FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI

FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI
Episode 86


__ADS_3

Bermacam pikiran negatif mulai mengusik ketenangan Fhadlan, seolah ramalan tentang kelahirannya pembawa sial benar adanya. Semua pengalaman pahit yang dia alami juga seolah menguatkan kebenaran dari ramalan tersebut, rasanya ini sudah mencapai puncaknya hingga Fhadlan sudah tidak ingin hidup lagi, apalagi setelah di tinggal Abu Ghafur pembimbing spiritual nya.


Selama ini nasehat Abu Ghafur menguatkan semangat hidup Fhadlan, terngiang nasehat nasehat abu Ghafur yang selalu menambah iman dan arah hidupnya.


Nasehat abu Ghafur bagi Fhadlan merupakan sesuatu yang sangat berharga melebihi kalung pusaka yang sudah di curi. Pusaka peninggalan ibu angkatnya yang dia jaga melebihi nyswanya sendiri.


Nasehat abu Ghafur menuntun Fhadlan menemukan jati diri dan tujuan hidupnya, saat kegelisahan Fhadlan memuncak kembali nasehat abu Ghafur terngiang di pikirannya.


"Fhadlan berusahalah sholat malam dan istigfar seolah kau akan mati besok pagi, dan bersyukur lah saat bangun pagi hari karena masih di berikan kesempatan untuk beramal sholeh"


"Setelah petempuran ini, paman harap Fhadlan mengundurkan diri dari resimen Hamdani, dan fokus untuk menuntut ilmu agama"


"Ingat Lan orang alim itu lebih baik dari seribu ahli ibadah dan orang alim bukanlah orang yang bersarung memakai peci, atau berbaju gamis dengan celana cingkrang, akan tetapi orang alim itu adalah orang yang berilmu dan beramal dengan ilmunya"


"Baiklah paman nasehat paman akan Fhadlan laksanakan" guman Fhadlan bertekat akan mengundurkan diri dari anggota resimen Hamdani, tapi Fhadlan juga masih merasa bertanggung jawab untuk melaksanakan amanah ibu angkatnya menjaga kalung busaka dan membukanya saat waktu yang di tetapkan.


"Semoga kalung ibu cicilia bisa Fhadlan temukan di kota ini" guman Fhadlan berharap, dia terus berjalan dengan gontai di lorong kota yang sepi.


Fhadlan terus maju kearah utara kota dia yakin Bramantio yang telah di nobatkan sebagai kaisar Imperium Balqis ada di sini dan Fhadlan yakin kalung pemberian ibu Cicila yang asli ada bersamanya.

__ADS_1


"Tolong... tolong....." sayup terdengar suara seorang wanita minta pertolongan.


Spontan naluri Fhadlan bergerak tubuhnya melesat kearah suara tangisan, bagaikan pendekar tokoh persilan yang selalu datang saat mendengar denting pedang dan jerit tangis kematian.


Fhadlan sampai di sebuah gedung yang di jaga beberapa orang berpakayan militer, dengan ilmu saipi angin yang di pelajari sama mbak tika di Jogja, Fhadlan tidak punya kesulitan untuk menyelinap hingga kesebuah kamar yang mewah. dimana terdengar tangisan seorang wanita muda.


"Jangan Tuan, aku sudah punya suami dan suami ku masih hidup, bagaimana aku sudi berbuat serong? Aku bukanlah perempuan semacam itu! Biarkan aku pergi tuan, atau bunuh saja aku" tangisnya memelas


Seorang laki laki muda berpakayan militer tertawa sambil mulai melucuti pakaian si wanita. "Ihhh, pakai malu-malu kucing segala? Aku pun tahu bahwa kau lebih suka kepadaku Kaisar imperium Balqis dari pada pemuda miskin yang tak dapat menghargai kecantikanmu dengan uang...!"


"Braaaak" jendela kamar di dobrak dari luar.


"Ahhh...." Bramantio terkulai tanpa mampu menghindari totokan Fhadlan jatuh terkulai menindih wanita muda tersebut.


Di luar kamar terdengar ke gaduhan para penjaga yang mendengar keributan di dalam kamar.


Saat Fhadlan ingin memeriksa Bramantio untuk mencari kalung ibu Cicilia yang di curi Bramantio. pintu kamar sudah di dobrak paksa dari luar membuat Fhadlan mengurungkan niatnya dan berbalik menyelamatkan wanita korban Bramantio.


"Ayo pergi dari sini, aku akan menolongmu" ucap Fhadlan saat wanita itu meronta di panggulan Fhadlan.

__ADS_1


Fhadlan melesat menggunakan jurus saipi angin meninggalkan gedung tersebut hingga di suatu lorong dia melihat anggota resimen Hamdani yang sedang patroli.


"Panglima Fhadlan" teriak mereka hormat saat Fhadlan berhenti di depannya.


"Selamatkan dia, bawa ke markas" ucap Fhadlan memberi perintah lalu menurunkan seorang wanita muda dari panggulanbya.


"Siap panglima" ucap mereka.


Fhadlan kembali melesat kearah gedung di mana sang wanita nyaris di perkosa.


di mana terlihat kegaduhan dan kepanikan sesisi gedung. untungnya mereka tidak perhatian dengan kehadiran Fhadlan, sehingga Fhadlan bisa membaur dengan mereka.


"Aku... Aku sudah membacanya...," seorang berpakaian militer terlihat berdialok dengan seseorang yang juga berpakaian sama dari pangkat yang ada di bahu merka kelihatan mereka sama jendral.


"Engkau baru datang, bagaimana bisa membacanya? Surat ini palsu! Tentu engkau dan kaki tanganmu yang menulisnya dan Kaisar Bramantio tidak mati karena membunuh diri, akan tetapi mati terbunuh oleh totokan di lehernya. Tentu engkau... pembesar jahanam berhati khianat, engkau yang mengatur semuanya ini, keparat!" Sambil berkata demikian, tangan sang jendral yang kelihatan nya orang Indonesia bergerak ke depan dan tahu-tahu tangannya telah mencengkeram baju pembesar itu di bagian dadanya.


"Jangan... ehhh, tolooongg Jendral ...!"


Laki-laki hidung bengkok yang berdiri di dekat kedua jendral itu cepat-cepat menengahi dan berkata, "Tuan tuan, bersabarlah... dan jangan saling menyalahkan..."

__ADS_1


"Engkau tukang mengatur siasat yang menjijikkan!" Tangan kirinya menyambar dan dia sudah menjambak rambut si hidung bengkok, kemudian dengan kemarahan membakar dada dan kepala, jendral ini menggerakkan kedua tangannya.


__ADS_2