FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI

FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI
Episode 53


__ADS_3

Linggo Bramantio merasa malu kalau harus menderita kekalahan di depan para siswa dan siswi yang sudah berkerumun. Hari ini sepulang sekolah Linggo akan memimpin gengnya menyerang SMP tetangga yang berjarak lima kilometer dari sekolah mereka dan dialah yang selalu akan diandalkan untuk menghadapi geng SMP sebelah. Kalau kini dia kalah oleh Fhadlan bukankah dia akan kehilangan muka.


Pada waktu Fhadlan sibuk membantu Giza berjalan meninggalkan kerumunan, kesempatan ini di manfaatkan oleh Linggo menendang ke arah tenggorokan Fhadlan dengan cepat sekali.


"Fhadlan Awas" teriak Giza melepaskan pegangan tangan Fhadlan.


Menyadari serangan linggo, lalu Fhadlan membuat gerakan yang indah, kaki kirinya diluruskan ke depan dengan tumit menempel lantai, sedang kaki kanan berjongkok ketika dia mengelak dari tendangan yang menyambar lewat di atas kepalanya.


"Aihhh .. ganasnya" teriak Fhadlan mulai kagum dengan gerakan Linggo, Tangan kiri yang tadinya melingkar di depan pusar itu membuat gerakan melingkar ke atas sehingga mengangkat tubuh menjadi tegak, ada pun tangan kanan yang tadinya melingkar di depan dada secara tiba-tiba mendorong ke depan dengan tangan kiri ditarik ke atas kepala. Inilah jurus tangan kosong yang disebut jurus macan terbang sebuah jurus silat yang sangat langka.


Gerakan yang sederhana, akan tetapi karena dilakukan sebagai lanjutan tendangan, dan pukulan dengan tangan kanan mendorong itu mengandung tenaga dalam penuh yang hebat luar biasa, membuat Fhadlan makin kaget dengan tenaga dalam Linggo.


"Mampus lo" ucap linggo makin ganas, setelah tendangannya luput, kembali Linggo menyerang lagi dengan hati-hati, lebih mengerahkan tenaga dalam yang diandalkanya.


Siswa yang sedang berkerumun diam diam berharap Fhadlan akan menenangkan perkelahian. Pertandingan antara dua jago yang nenguasai kesaktian langka ini berlangsung sampai belasan jurus.


Para siswa yang menonton pertandingan itu menahan napas. Bahkan Giza ahli kungfu yang sudah bersabuk hitam, merasa penasaran sekali menyaksikan kehebatan ilmu silat yang dimainkan Fhadlan maupun Linggo. Ia menjadi bingung dan menduga-duga di mana mereka belajar.


Sajauh ini Fhadlan lebih banyak mengalah dan nengelak dengan menggunakan jurus tiga belas langkah ajaib yang di pelajari dari kakek Ammar di kampung bersama Rania dulu.


"Jurus lo hebat sekali, Linggo. Ah... sungguh gua tak tahu diri, maaf... maaf!" Fhadlan menjura lalu melompat meninggalkan tempat tersebut.


"He jangan lari ... lo" teriak Linggo yang merasa besar kepala oleh pujian Fhadlan.

__ADS_1


Linggo terus mengejar Fhadlan yang bergerak sangat cepat berkelebat hanya terlihat sebagai bayangan telah menghilang di balik tembok pekarangan sekolah. Fhadlan mengerahkan seluruh peringan tubuhnya-nya berloncatan sampai berhasil keluar dari pagar tembok sekolah.


"Kalau lo punya nyali ... gua tunggu di luar sekolah" teriak Fhadlan di kejauhan.


"Waaw " ucap semua siswa yang hadir menyaksikan, sesuatu yang aneh bin ajaib dengan apa yang di lakukan Fhadlan barusan, sungguh sudah di luar logika mereka.


Sebaliknya Linggo tidak mempedulikan keanehan ini. Hatinya telah dikuasai nafsu amarah dan sambil mengeluarkan dengusan keras dia melompat ke depan, segera mengejar ke arah Fhadlan keluar tembok sekolah.


"Fhadlan jangan Lo kira Linggo takut dengan kesakitan lo, ayo kita laga" jerit Linggo yang sebenarnya sudah tau kalau dia tidak akan menang, tapi tak ingin malu di depan siswa lainya dia memaksakan diri untuk menghadapi Fhadlan.


