segera berlalu menuju kamar Tika.
Tak lama kemudian pelayan kembali melaporkan hasil pemeriksaannya.
"Raden Ajeng Tika tidak ada di kamarnya romo" lapor pelayan dengan sopan.
"Hmmm apa dia tidak bilang pergi ke mana?" tanya Romo.
"Tidak... Romo" ucap pelayan.
Romo Adiwilaga mulai merasa cemas, jangan jangan mereka bertemu dengan pendekar pendekar pilih tanding, yang sedang memburu Fhadlan. Romo Adiwilaga tidak nenyangsikan kemampuan tempur Tika anaknya. Tapi mengingat kabar dari tim tilik sandi yang mengatakan kalau ada sembilan orang berkepandayan tinggi dari berbagai perkumpulan sedang berada di Jogja, membuatnya cukup cemas.
"Bagaimana jika Tika bertemu sembilan orang sakti secara bersamaan lalu Tika di keroyok rame rame" Romo Adiwilaga membatin.
"Bagi Tika yang berilmu tinggi, kiranya tidaklah amat sukar untuk melawan salah satu dari mereka, tapi jika mereka maju bersama tentu sangat sulit bagi Tika untuk melindungi Fhadlan" kembali Romo Adiwilaga membatin.
Romo Adiwilaga mencoba menghubungi hand phone Tika, tapi hingga beberapa kali panggilannya tidak di angkat angkat.
"Jeng .. Anakmu Tika gak ngomong pergi ke mana?" tanya romo Adiwilaga pada istrinya.
__ADS_1
"Ndak Romo... emang Tika ngak di kamarnya?. R A Atmariani balik bertanya.