FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI

FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI
Episode 21


__ADS_3

Medendegar di sebutnya nama Cicilia ibu angkatnya, tanpa di sadarinya Fhadlan telah melangkah ke ruang tamu lalu berdiri di samping om Sukarjan. Pak Budi melirik Fhadlan seakan tak mengharap kehadiran Fhadlan di antara mereka. Pak Sukarjan seperti mengerti lirikan keberatan pak Budi dengan ke hadiran Fhadlan, lalu berkata seperti berbisik pada Fhadlan.


"Fhadlan istirahat di kamar dulu gih.. kalau ada sesuatu nanti om panggil ya" pinta om Sukarjan pada Fhadlan.


Setelah Fhadlan meninggalkan mereka pak Budi kembali bicara.


"Pak Sukarjan ... maaf sebelumnya demi keselamatan saya dan keselamatan pak Sukarjan sekeluarga saya mohon keberadaan artefak ini di rahasiakan dulu, termasuk pada anak kecil tadi" ucap pak Budi sudah bernada ancaman.


Mendengar pak Budi seperti mengancam, merahlah muka pak Sukarjan, tapi dengan senyum dipaksakan dia pun Menanggapi ancaman pak Budi dengan tenang.


"Pak Budi.. selama saya bertugas saya tidak pernah merahasiakan sesuatu tentang apa yang saya teliti, bahkan saya selalu mencari bantuan para ahli kepurbakalaan untuk mempelajari setiap objek yang di teliti" ucap pak Sukarjan.


Pak budi diam sejenak lalu berdiri kembali ke mobilnya.


"Sebentar pak Sukarjan" ucap pak Budi.


Tak lama kemudian dia kembali dengan sebuah amplop berisi uang dua puluh juta Rupiah.


"Pak Sukarjan.. saya menginginkan pak Sukarjan menterjemahkan arti coretan coretan di artefak ini. ini sedikit sebagai uang muka, jika pak Sukarjan gagal menterjemahkan anggap saja uang ini sebagai upah usaha pak Sukarjan menjaga merahasiakan artefak tersebut" ucap pak Budi.


Uang sebanyak itu cukup besar bagi pak Sukarjan dimana jumlah tersebut sudah setara dengan gaji PNS nya selama satu tahun. Akhirnya pak Sukarjan memutuskan untuk menerima tawaran pak Budi bukan karena uang yang di janjiakan sebagai upah, tetapi karena dia sendiri memang sangat tertarik dengan artefak yang di bawa pak Budi.


"Baiklah saya akan mencoba menterjemahkan coretan di lempeng tanah liat ini, tapi saya tidak bisa menjanjikan apakah saya bisa kerjakan sendiri atau tidak" ucap pak Sukarjan.

__ADS_1


"Mengenai anak kecil tadi tidak perlu di kuatirkan karena dia juga saya butuhkan selama mengerjakan pesanan pak Budi" ucap pak Sukarjan lagi.


Pak Budi menunduk malu, saat di singgung tentang ancamannya tadi yang seharusnya tidak dia lalukan.


"Pokoknya saya percaya pak Sukarjan bisa melakukan ini sendiri, dan saya percaya pak Sukarjan pun tak akan merugikan saya, jika pak Sukarjan sepakat maka artefak ini saya titip dulu pada pak Sukarjan" uacap pak Budi.


Pak Sukarjan menyalami pak Budi sebagai tanda kesepakatan.


"Mari ikut ke ruang kerja saya" ucap pak Sukarjan membawa artefak berupa lempengan tanah liat yang penuh coretan.


"Berapa lama pak Karjan bisa menterjemahkan coretan ini?" tanya pak Budi.


Pak Sukarjan meletakkan lempeng tanah liat seukuran keramik lantai dengan tebal kira kira sepuluh sampai lima belas senti meter di atas meja kerjanya. Sepintas lalu orang melihatnya hanyalah sebuah bata merah yang lebar untuk di gunakan sebagai conblock lantai atau sejenisnya.


"Coba pak Budi perhatikan tulisan di atas tanah liat, kalau menurut fakta tulisan di dunia pertama kali di temukan adalah coretan di atas tanah liat seperti yang pak budi bawa ini, yang di kenal dengan tulisan paku, namun baru kali ini di temukan di Indonesia" ucap pak Sukarjan.


"Wah wah wah berarti yang di titipkan pada kakek saya termasuk tulisan tertua di dunia dong" ucap pak Budi.