Dalam kemarahannya, Linggo Bramantio menubruk maju dan menghantam dengan tenaga sekuatnya ke arah kepala Fhadlan.


"Siuuuuuuttt... werrrrrrr…!"


Linggo kembali berseru kaget karena pukulannya yang cepat dan kuat itu hanya mengenai tempat kosong! Ternyata Fhadlan dengan enteng sudah dapat mengelakkan pukulannya. Padahal pukulan tadi tidak akan mudah dielakkan begitu saja oleh seorang ahli silat yang belum mempunyai kepandaian tinggi.


Tentu saja merupakan hal tidak aneh bagi Linggo kalau fhadlan dapat mengelak dengan gerakan yang begitu cepat, akan tetapi sangat aneh baginya saat menyaksikan Fhadlan justru melakukan gerakan seenaknya saja karena dengan sangat jelas Linggo melihat betapa Fhadlan hanya mengelak secara tenang tidak tergesa-gesa, hanya dengan miringkan kepala ke kiri.


"Linggo... sudahlah antara kita tidak ada urusan yang harus di masalah kan, kenapa juga harus saling mengganggu!" ucap Fhadlan menasehati Linggo.


Sebenarnya nyali Linggo telah lenyap setelah ia bertanding melawan Fhadlan tadi, dia tau kalau Fhadlan lebih banyak mengalah dan saat beradu tenaga dalam, seharunya dia juga sudah bisa mengukur kalau tenaga Fhadlan jauh beberapa tingkat di atasnya.


Namun saat Linggo teringat akan sabuknya yang masih melilit pingganggya. Sabuk itu pun merupakan benda yang dia gunakan sebagai senjata andalan-nya.

__ADS_1


"Huuuh... gua belum kalah" ucap Linggo, lalu ia meraba sabuk di pingganya, ia cepat meloncat ke arah Fhadlan, sekaligus ujung sabuk menotok ketiga belas jalan darah yang mematikan pada bagian depan tubuh Fhadlan.


"Heh-heh-heh, lu masih punya nyali, oooo rupanya lu memiliki dasar ilmu silat tinggi, ya" Fhadlan tertawa memuji jurus cambuk Linggo


Dengan matanya sendiri Linggo melihat betapa semua totokannya yang bertubi-tubi itu mengenai sasaran, akan tetapi Fhadlan tidak apa-apa, malah akhirnya ujung cambuk itu membalik dan menotok dadanya sendiri.


"Aiiih" jerit Linggo, cepat menyendal sabuknya sehingga ujung sabuk lewat di atas kepalanya.


Keringat dingin mulai keluar dari wajah Linggo, tahulah dia sekarang bahwa melawan pun tidak akan ada gunanya. Fhadlan ternyata memiliki kepandaian yang amat luar biasa, terlalu jauh di atasnya jika Fhadlan mau mengalahkan nya maka sejak dari tadi dia pasti biasa.


Segera Linggo dapat mengambil keputusan, setelah melihat di situ hanya ada dirinya dan Fhadlan, maka cepat Linggo menjatuhkan diri berlutut di depan Fhadlan lalu sambil berkata,


"Fhadlan maaf gua salah...!" Linggo mengaku salah.


Demikianlah, semenjak hari itu Linggo mengatakan tunduk pada Fhadlan, hal yang diuar perhitungan nya setelah menjadi murid orang sakti itu yang namanya tidak ingin di kenal oleh seorang pun, tapi kesakitan nya tidak terrandingi untuk saat ini.


Bahkan Linggo pun hanya mengenalnya sebagai Raja Cambuk, namun ilmu kesakitannya memang luar biasa, Linggo dilatih dengan jurus csmbuk yang sangat lihai yang di kenal dengan jurus cambuk Saman Diman.


Bukan Linggo nammanya jika menyerah begitu saja pada Fhadlan, saat ini dia memang tidak berhasil membalas dendam kepada Fhadlan yang semakin dia anggap sebagai saingan bahkan musuh besarnya.


"gua akan berusaha melanjutkan cita-cita membalas dendam, gua harus lebih kuat lagi" guman Linggo pada dirinya sebdiri.


"Gua belum bisa tenang sebelum mampu mengalahkan Fhadlan, gua harus bertemu guru dan panglima Balqis Kingdon, mereka harus membalaskan dendam gua sama Fhadlan" kembali Linggo membatin.

__ADS_1


__ADS_2