
"Bukankah Tika dan Fhadlan sedang ada tugas mempelajari kitab kuno koleksi Romo, mobil atau motor tidak ada yang keluar apa mereka keluar jalan kaki" RA Atmariani berkata sambil menarik napas panjang.
"Iya ya... tapi ruang kerja romo seperti tidak ada siapa siapa, bik coba periksa ruang kerja romo apa Tika dan Fhadlan ada di sana" titah Romo Adiwilaga.
Kembali pelayan memeriksa ruang kerja romo Adiwilaga.
"Romo ... Ajeng... lihat jeng Tika dan Fhadlan gak gerak gerak" terdengar teriakan pelayan.
Teriakan itu disusul bunyi bergelegar nyaring sekali, saat pintu di buka tubuh pelayan terdorong dengan keras, seolah terkena badai yang yang sangat dahsyat.
"Aduhhhhh..... non Tika.... ampun" ucap pelayan kesakitan lalu mencoba bangun.
"ya tuhan, Ada apa ... apa yang terjadi" romo Adiwilaga dan Ajeng Atmariani menghambur ke arah pelayan yang jatuh terjengkang di ruang tengah.
__ADS_1
Romo Adiwilaga memandang dengan mata terbelalak dan dada berdebar. Dia melihat betapa Tika dan Fhadlan yang duduk bersila itu sama sekali tidak bergerak, masih memejamkan mata akan tetapi senyum di mulut Tika jelas mengembang, seakan-akan Tika sedang menahan rasa geli dan memaksa diri tidak tertawa bergelak.
"Ha ha ha Hahaha" tiba-tiba terdengar suara ketawa Tika tergelak-gelak. Suara tawa yang tak bisa dia tahan lagi, Tika membuka matanya lalu berdiri menghampiri romo Adiwilaga sambil berlutut mencium kaki romo Adiwilaga.
"Tika... apa yang kau lakukan kenapa memukul bibik" bentak romo Adiwilaga.
"Haa ha ha ... Maafkan Tika .... Romo... tika tidak sadar habis bibik nganggu semedhi Tika tanpa aba aba, tadi Tika pikir ada orang asing yang memasuki tempat kerja romo" ucap tika di sela tawanya. Tika merasa bersalah tapi juga merasa lucu hingga tawanya meledak tak tertahankan lagi.
Romo Adiwilaga mendengarkan Tika sambil memandang dengan mata terbelalak.
"Ooo ... begitukah... bukankah dua hari yang lalu Tika mengatakan bahwa kitab kitab itu hanya berisi filsafah, ajaran agama hindu dan bhuda atau cerita cerita pewayangan?" tanya romo Adiwilaga.
"Benar romo... tapi rupanya juga ada kitab yang berisi ilmu kesaktian tinggi.
__ADS_1
"Nah, ternyata hari ini kalian nebemukan sebuah mustika yang sudah terlupakan, Kalian inilah yang berjodoh dengan dengan kitab kitab ini. Romo sudah bertahun tahun menyimpan kitab ini tapi tidak pernah mrngerti akan maknanya apalagi berminat untuk mempraktekan isinya" Romo Adiwilaga mengelus kepala tika.
"Dan sesudah Tika mempelajarinya, dan mengetahui rahasia kesakitan yang terdapat dalam kitab kitab kono, Tika harus mengajari Fhadlan juga, tentu saja Romo tidak mau dia jadi korban orang yang sedang memburunya" ucap romo Adiwilaga.
"Sekarang bangun, pergilah dan mandi romo menunggu di ruang keluarga" ucap romo Adiwilaga.
Maka setelah menjura dan mengucapkan kata-kata maaf, Tika segera membalikkan tubuh lalu mengajak Fhadlan pergi meninggalkan tempat itu.
"Fhadlan ayo kita mandi" Tika dan Fhadlan pergi dengan gerakan-gerakan mereka amat cepat sehingga dalam sekejap mata saja tempat itu menjadi sunyi dan bayangan mereka tak tampak lagi.
Rasa girang, tercengang, kaget bercampur menjadi satu, membuat Fhadlan terharu sekali. Semedhi yang tadi dia lakukan ternyata membuat dia memiliki tenaga yang hebat. Begitu juga dengan Tika merasakan kalau tenaga dalamnya juga meningkat sepuluh kali lebih hebat dari pada biasa.
Tak pernah mereka pikirkan kalau semedhi yang mereka lakukan ternyata membuat tenaga dalam di tubuhnya mendapat kemajuan yang amat luar biasa.
__ADS_1