"Tulusan pertama menurut ilmuan di perkenalkan oleh orang dengan julukan Humus yang berarti orang berilmu pengetahuan, sedangkan ilmuan islam mengatakan kalau tulisan pertama di perkenalkan oleh Nabi Idris adalah manusia pertama kali yang menulis dengan pena, dia menulis di atas pasir dan tanah liat, bisa jadi yang di maksud adalah orang yang sama dan tulisan mereka sebagaimana coretan di tanah liat tersebut" ucap pak Sukarjan menunjukkan coretan di tanah liat yang tergeletak di meja kerjanya.


"Cik cik cik ... berarti kitab kitab zaman Nabi Idris berupa lempengan tanah liat seperti ini ya pak" kata pak Budi.


"Benar pak Budi.. bisa jadi leluhur bapak adalah semacam ulama yang bertugas menyimpan kitab suci" ucap pak Sukarjan.

__ADS_1


"Pak budi lihat coretan ini rapi seperti sebuah tulisan tapi dengan abjad atau aksara tak di kenal. makanya saya perlu waktu untuk mengindentifikasi aksara apa yang di gunakan tulisan ini" ucap pak Sukarjan.


Pak budi mulai mengerti cara kerja pak Sukarjan hingga saat hari sudah hampir malam dia pun minta izin pada pak Sukarjan untuk pulang.


"Ingge pak Sukarjan, saya pamit dulu sebulan lagi saya akan kembali" ucap pak pak Budi saat di antar pak Sukarjan hingga ke halaman depan rumah pak Sukarjan.


*****


Malamnya sepeningal pak budi, pak Sukarjan mulai meneliti aksara yang di gunakan dalam lempeng tanah liat dia memastikan kalau pola coretan sangat mirip Aksara paku , yang mrrupakan salah satu jenis tulisan kuno berbentuk paku yang dituliskan di atas lempengan tanah liat. Kata "aksara paku" merupakan terjemahan harfiah dari bahasa Latin, cuneus yang berarti 'baji' atau 'paku' dan forma yang berarti "bentuk".  Dengan demikian, aksara paku merupakan sebuah tulisan kuno yang menggunakan "huruf paku".Tulisan ini tergolong sebagai tulisan yang rumit dan diduga hanya digunakan oleh orang-orang tertentu. Aksara paku berkembang di daerah Sumeria (nama kuno untuk Mesopotania selatan yang sekarang berada di Irak selatan, dekat Teluk Persia). Diduga, tulisan ini telah digunakan oleh orang-orang Sumer sekitar tiga ribu tahun sebelum Masehi, hampir sezaman dengan Hieroglif yang berkembang di Mesir.


Setelah membuka beberapa buku tentang aksara paku dan lambang lambang hieroglif mesir, semua pola tulisan ternyata sangat berbeda. Pak Sukarjan mulai berpikir jika pada zaman nya pusat peradaban dunia ada di Hindia. seperti nabi Adam hidup di Hindia, babi syit di juga hidup di wilayah Hindia, siti hawa meninggal di Hindia.


Hindia di sini sering di tafsirkan oleh ilmuan dengan daratan India sekarang. Berpikir demikian Pak Sukarjan mulai mencocokkan tulisan dengan aksara san sekerta atau hurup pallawa yang di pakai di India namun hasilnya juga berbeda.


"dalam sejarah pun tidak ada di temukan aksara san sekerta yang di tulis di atas lempeng tanah liat" pikir pak Sukarjan


"Jangan jangan pusat peradaban Hindia yang di maksud adalah Nusantara sekarang, bukan India seperti opini para ilmuan kebanyakan" pikir pak Sukarjan.


"Jangan jangan meninggalnya siti hawa dimakamkan di daerah jawa, sehingga wilayah kuburan nya di sebut makam hawa lama lama jadi jawa" pikir pak Sukarjan lagi.


"Bukankah posil manusia tertua di temukan di solo? Semua menggarah ke jawa" pak Sukarjan terus membatin.


Setelah hurup palawa juga tidak cocok pak Sukarjan beralih ke aksara Kawi dan aksara Rejang yang di kenal sebagai aksara tertua di Indonesia. Aksara Rejang adalah salah satu aksara tradisional Indonesia yang berasal dari wilayah Sumatra bagian selatan dan Bengkulu. Aksara ini terkadang juga dikenali sebagai aksara Kaganga, yang merupakan sebutan yang berakar dari tiga huruf pertama dalam aksara Rejang. sedangkan Aksara Kawi atau aksara Jawa Kuno adalah turunan aksara Brahmi historis yang digunakan di wilayah Asia Tenggara.

__ADS_1


__ADS_2